loading...

Segalanya

Segalanya masih akan bersamamu: awan yang suka
terserak, warna senja yang selalu baru, wajah telaga di
belakang rumah, bahkan angin, yang tak pernah kausapa
tetapi yang suka menyombongkan diri sebagai yang paling
setia selama ini, duduk di pangkuanmu (jangan ganggu!)
setelah capek menempuh samudra, perbukitan, dan kembali
agar bisa didengarnya kata-katamu yang bahkan aku dengan
susah payah bisa memahaminya.

Kalau nanti aku, alhamdulillah, harus pergi semua
masih akan tetap tinggal bersamamu; ketika kau batuk-
batuk dan buru-buru mencari OBH, ketika kau mengecilkan
volume ampli ingat tetangga sebelah sedang sakit,
ketika kau mendengar jerit air mendidih dan buru-buru
menuangkannya ke dalam ember untuk mandi pagi; ya,
semua itu masih akan bersamamu ketika aku tak lagi di
rumah ini.

Kursi kamar tamu yang dicakar-cakar kucing, lukisan
Bali yang miring lagi begitu diluruskan, buku-buku yang
bertebaran (seperti sampah!), meja makan rotan yang sudah
bosan politur, tempat sepatu yang penuh bekas bungkus
plastik, lemari es yang dengan sabar bertahan belasan
tahun, cangkir kopi dan mangkuk untuk sarapan bubur,
jam dinding yang detaknya tak kedengaran, kasur, bantal,
guling, seprei, pesawat telepon di dekat tempat tidur,
telepon selular yang biasanya aku bawa ke mana-mana:
semua masih akan bersamamu, sayang padamu.

"Puisi: Segalanya (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Segalanya
Karya: Sapardi Djoko Damono

Post a Comment

loading...
 
Top