Juli 2012
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Bersama Allen di Lower East Side, 1960

(1)
Halo Allen,
kenangan apa yang kupunya tentang dirimu
East Village beku
supermarket redup lampu
membawa sisa kehangatan.

Serombongan imigran berjalan
ke dalam tilas hujan yang panjang.

Malam glamor mengantar kau tidur
di kamar apartemen bersama warna sprei pudar
aku menyelinap ke bilik apartemenmu
menyentuh rasa asing
di antara balutan kabel telepon
dan bunyi klakson mobil di luar sana.

“Di sini segalanya akan abadi”
gerutumu sok serius
kau lelah Allen?

(2)
Akankah kita bermimpi seperti Aime Cesaire
Amerika di abad mendatang akan gelap
bagaikan cambangnya dan kau tampak bisu
amnesia menuntunmu ke arah jalanan
ke samar kulit rembulan.

Dan persimpangan jalan itu dipenuhi jejak kaki
orang-orang Hippie dalam keramaian
adalah kisah-kisah yang pernah kau miliki.

Apa yang membuatmu ragu mendirikan tenda
membeli daging beku dan bir yang biasa kau
simpan dalam kulkas.

Pada setengah malam yang silir bunyi blues
kesepian kita temui umpama masa lalu meninggalkan
jalur kereta api berasap di musim dingin
sepanjang mendung melewati sungai-sungai Missisipi.

(3)
Di kamar apartemenmu aku merindukan masa lalu
menyalakan cerutu, mengambil alih sejumlah buku
dan menikmati gerak tubuhmu yang menyorotkan
samar cahaya dari luar jendela setengah terbuka
pada waktu ketika keheningan benar-benar terasa.

Yang sekiranya bisa kuselipkan di telapak tanganmu
hanyalah suara sekadar dari mikropon masa lalumu itu
dan pagi sebentar lagi tiba
dan kita berhenti mengayuh diri sendiri.

2017
"Puisi Puji Pistols"
PuisiBersama Allen di Lower East Side, 1960
Karya: Puji Pistols

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Potret Diri Forugh Farrokhzad
(untuk Shirin Neshat)

Dalam gelap sempurna ini hanya setitik nyala berpindah-pindah dari bibirmu ke bibirku. Kau tak dapat melihat wajahku, dan aku hanya berupaya membayangkan wajahmu. 

Mungkin aku adalah mempelaimu. Yang pasti, inilah jeda antar-persetubuhan. Sebatang rokok sudah kaunyalakan, dan kita menghisapnya bergantian sambil menanti kemesraan berikutnya, jika masih ada.

Kau tentu ingat anting-antingku adalah dua pasang buah ceri dan kuku tanganku terbungkus kelopak dahlia. Dalam upacara berlimpah cahaya itu, kau dan semua orang leluasa memandangku, sementara aku hanya runduk ke lantai menyigi sepasang kakimu. Kau segempal menara kaum Majusi tapi aku akan menebangmu, demikianlah aku berkata dalam hati di hadapan Tuan Kadi.

Sudah berapa lama kita di kamar ini? Berjam-jam barangkali, sebab masih terdengar langkah polisi rahasia sang Shah mencarimu nun di luar sana. Atau bertahun-tahun barangkali, sebab kita juga merasa bebas menghikmati hujah para mullah.

Biarkan saja gelap yang kian luas ini. Meski kau mendaki tubuhku, aku mau kau tetap tak mengenalku. Jika pun aku sungguh-sungguh telanjang, maka cobalah membayangkan wujudku di antara semua perempuan yang membungkus seluruh tubuh dengan kain hitam di jalanan. Siapa pemilik tubuh mereka, tubuh kami, sebenarnya?

Noktah nyala rokok yang beredar di antara kita sesekali mampu juga menerangi tubuhku. Tapi janganlah terpukau oleh dadaku, yang akan membuatmu dahaga belaka. Sepasang mata air di puncak busung dadaku yang kauhasratkan akan kusimpan hanya untuk anakmu kelak.

