Januari 2012
Perempuan yang Cemburu


Perempuan yang cemburu
dadanya bagai dua buah kelapa gading
tergunjing-gunjing
di dalam blusnya yang merah jambu
kerna napasnya yang menderu.

Pisau dapur di tangannya
memantulkan warna-warni lampu disko.
Ia menatap tajam
kepada lelaki serong, kekasihnya.
Si jagoan preman disko
Tenang. Tegap. Rupawan.
Singlet yang bergambar cenderawasih
basah kuyup oleh keringat.
Ia membalas tatapan mata ceweknya.
Dan dia terpesona oleh apa yang dilihatnya.

Orang-orang menyingkir
berhenti menari.
Tetapi musik tidak berhenti
Justru semakin dikeraskan.
Para petugas keamanan menyerbu masuk.
Tetapi lalu tertegun
karena lelaki itu mengangkat tangannya
menyuruh mereka berhenti.
Dua orang tukang parkir
melongok dari pintu.

Musik membahana
bagai ratusan sepeda motor
menjarah kedaulatan jalan.
Lalu terompet menjerit
seperti teriakan orang kolong jembatan
yang menyumpahi rayuan malaikat.
Dengan pisau di tangan
perempuan itu menggoyangkan pinggulnya
meraih musik ke dalam tubuhnya.
Si lelaki terpesona.

Musik melantunkan suara tinggi.
Lengking nyanyian kuntilanak
yang menikmati belaian tukang parkir
pada pahanya.
Lelaki itu menyala oleh pesona.
Lalu ia pun juga menggoyangkan pinggulnya.

Mata khalayak terbelalak menonton mereka.
Dan perempuan itu lebih lepas gerakannya.
Musik memancar dari sendi-sendi di tubuhnya.
Dewi Surga menari.
Menandingi tarian Siwa Nataraja.

Para leluhur turun dari alam purba.
Nongkrong di besi-besi palang
tempat gantungan lampu disko.
Melodi bergelora.
Irama menyentak-nyentak.
Gebalau tikus dan kecoak metropolitan.
Jerit copet yang dikeroyok massa.
Erang amarah dan kesakitan korban H.I.V.

Sambil menari lelaki itu mendekati ceweknya.
Tangannya terulur.
Hendak meraih pisau di tangannya.
Tetapi perempuan itu menolak.
Ia genggam pisaunya lebih keras
dan ia gelengkan kepalanya dengan tegas.
Rambutnya lebar, liar, terburai.
Lelaki itu terpesona.
Lalu ia menari lebih sepenuh hati.
Musik merasuki darahnya.
Dan ia tertenung. Terpesona pada ceweknya.

Ia meraih pinggang wanita itu.
Ditarik lekat ke tubuhnya.
Keduanya dempet.
Buah dada yang keras
terasa kenyal, rapat di dada lelaki itu.
Napas mereka buru-memburu.
Perempuan itu menengadahkan wajahnya.
Matanya berbinar.
Mata kucing betina.
Mulutnya berbibir penuh
mendesahkan napas yang berbau daging kelapa.
Lelaki itu terpesona.

Dengan gerakan yang manis
dan mulut merekah oleh berahi
perempuan itu menjauh sedikit
dari tubuh kekasihnya.
Cecak jantan dan betina
berkejaran di antara lampu-lampu.
Musik menyundul-nyundul atap
seperti kereta api yang penuh berjejal.

Meluncur sangat cepat
melewati gubuk-gubuk karton warga Jakarta.
Sing - song - Sing - song - Sraaat!
Tiba-tiba perempuan itu melambaikan tangannya.
Pisau berkilat dengan cepat.
Lalu lelaki itu membungkuk.
Darah muncrat dari perutnya.
Ia terpesona.
"Hebat!" gumamnya.

Dan kepada khalayak yang merangsek
ia tegas berkata:
"Jangan ikut campur!"
Tangan kirinya menekan perut.
Tangan kanannya terentang mengundang.
Perempuan itu menghambur kepadanya.
Dan ia memeluknya.
Dempet.
Musik bagai gelombang guruh
Yang menggeram dari jauh
di ufuk langit yang keruh.
Dua tubuh dempet bergoyang. Dan irama.
Basah. Keringat. Darah.
Sing - song - Sing - song. Pyar!
Sing - song - Sing - song. Pyar!

Di rumah sakit perutnya dijahit.
Ketika terbaring di ranjang kamar pasien
teman-temannya mengerumuninya.
Dan ceweknya erat menggenggam tangannya.
Kepada teman-temannya ia berkata:
"Ia merobek perutku tidak sepenuh hati.
Lukaku luka ringan biasa.
Aku paham isi hatinya."
Ia menoleh kepada ceweknya.
Dan perempuan itu menjilati peluh lelaki itu.
Di jidat. Di lehernya.
"Kalian semua pergi.
Ini urusan pribadi.
Jangan lupa menutup pintunya."

