Maret 2012
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sonet 12

Perjalanan kita selama ini ternyata tanpa tanda baca,
tak ada huruf kapital di awalnya. Yang tak kita ingat
aksara apa. Kita tak pernah yakin apakah titik mesti ada;
tanpa tanda petik, huruf demi huruf berderet rapat?
dan setiap kali terlepas, kita pun segera merasa gerah lagi
dihimpitnya. Tanpa pernah bisa membaca ulang dengan cermat
harus terus kita susun kalimat demi kalimat ini?
tanpa perlu merisaukan apakah semua nanti mampat
pada sebuah tanda tanya. Tapi, bukankah kita sudah mencari
jawaban, sudah tahu apa yang harus kita contreng
jika tersedia pilihan? Dan kemudian memulai lagi
merakit alinea demi alinea, menyusun sebuah dongeng?

Tapi bukankah tak ada huruf kapital ketika kita bicara?
Bukankah kisah cinta memang tak memerlukan tanda baca?

"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Sonet 12
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Malam Itu Kami di Sana

"Kenapa kaubawa aku ke mari, Saudara?"; sebuah stasiun
di dasar malam. Bayang-bayang putih di sudut peron
menyusur bangku-bangku panjang; jarum-jarum jam tak letihnya
meloncat, merapat ke Sepi. Barangkali saja

kami sedang menanti kereta yang biasa tiba
setiap kali tiada seorang pun siap memberi tanda-tanda;
barangkali saja kami sekedar ingin berada disini
ketika tak ada yang bergegas, yang cemas, yang menanti-nanti;

hanya nafas kami, menyusur batang-batang rel, mengeras tiba-tiba;
sinyal-sinyal kejang, lampu-lampu kuning yang menyusut di udara
sementara bayang-bayang putih di seluruh ruangan,
"Tetapi katakan dahulu, Saudara, kenapa kaubawa aku kemari?"

1970
"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Malam Itu Kami di Sana
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Gerimis Kecil di Jalan Jakarta, Malang

Seperti engkau berbicara di ujung jalan
(waktu dingin, sepi gerimis tiba-tiba
seperti engkau memanggil-manggil di kelokan itu
untuk kembali berduka)

untuk kembali kepada rindu
panjang dan cemas
seperti engkau yang memberi tanda tanpa lampu-lampu
supaya menyahut, Mu.

1968
"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Gerimis Kecil di Jalan Jakarta, Malang
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kartu Pos Bergambar Jembatan Golden Gate San Fransisco

Kabut yang likang
dan kabut yang pupuh
lekat dan gerimis pada tiang-tiang jembatan
matahari menggeliat dan kembali gugur
tak lagi di langit berpusing
di perih lautan.

"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Kartu Pos Bergambar Jembatan Golden Gate San Fransisco
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di Beranda Waktu Hujan

Kau sebut kenanganmu nyanyian (dan bukan matahari
yang menerbitkan debu jalanan, yang menajamkan
warna-warni bunga yang dirangkaikan) yang menghapus
jejak-jejak kaki, yang senantiasa berulang
dalam hujan. Kau di beranda.
sendiri, “Ke mana pula burung-burung itu (yang bahkan
tak pernah kau lihat, yang menjelma semacam nyanyian,
semacam keheningan) terbang; ke mana pula siut daun
yang berayun jatuh dalam setiap impian?”

(Dan bukan kemarau yang membersihkan langit,
yang pelahan mengendap di udara) kausebut cintamu
penghujan panjang, yang tak habis-habisnya
membersihkan debu, yang bernyanyi di halaman.
Di beranda kau duduk
sendiri, “Di mana pula sekawanan kupu-kupu itu,
menghindar dari pandangku; di mana pula
(ah, tidak!) rinduku yang dahulu?”

Kau pun di beranda, mendengar dan tak mendengar
kepada hujan, sendiri,
“Di manakah sorgaku itu: nyanyian
yang pernah mereka ajarkan padaku dahulu,
kata demi kata yang pernah kuhafal
bahkan dalam igauanku?” Dan kausebut
hidupmu sore hari (dan bukan siang
yang bernafas dengan sengit
yang tiba-tiba mengeras di bawah matahari) yang basah,
yang meleleh dalam senandung hujan,
yang larut.
Amin.

