Februari 2012
Percakapan Gelap

Kuterima sayup-sayup isyarat ruang dari bayangan
tak bergerak, kesunyian yang terkurung rohani.
kuterima jendela yang tak terbuka -dan cermin
yang berkabut. liang pun kemudian terkatup.

dan dalam cermin, lukisan itu demikian purba.
berapa lintasan purnama, detik-detik jam terlipat
-kehidupan terbungkus daun.
berapa lintasan purnama?
"lukisan itu demikian purba!"

1988
"Puisi: Percakapan Gelap (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Percakapan Gelap
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Kota Purba

Kumasuki gang-gang kota kenangan yang terlipat
dalam almari. masih kudengar nyanyian gemetar kekasih.
irama yang menempel pada peron stasiun, pada detik-detik
jam di dinding ruang tunggu.

Masih kudengar suara panggilan itu. menggeletak
pada meja yang berdebu. masih kudengar manis,
dan senantiasa membosankanku.

1985-1987
"Puisi: Kota Purba (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Kota Purba
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Kepada GM

Sesudah keberangkatan itu, kita kembali
sendiri-sendiri, -ada yang lepas dan tanggal
mengabadi dalam mimpi.
Sesudah keberangkatan itu, bunga mekar subur
dalam pot, mengekalkan sepi
lalu kita tiba-tiba terloncat: potret itu
masih kokoh
menempel pada dinding hati.

1986
"Puisi: Kepada GM (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Kepada GM
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Song for Sabrinna

Sebab gorden terbuka. dan wajahmu mengabur
dalam hujan di kaca jendela
dalam usia yang merambat pada kalender
abad-abad tua yang terlepas
ke lantai.

dan lukisan itu kembali menempel pada dinding
membiaskan bau tanah yang menyingkir
dari dekap hujan.

-masih kucium amis nafasmu, Sabrinna
memburamkan kaca pada pigura itu. Dan wajah-wajah
di dalamnya: mengabut. fana!

1987
"Puisi: Song for Sabrinna (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Song for Sabrinna
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Tragikomedi Ayah

Ayah datang tergesa
terhuyung dari timur
memapah sobat
tubuh berdarah
nyanyi luka
alangkah sedih
seperti akar
menjalari bahar
membentuk biduk
asal kantuk.

Ayah datang tergesa
mama
dendang sia
melangkahi danau
mendaki gunung
entah kapan
pergi ke timur
saat awal umur
meski di ufuk hayat
'mukul dentur
dalam dengkur.

Ayah datang tergesa
menaiki awan
langit purba
dihias pelangi
jagat suwung
langkah terhuyung.

Haruskah mama
membuka pintu
tapi pagar terkurung kabut
pantai terpisah dangkal laut
peta dan petunjuk arah kusut.

Ayah datang tergesa, mama!
memapah tubuh sobat
raga koyak tercabik abad.

Magelang, 2012
"Puisi: Tragikomedi Ayah (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Tragikomedi Ayah
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Kota Asing

Kutempuh perjalanan menembus hutan-hutan
kabut. kutempuh perjalanan melewati ganggang.
tak seletih menyusuri jalan lurus dalam syair
yang kau nyanyikan.

Kutempuh perjalanan luka sepanjang jalan pikirku.
tanpa doa - dalam jagat batinku. Sepi, alangkah
kekal. ibadahku bertubi: pada mimpi.

Di kota asing itu, syair-syair kebimbangan
melemparkanku ke luar bingkai!

1987
"Puisi: Kota Asing (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Kota Asing
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Perempuan Kembara yang Rindu Pulang

Aku perempuan kembara
berjalan memanggul kapak berkarat
hasrat mendekap dunia
saat hidup tanpa ruwat
kini aku rindu pulang
semua tanda telah hilang
yang kuingat hanya tembang pesisiran.

Aduh ibu itu apa
menghitam menjadi mega
benarkah asap bencana.

Aduh ibu cerminku hilang
sungai bening yang kupandang 
kini penuh limbah sebrang.

Aduh ibu mana rumahku
yang ada jalan tiang seribu
benarkah untuk muktiku.

Aduh ibu tertusuk duri
lukanya tembus ke hati
walau sakit hidup matiku di sini

Jangan tanya lebih baik diam saja
Jangan tanya lebih baik diam saja.

"Puisi: Perempuan Kembara yang Rindu Pulang (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Perempuan Kembara yang Rindu Pulang
Karya: Diah Hadaning
Quantum Leap

I
Malam-malam di plaza
kata-kata jadi daun pohon hayat.

Hujan mengirim sentuhan
mimpi orang-orang pinggiran.