Para leluhur dari alam gaib
memancarkan bau Gandasuli.
Menggerombol di pojok kamar.
Klarinet bersuara sopan
di udara di luar yang berembun.
Ranjang dan kantong infus bergoyang-goyang.
Perempuan itu telanjang
dan bertengger di atas tubuh kekasihnya.
Dalam keadaan terengah dan membungkuk
kedua susunya menggantung.
Semakin nyata bentuk dan mutunya.

Para leluhur dari alam gaib
mengejap-ngejapkan mata mereka
sambil menyebarkan restu Gandasuli
dan terdengar dengkur-dengkur yang teratur
dari gubuk-gubuk karton
di sepanjang jalan kereta api.
Sing - song - Sing - song.
Sing - song - Sing - song. Pyar!
Sing - song - Sing - song. Pyaar!
Sing - song - Sing - song. Pyaaar!



Cipayung Jaya
4 Februari 2007
Buku: Doa Untuk Anak Cucu
"Puisi: Perempuan yang Cemburu (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Perempuan yang Cemburu
Karya: W.S. Rendra
Elegia Ibu Kota

O, Bapa pemimpin
o, pemerintah
hati yang beku betapa dingin.

Siang betapa panas
lelaki kami berkeringat
mengkekas dari sampah ke sampah.

Malam betapa sendu
perempuan kami berlagu
berjalan dari taman ke taman.

O, Bapa pemimpin
o, pemerintah
berilah kami nasi dan rumah.

Karena rakyatlah maka ada pemimpin
karena rakyatlah maka ada pemerintah
tapi kami ditinggal di mana.

Karena tamaklah maka pemimpin berlupa
karena tamaklah maka belati disorong ke perutnya
selagi mulutnya membusa tawa dan dusta.

O, Bapa pemimpin
o, pemerintah
tersenyumlah kepada kami ramah tamah.

Beri dan yakinkanlah kami akan ketetapan rencana
beri dan jaminlah kami akan kesempatan kerja
agar kami dapat berdarma dan berjasa.

Bawalah kami kepada arti dan nikmatnya kemerdekaan
kedamaian tanah air yang didengung diagungkan
di mana kami tenteram beranak dan berkasihan.
  
1963
"Puisi: Elegia Ibu Kota (Karya Aldian Aripin)"
Puisi: Elegia Ibu Kota
Karya: Aldian Aripin
Yang Tak Menarik dari Mati


Yang tak menarik dari mati
adalah kebisuan sungai
ketika aku
menemuinya.

Yang menghibur dari mati
adalah sejuk batu-batu,
patahan-patahan kayu
pada arus itu.
 

2012
"Puisi: Yang Tak Menarik dari Mati (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Yang Tak Menarik dari Mati
Karya: Goenawan Mohamad
U
Surga terletak di telapak kaki ibu, ia selalu ingat itu: perempuan tua
penyapu jalan yang tak dikenalnya yang memberinya seraut tapal kuda
dan berkata, 'Kutemukan ini; coba kau simpan.'

Sejak itu di tas sekolahnya ada tapal kuda yang separuh berkarat. Tiap
pagi, sebelum memasuki kelas, ia merabanya: sesaat, entah di mana, ia
dengar gerit pintu kandang dibuka dan bunyi langkah ksatria yang belum
ia beri nama: seorang kurus yang meregangkan kakinya di sanggurdi dan
berangkat membunuh Boma di perbatasan.

Di kedai tukang kebun, terkadang ia tunjukkan tapal kuda itu kepada siapa
saja yang duduk di dekatnya. Siapa saja tak pernah tahu apa yang
sebaiknya dikatakan. Beberapa orang hanya berkata, 'Wah!' dan pergi.

Beberapa tahun kemudian ia menangis untuk ayahnya yang menghilang di
Semenanjung dan ibunya yang memahat kayu sampai jauh malam.
Digenggamnya tapal kuda itu di jam-jam sebelum tidur, karena ia ingin
bermimpi Boma tak mengalahkan ksatria yang tak bernama itu, meskipun
kuda itu pulang tak berpenunggang.

Dulu ia pernah percaya besi berkarat yang disimpannya itu juga terpasang
di kuda kavaleri yang terjun ke jurang dengan leher tertembak. Tapi
kemudian ia menemukan sejumlah cerita lain yang setelah 25 tahun
berlalu ia lupakan.

