loading...

Benda-benda Pos di Siang Hari

Di siang saling menunggu dengan hari-hari lain itu, mereka masih saling memberi bingkai pada wajah sendiri. Tak ada telinga jadi berwarna, ketika Coca-cola tidak membawa mereka kemana-mana. Aku temukan sisa-sisa seragam mereka, dalam daftar tenaga kerja yang menunggu di batas kota.

Tidak, tidak ada.

Di sepanjang rel kereta api antar batas kota itu. Kebisuan telah merata dan kian tawar, seperti bahasa terbungkus setelan jas, untuk mayat membiru.

Aku masih bercerita aku kira, padamu, dengan tema-tema menggigil setiap didekati; seperti ada luka yang terdapat dalam setiap kata. T
etapi kantor pos tidak segera jadi kedai pengadilan untuk setiap pengaduan, atau jadi ribuan pabrik untuk setiap lamaran kerja. Sejak itu ada spiker yang selalu menunggu di pinggir-pinggir jalan, seperti menjaga setiap peristiwa yang akan tiba. Ada yang terbakar di situ, tubuhnya dalam sekam.

Suratmu masih aku baca, seperti rasa khawatir yang akan membawamu, ke sebuah negeri tanpa pengucapan lain. Di situ orang berdagang, dengan menjual hartanya sendiri.

“Ada kiriman dari kedutaan asing, sejumlah majalah teknik, dan jaringan beasiswa.”

Ia tahu kemudian banyak kapal-kapal barang, juga kapal perang, telah menjaga pulau-pulau di sekitarnya, mengirim pabrik dan sejumlah restoran ayam goreng.

Tetapi kini aku melayang, tanpa alamat, dalam surat penuh tanda tangan. Tak ada seragam polisi dan kejaksaan di situ. Juga tak ada materai aku kira, yang melindungimu dari jalan raya.

Tetapi memang tak ada kantor pos buat mereka, untuk surat apa pun. Jadi siapa kami, di sini, tanpa kabar, membayangkan dunia lain tanpa stempel dan sidik jari.

Tidak, tidak ada.

Di sepanjang rel kereta api antar batas kota itu. Tetapi siapa yang telah mengajari mereka, menulis surat seperti itu, seperti membuka selembar telegram di depan pintu, memutuskan kabel listrik, dan suara spiker dimana-mana.

1990
"Afrizal Malna"
Puisi: Benda-benda Pos di Siang Hari
Karya: Afrizal Malna

Post a Comment

loading...
 
Top