April 2012
Penyair Mencari Sarang

Penyair mencari sarang di tepi kanal Amsterdam
camar melayang meninggalkan sarang digelisahkan air tenang
penyair dan camar sama-sama dikejar gelisah senja usia
penyair sarangmu adalah kata
camar gelisahmu matahari senja
terpaut perahu puisiku di kanal Belanda.

Mari reguk habis segelas bir
sebelum kata terakhir untuk berpisah
pulang ke rumah kubasuh muka
dan bersibak lalu menulis sajak.

"Agam Wispi"
Puisi: Penyair Mencari Sarang
Karya: Agam Wispi
Benda-benda Pos di Siang Hari

Di siang saling menunggu dengan hari-hari lain itu, mereka masih saling memberi bingkai pada wajah sendiri. Tak ada telinga jadi berwarna, ketika Coca-cola tidak membawa mereka kemana-mana. Aku temukan sisa-sisa seragam mereka, dalam daftar tenaga kerja yang menunggu di batas kota.

Tidak, tidak ada.

Di sepanjang rel kereta api antar batas kota itu. Kebisuan telah merata dan kian tawar, seperti bahasa terbungkus setelan jas, untuk mayat membiru.

Aku masih bercerita aku kira, padamu, dengan tema-tema menggigil setiap didekati; seperti ada luka yang terdapat dalam setiap kata. T
etapi kantor pos tidak segera jadi kedai pengadilan untuk setiap pengaduan, atau jadi ribuan pabrik untuk setiap lamaran kerja. Sejak itu ada spiker yang selalu menunggu di pinggir-pinggir jalan, seperti menjaga setiap peristiwa yang akan tiba. Ada yang terbakar di situ, tubuhnya dalam sekam.

Suratmu masih aku baca, seperti rasa khawatir yang akan membawamu, ke sebuah negeri tanpa pengucapan lain. Di situ orang berdagang, dengan menjual hartanya sendiri.

“Ada kiriman dari kedutaan asing, sejumlah majalah teknik, dan jaringan beasiswa.”

Ia tahu kemudian banyak kapal-kapal barang, juga kapal perang, telah menjaga pulau-pulau di sekitarnya, mengirim pabrik dan sejumlah restoran ayam goreng.

Tetapi kini aku melayang, tanpa alamat, dalam surat penuh tanda tangan. Tak ada seragam polisi dan kejaksaan di situ. Juga tak ada materai aku kira, yang melindungimu dari jalan raya.

Tetapi memang tak ada kantor pos buat mereka, untuk surat apa pun. Jadi siapa kami, di sini, tanpa kabar, membayangkan dunia lain tanpa stempel dan sidik jari.

Tidak, tidak ada.

Di sepanjang rel kereta api antar batas kota itu. Tetapi siapa yang telah mengajari mereka, menulis surat seperti itu, seperti membuka selembar telegram di depan pintu, memutuskan kabel listrik, dan suara spiker dimana-mana.

1990
"Afrizal Malna"
Puisi: Benda-benda Pos di Siang Hari
Karya: Afrizal Malna
Prosa Hitam Pasar Orang-Orang

Pada kaca yang pecah dalam wajahku dan sinar tak lagi 
kukenal, pada sinar yang pecah dalam mataku dan alam 
tak lagi kukenal, pada alam yang pecah dalam diriku dan 
sempurnalah butaku, tak melihat atas dunia: daratan 
impian yang terbentang dalam suara-suara kubur, mem
bilang tanah, membilang sungai, membilang matahari, pada 
setiap pecahan kaca, diri membelah-belah.

Aku bermimpi.
Aku jadi manusia.

Bagi setiap sepi yang menanam siksa pemberontakan, bagi 
setiap yang menyimpan kematian, suara kubur yang 
bernyanyi kebebasan manusia, aku bermimpi dalam ke
gairahan maut yang sempurna seorang manusia, menjadi 
sejumlah barisan panjang yang memakan dirinya sendiri
sambil mengukir peta pada pecahan kaca.

Aku nyanyikan suara kubur bagi orang sepi yang disiksa 
memakan dunia segumpal demi segumpal. Manusia yang 
bergerak dengan dada terbongkar penuh dengan gumpal-
gumpal tanah berbau amis, bernyanyi bagi setiap penggali 
kubur yang memuja kebesaran manusia dengan matanya 
yang pecah 
bernyanyi, bernyanyi, burung-burung ajal yang membuat 
sarang pada jalan-jalan raya kehidupan. Nyanyian hidup yang 
menyiksaku tak habis malam tak habis siang bernyanyi.