Perempuan di mimbar jiwa menggelepar
menuntut janji dan sumpah ikrar.

Malam larut mimpi hanyut
sisa harapan hendak disulut.

II
Misteri itu bisa berupa bunga
yang mampu mencairkan abad-abad
menjadi sungai tenang
mengalir 'nuju keabadian
kita mengapung di atasnya
sambil 'nembang smaradahana

Misteri itu bisa berupa kata
yang mampu mendarahkan jiwa
manakala sebuah prasasti dipatahkan.

Jakarta
2002-2007
"Puisi: Quantum Leap (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Quantum Leap
Karya: Diah Hadaning
Pengaduan Mei, Sebuah Syair Doa

Berbincang dalam diam paling diam dengan-Nya
di puncak malam paling malam
manakala pohon dan rasa budi hilang hijau
selalu pada-Nya kulubukkan hening diri
Kuasa-Nya yang Mahkota
Asihnya yang Bunga
Penerimaannya yang Langit
membuat setiap kejatuhan selalu bangkit
: hari-hariku dalam Kuasa-Mu
ketika langkah lamban Kau membimbing, orang diam
ketika hati gelap Kau mencahaya, orang lupa
ketika kusyairkan Kau lapar, orang protes
di sekeliling satwa dan alam telah berubah
fatwa dan orang telah merebah
nilai dan urai telah dicacah
Arif-Mu abadi
zikir dan doa buah hakiki
syairku di Mata-Mu tak pernah jadi haram.

: jalanlah di jalanmu, perempuan-Ku
sapa-Mu menggugah sukma letih
ya Bapa, ya Bapa, pohon segala biji asal
langkahku panjang sambil menabur benih
terus dan lurus meniti waktuku
laparkan aku agar terus niatku
apikan aku, apikan aku, Amin.

Bogor
Mei, 1992
"Puisi: Pengaduan Mei, Sebuah Syair Doa (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Pengaduan Mei, Sebuah Syair Doa
Karya: Diah Hadaning
Perjalanan

Ada apa di lekuk jejak langkahmu, nang
kulihat orang-orang anak kurun
berjalan tanpa tinggalkan jejak
mereka pasang kakinya pada jejakmu
kau terhuyung lupa bahasakan arah
'natap tanah warna perunggu
debu lekat di tumit
padang kembara selebar lampit.

Ada apa pada suaramu, nang
kulihat orang-orang anak kurun
susupkan pekik pada bisikmu
kau gelisah raba urat di lehermu
sementara orang-orang cendekia
cemaskan gelombang tanpa nama
lalu cipta bilik-bilik
amsal-amsal hilang dari ejaan
perjalanan itu sendiri.

Bogor
Oktober, 1995
"Puisi: Perjalanan (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Perjalanan
Karya: Diah Hadaning
Jakarta di Antara Angka-Angka

Hidup di zaman canggih
manusia angka tak lebih

nomor rumah
nomor sepatu
nomor baju
nomor katepe.

Semuanya serba angka
semuanya jadi angka.

Hidup di zaman nuklir
tanpa angka engkau diparkir.

Seatmu berapa
tipunme berapa
rangkingmu berapa
kode posmu berapa.

Semuanya serba angka
semuanya jadi angka.

Hidup di zaman angka
angka telah jadi berhala
angka telah jadi penjara
sehat angka sakit angka
mati juga pake angka.

Jakarta
Juli, 1996
"Puisi: Jakarta di Antara Angka-Angka (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Jakarta di Antara Angka-Angka
Karya: Diah Hadaning
Yang Mengejawantah

Yang setiap saat
rindu perubahan
yang setiap saat
rindu kepastian
adalah dirimu dari semua.

Kehadiranmu
membuat pendusta hilang muka
membuat penipu hilang jalu.

Kehadiranmu
mengejawantah gerak dan suara
mengejawantah keringat dan air mata.

Engkau ada di mana-mana
di atas bayang di atas bumi
di dalam badai di dalam damai
di dalam luka di dalam asa
di dalam janji di dalam api.

September, 1998
"Puisi: Yang Mengejawantah (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Yang Mengejawantah
Karya: Diah Hadaning
Di Antara

Kembali kesini 
mencari prasasti
yang tersisa hari ini.

Gelora masih ada
di dalam rumah jiwa
di luarnya janji alpa
telaga semakin nganga
menelan tuntas
mimpi kandas 
orang-orang bergegas
di jalan raya
orang muda lukisi langit getir
detik mengalir
lalu mendekapi pohon hayat
sambil bincang metafisika
coba petik cinta semesta.