Kini, di studionya, tapal kuda itu terpasang pada tepi meja gambar: seraut
U yang bersahaja, sebuah desain dengan sederet lobang yang seakan-akan
malu menyembunyikan kesedihan.

Tapi mungkin juga bukan kesedihan. Kemarin malam di atas kertas ia
goreskan pensil mengikuti lengkung U. Lalu ia gambar sebuah candi di
sebuah hutan Bali yang hampir tak kelihatan karena kabut. 'Ini
cerita perjalanan yang lama,' demikian ia berkata kepada anaknya
yang menatapnya dengan takjub.

'Aku melihat kuda itu, Ayah.'
'Apa warnanya, Isa?'

'Ungu, tapi kakinya putih. Di pelananya duduk seorang ibu yang tua.'

'Bukan seorang ksatria yang kurus?'
'Bukan.'

Ia diam. Dielusnya kepala anak itu.

Di depan jendela studio, kemudian, ketika ia sejenak melihat ke gelap, ia
dengar berisik sebuah jalan yang tak dikenalnya. Seperti di pagi hari.
Seorang ibu tua penyapu jalan, dengan seragam kuning yang berlumpur,
terbungkuk memungut sesuatu dari sampah.

Di antara asap mobil yang lewat, benda itu berkilau. Seperti setangkai daun
surga.
2012
"Puisi: U (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: U
Karya: Goenawan Mohamad
Tentang Usinara

Usinara, yang menyerahkan jangat dan darahnya untuk
menyelamatkan seekor punai yang terancam kematian,
tahu dewa-dewa tak pernah siap. Mereka makin tua.
Langit menggantungkan dacin pada tiang lapuk
Neraka sejak cinta dibunuh. Timbangan terlambat. Telah tujuh
zaman asap & api penyiksaan mengaburkan mata siapa saja.

Di manakah batas belas, Baginda? "Mungkin tak ada,"
jawab Usinara. Ia hanya menahan perih di rusuknya
ketika tujuh burung nasar sibuk di kamar itu,(tujuh,
bukan satu), merenggutkan dagingnya, selapis demi
selapis.

Sering aku bayangkan raja yang baik hati itu tergeletak
di lantai, memandang ke luar pintu, melihat debu sore
dan daun-daun yang pelan-pelan berubah ungu. Ia ingin
punai itu segera lepas. "Ayo, terbang. Aku telah
menebus nyawamu," ia ingin berkata. Tapi suaranya
tak terdengar.

Sementara itu, di sudut, si punai menangis: "Tak ada
dewa yang datang dan mengubah adegan ini jadi
dongeng!". Usinara hanya menutup matanya. Ia tahu
kayangan adalah cerita yang belum jadi.

2012
"Puisi: Tentang Usinara (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Tentang Usinara
Karya: Goenawan Mohamad
Tentang Maut

Di ujung bait itu mulai tampak sebuah titik
yang kemudian runtuh, 5 menit setelah itu.

Di ujung ruang itu mulai tampak sederet jari
yang ingin memungutnya kembali.

Tapi mungkin
itu tak akan pernah terjadi.

Ini jam yang amat biasa: Maut memarkir keretanya
di ujung gang dan berjalan tak menentu.

Langkahnya tak seperti yang kau bayangkan: tak ada
gempa, tak ada hujan asam, tak ada parit
yang meluap.

Hanya sebuah sajak, seperti kabel yang putus.

Atau hampir putus.
 

2012
"Puisi: Tentang Maut (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Tentang Maut
Karya: Goenawan Mohamad
Tentang Chopin

Kembali ke nokturno, katamu. Aku inginkan Chopin.
Seperempat jam kemudian, tuts hitam pada piano itu
Menganga.
Malam telah melukai mereka.

Mungkin itu sebabnya kau selalu merasa bersalah,
seakan-akan sedih adalah bagian dari ketidaktahuan.
Atau kecengengan. Tapi setiap malam, ada jalan batu
dan lampu sebuah kota yang tak diingat lagi, dan kau,
yang mencoba mengenangnya dari cinta yang pendek,
yang terburu, akan gagal. Di mana kota ini? Siapa yang
meletakkan tubuh itu di sisi tubuhmu?
Semua yang kembali
hanya menemuimu
pada mimpi yang tersisa
di ruas kamar...

Coba dengar, katamu lagi,
apa yang datang dalam No. 20 ini?

Di piano itu seseorang memandang ke luar
dan mencoba menjawab:
Mungkin hujan. Hanya hujan.

Tapi tak ada hujan dalam C-Sharp Minor, katamu.
 