Ibu yang dari segala ibu yang menyimpan kematian dalam 
daging-daging sunyiku, anak yang dari segala anak yang 
menyimpan kematian dalam sunyi urat-urat kelaminku, men
jamah keganasan dalam gairah matahari yang membakar 
tanah jadi alam terbuka dalam tubuhku. Mimpi itu telah 
bangun menjadi menara daging yang terendam dalam rumput-
rumput yang bangkit memuja manusia, m
embangun, membangun, dan dengan kapal daging-daging 
manusia, aku putar bumi ini di tengah-tengah udara yang 
penuh dengan racun-racun kekuasaan. Bernyanyilah orang-
orang bersama suara-suara kubur yang mencengkeram langit, 
dan aku cat bumi ini dengan darahku.

Aku jadi manusia.

Segalanya menderas ke jalan-jalan mimpiku, senjata-senjata 
menderu menyiksa pohon, menyiksa tanah, menyiksa langit. G
airah matahari menderu tak habis malam tak habis siang. P
adaku dalam dada yang terbongkar, menyeru tak habis ber
juta dunia.

Aku hidup.

1982
"Afrizal Malna"
Puisi: Prosa Hitam Pasar Orang-Orang
Karya: Afrizal Malna
Rahasia Bocor

Aku menyapu atap genting, sambil mencari rahasia bocor. Sebuah lubang antara dari tempatku berdiri antara bantal tidurku antara kebimbanganku mencari tempat duduk. Daun-daun kering dan debu-debu gunung saling melekat di genting itu. Ada sebatang bambu. Pohon flamboyan akan kembali ke lumut hijau. Bukan lumut hitam. Aku menyapu atap genting.

Lumut memberi tahu tentang bocor dari dempul, cat genting, semen dan besi-besi beton yang membuat langit di atas kepala kita. Lumut ... aduh aneh sekali rasanya menjadi manusia. Sibuk sekali rasanya untuk menjadi manusia. Aku menyapu atap genting, sambil mencari lagi rahasia bocor, antara ember, sebuah lubang di dalam kain pel dan di dalam air yang menetes.

Sebuah lubang di dalam air yang menetes, katanya. Semua akan bersujud di dalam lumut. Dari atap genting hingga bunga-bunga flamboyan yang berjatuhan, aku bertekuk lutut. Menyerahkan diri kepada yang tak terhitung. Menyerahkan diri kepada yang tak bernama. Menyerahkan diri kepada semua yang menolak untuk disembah aku bertekuk lutut. Membiarkan api melupakan ginjal dan empeduku. Membiarkan api melupakan pakaian di tubuhku.

Aku menyapu jam 5 sore dari rahasia bocor, sebuah lubang dari cahaya matahari yang menipis dan mengeras sebelum batas malam. Sebelum batas lubang membisikkan dasar-dasarnya. Sebelum semua yang menetes mulai tergantung di leher kita.

"Afrizal Malna"
Puisi: Rahasia Bocor
Karya: Afrizal Malna
Jembatan Iblis dari Keningku
(Buat BOT, Marianne dan Elia)

Sebuah gereja dalam salju. Kursinya membekukan kekosongan. 
Pintunya menutup musim dingin. Salin masih terus membekukkan 
sunyi. Di Gotthard, melewati Zurich ke Andemartt, sebuah hotel 
dalam salju. Albergo San Gottardo. Pintunya menutup musim 
dingin dari 5 menit musim panas. Lima jam mendaki, 
menyesatkan diri dalam lubang-lubang udara. Kota telah berlalu 
dalam kenangan memasak dan mesin printer. Lembah-lembah 
Urseren dan Laventina. Setiap belokan, melingkar. Arsitektur 
kesunyian, melingkar. Konstruksi kesedihan, melingkar. 
Mengubah warna kenangan dan gua-gua bekas peninggalan 
militer. Melingkar di bawah tebing-tebing batu di atas tebing-
tebing batu yang kembali ke bawah dan ke atas. Ke luar dan ke 
dalam.

