loading...

Nietzsche

Dengan hebat Nietzsche menghantamkan palu
ke jidat filsafat. Sejak itu semua buku
terpaku dan bahasa mengerang dilanda migren
hingga kadang-kadang harus dilarikan
ke rumah sakit sebagai pasien
dalam pemeriksaan Wittgenstein
untuk dicincang jadi satuan kecil
yang kemudian buru-buru dia lepaskan
sebagai sebuah permainan.

Dengan kantong cekak dan kekuasaan
membengkak di kepala ia kendarai
symponi-symponi Wagner untuk berkunjung
dari kampung ke kampung. Ia temukan
bahwa ancaman fatal bagi manusia kuat
bukan datang dari sang terkuat melainkan
dari mereka yang terlemah. Lihatlah!
Di kampung para pecundang orang gemar
membangun kerangkeng besi bagi Rajawali
agar tak leluasa terbang memangsa mereka,
domba-domba yang bahagia, beranak pinak
dan berdoa dalam ibadah dombawi
tempat tuhan dibiarkan mati setiap hari
tanpa mereka sadari.

Apa yang paling keras memisah dua manusia
jika bukan perbedaan rasa dan tekanan
atas kebersihan? Maka dia mendaki puncak
dan bersabda pada Zarathustra: kebenaran
adalah ilusi tentang mereka yang lupa siapa
diri mereka sendiri, serupa tamsil yang labil
tanpa rasa, uang yang luntur tanpa rupa
dan tak bisa dipakai membeli apa-apa.
Orang-orang pun menganggapnya gila.
Tapi kegilaan pada pribadi jarang terjadi.
Kegilaan hanya bisa meraja dalam kerumunan
semacam kelompok, komunitas, partai, atau negara.
Maka di puncak Zarathustra Nietzsche bersabda
menyeru para domba untuk kembali jadi manusia
bukan berbaris bersama dan mengaum seolah singa.
Diajaknya kita membunuh tuhan-tuhan dombawi
agar manusia bisa berdiri tegak dan mandiri
tak bisa lagi mengembik bahagia
sebagai hamba sahaya yang jumawa.

Sejak kedalaman sentosa yang dulu
bernama bintang kini menjelma noda bayang
ia tak hendak jadi sang peminang kebenaran
dan memilih jadi si pandir, si penyair
karena ilmu dan pengetahuan tak bakal tumbuh
dan berkembang tanpa disiapkan jalan
oleh tukang sulap, penyihir, ahli bintang
dan penyair yang menggubah
semacam haus, lapar, dan citarasa
yang terlarang dan rahasia.
Kehidupan begitu pendek untuk bertuan
pada kejemuan. Bukankah Buah-buah
terindah sang bahagia mewangi ranum
Di ranting-ranting bahaya?

Seekor rajawali membawa Nietzsche
melayang tinggi. Di bawahnya domba-domba
bergerombol menghancurkan berhala
di setiap sudut kota dan pulang ke kandang
sebagai pengabdi sejati bagi berhala
yang kini menjulang abadi di dalam hati.
Kepada Zarathustra dia bersabda:
bunuhlah segera tuhan-tuhan dombawi
bunuh juga si domba pengabdi dalam diri
agar bisa purna sebagai manusia
dan Tuhan sejati bersedia mengada
karena Sang Gemilang
bukan hak para pecundang.

Nun di bawah sana, ada yang berkelahi
berebut roti, ada yang mengganti popok bayi,
ada cumbu dan pertengkaran suami-istri.
Mereka tak habis mengerti mengapa
ada yang bersikeras melesat tinggi
bagai rajawali menikahi angkasa kosong sepi
membuang bahagia sehari-hari
dan menggantinya
dengan ratap nestapa abadi.


"Agus R. Sarjono"
Puisi: Nietzsche
Karya: Agus R. Sarjono

Post a Comment

loading...
 
Top