2012
"Puisi: Tentang Chopin (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Tentang Chopin
Karya: Goenawan Mohamad
Setajam Layung Senja

Setajam layung senja: Lorong-lorong ini pun juga
Bergetar antara pucuk, antara gerak samar cemara
Dan segala pasti menunggu, jalanan malam Minggu
Dan segala pasti menunggu: jaga akhir hari yang lesu.

Sebab yang melangkah ke malam bukan hanya pengembara
Sebab yang terbungkuk di ranjang bukan hidup sia-sia
Kepada kaca pun kita sanggup berbisik
Sepanjang senja yang lenyap: detik demi detik.

1961
"Puisi: Setajam Layung Senja (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Setajam Layung Senja
Karya: Goenawan Mohamad
Rite of Spring

Tari itu melintas pada cermin:
bagian terakhir Ritus Musim.
Gerak gaun - paras putih -
tapak kaki yang melepas lantai....

23 tahun kemudian di kaca ia temukan
wajahnya. Sendiri. Terpisah dari ruang.
Lekang, seperti warna waktu
pada kertas koreografi.

Tapi ia masih ingin meliukkan tangannya.
"Aku tak seperti dulu," katanya,
"tapi di fragmen ini kau memerlukan aku.
Aku - hantu salju."

Suaranya pelan. Seperti derak tulang
ketika di ruang latihan itu
tak ada lagi adegan.
Hanya nafas. Mungkin ia masih di situ.

2012
"Puisi: Rite of Spring (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Rite of Spring
Karya: Goenawan Mohamad
Di Antara Kanal
Jarimu menandai sebuah percakapan
yang tak hendak kita rekam
di hitam sotong dan gelas sauvognon blanc
yang akan ditinggalkan.

Di kiri kita kanal menyusup
dari laut. Di jalan para kelasi
malam seakan-akan biru.
"Meskipun esok lazuardi," katamu.

Aku dengar. Kita kenal
kegaduhan di aspal ini.
Kita tahu banyak hal.
Kita tahu apa yang sebentar.

Seseorang pernah mengatakan
kita telah disandingkan
sejak penghuni pertama ghetto Yahudi
membangun kedai.

Tapi kau tahu aku akan melepasmu di sudut itu,
tiap malam selesai, dan aku tahu kau akan pergi.
"Kota ini," katamu, "adalah jam
yang digantikan matahari."

2012
"Puisi: Di Antara Kanal (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Di Antara Kanal
Karya: Goenawan Mohamad
Daun

Dengan konyol aku ceritakan
bagian penutup Setangkai Daun Surga:
Syahdan, di malam ke-7 yang dingin
(itu kuingat dari buku Cor Bruijn),
setelah derak gurun,
setelah badai bertahun-tahun
tangkai terakhir itu dianugerahkan.
Dan daun itu jadi hijau,
dan daun jadi
engkau.

Tapi kau tak bertanya, bagaimana
akhir dongeng itu sebenarnya.

Kau hanya dengan sabar
mendengarkan
suaraku yang setengah hilang
di terik sebuah siang
yang setengah bahagia.


2012
"Puisi: Daun (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Daun
Karya: Goenawan Mohamad
Datang
25 September, akhirnya ia datang, hampir terlambat:
ia dan warna putih,
ia dan jam yang teduh,
ia dan anti-kematian.

Aku pun pelan menciumnya, dan di landskap
hanya ini yang kulihat:
bulan yang mencoba lepas
dari kota dan gas.

2009-2012
"Puisi: Datang (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Datang
Karya: Goenawan Mohamad
Aktor
- untuk Moh. Sunjaya

Aktor terakhir menutup pintu.
"Caesar, aku pulang."
Dan ruang-rias kosong. Cermin jadi dingin
seperti wajah tua yang ditinggalkan.

Siapapun pulang. Meski pada jas
dengan punggung yang berlobang
ia masih rasakan ujung pisau itu
menikam dan akordeon bernyanyi

pada saat kematian. Ia masih ingat
kalimat di adegan ke-4,
tentu saja. Tapi tak ingin
mengulangnya.

"Teater," sutradara selalu bergumam,
"hanya kehidupan dua malam."
"Tapi tetap kehidupan," ia ingin menjawab.
Ia selalu merasa bisa menjawab.

Ia menyukai suaranya sendiri
dan beberapa kata-kata.
Tapi pada tiap reruntukan panggung
ia lupa kata-kata.

Pada tiap reruntukan panggung
ia hanya ingin tiga detik - tiga detik yang yakin:
dalam lorong Kapai-Kapai, Abu tak berhenti
hanya karena cahaya tak ada lagi.

Ia tak menyukai melankoli.



2012
"Puisi: Aktor (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Aktor
Karya: Goenawan Mohamad
Cerita Buat Dien Tamaela


Beta Pattirajawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu.