Cahaya dari bukit-bukit batu, mengelupas melewati erangan salju di musim panas, benturan antara yang berlalu dan 
berkelanjutan. Ruang di sini terus menciptakan dirinya berulang-
ulang, untuk menyesatkan waktu dalam perjanjian antara iblis 
dan pendeta suci Gottardo, antara monumen kesunyian dan 
tebing-tebing sejarah. 800 tahun lalu melewati tebing-tebing 
Schollenen dan Reuss, di atas jembatan Teufelsbrucke, iblis yang 
tertipu seekor kambing. Di bawahnya, air dari lelehan salju 
masih terus mengalirkan potret-potret perang Napoleon. Tubuh 
melawan tubuh, membuktikan waktu. Jiwa melawan jiwa, membuktikan yang berulang. Udara menjadi begitu curam, 9 derajat di bawah kultur yang ketakutan.

6 jam berjalan kaki, turun dari kecuraman waktu, sampai di Airolo. Makan malam di Lauzers, di tepi sungai. Di tepi bayanganku yang curam.

"Afrizal Malna"
Puisi: Jembatan Iblis dari Keningku
Karya: Afrizal Malna
Sebuah Pintu di Depan Pintu

Aku seorang prajurit yang tidak mengenal
siapa komandanku
aku hanya menerima perintah
“Rapat ke B rapat ke A. Rapat.
kau adalah A atau B di antara C”

– Sebuah ledakan di kampung melayu
– Sebuah pameran evolusi busana
– Pidato kebudayaan tentang bintang mati
– Silsilah keluarga, bantu rumah sakit
– Peternakan ayam untuk konsumsi kota

Kau adalah A dengan wajah anti A
susunlah B dan C sebagai A dan tak tahu
mereka adalah A. Ciptakan D sebagai lawan A
untuk menyaring seluruh anti A
targetnya: A adalah B

Aku adalah A bukan B setelah C
intinya “ABC” tutup semua jendela. Tutup
semua pintu. Tutup hantu etimologi
topeng alfabet dalam viral riwayatmu.

"Afrizal Malna"
Puisi: Sebuah Pintu di Depan Pintu
Karya: Afrizal Malna
Mantel Hujan Dua Kota

Kota itu telah jadi Semarang sejak air laut ingin 
mendaki bukit, dan pesta tahun baru di ruang dalam 
bangunan-bangunan kolonial. Minum persahabatan 
dan melukis fotomu pada dinding musim hujan. 
Sepanjang malam ia mengenakan mantel dari listrik: 
kota yang mengapung 45 derajat di atas sejarah. 
Dalam mantelnya, rokok kretek dan kartu ATM. 
Mahasiswa bergerombol di warung kopi, mengambil 
ilmu sastra, ilmu komunikasi, antropologi dan 
jam-jam belajar dari pecahan kaca. Akulah anak 
muda yang bisa memainkan bas elektrik, blues 
dengan sisa-sisa kerusuhan dan sisir yang patah. Aku 
telah banjir di lapangan kerja dan kenaikan gaji 
pegawai negeri. Para arsitek yang membuat desain 
kota bersama air laut dan hujan.

Biarlah aku sampai ke batas tepi ini, untuk jejak yang 
membuat lubangnya sendiri.

Kereta keluar dari mulut stasiun Yogyakarta, bau 
tembakau dari pesta seni rupa dan sapi goreng. Aku 
kembali bernapas setelah ribuan billboard kota 
adalah mataku yang terus berputar, waktu yang 
terasa perih. Rel kereta api masih menyimpan saham-
saham VOC sampai Semarang. Tanah keraton yang 
menyimpan telur ayam, mantel biru masih 
menyanyikan keroncong Portugis. Bau tebu, bau padi, 
bata merah yang dibakar. Aku telah Yogyakarta 
setelah berhasil menjadi orang sibuk tidak mandi 2 
hari, menggunakan excel untuk agenda-agenda 
padat. Dan bir dingin di antara janji-janji. 
Aku telah dua kota dalam perjalanan dua jam 
bersambung sepeda 6 jam pagi. Biarlah aku sampai 
ke batas tepi ini. Sebuah kota yang terbuat dari jam 
6 pagi, dan aku mempercayainya seperti genta yang 
berbunyi tanpa berbunyi, bayangan gunung sebelum 
biru dan sebelum kelabu dan sebelum di sini.