1970
"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Di Beranda Waktu Hujan
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Perjalanan ke Akhirat
(: Raja Ali Haji)

Perjalanan ke akhirat jangan dibebani
dendam kesumat –
langkahmu nanti tersendat.
Tentu ada penjaga gapura
yang barangkalai bertanya,
“Mau ke mana, Saudara?”
Kau tak usah risau
ia memang tak suka menegur,
“Dari mana, Saudara?”
Perjalanan ke akhirat pasti terasa berat
kalau kau suka berkhianat
dan akan terasa semakin susah
kalau jiwamu tak ikhlas menyerah
kalau ruhmu sakitnya parah.
Perjalanan ke akhirat akan tertahan
kalau kau tak berhandai taulan
kalau kau suka memalingkan muka
terhadap anak yatim dan kaum dhuafa
kalau kau suka menyumpal telinga
terhadap nasib yang bising suaranya
terhadap cinta yang sunyi sapanya
kalau kau suka memuntahkan kembali
doa pahit yang kautelan setiap hari.
Perjalanan ke akhirat penuh onak dan duri
kalau kau suka mengusir burung-burung
yang mematuki remah cahaya pagi
kalau kau suka mengusir
anak-anak yang bernyanyi-nyanyi
di jalanan depan rumahmu
yang biasanya sepi. Bertobatlah.
:
Tutup matamu rapat-rapat
dan bayangkan: capung yang dulu kaulumat
di telapak tanganmu kembali menggeliat
lalu terbang menemanimu
:
Sebenarnyalah.

"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Perjalanan ke Akhirat
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tekukur

Kautembak tekukur itu. Ia tak sempat terkejut, beberapa lembar bulunya lepas; mula-mula terpencar di sela-sela jari angin, satu-dua lembar sambar-menyambar sebentar, lalu bersandar pada daun-daun rumput. "Kena!" serumu.
Selembar bulunya ingin sekali mencapai kali itu agar bisa terbawa sampai jauh ke hilir, namun angin hanya meletakkannya di tebing sungai. "Tapi ke mana terbang burung luka itu?" gerutumu.
Tetes-tetes darahnya melayang: ada yang sempat melewati berkas-berkas sinar matahari, membiaskan warna merah cemerlang, lalu jatuh di kuntum-kuntum bunga rumput.
"Merdu benar suara tekukur itu," kata seorang gadis kecil yang kebetulan lewat di sana; ia merasa tiba-tiba berada dalam sebuah taman bunga.

1982
"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Tekukur
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak Telur

Dalam setiap telur semoga ada burung
dalam setiap burung semoga ada engkau
dalam setiap engkau semoga ada yang senantiasa terbang
menembus silau matahari memecah udara dingin
memuncak ke lengkung langit menukik melintas sungai
merindukan telur.

1982
"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Sajak Telur
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kukirimkan Padamu

kukirimkan padamu kartu pos bergambar, istriku,
par avion: sebuah taman kota, rumputan dan bunga-bunga, bangku dan beberapa orang tua, burung-burung merpati dan langit yang entah batasnya.
Aku, tentu saja, tak ada di antara mereka.
Namun ada.

1982
"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Kukirimkan Padamu
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Dua Peristiwa dalam Satu Sajak Dua Bagian

1
Sehabis langkah-langkah kaki: hening
siapa?
barangkali si pesuruh yang tersesat dan gagal menemukan tempat- tinggalmu padahal sejak semula sudah diikutinya jejakmu
padahal harus lekas-lekas disampaikannya pesan itu padamu

2
Seolah-olah kau harus segera mengucapkan sederet kata
yang pernah kaukenal artinya,
yang membuatmu terkenang akan batang randu alas tua
yang suka menjerit-jerit kalau sarat berbunga.

