April 2011
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sekuntum Bunga Untuk DNA Yang Dibunuh

Sekuntum bunga
untuk DNA
yang dibunuh
aku ingat sepatumu
yang usang capalan
namun matamu tak terbenam
ke sepatu usang yang capalan
tapi menelaah buku-buku
yang kemudian mengorbankan dirimu
karena buku-buku itu
menyuburkan cintamu
kepada rakyat pekerja

Dan itu sepatu usang capalan
jadi rangkumanmu dalam sajak
itu huruf-huruf jadi palu dan bajak
menghayati kebangkitan
rakyat pekerja

Ketika mereka menembakmu secara gelap
agar kebenaran tak boleh terbuka
kau telah membayar huruf-huruf dalam buku
dengan jiwa dan cinta yang gemerlap

Sampai kini
juga di kemudian hari
dalam sejarah manusia beradab
kau tetap gemerlap.

Amsterdam
23 Mei 1990
"Agam Wispi"
Puisi: Sekuntum Bunga Untuk DNA Yang Dibunuh
Karya: Agam Wispi
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Dia Hanya Dada

Dia hanya dada yang ingin mengatakan hujan
Suatu hari berjalan dengan langit senja
Udara dingin dari batu es, sebuah kenangan muda
Dengan pensil menggambar kekasih
Kenapa hatiku penuh mobil, jendela kaca, dan ikan-ikan juga

Televisi jadi kapal-kapal putih di matanya
Membawa ibu pergi ke rumah-rumah keramik
Senja seperti marmer biru, berjalan ke arah Timur

Dia hanya dada yang ingin berlari dalam hujan
Belajar memberi parfum pada kenangan di Timur
Memanggil kupu-kupu plastik 
Memanggil bunga plastik - Menyatakan cintanya juga -
Kenapa Ibu dan ayah mati
Seperti berpelukan dengan rumput

Dia hanya ingin sekali lagi
Membuat pemandangan di matanya, daun-daun seperti logam
Dada mau, dada mau 
Karena dia memang tak pernah ada
Di matamu
Dia hanya layang-layang
Hanya sepeda menyusuri senja
Ke sana

1980
"Afrizal Malna"
Puisi: Dia Hanya Dada
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Proses Letupan Kapur Sirih

Batu kapur sirih mulai direndam dengan air. Bentuk-
bentuknya yang seperti batu karang itu mulai 
mengeluarkan asap dalam genangan airnya, dan genangan 
uap di atasnya. Bentuk-bentuknya mulai luruh, seperti 
bukit-bukit melelah dan letupan-letupannya.

Akan muncul 
permukaan kapur yang sudah berubah menjadi lumpur 
putih dan lembutnya yang panas. Lumpur kapur dalam 
gelembung-gelembung berasap, suara mendidih dan 
letupannya menggenggam uap panas hingga ke ujung 
lidahku. Seperti akan nada yang meledak dalam lumpur 
kapur itu, dan mengusir bayangan hitam dari letupannya.

Proses ini akan berhenti dan seluruh batu kapur berubah 
menjadi lumpur kapur putih kental. Uapnya menatap 
dinding-dinding bayangan hitam. Tangan dan kakiku 
menggenggam letupan-letupan uapnya. Dan lidah yang tertelan 
bayangan hitam.

Kapur ini panas. Kulit jari-jari tangan 
biasanya akan melepuh. Rasa perih dari kulit yang 
mengelupas, mengeluarkan kutu-kutu yang mati di 
dalamnya. Melepaskan jiwa yang tak bisa lagi terharu, 
yang terlalu percaya kepada ketukan pintu dan 
membisukan dering telefon.

Proses yang menggodaku untuk 
mengangkat kamar tidur dan meletakkannya dalam amplop 
surat bersegel. Pekerjaan yang rasanya tidak ada gunanya, 
tetapi aku melihat proses letupannya ketika melepaskan 
tekanan udara panas. Mulut puisi yang memuntahkan 
percakapan tentang kepergian. Kamar tidur yang 
menyimpan bayangan tentang pelukan dan terhisap letupan 
kapur sirih. Satu botol bayangan pintu. Satu botol kapur 
sirih. Keduanya mengecat mimpiku menjadi sebelum 
bermimpi.


