Juli 2011
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tak Ada Malam di Festival

Apa yang ditampilkan di sini
tak lebih tenang dari langit sehabis hujan
orang-orang bergegas pergi dan kembali
berbekal bicara berbekal mendengar
lalu dibayar lalu terkenal
sedangkan lidah kemarau masih menjulur-julur 
bagai desisan api pada haus kedamaian
di setiap ruang waktu di tanah yang kita tunggu
arti kebebasannya. tak ada manusia berkenalan
dengan kesunyian masing-masing
hanya saling melupakannya di keramaian nanti
berganti saling tukar kartu nama
saling melupakan malam buta
kepada siang yang fana di depan mata
tak ada malam di suatu festival 
kerlip kunang dan kerikan jangkrik
berganti babi panggang dan busa bir
orang-orang bersulang
entah dalam rangka kemenangan apa
berteriak menari berdansa
lupakan duka lara di luar ruang pesta
“Hei, mari hilangkan letihnya puisi lukamu!”
seru seorang bule.

Ah, aku jadi rumah
sudahkah mereka makan nasi jagung
dan kuah kelor malam ini?
“Mak, tak ada malam di festival
bersama lauk moksamu di pesta doa”

Ubud, 2015
"Puisi Raedu Basha"
PuisiTak Ada Malam di Festival
Karya: Raedu Basha

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Prenjak

Prenjak-prenjak begitu ngganter di pagar
sebentar terbang hinggap di cabang awar-awar
lincah meloncat di reranting belukar
aku yakin kau bawa kabar
akan datang tamu ke rumah kami
siang malam petang atau pagi

Harapanku tamu jejaka tampan
berbudi dan beriman
tahu jalan zaman
datang meminang adik bungsuku si Minah
betapa senang sisi rumah
tenaga lelaki akan bertambah
berjemur di lumpur di tengah sawah
tanam padi lebih jadi
lumbung lebih dapat isi

Dan semoga tahun muka
seluruh keluarga berbahagia
Tuhan mengaruniai piala berjiwa.
1971
"Puisi Piek Ardijanto"
PuisiPrenjak
Karya: Piek Ardijanto

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||