Ketika Pratiwi Sudarmono Baca Puisi di Taman Ismail Marzuki

(I)
Di ujung tahun delapan-delapan
Hari Jum’at 23 Desember malam
Dua belas orang ibu-ibu baca puisi
Dulu nama tempatnya Kebun Binatang Cikini
Kini berubah jadi Taman Ismail Marzuki
Bersama para bapanda, ananda dan kaum muda
Mereka memperingati Hari Para Ibunda
Mereka ibu-ibu pendidik, psikolog, ekonom, wartawati
Ustazah, perancang bunga, doktor mikrobiologi
Aktris teater, penerbit, pekerja sosial dan penyanyi
Yang sehari-hari sibuk dengan pekerjaan mereka
Di sebuah kota yang ruwet dan padat keadaannya
Tapi mereka menyisihkan waktu
Untuk Hari Ibu
Dan memperingati dengan bersama baca puisi
Di Teater Utama, yang hampir penuh semua kursinya.

(II)
Puisi yang dibacakan semua karya penyair Indonesia
Tahun 30-an sampai 80-an jangka karyanya
Ada yang mengenai perempuan miskin penumbuk padi
Ada puisi tentang perempuan-perempuan perkasa
Ada puisi tentang ikhlasnya hati ibu-ibu guru
Ada puisi nina-bobo untuk si kecil cindur mata
Yang tidur bersama rama-rama
Ada puisi kasih sayang pada anak sibiran tulang
Ada pula yang meratapi ibu yang selamanya pergi

Kemudian adalah puisi berjudul Nyanyian Para Babu
Yang dimuat dalam buku program malam itu
Istilah babu itu memang kurang enak bagi perasaan
Dan kini diganti, dan dimanis-maniskan
Tapi apakah sikap sudah betul berganti
Atau juga cuma dimanis-maniskan
Ini memang puisi protes bagi perlakuan
Terhadap sebagian besar kaum perempuan
Yang bekerja belasan jam sehari sebagai pembantu
Tak pernah sempat bersatu dalam organisasi Darma Babu
Atau memakai hak berserikat dalam kumpulan Darma Pembantu
Terlewat oleh mata undang-undang
Tersisih di percaturan peraturan perburuhan
Di sebuah negeri yang telah memerdekakan
Diri sendiri
Simaklah kata penyair pembela babu ini:
“Kami adalah sisa-sisa penghabisan
Dan zaman perbudakan
Perkembangan kemudian dari budak belian
Yang terdampar di abad ini dan dilupakan”
Tertusuk ujung jantung oleh puisi
Penyair Hartoyo Andangjaya ini
Ditulisnya sekitar seperempat abad yang lalu
Gemanya begitu keras di gendang telingaku
Darah pucuk aortaku menitik ke lantai Teater Utama
Habis telak aku disindir puisi Hartoyo Andangjaya
Sebelum keadaan rumah orang lain aku cerca
Aku jadi malu pada perlakuan di rumahku sendiri
Aku malu

(III)
Demikianlah semua puisi yang dibacakan
Adalah dalam semangat menghargai para ibu
Yang telah mengandung, melahirkan
Dan membesarkan kita semua

Kemudian tampillah di depan naik, lagi seorang ibu
Sehari-hari kerjanya di laboratorium mikrobiologi
Cantik dan anggun dia, panjang gaunnya
Terpilih mewakili negerinya
Untuk pengembaraan di ruang angkasa
Kelak pada suatu ketika
Kini dia memegang lembaran puisi
Berjudul Manusia Pertama di Angkasa Luar
Ditulis penyair Subagio Sastrowardoyo
Pada tahun 1961
Ketika itu, astronot lebih  banyak ditemukan
Di buku komik ketimbang di dunia nyata
Ketika Subagio menulis puisi itu
Pratiwi masih dalam umur anak-anak
Dan tak terpikir tentu oleh penyair ini
Bahwa seorang calon astronot Indonesia
27 tahun kemudian akan membacakannya
Dan dihadirinya pula

Karena astronot dalam imajinasi Mas Bagio
Adalah seorang laki-laki
Maka berubahlah kata ganti
Dalam puisi yang dibacakan Pratiwi
Dan mari sama kita simak dia kembali.


"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Ketika Pratiwi Sudarmono Baca Puisi di Taman Ismail Marzuki
Karya: Taufiq Ismail

Post a Comment

loading...
 
Top