"Afrizal Malna"
Puisi: Proses Letupan Kapur Sirih
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di Seberang Selembar Daun

Aku bukan seluruh daun di pohon ini. Aku hanya 
selembar daun di pohon ini. Hanya pohon ini dan 
hanya selembar daun. Aku hanya selembar daun 
yang tumbuh di leherku. Hanya berwarna hijau sep
erti selembar daun. Aku hanya selembar daun yang 
berbicara menggunakan mulutku. Maksudku, 
mulutku adalah selembar daun yang berbicara 
menggunakan mulutku. Maksudku, aku hanya 
selembar daun yang selembar daun. Jangan rayu aku 
untuk menjadi pohon walau kau berikan tuhan kepa
daku. Jangan rayu aku untuk menjadi seluruh daun 
pada pohon ini walau kau berikan janji kematian pa
daku. Aku bukan soal kematian dan soal tuhan. Aku 
mirip, maksudku mirip dengan pertanyaan aku hidup 
bukan untuk seluruh yang kau katakan setelah 
kematian. Setelah kematian aku bukan hidup dan ke
matian bukan selembar daun yang mewakili seluruh 
daun di pohon ini.

Aku hanya selembar warna hijau dari pohon yang 
aku tak tahu namanya. Pohon yang membuat aku 
tahu aku berada di sini dan hidup di sini. Maksudku, 
jangan kau takuti aku seperti kanak-kanak yang 
berlari di seberang kematian. Aku mengingatnya, 
waktu-waktu, dan, lihatlah di luar sana, lihatlah 
orang-orang berjalan dengan kakinya, pohon-pohon 
tumbuh, anak-anak bermain merasakan kebahagiaan 
memiliki tawa, langit yang dibuat dari rambut 
perempuan. Aku adalah selembar daun yang dijahit 
pada sebatang pohon.

"Afrizal Malna"
Puisi: Di Seberang Selembar Daun
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pantai Losari

Angin yang nakal
Menyapu rambut ikalmu
Dari arah laut. Butiran pasir
Berhamburan ke udara
Seakan kabut
Yang ingin menguraikan diri

Surya melenggang
Melewati rembang petang
Benang-benang halusnya
Menerpa wajahmu

Ada rona
Di pipimu
Kilau tembaga
Di retak bibirmu

Kugerus garam
Pada semenanjung
Yang cekung. Pundakmu
Menggelinjang
Menikung

Ada ubur-ubur
Di susumu
Hutan lindung
Di bawah pusarmu

Kukayuh sampan
Pada ombak selatan
Yang ganas. Kudengar
Napasmu lepas
Kudengar menderas

Ada goa
Di hutanmu
Binatang buas
Di pedalaman hatimu

Kulempar sauh
Dari ujung buritan
Yang goyah. Suaramu
Tinggal lenguh
Tinggal desah

Ada lagu
Dalam eranganmu
Sudut basah
Yang dihuni rindu

Angin tenggara
Menghalau napasmu
Ke gigir usia. Hamburan batu
Menjadi debu di udara

Ada sunyi
Di ujung lidahmu
Pisau belati
Yang merobek kelambu

Kuikuti alun ombak
Pada palung
Yang dalam. Pinggulmu
Bergelombang
Bergoyang

Ada diam
Di pejam matamu
Sesungging senyuman
Yang disembunyikan waktu

Surya menghilang
Di balik tebing karang
Seperti pintu
Yang menutup diam-diam

Seperti lampu
Yang meredup pelan-pelan.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Pantai Losari
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Utrecht
(Buat Inez)

Sebuah patung yang ditinggalkan hujan
Kini menjadi monumen yang kekal
Aku melihatnya dari balik kaca jendela
Yang buram oleh lelehan air dan lapisan kabut
Mataku masih mencari sulur-sulur cahaya
Di antara gedung-gedung tua yang menjadi beku
Oleh malam yang luar biasa panjangnya. Suara-suara
Masih kudengar dan bayang-bayang cemara
Nampak semakin samar di luar jendela:
Apapun yang disemburkan deretan apartemen itu
Aku hanya ingin melihat sebuah patung hijau
Seorang lelaki tua dengan topi dan pistol
Yang disisakan hujan bagi sudut kota ini.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Utrecht
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di Seputar Louvre

Remang senja yang melumuri batu-batu trotoar
Menyentuh juga tiang-tiang lampu yang berukir indah
Sepanjang jembatan itu. Seperti jemari yang lentik
Cahaya merayapi tubuh jalanan, memanjati dinding pualam
Lalu mengaburkan diri pada pusaran kabut yang berwarna:
Paris nampak berkilauan dalam sebuah piramida kaca.