Beta Pattirajawane
Kikisan laut
Berdarah laut.

Beta Pattirajawane
Ketika lahir dibawakan
Datu dayung sampan.

Beta Pattirajawane, menjaga hutan pala
Beta api di pantai. Siapa mendekat
Tiga kali menyebut beta punya nama.

Dalam sunyi malam ganggang menari
Menurut beta punya tifa,
Pohon pala, badan perawan jadi
Hidup sampai pagi tiba.

Mari menari!
Mari beria!
Mari berlupa!

Awas jangan bikin beta marah
Beta bikin pala mati, gadis kaku
Beta kirim datu-datu!

Beta ada di malam, ada di siang
Irama ganggang dan api membakar pulau...

Beta Pattirajawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu. 


1946
"Puisi: Cerita Buat Dien Tamaela (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: Cerita Buat Dien Tamaela
Karya: Chairil Anwar
Not


Malam itu ia coba tirukan,
dengan bunyi senar gitar, tetes air
yang saling bertemu
di talang serambi.

Tapi yang terbentuk dari langit
hanya lagu.
"Aku tak ingin lagu",
katanya.

Tak seorang pun tahu apa yang ia inginkan.
Mungkin sesuatu yang lepas,
not yang tak terkait dengan angin yang datang ke bubungan ketika hampir fajar.

"Kau selalu menghendaki yang sulit"
- itu kesimpulan perempuan yang tidur
di sebelahnya
pada dini hari sebelumnya.

Ia mengangguk. "Aku selalu berdoa
kepada Tuhan yang tak sengaja", sahutnya, "Tuhan yang sudah lama mati."
Dan ia kembali memetik senar.

Menjelang matahari terbit,
di atas deretan gudang ia lihat langit memperlihatkan kilat sejenak.
Lampu-lampu menghalaunya.

Akan ada petir yang jatuh
pada penangkal di sebuah bukit, pikirnya,
jauh di pedalaman,
tak tahu ia tak akan hilang.

"Bersama sebuah not".



2012
"Puisi: Not (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Not
Karya: Goenawan Mohamad
Guru Belia yang Tertidur di Buku Sejarah
Guru-guru belia itu hidup dan tertidur di buku-buku sejarah
bangsa lain yang kadang bermimpi dan mabuk lalu keluar dari
ruh sejarahnya sendiri berjingkrakan di antara erangan musik
yang mengeluarkan bau bangkai gibson tapi aneh guru-guru
belia itu bangga menghisapnya padahal di paru-paru mereka
tidak hanya ada saman kunaun tortor atau krinok yang sejak lama
menidurkan Puncak-Puncak Merapi Sabang dan Bukit Siguntang namun
lucunya guru-guru belia itu kian hari semakin bertambah angkuh
dan bangga menciumi pantat babi sambil menari-nari dengan
mengibarkan keyakinannya dan berucap bangga
kami juga sama pandainya dengan mereka meski hanya dengan
menciplak meniru dan mencuri kehebatan mereka
koplok.
Guru-guru belia yang hanya bisa menghitung jumlah kancing baju
tapi tak pandai berfikir bagaimana kebudayaan bisa tercipta pada saat
kencing dan buang tinja meniduri bayi atau saat bersenggama.
Guru-guru muda yang hanya bisa menarik dan menurunkan resleting
tapi tak pandai berfikir bagaimana ranjang bisa menerangi jagad
raya ah guru-guru belia yang hanya bisa memindahkan tumpukan
batu-bata tapi tak pandai mengasamkan tanah mencetak kembali
kepala Syailendra atau jari-jari Mpu Gandring yang lama membusuk
di paru-parunya.
Ah guru-guru belia yang silau pada bau bangkai aku tak mau terjebak
seperti kamu yang tak pernah mau menyelami ruh bangsamu.
2012

"Puisi: Guru Belia yang Tertidur di Buku Sejarah (Karya Acep Syahril)"
Puisi: Guru Belia yang Tertidur di Buku Sejarah
Karya: Acep Syahril
Guru Yang Tak Punya Malu
Bertahun-tahun mereka belajar dari kalian guru yang selalu membuat
banyak kesalahan dan kelalaian guru yang kemudian membuat
murid-muridnya jadi malu pada dirinya sendiri kini kalian
semakin tak mereka mengerti padahal mereka tau kalian juga
sama seperti mereka hanya debu yang menempel di lidah waktu.
Lalu diam-diam mereka belajar dari kelalaian kalian tanpa semadi atau
menyepi dari keramaian tapi menyelam dalam lautan kalian berenang
berenung di dalamnya tanpa mencari tepian sembari bertanya pada
rasa malu itu.
Bertahun-tahun mereka belajar dari gurunya yang selalu membuat banyak
kesalahan dan kelalaian yang berlangsung seperti pemandangan pagi hari
di kebun teh di situ mereka juga belajar dari keramahannya yang ternyata
menyimpan banyak belahan dunia.
Ow terima kasih daun teh katanya kalian telah mengajarkan kami
untuk tidak melakukan kalalaian seperti yang diajarkan guru-guru kami
sebab ketika orang-orang di luar pikiran kami sibuk membungkus dunia
guru-guru kami malah sibuk membungkus diri sendiri.
2011