1982
"Puisi: Dua Peristiwa dalam Satu Sajak Dua Bagian (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Dua Peristiwa dalam Satu Sajak Dua Bagian
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di Atas Batu

Ia duduk di atas batu dan melempar-lemparkan kerikil ke tengah kali...
ia gerak-gerakkan kaki-kakinya di air sehingga memercik ke sana ke mari...
ia pandang sekeliling:
matahari yang hilang - timbul di sela goyang daun-daunan,
jalan setapak yang mendaki tebing kali,
beberapa ekor capung
- ia ingin yakin bahwa benar-benar berada di sini.

"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Di Atas Batu
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sita

:
Kusaksikan Rama menundukkan kepala
ketika aku berjalan mengitarinya
sebelum terjun ke api
yang disiapkan Laksmana –
aku yang memerintahkannya
agar bergetar sinar mata
si pencemburu itu
menyaksikan permainanku.
Aku sepenuhnya tahu
siapa diriku
tetapi ia tak pernah memahami
hakikat api.
Yang berkobar di bawah sana
bukan api tapi air yang meluap
di permukaan telaga
dan di tepat tengahnya
mengambang bunga padma
yang kilau-kemilau daunnya:
seperti perjalanan pulang rasanya
ketika aku terjun ke bawah sana.
Jilatan api menerimaku
dan mendudukkanku
di singgasana kencana
tepat di samping Rama;
saat itu kudengar Agni, Sang Dewa Api,
“Maaf, aku terpaksa mengejawantah
karena tak tahan terbakar
panas tubuhmu, Sita!
Butir-butir peluh kebencian
di seluruh tubuhmu
tidak menguap dalam api,
bunga yang terselip di telingamu
mekar bagai kena cahaya matahari!”
Bebas sudah rasanya aku
dari ksatria yang dulu disuratkan
mematahkan Gendewa .
Namun, ada yang lebih berhak
dan lebih bijaksana
menyusun cerita, ternyata –
dibawanya kembali aku
ke Ayodhya, menjadi permaisuri.
Ah, Batara
yang berkuasa atas api,
mengapa tak kaubiarkan saja
aku menyatu denganmu?



Sita = Nukilan dari sebuah drama puisi, Namaku Sita (2012).
"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Sita
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Segalanya

Segalanya masih akan bersamamu: awan yang suka
terserak, warna senja yang selalu baru, wajah telaga di
belakang rumah, bahkan angin, yang tak pernah kausapa
tetapi yang suka menyombongkan diri sebagai yang paling
setia selama ini, duduk di pangkuanmu (jangan ganggu!)
setelah capek menempuh samudra, perbukitan, dan kembali
agar bisa didengarnya kata-katamu yang bahkan aku dengan
susah payah bisa memahaminya.

Kalau nanti aku, alhamdulillah, harus pergi semua
masih akan tetap tinggal bersamamu; ketika kau batuk-
batuk dan buru-buru mencari OBH, ketika kau mengecilkan
volume ampli ingat tetangga sebelah sedang sakit,
ketika kau mendengar jerit air mendidih dan buru-buru
menuangkannya ke dalam ember untuk mandi pagi; ya,
semua itu masih akan bersamamu ketika aku tak lagi di
rumah ini.

Kursi kamar tamu yang dicakar-cakar kucing, lukisan
Bali yang miring lagi begitu diluruskan, buku-buku yang
bertebaran (seperti sampah!), meja makan rotan yang sudah
bosan politur, tempat sepatu yang penuh bekas bungkus
plastik, lemari es yang dengan sabar bertahan belasan
tahun, cangkir kopi dan mangkuk untuk sarapan bubur,
jam dinding yang detaknya tak kedengaran, kasur, bantal,
guling, seprei, pesawat telepon di dekat tempat tidur,
telepon selular yang biasanya aku bawa ke mana-mana:
semua masih akan bersamamu, sayang padamu.

"Puisi: Segalanya (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Segalanya
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kamar

Ketika kumasuki kamar ini
pasti dikenalnya kembali aku
suara langkahku, nafasku
dan ujung-ujung jari yang dulu menyentuhnya.