Sesekali kuhembuskan asap putih langsung ke tubuhmu untuk sedikit melunakkan gelap jenuh tak terperi. Percayalah, gelung asap ini mampu menghela ke mari bayangan khat dari Qum, Isfahan, atau Nishapur ke mataku, barangkali khat yang telah mengukuhkan kita sebagai pasangan suci. Maka bolehlah aku menghisap sungai di lidahmu dan menyadap getah di pangkal pahamu tanpa rasa berdosa.

Dan aku menumbangkanmu, membangkitkanmu kembali, merebut rokokmu, sementara mereka yang salih itu mengira aku sekadar makmummu, juru masakmu, ladang suburmu, pencuci bajumu.

Kautahu sudah berapa lama kita di sini? Betapa kita dengar kaum mahasiswa mulai gencar baris-berbaris di pelbagai plaza dan alun-alun. Mereka memanggili namamu. Mengajakmu menggulingkan sang Shah. Atau mengelu-elukan sang Ayatullah. Atau memerangi sang jelmaan Nebukhadnezzar.

Jika aku mulai hamil, pergilah mengendap-endap ke haribaan mereka. Tapi jangan lupa bawakan jendela dan sebagian matahari ke mari, agar aku leluasa melihat kaum perempuan berwarna hitam legam itu. Dan aku akan belajar bagaimana memahirkan mata pada lubang hijab seperti mereka.

Kini biarkan dulu bibir kita bertukar titik nyala dalam gelap ini. Naikkanlah. Turunkanlah. Sampai kemesraan berikutnya, jika masih ada. Jangan pernah mereka-reka wajahku.

Aku tahu puntung ini tengah mengeras oleh kerak noda merah. Darahmu. Atau cat bibirku. Sampai aku merubuhkanmu lagi. 

2009
"Puisi Nirwan Dewanto"
PuisiPotret Diri Forugh Farrokhzad
Karya: Nirwan Dewanto

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tak Ada Puisi untuk Pelacur

Puisi apa yang dapat kutulis untuk sekumpulan wanita yang melacurkan diri itu? Bukankah setiap malam mereka nampak begitu bahagia, tertawa riang, mabuk di putaran bumi, rahimnya dipenuhi bayi-bayi tanpa alamat keturunan. Mati sebelum terlahir!

Aku tak pernah mendekat, mendengarkan mereka menangis, tak pernah memberi makan atau sekadar memberi selimut sedangkan para lelaki yang menghampiri hanya inginkan kemaluan, kenikmatan itu!

Apa yang dapat aku tulis tentang pelacur di atas kenyataan yang lacur ini! Wahai para lelaki yang berwajah malaikat! Apa yang ingin kalian baca dari sebuah puisi tentang para wanita yang pernah kalian tiduri? Meninggalkan lembaran uang di tepi ranjang, lantas mengajarkan tentang menjaga kesucian pada anak-cucu! Sesekali melihat ke luar, takut ada seorang laki-laki yang memperkosa anak-cucu wanita kalian!

Bagaimana bila kuceritakan tentang sebuah rahim? Atau tentang seorang wanita yang sering kalian sebut “ibu” semurah itukah ibu-ibu kalian! Sebatas lembaran uang melempar dan meludahi lantas kembali digumuli, begitu dan seterusnya.

Inilah duka penyair yang tak mengenal pelacur! Hanya gincu merah dan pakaian seksi serta tawa mereka yang menggelegar di sudut-sudut malam, tapi pelacur-pelacur itu wanita! Wanita yang menyayangi rahim dan kehormatan.

Cilegon, Banten
29 Januari 2012
"Puisi Muhammad Rois Rinaldi"
PuisiTak Ada Puisi untuk Pelacur
Karya: Muhammad Rois Rinaldi

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||UI