loading...

Mantel Hujan Dua Kota

Kota itu telah jadi Semarang sejak air laut ingin 
mendaki bukit, dan pesta tahun baru di ruang dalam 
bangunan-bangunan kolonial. Minum persahabatan 
dan melukis fotomu pada dinding musim hujan. 
Sepanjang malam ia mengenakan mantel dari listrik: 
kota yang mengapung 45 derajat di atas sejarah. 
Dalam mantelnya, rokok kretek dan kartu ATM. 
Mahasiswa bergerombol di warung kopi, mengambil 
ilmu sastra, ilmu komunikasi, antropologi dan 
jam-jam belajar dari pecahan kaca. Akulah anak 
muda yang bisa memainkan bas elektrik, blues 
dengan sisa-sisa kerusuhan dan sisir yang patah. Aku 
telah banjir di lapangan kerja dan kenaikan gaji 
pegawai negeri. Para arsitek yang membuat desain 
kota bersama air laut dan hujan.

Biarlah aku sampai ke batas tepi ini, untuk jejak yang 
membuat lubangnya sendiri.

Kereta keluar dari mulut stasiun Yogyakarta, bau 
tembakau dari pesta seni rupa dan sapi goreng. Aku 
kembali bernapas setelah ribuan billboard kota 
adalah mataku yang terus berputar, waktu yang 
terasa perih. Rel kereta api masih menyimpan saham-
saham VOC sampai Semarang. Tanah keraton yang 
menyimpan telur ayam, mantel biru masih 
menyanyikan keroncong Portugis. Bau tebu, bau padi, 
bata merah yang dibakar. Aku telah Yogyakarta 
setelah berhasil menjadi orang sibuk tidak mandi 2 
hari, menggunakan excel untuk agenda-agenda 
padat. Dan bir dingin di antara janji-janji. 
Aku telah dua kota dalam perjalanan dua jam 
bersambung sepeda 6 jam pagi. Biarlah aku sampai 
ke batas tepi ini. Sebuah kota yang terbuat dari jam 
6 pagi, dan aku mempercayainya seperti genta yang 
berbunyi tanpa berbunyi, bayangan gunung sebelum 
biru dan sebelum kelabu dan sebelum di sini.

"Afrizal Malna"
Puisi: Mantel Hujan Dua Kota
Karya: Afrizal Malna

Post a Comment

loading...
 
Top