Proses Letupan Kapur Sirih

Batu kapur sirih mulai direndam dengan air. Bentuk-
bentuknya yang seperti batu karang itu mulai 
mengeluarkan asap dalam genangan airnya, dan genangan 
uap di atasnya. Bentuk-bentuknya mulai luruh, seperti 
bukit-bukit melelah dan letupan-letupannya.

Akan muncul 
permukaan kapur yang sudah berubah menjadi lumpur 
putih dan lembutnya yang panas. Lumpur kapur dalam 
gelembung-gelembung berasap, suara mendidih dan 
letupannya menggenggam uap panas hingga ke ujung 
lidahku. Seperti akan nada yang meledak dalam lumpur 
kapur itu, dan mengusir bayangan hitam dari letupannya.

Proses ini akan berhenti dan seluruh batu kapur berubah 
menjadi lumpur kapur putih kental. Uapnya menatap 
dinding-dinding bayangan hitam. Tangan dan kakiku 
menggenggam letupan-letupan uapnya. Dan lidah yang tertelan 
bayangan hitam.

Kapur ini panas. Kulit jari-jari tangan 
biasanya akan melepuh. Rasa perih dari kulit yang 
mengelupas, mengeluarkan kutu-kutu yang mati di 
dalamnya. Melepaskan jiwa yang tak bisa lagi terharu, 
yang terlalu percaya kepada ketukan pintu dan 
membisukan dering telefon.

Proses yang menggodaku untuk 
mengangkat kamar tidur dan meletakkannya dalam amplop 
surat bersegel. Pekerjaan yang rasanya tidak ada gunanya, 
tetapi aku melihat proses letupannya ketika melepaskan 
tekanan udara panas. Mulut puisi yang memuntahkan 
percakapan tentang kepergian. Kamar tidur yang 
menyimpan bayangan tentang pelukan dan terhisap letupan 
kapur sirih. Satu botol bayangan pintu. Satu botol kapur 
sirih. Keduanya mengecat mimpiku menjadi sebelum 
bermimpi.


"Afrizal Malna"
Puisi: Proses Letupan Kapur Sirih
Karya: Afrizal Malna

Post a Comment

loading...
 
Top