Mengakhiri dini hari
jaga sadar jagad diri
jelang Tugu Proklamasi.

Agustus, 1999
"Puisi: Di Antara (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Di Antara
Karya: Diah Hadaning
Catatan Darah dan Api

Belum kering air mata
belum hapus darah di jalan raya
belum layu kiriman bunga
dalam nuansa duka Jakarta
Semanggi kembali bersimbah darah
Semanggi kembali ditandai api
ontran-ontran melanda jiwa
ontran-ontran melanda kota.

Kesombongan paripurna
senantiasa meminta korban
bunga-bunga masa depan
sementara di gedung agung
sebuah partitur masa depan
di ujung palu yang diketukkan.

Di Semanggi kenangan panjang
dalam setumpuk kembang
ada catatan sebuah nama
Yun Hap orang muda pemutus mitos
hari ini menjadi granit
tulis sejarah baru di langit.

September, 1999
"Puisi: Catatan Darah dan Api (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Catatan Darah dan Api
Karya: Diah Hadaning
Elegi si Atmo Klungsu

Saat masa jaya
dia pasang kata gundu
atau keneker
dan dengan angkuh ia tertawa
perkenalkan diri pada siapa saja.

Lalu tiba zaman malaise,
semua alami pailit
Atmo Gundu hidupnya tercelurit
orang-orang memanggilnya
si Atmo Klungsu.

Bogor
Oktober, 2001
"Puisi: Elegi si Atmo Klungsu (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Elegi si Atmo Klungsu
Karya: Diah Hadaning
Lelaki yang Simpan Denyut Nadi La Ede

Mendesis-desis mantranya
menyusupi celah malam
sebelum akhirnya mengendap di lubuk jiwa
bumi dan langit tangkap getarnya
sebelum malam tuntas mengabarkan semuanya
kepada orang-orang dalam perjalanan
mencari karma sepanjang musim
mendesis-desis mantranya
sentuhi batas mimpi anak manusia
menebar aneka idiom kehidupan
lalu diam lama yang ada hanya serat cahaya
inodi mata
inodiooe
momawa, noghosa

Embun turun dalam hening
ada yang menyapa ada yang disapa
alam semesta membatas keberadaan maya
selebar dada seluas tapak tangan
sirna kata sirna ejaan
dalam pendar cahaya 
dalam kelopak nuansa.



Taman Budaya, Solo
Maret, 2003

Catatan: Tulisan warna biru = Bahasa Muna =
aku mata
aku air
mengalir deras.
"Puisi: Lelaki yang Simpan Denyut Nadi La Ede (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Lelaki yang Simpan Denyut Nadi La Ede
Karya: Diah Hadaning
Berkayuh di Kaki Sulawesi

Ini puisi yang mengaji kelenjar
mengaji simpul tali yang meremntang layar.

Tadi malam kasur sekarang ombak
Matahari tak pernah ingkar janji
Memandang teduh bandar kepagian
dan darah selalu mengalir
meniru riak laut yang tak berakhir.

Mengaji haluan mengaji kemudia
Dayung berkayuh di kaki Sulawesi
inilah yang tidak bibir
awan membungkuk bagai diukir.

Bersungguhlah dan mengaji
menyanyi menggetarkan hati
menempuh gelombang menyimak karang
menata langkah ke negeri seberang.

Di sana ada pagi di sini ada pagi
pada pertemuan sana dan sini
ada hati yang bergigi ada langkah yang bergizi
walau antara kalau dan tepi
tak boleh ada hutang pada nafas matahari.


"Puisi: Berkayuh di Kaki Sulawesi (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Berkayuh di Kaki Sulawesi
Karya: D. Zawawi Imron
Teluk

Kaubakar gema di jantung waktu
Bibir pantai yang letih nyanyi
Sembuh oleh laut yang berloncatan
Memburu takdirmu yang menderu
Dan teluk ini
Yang tak berpenghuni kecuali gundah dan lampu
Memberangkatkan dahaga berlayar
Berkendara seribu pencalang
Ke arah air mata menjelma harimau
Pohon-pohon nyiur pun yakin
Janjimu akan tersemai
Dan di barat piramid jiwa
Berkat lambaian akan tegak mahligai senja
Senyum pun kekal dalamnya.

"Puisi: Teluk (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Teluk
Karya: D. Zawawi Imron
Dari Kandang ke Ladang
Buat Anang Rahman

Sekitar kandang itu mekarlah kesegaran
Harapan di ujung jangkauan
Menyiduk-nyiduk gelagat danau
(Anak-anak lapar menjilat langit biru
Membatalkan sujudku semalam penuh
Siang itu cuaca tersiram susu
Mesjidku jadi megah
Tegak di delta sungai jiwaku
Di sini 'kan kuucapkan sejuta bisik
Buat mengetuk semesta pintu)
Dari kandang itu ke ladang
Berguna sebuah titian
Di bawahnya jurang maha dalam 
Tempat mencuci perasaan.