1997
"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Di Seputar Louvre
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pastoral

Kabut yang mengepungmu
Telah runtuh menjadi kata-kata
Rumah kayu hanya menyisakan dinginnya
Dan sunyi mengendap di sana

Maut bukanlah kabut yang mengendap-endap
Tapi salju
Yang berloncatan bagai waktu
Dan menyumbat pernapasanmu

Beranjaklah dan jangan menengok
Ingin kusaksikan tubuhmu telanjang
Tanpa mantel keyakinan
Menjauh dan semakin menjauh

Kubah mesjid dan runcing menara katedral
Tenggelam di balik perbukitan
Senja mengental dalam gelas kopiku
Dan kureguk sebagai puisi yang pahit

Beranjaklah dan jangan menangis
Obor malam akan mengantarmu pergi
Melintasi jalan kesabaran
Menerobos hutan

Maut bukanlah kata-kata
Tapi doa
Yang memancar bagai cahaya sorga
Dan membakarku tiba-tiba.

1991
"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Pastoral
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sanur

Berdesingan angin pantai
dan buncah ombak
dalam dadaku

Kapankah aku sampai
dalam bisu pesona
semesta jiwa

O, cakrawala jauh
inilah deru rinduku
kepada-Mu.

1981
"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Sanur
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Komisi

(I)
“Komisi itu, ada di dalam UUD '45,”
Kata sobatku seorang pengacara terkemuka
Ragu-ragu aku membantahnya “Ah, apa iya.”
“Kata komisi, ada di dalam UUD '45,” tegasnya
“Kau ini mengejek atau bagaimana?”

Karena tak mau taklid langsung begitu saja
Saya pergi mencari pendapat mazhab kedua dan ketiga

Pendapat kedua mengatakan tidak ada
Tapi mungkin juga akan ada
Bila kemudian terbukti ada

Pendapat ketiga mengatakan bila memang ada
Itu adalah kebalikan dari kemungkinan tak ada
Karena ketika dia tak ada, keadaan adanya itu
Merupakan situasi diametral ada
Maknanya karena kata a-d-a
Kalau dibolak-balik tetap a-d-a
Dan adanya itu akan kemudian ternyata
Tak tergantung pada eksistensinya awal lahirnya
Ada yang mengada

Tunggu dulu, tunggu
Apa betul kata Ada sudah ada
Sebelum semua yang ada ini
Ada?

Ke mulut pengacara sahabatku itu
Saya hampir saja memasukkan petasan
Dia untung diselamatkan korek api yang tak ada
Karena saya memang tak merokok sudah lama.

(II)
Pada suatu cuaca terik tengah hari
Dengan kepala dan lambung penuh berisi
Dua liter filsafat dan setengah kilo tata-negara
Memang sangat berat beban terasa
Di w.c. TIM yang sanitasinya tak begitu terjaga
Kukeluarkan beban itu semua
Sehingga jasmani dan rohani terasa sangat lega

Ee, di ujung Cikini kulihat UUD ’45 berjalan gontai
Diam-diam dari belakang kuikuti dengan santai
Ketika dia baru masuk ke Jalan Proklamasi yang ramai

Kuculik dia, kubebat matanya, kupaksa naik bajaj
Setelah lewat 4 perempatan dan menyusuri sungai
3 jembatan, 2 pasar dan 1 penyeberangan kereta
Kumasukkan dia ke sebuah rumah dan kubuka bebat matanya

“Ee, kamu,” kata U-uk yang terkejut melihatku
“Aku ini diculik atau bagaimana?”

(Oleh kawan-kawan karibnya
Sehari-hari UUD '45 ini memang dipanggil U-uk)

“Kau jangan banyak tingkah, Uk,” kata saya,
“Kamu kan lebih muda dari saya. Sopanlah sedikit.
Panggil aku mas, atau uda,” kataku.

“Baik bang,” jawab U-uk padaku
Kemudian aku memberi perintah
“Nah, berbaring di atas meja tenang-tenang
Jangan pergi ke mana-mana, kamu akan kuperiksa ulang.”