Dan kali ini - pertemuan ini
tanpa jam dinding
begitu saja di suatu sore hari
sewaktu percakapan tak diperlukan lagi

Tanpa engahan-engahan pendek
tanpa "malam begitu cepat lalu!"
dan kulihat bibir-bibirnya sembilu
menoreh kenanganku.

"Puisi: Kamar (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Kamar
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Melati

Kau datang dengan menari, tersenyum simpul,
Seperti dewi, putih-kuning, ramping-halus,
Menunjukkan diri, seperti bunga yang bagus.
Dalam sinar matahari, membuat timbul
Di dalam hati berahi yang suci-permai.
Jiwa termenung, terlena dalam samadi,
O Melati, memandang kau seperti Pamadi,
Kebakaan kurasa, luas, tenang dan damai
Engkau tinggal sebagai bunga dalam taman
Kenang-kenangan: dipetik tidak 'kan dapat,
Biar warna dan wangi engkau berikan.
Engkau seperti bintang di balik awan,
Terkadang-kadang sejurus berkilat-kilat
Tapi jauh, tak 'kan pernah tercapai tangan.

"Puisi: Melati (Karya Sanusi Pane)"
Puisi: Melati
Karya: Sanusi Pane
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Jeritan Bayi di Dasar Jurang

Merontokkan semua huruf "a"
dalam doaku yang bawel dan manja.

2007
"Puisi: Jeritan Bayi di Dasar Jurang (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Jeritan Bayi di Dasar Jurang
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kedai Minum

Hatimu yang terlalu penuh
jatuh ke lantai, pyaaarrr....

Dua orang sepi,
dengan seragam hitam putih,
memunguti pecahan beling.

“Ini gelas ketiga yang hancur
malam ini,” pelayan yang satu berkata.
Yang satu lagi menyelamatkan botol
yang hampir terguling.

Busa bir tersisa di sudut bibir.
Musik baru saja berakhir.
Tanganmu masih memegang buku puisi.
Kau terkapar
di kedai minum milikmu sendiri.

2011
"Puisi: Kedai Minum (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Kedai Minum
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Memo

Puisi telah memilihku menjadi celah sunyi
di antara baris-barisnya yang terang.
Dimintanya aku tetap redup dan remang.

2007
"Puisi: Memo (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Memo
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Koran Pagi

Koran pagi masih mengepul di atas meja.
Wartawan itu belum juga menyantapnya.
Ia masih tertidur di kursi setelah seharian
digesa-gesa berita. Seperti biasa,
untuk melawan pening ia menepuk kening.
Lolos dari deadline, ia terlelap. Capeknya lengkap.

Tahun-tahun memutih pada uban yang letih.
Entah sudah berapa orang peristiwa, berapa ya,
melintasi jalur-jalur waktu di kerut wajah.
Ke suaka ingatan mereka hijrah.

Almarhum bapaknya sebenarnya tak suka ia
susah-susah jadi reporter. Lebih baik jadi artis
yang kerjanya diuber-uber wartawan.
Ibunya berharap ia jadi dokter agar dapat
merawat tubuhnya sendiri yang sakit-sakitan.

Siang itu, bersama teman-teman sekelasnya,
ia sedang berlatih mengarang. Semantara
kawan-kawannya sibuk bermain kata, ia bengong saja
sambil menggigit-gigit pena meskipun bu guru
berkali-kali mengingatkan bahwa cara terbaik
untuk mulai menulis adalah menulis.

Entah bagaimana mulanya, tiba-tiba terjadi
kebakaran. Bu guru dan murid-muridnya segera
berhamburan keluar. Belakangan beredar kabar
bahwa gedung sekolahnya sengaja dibakar
komplotan perusuh berlagak pahlawan. Saat itu
situasi memang sedang rawan, penuh pergolakan.

Tanpa menghiraukan bahaya, bocah bego itu
malah sibuk mencari-cari pena yang terjatuh
dari meja. Bu guru nekad menyusulnya,
sementara api makin berkobar dan semua panik:
jangan-jangan mereka ikut terbakar.