"Puisi: Guru Yang Tak Punya Malu (Karya Acep Syahril)"
Puisi: Guru Yang Tak Punya Malu
Karya: Acep Syahril
Energi


Engkaulah orang-orang yang acap kali mencium
mengintai amis cangkul kami atau ani-ani yang
bercinta dengan dewi sri di bawah kasmaran dewa
api dan rayuan waktu penuh janji tanah air sawah
dan anjir adalah gaya zat dan energi kami
menggerakannya sebagai percintaan paling berarti dengan
mengenang words worth Phytagora dan Shakespeare
antara dangau burung-burung dan tali temali.

Pupuk hama benih dan musim adalah biji dadu
seperti kisah cinta memabukkan Karl Moor mimpi
dicium kekasihnya tapi kami ditimbun harapan-harapan
Amelia sesekali kami terkenang pada kalian yang
berlompatan keluar garis bilangan sebagai
tikus-tikus yang bekejaran di lumbung padi kalian
pengerat pencuri lucu dan menjijikkan seolah
mengingatkan kembali pada berbagai peristiwa bernyawa
dan penyakit korupsi yang menjelma dimana-mana
tapi itu bukan gejala sampar kata kalian bersahaja
sekarang jalan dan gang buntu menuju rumah kami
kian sulit dibedakan antara pematang basah dan
kubangan kerbau lalu diam-diam kalian hapus air mata
kami caping arit dan seperangkat alat kerjanya
kalian poles dengan minyak teknologi tapi kami
takkan hanyut oleh kabar gembira ini selagi kalian
terus menerus membajak petak-petak akal petani dan
dengarlah suatu kali kami akan datang dengan masa
perlawanan seluruh potensi energi dan akal kami akan
kembali membajak tanah-tanah di otak kalian dengan
membalik hara tanahnya menjadi ladang syaraf yang
subur dan berhati nurani.



Sudikampiran, Indramayu

"Puisi: Energi (Karya Acep Syahril)"
Puisi: Energi
Karya: Acep Syahril
Sajak Peperangan Abimanyu
(Untuk putraku, Isaias Sadewa)


Ketika maut mencegatnya di delapan penjuru.
Sang kesatria berdiri dengan mata bercahaya.
Hatinya damai,
di dalam dadanya yang bedah dan berdarah,
karena ia telah lunas
menjalani kewajiban dan kewajarannya.

Setelah ia wafat
apakah petani-petani akan tetap menderita,
dan para wanita kampung
tetap membanjiri rumah pelacuran di kota?
Itulah pertanyaan untuk kita yang hidup.
Tetapi bukan itu yang terlintas di kepalanya
ketika ia tegak dengan tubuh yang penuh luka-luka.
Saat itu ia mendengar
nyanyian angin dan air yang turun dari gunung.

Perjuangan adalah satu pelaksanaan cita dan rasa.
Perjuangan adalah pelunasan kesimpulan penghayatan.
Di saat badan berlumur darah,
jiwa duduk di atas teratai.

Ketika ibu-ibu meratap
dan mengurap rambut mereka dengan debu,
roh kesatria bersetubuh dengan cakrawala
untuk menanam benih
agar nanti terlahir para pembela rakyat tertindas
dari zaman ke zaman.


Jakarta
2 September 1977
"Puisi: Sajak Peperangan Abimanyu Karya: W.S. Rendra"
Sajak Peperangan Abimanyu
Karya: W.S. Rendra
Sajak Ibunda


Mengenangkan ibu
adalah mengenangkan buah-buahan.
Istri adalah makanan utama.
Pacar adalah lauk-pauk.
Dan Ibu
adalah pelengkap sempurna
kenduri besar kehidupan.

Wajahnya adalah langit senja kala.
Keagungan hari yang telah merampungkan tugasnya.
Suaranya menjadi gema
dari bisikan hati nuraniku.

Mengingat ibu
aku melihat janji baik kehidupan.
Mendengar suara ibu,
aku percaya akan kebaikan manusia.
Melihat foto ibu,
aku mewarisi naluri kejadian alam semesta.