"Afrizal Malna"
Puisi: Mantel Hujan Dua Kota
Karya: Afrizal Malna
Proposal Politik Untuk Polisi

“Toean-toean, saja mendjamin bahwa pemerintahan kita 
tidak lagi popoeler, baik di antara rakjat ketjil maoepoen 
pedjabat boemiputra rendahan ataoe pedjabat tinggi … 
rasa tidak puas jang merebak, baik di kalangan para bang
sawan maoepoen rakjat djelata, terhadap bagaimana tjara 
pemerintah dikelola dan keadilan ditegakkan. Sedjak akhir 
1900, muntjul sematjam gerakan terorisme … ataoepoen 
gerakan perlawanan terhadap pemerintah. Tampaknja di 
pusat birokrasi pemerintahan tidak memahami makna ini 
semua.” (P.J.F. van Heutsz, 1904-06)

Aku dilanda kedatangan diriku sendiri, di sana dan di sini. Melihat 
kegagalan yang terus-terang di setiap yang kuciptakan. Antara 
mesin-mesin dan sistem dalam lubang kesunyian, pembelian dan 
penjualan yang saling membuang. Hiburan dan barang-barang 
yang dibeli di sana dan di sini. Kenangan dalam puing-puing 
perubahan. Sisa-sisa hutang dalam peti mati tak terkunci. Pidato 
musim hujan di semua saluran keadilan yang tenggelam. Tanah 
dan suara api di atas meja makan. Kau dan aku berdiri di sini. 
Tetapi tidak pernah berdiri bersama.

Aku memotret telapak tanganku sendiri, seperti memotret sebuah 
kepulauan terbuat dari bubur kertas. Pengeluaran terus-menerus 
di sana dan di sini, lebih panjang dari jalan yang kulalui ke depan 
dan ke belakang. Suara gesekan butir-butir beras dalam panci, 
seperti data-data ekonomi yang kehilangan mesin hitung. Hatiku 
tenggelam dalam permainan sejarah dan baju untuk masuk surga. 
Laporan keuangan yang berjalan-jalan di akhir tahun. Daya hidup 
yang menjadi puing-puing dalam perdagangan ilmu pengetahuan, 
data-data di sana dan di sini. Kesehatan yang diramalkan vitamin C 
dan sikat gigi. Aku dilanda kedatangan diriku sendiri, 
untuk membeli kesunyian, udara bersih dan lapangan 
kerja.

Tuan-tuan, bisakah kegagalan dipotret, untuk melihat 
bagaimana caranya kita tertawa dan tersenyum. 
Bisakah kita memotret sikat gigi di tengah puing-
puing daya hidup yang terus digempur dari sana dan 
dari sini. Daya hidup yang menjadi mainan pendaya
gunaan kekerasan. Laporan pertumbuhan penduduk 
yang menjadi api pada jam makan malam kita.

Tuan-tuan, bisakah kita membaca sekali lagi, dari 
huruf-huruf tak bermakna. Dan mereka menciptakan 
bahasa, dari setiap kegagalan, dari setiap sejarah luka 
di sana dan di sini, dari dansa perpisahan di malam 
minggu. Berdirilah kita di sini, seperti tanaman yang 
menunggu tukang kebun. Tidak membiarkan sebuah 
kepulauan menjadi saluran got bersama.

Tuan-tuan. Di sana dan di sini. Musim hujan yang 
telah berwarna biru di kotamu.


"Afrizal Malna"
Puisi: Proposal Politik Untuk Polisi
Karya: Afrizal Malna
Dari Penari buat Pelukis

Lenganku mencapai inti angin
Dan rahasia gelombang. Lautan kurengkuh, kuurai-urai
Dalam gerak perasaan. Tarianku pergesekan bulan
Dan matahari. Persentuhan langit dan bumi
Akulah udara yang mengasuhmu
Akulah mega yang memayungi langkahmu
Akulah topan yang menghangatkan hidupmu
Akulah musim yang membukakan pintu
Akulah ular yang menawarkan khuldi
: Akulah ranjang
Nganga sunyi
Kubur yang menampungmu, duhai pelukisku sayang
Pinggulku bergoyang, dadaku naik turun
O, selendangku sayap burung
Aku melayang-layang
Roh dan badan berzikir panjang. Menarikan diam.

