loading...

Sita

:
Kusaksikan Rama menundukkan kepala
ketika aku berjalan mengitarinya
sebelum terjun ke api
yang disiapkan Laksmana –
aku yang memerintahkannya
agar bergetar sinar mata
si pencemburu itu
menyaksikan permainanku.
Aku sepenuhnya tahu
siapa diriku
tetapi ia tak pernah memahami
hakikat api.
Yang berkobar di bawah sana
bukan api tapi air yang meluap
di permukaan telaga
dan di tepat tengahnya
mengambang bunga padma
yang kilau-kemilau daunnya:
seperti perjalanan pulang rasanya
ketika aku terjun ke bawah sana.
Jilatan api menerimaku
dan mendudukkanku
di singgasana kencana
tepat di samping Rama;
saat itu kudengar Agni, Sang Dewa Api,
“Maaf, aku terpaksa mengejawantah
karena tak tahan terbakar
panas tubuhmu, Sita!
Butir-butir peluh kebencian
di seluruh tubuhmu
tidak menguap dalam api,
bunga yang terselip di telingamu
mekar bagai kena cahaya matahari!”
Bebas sudah rasanya aku
dari ksatria yang dulu disuratkan
mematahkan Gendewa .
Namun, ada yang lebih berhak
dan lebih bijaksana
menyusun cerita, ternyata –
dibawanya kembali aku
ke Ayodhya, menjadi permaisuri.
Ah, Batara
yang berkuasa atas api,
mengapa tak kaubiarkan saja
aku menyatu denganmu?



Sita = Nukilan dari sebuah drama puisi, Namaku Sita (2012).
"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Sita
Karya: Sapardi Djoko Damono

Post a Comment

loading...
 
Top