(III)
Aku telah siap dengan seperangkat paradigma
Memeriksa U-uk yang terlentang di atas meja
Lensa cekung dan lensa cembung berbagai kombinasi
Ada mikroskop klasik, juga mikroskop elektronik
Ada loupe, macam-macam kaca mata dan suryakanta

Maka halaman demi halaman kubalik-balik dia
Alinea demi alinea kujalani dengan mata
Dari baris ke baris kusisir dia
Sampai perih pelupuk mataku

Sehingga berkunang-kunang pandanganku
Matahari terbit dan matahari tenggelam
Bulan sabit lahir dan bulan purnama silam
Ternyata memang di antara renggangnya baris itu

Di sela-sela semua alinea
Di antara paragraf yang ada
Huruf enam itu membayang jadi kata
Kata k-o-m-i-s-i itu memang ada
Ada!

(IV)
Mesin pembangunan menderu dan menggegar-gegar
Digegarkan oleh komisi
Mesin besar ini meraung dan menggetar-getar
Digetarkan oleh komisi
Sumbunya licin berputar-putar
Diputarkan oleh komisi
Jenteranya berkisar-kisar lancar
Dilancarkan oleh komisi

Pak ketipak ketipung
Pembangunan lancar sekali
Pak ketipak ketipung
Gara-gara banjir komisi

Setelah berpuluh tahun mesin besar ini berfungsi
Lalu melahirkan berlapis generasi komisi
Geng perantara, broker, pengintai proyek, pencium tumpukan uang
Mereka juragan berumur 30-an, 40-an, 50-an, 60-an dan 70-an
Makelar berbagai ukuran bising saling bersaing
Tengkulak tamak bergigitan dan bercakaran
Fanatikus fundamentalis pembangunan tak ada tandingan
Sekaligus ekstrim kiri, ekstrim tengah dan ekstrim kanan
Fasih GBHN berikut petunjuk pelaksanaan
Dan UUD '45 dengan cuma satu tafsiran

Pak ketipak ketipung
Pembangunan lancar sekali
Pak ketipak ketipung
Gara-gara banjir komisi

Tapi kata Suap dan Upeti sejak awal interaksi selalu dihindari
Karena kedua kata itu nista dan jauh dari kategori gengsi
Oleh generasi komisi itu, yang memborong nikmat sebutkan semua sisi
Segala yang melibatkan inspeksi, evaluasi dan barang mesti dibeli
Apa saja yang memerlukan kalkulasi, perizinan dan pembuatan
Segala yang menunggu disposisi, konsesi dan persetujuan
Apa saja yang melibatkan kontrak tertulis dan tanda tangan
Semuanya pasti akan masuk wilayah mutlak monopoli
Geng perantara, broker, penerkam proyek, pencium tumpukan uang
Makelar berbagai ukuran bising saling bersaing
Tengkulak tamak bergigitan dan bercakaran
Grup vokal yang bernyanyi pop dangdut mantera pembangunan
Kualifikasinya perkoncoan, hubungan darah dan ideologi rupiah
Fanatikus sila pertama Keuangan Yang Maha Esa

Pak ketipak ketipung
Pembangunan lancar sekali
Pak ketipak ketipung
Gara-gara banjir komisi

Maka dengan mata pedih kami amati sepenuh kesaksian
Dua puluh ribu kali matahari terbit dan tenggelam
Pembuatan semua gedung pemerintahan, pusat perdagangan
Perkantoran, kampus dan sekolahan
Konstruksi jalan raya, jalan layang, jalan tol
Properti, real estat dan perhotelan
Pembelian senjata, kapal terapung, kapal bawah lautan
Penyedian satelit angkasa dan tanker minyak samudera
Pabrik penggilingan gandum, tekstil, karet sintetis
Kilang pupuk, semen, kabel, pembatikan, dan petrokimia
Bisnis pertambangan, industri kecil, perkebunan, kehutanan
Usaha agribisnis, kayu lapis, horikultura dan angkutan udara