1984
"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Dari Penari buat Pelukis
Karya: Acep Zamzam Noor
Dari Pelukis buat Penari

Lenganku mengikuti geliat udara, gemulai mega
Serta cuaca yang padat oleh kepak camar
Dalam naungan senja. Tubuhku menyerap ombak
Sekaligus menampung hempasan angin sakal
Lalu meliuk mengimbangi pasang, mengatasi topan
Bersama malam aku terus mengayuh sampan
Kekekalan. Melewati pelayaran demi pelayaran
Melampaui pendakian demi pendakian
Sembahyang demi sembahyang
O, kedip matamu, penariku idaman
Kesatuan roh dan badan
Tarianmu keheningan subuh, kebeningan ufuk
Yang jauh. Sujud dan rukuk
Kekhusyukan yang dipadatkan rindu
Bersama fajar lukisanku menggali cahaya
Menyulut sumbu waktu. Darah dan airmata
Warna-warna yang disemburkan kedalaman batu.

1984
"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Dari Pelukis buat Penari
Karya: Acep Zamzam Noor
Dua Pantai

Di antara dua pantai, seperti juga alamat rindu
Tersesatlah kita dalam panjangnya sebuah ciuman
Serta rimbunnya sulur-sulur pohon kenangan:
Tenggelam dalam tahun-tahun yang bergaram
Hanyut dan megap-megap dicumbu kesementaraan

Setangga demi setangga menapaki keagungan upacara
Luput menggapai pangkal kata, menyerah pada debar dada
Kembali merayap dari banjar ke banjar, dari kandang babi
Ke kafe sunyi. Dalam mabuk kita melihat sebuah gambar
Dan nampaklah tubuh-tubuh yang bergelimpangan
Seperti patung-patung yang hangus terbakar

Tertawa karena langit kita masih biru adanya
Perahu masih melaju dalam naungan angin sakal
Dari tenggara. Kita membaca jejak pada kilau ombak
Menenggak arak serta kandungan filsafatnya
Hingga gairah mistik itu kembali membakar udara
Dan tubuh kita menjelma anak-anak panah yang menyala

Di antara dua pantai, seperti juga dermaga cinta
Terkulailah kita dalam letihnya sekian persetubuhan
Serta berlikunya jalan munuju ruang pemujaan:
Ternyata kemesraan masih mempunyai wilayah di bumi
Seperti juga kedalaman hati dengan riak-riaknya yang sopan.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Dua Pantai
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepakbola

Di usianya yang ke-45, lelaki itu menuliskan sejumlah kata
Pada secarik kertas, yang tergantung bimbang
Di rangkaian kembang. “Aku merindukanmu
Seperti merindukan Inne Ratu, dulu
Ketika seluruh langit masih biru"

Saat itu hampir senja, keloneng becak di simpang tiga
Lampu redup sekitar pos ronda, dan sebuah beringin tua
Runtuh di halaman TK. Lelaki itu memandang ke mulut gang
Ke deretan rumah dan madrasah, hingga sebuah kelokan
Yang telah menyembunyikan seseorang

Di usianya yang ke-45, kata-kata yang pernah dirangkainya
Terus bergema di rongga dada, memukul-mukul iga
Di antara batuk dan asma. “Aku mencintaimu
Seperti mencintai Inne Ratu, dulu
Ketika merasa tak ada masalah dengan waktu”

Waktu adalah gelanggang olahraga, nampaknya:
Banyak lapangan, banyak permainan, tapi selalu berujung
Pada kalah dan menang. Kemudian lelaki itu berjalan, sendiri
Ke arah stadion, melewati jalan yang remang
Ia bermain sepakbola melawan sepi.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Sepakbola
Karya: Acep Zamzam Noor
Jalan Setapak

Seperti lidah yang dijulurkan langit merah
Jalan setapak membentang ke cakrawala
Di antara jurang dan tebing, gerumbul ilalang
Nampak bersinar dalam basuhan airmata fajar
Kesenyapan akan bangkit dari punggung bukit pagi

Sungai kecil menyelinap di sela pohonan
Mendesakkan batu-batu hitam
Dan dingin yang memercik mengandung irama api
Seakan menyanyikan kelahiran baru
Ayam berkokok dari kandang pertobatannya

Mantel subuh yang membungkus ombak lautan
Seakan menenggelamkan nyala bintang
Langit kembali tersungkur, ditarik arus bumi
Kini cahayanya memberat di kedua mataku
Sedang hatiku menghampar tanpa ufuk.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Jalan Setapak
Karya: Acep Zamzam Noor
Lanskap