Berbicara dengan kamu, saudara-saudaraku,
aku pun ingat kamu juga punya ibu.
Aku jabat tanganmu,
aku peluk kamu di dalam persahabatan.
Kita tidak ingin saling menyakitkan hati,
agar kita tidak saling menghina ibu kita masing-masing
yang selalu, bagai bumi, air dan langit,
membela kita dengan kewajaran.

Maling juga punya ibu. Pembunuh punya ibu.
Demikian pula koruptor, tiran, fasis,
wartawan amplop, anggota parlemen yang dibeli,
mereka pun punya ibu.
Macam manakah ibu mereka?
Apakah ibu mereka bukan merpati di langit jiwa?
Apakah ibu mereka bukan pintu kepada alam?

Apakah sang anak akan berkata kepada ibunya:
"Ibu aku telah menjadi antek modal asing;
yang memproduksi barang-barang yang tidak mengatasi
kemelaratan rakyat,
lalu aku membeli gunung negara dengan harga murah,
sementara orang desa yang tanpa tanah
jumlahnya melimpah.
Kini aku kaya.
Dan lalu, ibu, untukmu aku beli juga gunung
 bakal kuburanmu nanti."

Tidak. Ini bukan kalimat anak kepada ibunya.
Tetapi lalu bagaimana sang anak
akan menerangkan kepada ibunya
tentang kedudukannya sebagai
 tiran, koruptor, hama hutan,
 dan tikus sawah?
Apakah sang tiran akan menyebut dirinya
 sebagai pemimpin revolusi?
Koruptor dan antek modal asing akan
 menamakan dirinya sebagai pahlawan pembangunan?
Dan hama hutan serta tikus sawah akan
 menganggap dirinya sebagai petani teladan?

Tetapi lalu bagaimana sinar pandang mata ibunya?
Mungkinkah seorang ibu akan berkata:
"Nak, jangan lupa bawa jaketmu.
Jagalah dadamu terhadap hawa malam.
Seorang wartawan memerlukan kekuatan badan.
O, ya, kalau nanti dapat amplop,
tolong belikan aku udang goreng."

Ibu, kini aku makin mengerti nilaimu.
Kamu adalah tugu kehidupanku,
yang tidak dibikin-bikin dan hambar seperti Monas dan Taman Mini.
Kamu adalah Indonesia Raya.
Kamu adalah hujan yang dilihat di desa.
Kamu adalah hutan di sekitar telaga.
Kamu adalah teratai kedamaian samadhi.
Kamu adalah kidung rakyat jelata.
Kamu adalah kiblat nurani di dalam kelakuanku.




Pejambon, Jakarta, 23 Oktober 1977
"Puisi: Sajak Ibunda (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Sajak Ibunda
Karya: W.S. Rendra
Ballada Sumilah


Tubuhnya lilin tersimpan di keranda
tapi halusnya putih pergi kembara.

Datang yang berkabar bau kemboja
dari sepotong bumi keramat di bukit
makan dari bau kemenyan.

Sumilah!
Rintihnva tersebar selebar tujuh desa
dan di ujung setiap rintih diserunya
- Samijo! Samijo!

Bulan akan berkerut wajahnya
dan angin takut nyuruki atap jerami
seluruh kandungan malam pada tahu
roh Surnilah meratap dikungkung rindunya
pada roh Samijo kekasih dengan belati pada mata.

Dan sepanjang malam terurai riwayat duka
begini mulanya:
Bila pucuk bambu ngusapi wajah bulan
ternak rebah dan bunda-bunda nepuki paha anaknya
dengan kembang-kembang api jatuh peluru meriam pertama
malam muntahkan serdadu Belanda dari utara.

Tumpah darah lelaki
o kuntum-kuntum delima ditebas belati
dan para pemuda beribukan hutan jati
tertinggal gadis terbawa hijaunya warna sepi.

Demi hati berumahkan tanah ibu
dan pancuran tempat bercinta
Samijo berperang dan mewarnai malam
dengan kuntum-kuntum darah
perhitungan dimulai pada mesiu dan kelewang.

Terkunci pintu jendela
gadis-gadis tertinggal menaikkan kain dada
ngeri mengepung hidup hari-hari.

Segala perang adalah keturunan dendam
sumber air pancar yang merah
bebunga berwarna nafsu
dinginnya angin pucuk pelor, dinginnya mata baja
reruntuklah semua merunduk
bahasa dan kata adalah batu yang dungu.

Maka satu demi satu meringkas rumah-rumah jadi abu
dan perawan-perawan menangisi malamnya tak ternilai
kerna musuh tahu benar arti darah
memberi minum dari sumber tumpah ruah
nyawanya kijang diburu terengah-engah.