Ee ya eyoo
Ee ya iyii
Pembangunan lancar
Karena komisi

Kata Suap dan Upeti sejak awal interaksi selalu dihindari
Karena kedua kata itu cemar, tak bergengsi, tak serupa komisi
Dan generasi komisi negeri kami telah menukilkan nama mereka
Tak kepalang tanggung dalam sejarah kriminologi dunia
Generasi dengan penampilan penuh sofistikasi dan elegansi
Kawanan juragan ketajaman visi dan selektif dalam diksi
Generasi mark up enam sampai sembilan angka nol tanpa risi
Merekalah tukang potong berapa sen dolar per barrel minyak bumi
Juragan komisi tak sekutu malu mengaku jadi pengusaha mandiri
Merekalah penembak hewan buruan dari atas kuda berlari
Generasi main layang-layang di lantai sepuluh gedung yang tinggi
Bersikap sangat manja dan kuasa, apa yang disebut mesti jadi
Pelanggan setia kasino mancanegara semua format dunia judi
Generasi tukang sadap sepertiga pinjaman dari Bank Dunia
Merekalah tukang sulap angka bantuan mancanegara

Ee ya eyoo
Ee ya iyii
Pembangunan lancar
Karena komisi

Inilah generasi yang telah mencatatkan rekor sejagat raya
Dalam Olympiade Komisi pemegang Trofi Dunia 20 tahun lamanya
Inilah Geng Perantara, The Kickback Mutual Admiration Society Makelar besar,
Makelar Tersebar dan Makelar Gergasi Penjambret dan Tukang Tadah yang rapi bersinergi
Jaringan Distributor, Grosir dan Pengecer komisi Pengintip Proyek,
Penerkam Proyek dan Pelapah Proyek Kanin Sejati
Si Hidung Pesek Bulldog Pencium Tumpukan Uang
Lihatlah ludahnya berceceran berserak kiri dan kanan
Gelambir pipinya longgar berguncang-guncung
Rasa takut dipancarkan cukup dengan menggeram-geram
Dia tak menggonggong, tapi gigitan taring tajam dan dalam

Ee ya eyoo
Ee ya iyii
Pembangunan lancar
Karena komisi

Generasi komisi ini pengagum dan peniru Amerika
Teladan mereka geng abad 19, Tweed Ring di New York sana
Komisi 65% sekali sikat, dibagi-bagi empat pejabat kota-praja
Yang paling dahsyat 5 juta dolar satu proyek sabetannya
Dibagi-bagi antara Tweed, Connolly, Sweeney dan Hall namanya
Generasi ini penjiplak tipu-menipu bisnis dan birokrat Amerika
Proyek pembangunan rel kereta api jadi teladan mereka
Satu mil rel $30.000, naik jadi $50.000, naik lagi $60.000 biayanya
Komisi guna menutup mulut anggota DPR $ 450.000 besarnya
Untuk rel kereta api beratus-ratus mil membelah benua
Inilah pelajaran dari The Great Train Robbery sangat berguna
Bahan studi dan referensi sebuah generasi komisi Para juragan
Indonesia peniru apa saja aroma Amerika
Dalam gaya hidup materi, boros konsumsi, sekolah anak-anaknya
Kecuali demokrasi dan trias-politikanya

Pak ketipak ketipung
Eya eyo eya iyii
Pak ketipak ketipung
Nasib bangsa jadi begini

(V)
U-uk baru terbangun sore masuk senja
Sesudah puas tidur seharian lamanya
Maklumlah kerjanya malam sama saja
Sibuk menonton pertandingan bola Piala Dunia

“Bagaimana kabar, bang,” tanyanya pada saya,
“Sudahkah ketemu yang dicari-cari lama?”
“Baru ketemu, memang dia sebuah kata luar biasa,” bersemangat kata saya
Kemudian menjawablah U-uk secara longgar saja

“Ah, apa yang luar biasa. Kata itu merajalela sudah lama
Berlindung di belakang dan atas nama saya
Lebih dari tiga puluh tahun lamanya
Masa baru tahu sekarang saja Abang ini naif 'kali, ya?
Dan inilah hal terakhir sangat pentingnya
Abang kulihat tak kunjung paham-paham juga
UUD '45 itu dalam implementasi sudah sangat lama
Adalah singkatan dari Uang Uang Dasar '45"

Mulutku ternganga mendengarnya
“Ya, begitu fakta prakteknya 
Uang Uang Dasar '45
Itu sebabnya komisi tercantum jelas di halaman pertama.”