Ketika lembar hari luruh
Kabutmu jatuh
Mengaca di bukit-bukit jauh

Gerimis yang turun
Firmanmu yang ngungun
Kudengar lembut mengalun

Ketika lembar hari mengaduh
Dan jiwa luluh. Kulihat cakrawala
Demikian dekat kita
Dalam bicara

Demikian dekat kita, serupa Musa
Pada tepian kata dan ambang makna
Kalimat-kalimat yang terbit
Membersit di langit

Demikian dekat kita:
Demikian berat

Hidup hanya memburu keasingan
Diburu kegamangan dari belakang


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Lanskap
Karya: Acep Zamzam Noor
Fiktif

Kata fiktif masuk ke dalam kertas cetak biru lalu menyelami kerangka besi beton stadion olahraga kota-madya yang sedang dilas sore hari, bunga apinya bepercikan ke segala arah seperti kunang-kunang merah tapi padam sebelum mencapai tanah.

Dua belas bulan kemudian stadion itu ambruk berselengkang patah-patah pada acara musik keras yang dua belas ribu penontonnya sangat marah dan semua menyumpah-nyumpah, kaca mobil parkir dipecah dan polisi menyerah kalah.

Fiktif menjadi kata kerja, masuk ke simpul ganglia, pembuluh arteri dan vena, memicu semua glandula dan secara ajaib membuat jaringan birokrasi lapis atas bergairah kerja, berpuluh tahun menuangkan dinamika tak bertara, mencambuk pembangunan berpacu melawan waktu.

Menjelang tutup abad arsitektur pemerintahan sudah bopeng penuh karat,  tiang dan kasaunya dimakan rayap, lantainya kumuh dan dindingnya berpeluh, di sana-sini pagu ditopang bambu karena rusak seluruh, atap-atap bocor gawat dan kaki administrasi terseok-seok darurat.

Fiktif jadi kata benda dan bersenyawa secara fisik dengan permukiman keluarga mirip istana dengan tampak muka gaya gotik Eropa dan garis kontur Mediterania, berlantai marmar Italia, sekolah anak-anak di mancanegara, liburan di lima benua, koleksi keramik dinasti Chi dan mobil balap Lamborghini, pembibitan harta di lima ratus bentuk bisnis utama, bukit, gunung, rimba dan pulau khatulistiwa, disertakan juga sepuluh negara sub-tropika.

Memasuki abad baru selapis tipis birokrat betapa dahsyat kaya raya, bahkan dalam ukuran bundaran dunia. Ajukan semua kriteria, mereka penuhi itu semua. Lihatlah alat nafas mereka yang siap dengan seperangkat nasihat dikutip dari penataran setiap saat, perhatikan lipatan kulit perut terbuai melompati gesper ikat pinggang dan lemak kembung meliputi pipi kanan dan kiri, ciri sebuah generasi lima lapis 30-an, 40-an, 50-an, 60-an dan 70-an yang tumbuh, kukuh dan tak kunjung runtuh, diisi tangki penuh enersi komisi dan angka yang fiksi.

Kata sifat bertransisi ke kata kerja, kata kerja beringsut diseret kata hubung dan berhenti penuh pada kata benda.

Di lapangan parkir mahasiswa terbenam kesibukan membawa kain rentang panjang penuh alfabet kapital dan tanda seru ancaman, besok malam dimaksudkan sekaligus jadi kain kafan, berdesak-desak riuh rendah menggergaji batang leher fiktif, kenyal luar biasa. M
ana bisa.

1998
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Fiktif
Karya: Taufiq Ismail
Ketika Pratiwi Sudarmono Baca Puisi di Taman Ismail Marzuki

(I)
Di ujung tahun delapan-delapan
Hari Jum’at 23 Desember malam
Dua belas orang ibu-ibu baca puisi
Dulu nama tempatnya Kebun Binatang Cikini
Kini berubah jadi Taman Ismail Marzuki
Bersama para bapanda, ananda dan kaum muda
Mereka memperingati Hari Para Ibunda
Mereka ibu-ibu pendidik, psikolog, ekonom, wartawati
Ustazah, perancang bunga, doktor mikrobiologi
Aktris teater, penerbit, pekerja sosial dan penyanyi
Yang sehari-hari sibuk dengan pekerjaan mereka
Di sebuah kota yang ruwet dan padat keadaannya
Tapi mereka menyisihkan waktu
Untuk Hari Ibu
Dan memperingati dengan bersama baca puisi
Di Teater Utama, yang hampir penuh semua kursinya.