Waktu siang mentari menyadap peluh
dengan bongkok berjalan nenek suci Hassan Alidi
satu semak menggumpal daging perawan
maka diserunya bersama derasnya darah:
- Siapa kamu?
- Daku Sumilah daku mendukung duka!
Belanda berbulu itu membongkar pintu
dikejar daku putar-putar sumur tapi kukibas dia.
- Duhai diperkosanya dikau anak perawan!
- Belum lagi! Demi air daraku merah: belum lagi!
Takutku punya dorongan tak tersangka
tersungkur ia bersama nafsunya ke sumur.
- O tersobek kulitmu lembut berbungakan darah
koyak-moyak batumu muntahkan dadamu
lenyaplah segala kerna tiada lagi kau punya
bunga yang terputih dengan kelopak-kelopak sutra,
- Belum lagi! Demi air daraku merah: belum lagi!

Demi berita noda teramat cepat karena angin sendiri
di mulut tujuh desa terucap Sumilah dan nodanya.

Dan demi berita noda teramat cepat kerna angin sendiri
noda Sumilah terpahat juga di hutan-hutan jati
lelaki-lelaki letakkan bedil kelewang mengenangnya
dan Samijo kerahkan segenap butir darah
lebih setan daripada segala kerbau jantan.

Bila dukana terkaca pada bulan keramik putih
antara bebatang jati dengan rambut tergerai
Sumilah yang malang mendamba, Samijonya
menyuruk musang, burung gantil nyanyikan ballada hitam.

Satu tokoh menonggak di tempat luang dan berseru dengan nada api nyala:
- Berhenti! Sebut namamu!

Terhenti Sumilah serahkan diri ke batang rebah:
- Suaramu berkabar kau Samijo, Samijoku.
Daku Sumilah yang malang, Sumilahmu.
- Tiada lagi kupunya Sumilah. Sumilahku mati!
- Belum lagi, Samijo! Aku masih dara!

Bulan keramik putih tanpa darah
warna jingga adalah mata Samijo
menatap ia dan menatap amat tajamnya.

- Padamkan jingga apimu. Padamkan!
Demi selaput sutraku lembut: belum lagi!

Bulan keramik putih bagai pisau cukur
sayati awan dan malam yang selalu meratap
Samijo menatap dan menatap amat tajamnya.

- Samijo, ambil tetesan darahku pertama
akan terkecap daraku putih, daramu seorang.
Batang demi batang adalah balutan kesepian
malam mengempa segala terperah sendat napas
Samijo menatap dan menatap amat tajamnya.

- Samijo, hentikan penikaman pisau pandang matamu
kaubantai daku bagai najis, mengorek dena yang tiada.
Padamlah padam kemilau yang menuntut dari dendam.

Warna pandangnya seolah ungkapan kutuk berkata:
- Jadilah perempuan mandul kerna busuk rahimmu,
jadilah jalang yang ngembara dari hampa ke dosa
aku kutuki kau demi kata putus nenek moyang!

Tanpa omong dilepas tikaman pandang penghabisan
lalu berpaling ia menghambur ke jantung hutan jati
tertinggal Sumilah digayuti koyak-moyaknya.

Sedihlah yang bercinta kerna pisah
lebih sedihlah bila noda terbujur antaranya
dan segalanya itu tak 'kan padam.

Kokok ayam jantan esoknya bukanlah tanda menang
adalah ratap yang juga terbawa oleh kutilang
karena warga desa jumpai mayat Samijo nemani guguran
talok depan tangsi Belanda.

Merataplah semua meratap
kerna yang mati menggenggam dendam
di katup rahang adalah kenekatan linglung tersia.

Kerna dendamnya siksa air matanya terus kembara
menatap kehadiran Sumilah, dinginnya tanpa percaya
dan Sumilah jadi gila terkempa dada oleh siksa
gadis begitu putih jumpai ajalnya di palung sungai.

Sumilah! Sumilah!
Tubuhnya lilin tersimpan di keranda
tapi halusnya putih pergi kembara
rintihnya tersebar selebar tujuh desa
dan di ujung setiap rintih diserunya:
- Samijo! Samijo!
Matamu Tuan begitu dingin dan kejam
pisau baja yang mengorek noda dari dada
dari tapak tanganmu angin napas neraka
mendera hatiku berguling lepas dari rongga
bulan jingga, telaga kepundan jingga
ranting-ranting pokok ara
terbencana darahku segala jingga
Hentikan, Samijo! Hentikan, ya Tuan!
 
 
"Puisi: Ballada Sumilah (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Ballada Sumilah
Karya: W.S. Rendra