1998
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Komisi
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kabut dalam Hujan Januari

Saat angin dan kabut Januari
Berkejaran di atas atap-atap kota
Serasa murid-muridku untukku bernyanyi
‘Hari Ini Nestapa Menyapa’

Adakah dingin dalam bunyi senja
Yang bernapas pelan dalam gugur dedaunan
Sampai padamu dalam warna-warna serupa
Dan menyuarakan angin yang gemetaran

Di sini aku duduk, jendela kabut berjalin dingin
Bunga di luar musimnya ungu mengangguk-angguk
Kujamah hati kamar ini dan merasa sangat ingin
Berkata, di sini kau mestinya merenda duduk

Dan deru di langit yang tak lagi biru
Berdenyar-denyar dalam gugusan badai
Adakah itu yang kauberi nama rindu
Berpijar-pijar namun tak sempat sampai

Adalah jalanan yang masuk dalam malam
Bertebaran serta basah daun berjuta
Naps kabut antara desah pohonan
Menyapaku lengang lewat jendela.

1964
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Kabut dalam Hujan Januari
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tentang Joki Jam Sembilan Pagi

Beras berkata kepada saya, bahwa kacang kedele dan kelapa sawit, ayam daging, sapi inseminasi, ikan laut, dan ikan daratan, semua dalam keadaan segar bugar tidak kurang suatu apa. Dia tidak menyebut mengenai apa yang dihasilkan hutan yang lama terbakar dan saya lupa pula menanyakannya,

Mesin giling menelponku baru-baru ini, bilang bahwa industri elektronika, komponen cip, kimia dasar, seluloid, otomotif, telekomunikasi, alat-alat berat, kereta api, kapal lautan kapal terbang dalam situasi menyenangkan dan sehat-sehat. Dia tidak berkisah tentang orang-orang yang berhasil menggerek lubang-lubang besar di bawah lantai bank dan rasanya aku sudah tahu jalan ceritanya,

Aspal bertanya kepada saya apa hubungan semua ini dengan kesenian. Seorang anak kecil yang jadi joki jam sembilan pagi di jalan Thamrin cepat menjawab, “oom aspal, kesenian itu bagian dari kebudayaan, ekonomi bagian dari kebudayaan, sehingga mengacungkan jari di tepi jalan seperti saya ini juga bentuk seni, agar saya dapat uang seribu sebagai joki untuk mendapat ekonomi.”

“Anak bijak, siap gerangan namamu?” tanya saya.
“Ronggowarsito,” jawabnya segera
“Ah, kamu,” kata saya. Dia bersiul-siul.
“Siapa namamu?”
“Ronggowarsito,” jawabnya pelan. Dia bersiul-siul, lalu mengumam lagu.


"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Tentang Joki Jam Sembilan Pagi
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Elegi Buat Sebuah Perang Saudara

Dengan mata dingin dia turun ke medan
Di bahunya tegar tersilang hitam senapan
Dengan rasa ingin ditempuhnya perbukitan
Mengayun lengan kasar berbulu dendam

Angin pun bagai kampak sepanjang hutan
Bukit-bukit dipacu atas kuda kelabu
Dada dan lembah menyenak penuh deram
Di ujung gunung lawannya sudah menunggu

Terurai kendali kuda, merentak ringkiknya
Di kaki langit teja mengantar malam tembaga
Luluhlah senja dalam denyar. Api mesiu
Di ujung gunung lawan rebah telungkup bahu

Angin tak lagi menderu tapi desah tertahan
Dengan kaki sombong dibalikkannya lelaki itu
Ketika senja berayun malam di dahan-dahan

Angin pun menggigiti kulit bagai gergaji
Telentang kaku di bumi. Telah dibunuh adik sendiri.

1960
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Elegi Buat Sebuah Perang Saudara
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ada Maling

Ada maling masuk rumah kita
menerobos lewat pintu hati yang dulu pernah kaubuka.

Mungkin kau lupa menutupnya kembali?
Tanyaku
tidak. Aku bahkan sudah memindahkan pintunya!
Katamu.

Lalu kuperiksa pintu itu
daunnya bolong sepenuh hatimu
kusennya keropos diterjang badai lumpur batinmu
yang membah berkali-kali
lantas diganyang ngengat dan rayap
yang kaubiakkan di kenanganmu tak pernah mati.

Ada maling menerobos rumah kita
dan kau tetap sibuk berkata-kata
sambil menyemburkan mantra dan hama
yang menetaskan bom berperedam suara
siaga melubangi tiap dinding rumah kita!
Solo
Juli, 2011
"Puisi Sosiawan Leak"
Puisi: Ada Maling
Karya: Sosiawan Leak