(II)
Puisi yang dibacakan semua karya penyair Indonesia
Tahun 30-an sampai 80-an jangka karyanya
Ada yang mengenai perempuan miskin penumbuk padi
Ada puisi tentang perempuan-perempuan perkasa
Ada puisi tentang ikhlasnya hati ibu-ibu guru
Ada puisi nina-bobo untuk si kecil cindur mata
Yang tidur bersama rama-rama
Ada puisi kasih sayang pada anak sibiran tulang
Ada pula yang meratapi ibu yang selamanya pergi

Kemudian adalah puisi berjudul Nyanyian Para Babu
Yang dimuat dalam buku program malam itu
Istilah babu itu memang kurang enak bagi perasaan
Dan kini diganti, dan dimanis-maniskan
Tapi apakah sikap sudah betul berganti
Atau juga cuma dimanis-maniskan
Ini memang puisi protes bagi perlakuan
Terhadap sebagian besar kaum perempuan
Yang bekerja belasan jam sehari sebagai pembantu
Tak pernah sempat bersatu dalam organisasi Darma Babu
Atau memakai hak berserikat dalam kumpulan Darma Pembantu
Terlewat oleh mata undang-undang
Tersisih di percaturan peraturan perburuhan
Di sebuah negeri yang telah memerdekakan
Diri sendiri
Simaklah kata penyair pembela babu ini:
“Kami adalah sisa-sisa penghabisan
Dan zaman perbudakan
Perkembangan kemudian dari budak belian
Yang terdampar di abad ini dan dilupakan”
Tertusuk ujung jantung oleh puisi
Penyair Hartoyo Andangjaya ini
Ditulisnya sekitar seperempat abad yang lalu
Gemanya begitu keras di gendang telingaku
Darah pucuk aortaku menitik ke lantai Teater Utama
Habis telak aku disindir puisi Hartoyo Andangjaya
Sebelum keadaan rumah orang lain aku cerca
Aku jadi malu pada perlakuan di rumahku sendiri
Aku malu

(III)
Demikianlah semua puisi yang dibacakan
Adalah dalam semangat menghargai para ibu
Yang telah mengandung, melahirkan
Dan membesarkan kita semua

Kemudian tampillah di depan naik, lagi seorang ibu
Sehari-hari kerjanya di laboratorium mikrobiologi
Cantik dan anggun dia, panjang gaunnya
Terpilih mewakili negerinya
Untuk pengembaraan di ruang angkasa
Kelak pada suatu ketika
Kini dia memegang lembaran puisi
Berjudul Manusia Pertama di Angkasa Luar
Ditulis penyair Subagio Sastrowardoyo
Pada tahun 1961
Ketika itu, astronot lebih  banyak ditemukan
Di buku komik ketimbang di dunia nyata
Ketika Subagio menulis puisi itu
Pratiwi masih dalam umur anak-anak
Dan tak terpikir tentu oleh penyair ini
Bahwa seorang calon astronot Indonesia
27 tahun kemudian akan membacakannya
Dan dihadirinya pula

Karena astronot dalam imajinasi Mas Bagio
Adalah seorang laki-laki
Maka berubahlah kata ganti
Dalam puisi yang dibacakan Pratiwi
Dan mari sama kita simak dia kembali.


"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Ketika Pratiwi Sudarmono Baca Puisi di Taman Ismail Marzuki
Karya: Taufiq Ismail
Kafetaria Sabtu pagi

Menu kafetaria Sabtu pagi :

Sepi

Aku duduk dan minta segelas air es
Dalam hatiku namamu, dan kau tak ada
Orang-orang berbincang dan ketawa
Sebuah dunia oleng dalam kafe ini
Matahari jauh, suara-suara kendaraan riuh
Sebuah dunia oleng dalam sepi
Akupun berdiri, menghadap pergi
Ada tiada, seperti terpandang jua
Ketika di luar memancar
Matahari pagi

Bulan
Mei

1966
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Kafetaria Sabtu pagi
Karya: Taufiq Ismail
Musim Gugur Telah Turun di Rusia

Seekor burung raksasa pada suatu malam cuaca mengembangkan sayapnya yang perkasa mengibas-ngibaskannya gemuruh dan lena maka rontoklah bulu beledru di langit tua dan biru gugur dan gugur melayang dan berbaur

Musim gugur telah turun di Rusia.