Setelah pensiun, bu guru yang pintar itu sibuk
mengurus kios koran kebanggaannya.
Sedangkan muridnya yang suka bengong kini
sedang lelap di kursi, matanya setengah terbuka.
Koran pagi masih mengepul di atas meja.

2003
"Puisi: Koran Pagi (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Koran Pagi
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Justru

Salahnya sendiri, suka usil bermain kata, merakitnya
menjadi boneka yang seringainya justru membuat ia
takut setengah mati, kemudian bersembunyi di kamar
mandi, padahal di kamar mandi ada dedengkot boneka
yang lebih rumit seringainya, yaitu tubuhnya sendiri.

"Puisi: Justru (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Justru
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Foto

Ia bangga sekali bisa memasang fotonya yang lumayan
keren di dinding ruang kerjanya, persis di bawah jam.
Berhubung ia sering melaksanakan tugas-tugas negara
di luar kantor, foto itu dianggapnya dapat mewakili
cintanya yang resmi kepada instansi yang dipimpinnya
serta pegawai-pegawainya yang patuh-setia.
Tiap hari ada saja pegawai yang datang terlambat.
Tanpa sungkan-sungkan pegawai langsung menuju ke
ruang kerjanya dan menghormat fotonya: “Maaf bos,
saya telat. Kena macet.” Pegawai yang suka ngacir lebih
dulu juga tidak malu-malu minta pamit kepada fotonya:
“Saya ijin membolos ya bos. Mau buang sebel di kafe.”
Setelah beberapa hari tidak menjenguk kantor, siang itu
ngapain bos nongol. Pura-pura tampak berwibawa, ia
meluncur ke ruang kerjanya untuk menghadap fotonya:
“Selamat siang bos. Apa kabar? Lama tidak kelihatan.”
Para pegawai berpandang-pandangan penuh keheranan.
“Foto itu sudah gila!” seru salah seorang dari mereka.

"Puisi: Foto (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Foto
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Air Mata

Biarkan hujan yang haus itu
melahap air mata
yang mendidih
di cangkirmu.

2012
"Puisi: Air Mata (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Air Mata
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Bangunkan Aku Jam Tiga Pagi

Sebelum tidur ia selalu berdoa: Bangunkan aku jam tiga pagi. 

Jam tiga pagi mimpi mungkin sudah kembali ke nol lagi.
Ia ingin dengar bagaimana ranjang menyanyikan tubuhnya
dan tubuh menyanyikan sakitnya.

Bahkan aku sudah tiba sebelum jam tiga pagi.
Sudah lama aku menempuhmu, naik-turun di sengal nafasmu,
dan kini aku akan berjaga di tapal batas tubuhmu.

Ia terpejam saja. Menggeliat. Seakan waktu sedang sekarat.

Tubuh besarku tambah riuh dan tak tersembunyikan lagi.
Tubuh kecilku terlindung jauh di relung yang tak terjelajahi.

Ada, selalu, yang akan datang jam tiga pagi, menyalakan waktu
di unggun tubuhmu, menghabiskan seluruh sisa sakitmu.
Bahkan sebelum kau sempat membangunkan-Ku.

2001
"Puisi: Bangunkan Aku Jam Tiga Pagi (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Bangunkan Aku Jam Tiga Pagi
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Mengenang Asu

 Pulang dari sekolah, saya main ke sungai.
Saya torehkan kata asu dan tanda seru
pada punggung batu besar dan hitam
dengan pisau pemberian ayah.

Itu sajak pertama saya. Saya menulisnya
untuk menggenapkan pesan terakhir ayah;
"Hidup ini memang asu, anakku.
Kau harus keras dan sedingin batu."

Sekian tahun kemudian saya mengunjungi
batu hitam besar itu dan saya bertemu
dengan seekor anjing yang manis dan ramah.

Saya terperangah, kata asu yang gagah itu
sudah malih menjadi aku tanpa tanda seru.
Tanda serunya mungkin diambil ayah.

2012
"Puisi: Mengenang Asu (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Mengenang Asu
Karya: Joko Pinurbo