Perempuan yang Cemburu


Perempuan yang cemburu
dadanya bagai dua buah kelapa gading
tergunjing-gunjing
di dalam blusnya yang merah jambu
kerna napasnya yang menderu.

Pisau dapur di tangannya
memantulkan warna-warni lampu disko.
Ia menatap tajam
kepada lelaki serong, kekasihnya.
Si jagoan preman disko
Tenang. Tegap. Rupawan.
Singlet yang bergambar cenderawasih
basah kuyup oleh keringat.
Ia membalas tatapan mata ceweknya.
Dan dia terpesona oleh apa yang dilihatnya.

Orang-orang menyingkir
berhenti menari.
Tetapi musik tidak berhenti
Justru semakin dikeraskan.
Para petugas keamanan menyerbu masuk.
Tetapi lalu tertegun
karena lelaki itu mengangkat tangannya
menyuruh mereka berhenti.
Dua orang tukang parkir
melongok dari pintu.

Musik membahana
bagai ratusan sepeda motor
menjarah kedaulatan jalan.
Lalu terompet menjerit
seperti teriakan orang kolong jembatan
yang menyumpahi rayuan malaikat.
Dengan pisau di tangan
perempuan itu menggoyangkan pinggulnya
meraih musik ke dalam tubuhnya.
Si lelaki terpesona.

Musik melantunkan suara tinggi.
Lengking nyanyian kuntilanak
yang menikmati belaian tukang parkir
pada pahanya.
Lelaki itu menyala oleh pesona.
Lalu ia pun juga menggoyangkan pinggulnya.

Mata khalayak terbelalak menonton mereka.
Dan perempuan itu lebih lepas gerakannya.
Musik memancar dari sendi-sendi di tubuhnya.
Dewi Surga menari.
Menandingi tarian Siwa Nataraja.

Para leluhur turun dari alam purba.
Nongkrong di besi-besi palang
tempat gantungan lampu disko.
Melodi bergelora.
Irama menyentak-nyentak.
Gebalau tikus dan kecoak metropolitan.
Jerit copet yang dikeroyok massa.
Erang amarah dan kesakitan korban H.I.V.

Sambil menari lelaki itu mendekati ceweknya.
Tangannya terulur.
Hendak meraih pisau di tangannya.
Tetapi perempuan itu menolak.
Ia genggam pisaunya lebih keras
dan ia gelengkan kepalanya dengan tegas.
Rambutnya lebar, liar, terburai.
Lelaki itu terpesona.
Lalu ia menari lebih sepenuh hati.
Musik merasuki darahnya.
Dan ia tertenung. Terpesona pada ceweknya.

Ia meraih pinggang wanita itu.
Ditarik lekat ke tubuhnya.
Keduanya dempet.
Buah dada yang keras
terasa kenyal, rapat di dada lelaki itu.
Napas mereka buru-memburu.
Perempuan itu menengadahkan wajahnya.
Matanya berbinar.
Mata kucing betina.
Mulutnya berbibir penuh
mendesahkan napas yang berbau daging kelapa.
Lelaki itu terpesona.

Dengan gerakan yang manis
dan mulut merekah oleh berahi
perempuan itu menjauh sedikit
dari tubuh kekasihnya.
Cecak jantan dan betina
berkejaran di antara lampu-lampu.
Musik menyundul-nyundul atap
seperti kereta api yang penuh berjejal.

Meluncur sangat cepat
melewati gubuk-gubuk karton warga Jakarta.
Sing - song - Sing - song - Sraaat!
Tiba-tiba perempuan itu melambaikan tangannya.
Pisau berkilat dengan cepat.
Lalu lelaki itu membungkuk.
Darah muncrat dari perutnya.
Ia terpesona.
"Hebat!" gumamnya.

Dan kepada khalayak yang merangsek
ia tegas berkata:
"Jangan ikut campur!"
Tangan kirinya menekan perut.
Tangan kanannya terentang mengundang.
Perempuan itu menghambur kepadanya.
Dan ia memeluknya.
Dempet.
Musik bagai gelombang guruh
Yang menggeram dari jauh
di ufuk langit yang keruh.
Dua tubuh dempet bergoyang. Dan irama.
Basah. Keringat. Darah.
Sing - song - Sing - song. Pyar!
Sing - song - Sing - song. Pyar!

Di rumah sakit perutnya dijahit.
Ketika terbaring di ranjang kamar pasien
teman-temannya mengerumuninya.
Dan ceweknya erat menggenggam tangannya.
Kepada teman-temannya ia berkata:
"Ia merobek perutku tidak sepenuh hati.
Lukaku luka ringan biasa.
Aku paham isi hatinya."
Ia menoleh kepada ceweknya.
Dan perempuan itu menjilati peluh lelaki itu.
Di jidat. Di lehernya.
"Kalian semua pergi.
Ini urusan pribadi.
Jangan lupa menutup pintunya."

Para leluhur dari alam gaib
memancarkan bau Gandasuli.
Menggerombol di pojok kamar.
Klarinet bersuara sopan
di udara di luar yang berembun.
Ranjang dan kantong infus bergoyang-goyang.
Perempuan itu telanjang
dan bertengger di atas tubuh kekasihnya.
Dalam keadaan terengah dan membungkuk
kedua susunya menggantung.
Semakin nyata bentuk dan mutunya.

Para leluhur dari alam gaib
mengejap-ngejapkan mata mereka
sambil menyebarkan restu Gandasuli
dan terdengar dengkur-dengkur yang teratur
dari gubuk-gubuk karton
di sepanjang jalan kereta api.
Sing - song - Sing - song.
Sing - song - Sing - song. Pyar!
Sing - song - Sing - song. Pyaar!
Sing - song - Sing - song. Pyaaar!



Cipayung Jaya
4 Februari 2007
Buku: Doa Untuk Anak Cucu
"Puisi: Perempuan yang Cemburu (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Perempuan yang Cemburu
Karya: W.S. Rendra

Post a Comment

loading...
 
Top