loading...

Rahasia Bocor

Aku menyapu atap genting, sambil mencari rahasia bocor. Sebuah lubang antara dari tempatku berdiri antara bantal tidurku antara kebimbanganku mencari tempat duduk. Daun-daun kering dan debu-debu gunung saling melekat di genting itu. Ada sebatang bambu. Pohon flamboyan akan kembali ke lumut hijau. Bukan lumut hitam. Aku menyapu atap genting.

Lumut memberi tahu tentang bocor dari dempul, cat genting, semen dan besi-besi beton yang membuat langit di atas kepala kita. Lumut ... aduh aneh sekali rasanya menjadi manusia. Sibuk sekali rasanya untuk menjadi manusia. Aku menyapu atap genting, sambil mencari lagi rahasia bocor, antara ember, sebuah lubang di dalam kain pel dan di dalam air yang menetes.

Sebuah lubang di dalam air yang menetes, katanya. Semua akan bersujud di dalam lumut. Dari atap genting hingga bunga-bunga flamboyan yang berjatuhan, aku bertekuk lutut. Menyerahkan diri kepada yang tak terhitung. Menyerahkan diri kepada yang tak bernama. Menyerahkan diri kepada semua yang menolak untuk disembah aku bertekuk lutut. Membiarkan api melupakan ginjal dan empeduku. Membiarkan api melupakan pakaian di tubuhku.

Aku menyapu jam 5 sore dari rahasia bocor, sebuah lubang dari cahaya matahari yang menipis dan mengeras sebelum batas malam. Sebelum batas lubang membisikkan dasar-dasarnya. Sebelum semua yang menetes mulai tergantung di leher kita.

"Afrizal Malna"
Puisi: Rahasia Bocor
Karya: Afrizal Malna

Post a Comment

loading...
 
Top