"Puisi: Dari Kandang ke Ladang (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Dari Kandang ke Ladang
Karya: D. Zawawi Imron
Harum Rambutmu
Kupatah tangkai kusuma kukucup
kendati mencari wangi asli
cempaka tinggal tergulai lampai
sayang tanganku hendak mencapai.

Teja! Hanya cempaka ditayang daun
aneka bunga menutup bumi
impian lama datang mengalun
kerana kusuma kenangan diri.

Harum rambutmu terasa ada
dalam bunga duduk tersembunyi
suma mana ratna mulia
kanda sibuk tengah mencari.

Pohon rendah dinaungi kemuning
puteri dilindungi payung kembang
bunga adinda kencana ramping
irama kusuma abang seorang.

Wangi tertebar membawaku ragu
mengembang abang ke hari lampau
harum sepadan wangi rambutmu
kalau terurai kita bergurau.

Melur! Duta rindu di purnama raya
kawan sendu di sunyi malam
ratna rupa di hulu kemala
penambah manis jiwa pendiam.

"Puisi: Harum Rambutmu (Karya Amir Hamzah)"
Puisi: Harum Rambutmu
Karya: Amir Hamzah
Teluk Jayakarta
Ombak memecah di tepi pantai
angin berhembus lemah lembut
puncak kelapa melambai-lambai
di ruang angkasa awan bergelut.

Burung terbang melayang-layang
serunai berseru "adikku sayang"
perikan bernyanyi berimbang-imbang
laut harungan hijau terbentang.

Asap kapal bergumpal-gumpal
melayari tasik lautan jawa
beta duduk berhati kesal
melihat perahu menuju Semudera.

Musafir tinggal di tanah Jawa
seorang diri sebatang kara
hati susah tiada terkata
tidur sekali haram cendera.

Fikiranku melayang entah ke mana
sekali ke timur sekali ke utara
mataku memandang jauh ke sana
di pertemuan air dengan angkasa.

Di hadapanku hutan umurnya muda
tempat asyik bertemu mata
tempat mas'huk melagukan cinta
tempat bibir menyatukan anggota.

Fikiran lampau datang kembali
menggoda kalbu menyusahkan hati
mengintankan untung tiada seperti
Yayi lalu membawa diri.

Ombak mengempas ke atas batu
bayu merayu menjauhkan hati
gelak gadis membawaku rindu
terkenangkan tuan ayuhai yayi.

Teja ningsun buah hatiku
lihatlah limbur mengusap gelombang
ingatlah tuan masa dahulu
adik guring di pangkuan abang?

"Puisi: Teluk Jayakarta (Karya Amir Hamzah)"
Puisi: Teluk Jayakarta
Karya: Amir Hamzah
Padamu Jua
Habis kikis
segala cintaku hilang terbang
pulang kembali aku padamu
seperti dahulu.

Kaulah kandil kemerlap
pelita jendela di malam gelap
melambai pulang perlahan
sabar, setia selalu.

Satu kekasihku
aku manusia
rindu rasa
rindu rupa.

Di mana engkau
rupa tiada
suara sayup
hanya kata merangkai hati.

Engkau cemburu
engkau ganas
mangsa aku dalam cakarmu
bertukar tangkap dengan lepas.

Nanar aku, gila sasar
sayang berulang padamu jua
engkau pelik menarik ingin
serupa dara di balik tirai.

Kasihmu sunyi
menunggu seorang diri
lalu waktu - bukan giliranku
mati hari - bukan kawanku ...
"Puisi: Padamu Jua (Karya Amir Hamzah)"
Puisi: Padamu Jua
Karya: Amir Hamzah
Pejalan Sepi
Ia tembus kesenyapan dinihari
sepatunya berat menunjam bumi
menempuh kola yang lelap terlena
dalam pelukan cahya purnama.

Is tembus kedinginan pagi
siulnya nyaring membelah sunyi
membangunkan insan agar bangkit
dalam pertarungan hidup yang sengit.

Di sebuah jembatan ia berhenti
dihirupnya udara sejuk dalam sekali:
bulan yang mengambang atas air kali
adalah gambaran hatinya sendiri!
  

1954
"Puisi: Pejalan Sepi (Karya Ajip Rosidi)"
Puisi: Pejalan Sepi
Karya: Ajip Rosidi