Berjuta bintik kapas warna putih angsa pada suatu malam cuaca naik mengambang bersama dan menggeliatlah dia menggelepar menyerakkan warna dan aroma

Musim panas melayang di atas Rusia.

Dengan malasnya burung itu terbang sayapnya mengibaskan angin agak dingin daun-daun beriozka jadi berganti warna burung raksasa tiba di atas kutub utara dia berkaca sekilas di laut terus melayang ke bagian bumi yang lain seraya membagi-bagikan angin yang agak dingin

Musim gugur telah turun di Rusia.

1970
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Musim Gugur Telah Turun di Rusia
Karya: Taufiq Ismail
Depan Sekretariat Negara

Setelah korban diusung
Tergesa-gesa
Ke luar jalanan

Kami semua menyanyi
‘Gugur Bunga’
Perlahan-lahan

Prajurit ini
Membuka baretnya
Air mata tidak tertahan

Di puncak Gayatri
Menundukkan bendera
Di belakangnya segumpal awan.

1966
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Depan Sekretariat Negara
Karya: Taufiq Ismail
Kaucari-cari Hilang

Kaucari-cari hilang
; tempat segala terbang
entah dengan diam-diam,
tanpa pamit, melintas begitu saja
atau menyisakan almanak dan alamat
di surat berharga dan nota anggaran.

Kaucari-cari hilang
; anak-anak yang tak sempat dewasa
buruh-buruh yang gagal gajian
juga petani serta nelayan yang dilimbah cuaca dan lautan.
lalu budi pekerti dihantam perkelahian siswa di jalanan
agama diludah para naga di ujung panji-panji,
mikrofon, mimbar juga tivi-tivi.
para moral minggat ke nirwana bersama ranjang purba
usai rapat kerja, inspeksi gadungan
atau defile harian anjing kudisan.

Kaucari-cari hilang
; wajah hatimu di pasar kata-kata
kelebatnya nyungsep di percetakan uang negara
usai berlarian mengejar bis antar kota,
nongkrong di warung kaki lima,
menyeruput comberan tanpa label harga
(kecuali kantong plastik
dan sedotan basi berbau lipstik)

Kaucari-cari hilang
; arah tujuan yang telah bertolak dari bandar keberangkatan
bersama para cuaca yang dikisruh musim pancaroba,
ekosistem yang pecah berhamburan,
angin yang selalu kembara,
dan peta yang tak rampung-rampung
dilukiskan.
Solo
2 Oktober 2012
"Puisi Sosiawan Leak"
Puisi: Kaucari-cari Hilang
Karya: Sosiawan Leak
Kekayaanku Hanya Buku dan Bunga

Kekayaanku hanya buku dan bunga
apakah kamu sudah membeli mobil? Tanyamu
Buku-buku menjerit dari timbangan
bersamaan dengan debu dan akar kembang
yang dicampakkan di jalanan
entah karena perang, pesta perkawinan
atau sisa pemakaman
kupungut segala tanpa peduli nama
status keluarga, cacat atau bermahkota
sambil kuingat ceritamu
tentang perselingkuhan udara dan limbah kimia
yang melahirkan hujan api di semua ruang, di dapurmu
mendidihkan segala yang kau sentuh
bahkan saat kau tidur sekalipun.

Kekayaanku hanya buku dan bunga
apakah engkau bahagia? Tanyamu
Seperti kata-katamu yang lengang
tanpa wajah, tak bernada, beralamat
aku dirajang-rajang huruf yang berloncatan
tanpa jeda tanpa tanda baca
yang lama ditawan daftar harga
di istana pasir bersama angin, kluwung
dan giris gerimis
yang tak pernah turun, di dapurmu
tapi, kekayaanku hanya buku dan bunga.

Kekayaanku hanya buku dan bunga
aku kangen, katamu
dan aku melamarmu dengan perpisahan
sambil terus mengumpulkan buku dan bunga
menjarakkan pertemuan kita
yang tak kunjung sampai!
Solo
29 Maret 2006
"Puisi Sosiawan Leak"
Puisi: Kekayaanku Hanya Buku dan Bunga
Karya: Sosiawan Leak