Mei 2011
Kisah Burung Manyar

Gemercak angin menyapa daun bambu
Burung manyar merentak sayap
Hinggap terbang di pucuk senyap
Menuju sarang dan terlelap
Selesai hidup matahari redup

Aku ceritakan tentang burung itu
Kepadamu sebelum malam pengap
Rembulan tersesat di belantara awan
Jatuh membayang di sela air
pendar dan hilang kabar
Seribu burung manyar terpejam
Seribu burung manyar tertunduk diam
Saat angin merayu pucuk bambu
-; di jantung kampungku

Kini adalah pohon bambu menyambutmu
Saat sayup menderas kalbu
Saat bayang jagung kering membeku
Adakah sarang itu berteriak lantang;
"Datanglah padaku oh burung manyarku
Tidurlah di relungku oh burung manyarku
Simpanlah sayap sebelum esok menyerbu"

Burung manyar terbang liar
Melayang nanar tanpa binar
Tinggal angin menyapa pucuk bambu
Sarang kosong tanpa peluk rindu
Biarkah Sang Manyar hinggap di jemarimu
-; Biarkan!

2011
"Cucuk Espe"
PuisiKisah Burung Manyar
Karya: Cucuk Espe

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Catatan Dini Hari
(Labuhan Bilik, Riau)

Debur ombak dan goyang perahu
Bermain sendiri dalam sepi
Semua yang hidup tertidur
Melipat diri dalam mimpi

Bintang berkaca dalam sunyi
Sebait bulan yang menemaniku
Pun hendak undur diri

Bersama angin dini hari
Kucoba untuk bernyanyi
Mengirim rindu termanis
Sebelum bunuh diri

Bulan pun pergi
Dan perahu nelayan
Tak pernah kembali.

Rokan Hilir
Maret, 2007
"Ahmadun Yosi Herfanda"
Puisi: Catatan Dini Hari
Karya: Ahmadun Yosi Herfanda
Paz

Pada relung-relung puisi
suara-suara lain tak terpermanai
mengirim isyarat darurat
lewat bisik batuan senyap

Puisi pun menjelma gumam
di bursa saham, belukar
di tertib pasar

Di benderang siang
puisi memadahkan pesona gelap
bayang muram sang keindahan
bisik lirih di keriuhan
gaduh pekik di kebisuan
semacam dengung murung
di sela hamparan gedung
nyanyian-nyanyian lindap
yang mengusik tidur-tidur lelap.

Pada pusaran kesendirian
abad-abad bergegas
mengejar zaman yang lekas.
Tapi puisi selalu saja bersikeras
menghuni sunyi abadi
merayap senyap ke jantung pemimpi
dan bertelur diam-diam
melarvakan masa depan.


"Agus R. Sarjono"
Puisi: Paz
Karya: Agus R. Sarjono
Nietzsche

Dengan hebat Nietzsche menghantamkan palu
ke jidat filsafat. Sejak itu semua buku
terpaku dan bahasa mengerang dilanda migren
hingga kadang-kadang harus dilarikan
ke rumah sakit sebagai pasien
dalam pemeriksaan Wittgenstein
untuk dicincang jadi satuan kecil
yang kemudian buru-buru dia lepaskan
sebagai sebuah permainan.

Dengan kantong cekak dan kekuasaan
membengkak di kepala ia kendarai
symponi-symponi Wagner untuk berkunjung
dari kampung ke kampung. Ia temukan
bahwa ancaman fatal bagi manusia kuat
bukan datang dari sang terkuat melainkan
dari mereka yang terlemah. Lihatlah!
Di kampung para pecundang orang gemar
membangun kerangkeng besi bagi Rajawali
agar tak leluasa terbang memangsa mereka,
domba-domba yang bahagia, beranak pinak
dan berdoa dalam ibadah dombawi
tempat tuhan dibiarkan mati setiap hari
tanpa mereka sadari.

Apa yang paling keras memisah dua manusia
jika bukan perbedaan rasa dan tekanan
atas kebersihan? Maka dia mendaki puncak
dan bersabda pada Zarathustra: kebenaran
adalah ilusi tentang mereka yang lupa siapa
diri mereka sendiri, serupa tamsil yang labil
tanpa rasa, uang yang luntur tanpa rupa
dan tak bisa dipakai membeli apa-apa.
Orang-orang pun menganggapnya gila.
Tapi kegilaan pada pribadi jarang terjadi.
Kegilaan hanya bisa meraja dalam kerumunan
semacam kelompok, komunitas, partai, atau negara.
Maka di puncak Zarathustra Nietzsche bersabda
menyeru para domba untuk kembali jadi manusia
bukan berbaris bersama dan mengaum seolah singa.
Diajaknya kita membunuh tuhan-tuhan dombawi
agar manusia bisa berdiri tegak dan mandiri
tak bisa lagi mengembik bahagia
sebagai hamba sahaya yang jumawa.

Sejak kedalaman sentosa yang dulu
bernama bintang kini menjelma noda bayang
ia tak hendak jadi sang peminang kebenaran
dan memilih jadi si pandir, si penyair
karena ilmu dan pengetahuan tak bakal tumbuh
dan berkembang tanpa disiapkan jalan
oleh tukang sulap, penyihir, ahli bintang
dan penyair yang menggubah
semacam haus, lapar, dan citarasa
yang terlarang dan rahasia.
Kehidupan begitu pendek untuk bertuan
pada kejemuan. Bukankah Buah-buah
terindah sang bahagia mewangi ranum
Di ranting-ranting bahaya?

Seekor rajawali membawa Nietzsche
melayang tinggi. Di bawahnya domba-domba
bergerombol menghancurkan berhala
di setiap sudut kota dan pulang ke kandang
sebagai pengabdi sejati bagi berhala
yang kini menjulang abadi di dalam hati.
Kepada Zarathustra dia bersabda:
bunuhlah segera tuhan-tuhan dombawi
bunuh juga si domba pengabdi dalam diri
agar bisa purna sebagai manusia
dan Tuhan sejati bersedia mengada
karena Sang Gemilang
bukan hak para pecundang.

Nun di bawah sana, ada yang berkelahi
berebut roti, ada yang mengganti popok bayi,
ada cumbu dan pertengkaran suami-istri.
Mereka tak habis mengerti mengapa
ada yang bersikeras melesat tinggi
bagai rajawali menikahi angkasa kosong sepi
membuang bahagia sehari-hari
dan menggantinya
dengan ratap nestapa abadi.


"Agus R. Sarjono"
Puisi: Nietzsche
Karya: Agus R. Sarjono
Ranggawarsita

Zaman edan yang bahagia,
di manakah 
gerangan Ranggawarsita?

Sunyaruri seisi negeri.
Siapa bertahta 
di ujung harta?
Tanduk-tanduk partai,
mengusung dua ratus juta telur sangsai
ke rumah gadai.
Alangkah eling dan waspada
bagi setiap peluang yang ada.

Sunyaruri segala mimpi.
Harapan lama 
bagai bendera di malam badai:
berkibaran 
dan kusut masai.
Pengadilan dan gunung api
melontarkan magma dan debu ke udara
lantas mengendap di paru-paru negara
: pengap dan menyesakkan dada.

Zaman edan yang bahagia,
di manakah 
gerangan Ranggawarsita?


"Agus R. Sarjono"
Puisi: Ranggawarsita
Karya: Agus R. Sarjono