Agustus 2012
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ilir

Kerikil-kerikil membentur dinding pikir
Kerikil-kerikil guratan batu takdir
Melesak ia ke jantung ketir
Menyisir semesta jiwa
Menembus lubuk terdalam bergetar menyelir zikir.

Udara bersemilir meriuhi seribu pujangga
“Pertahankan dunia dengan syair!” Mulut langit berseru
Bagai tatangar badai.

Kerikil kerikil menghujan dari antah
Bagai peluru Ababil memusnahkan tentara fil
“Tapi taka da sekepak burung pun.” Sahut lautan.
“Ada apa ini?” bumi menganga.

Rembang, 2008
"Puisi Raedu Basha"
PuisiIlir
Karya: Raedu Basha

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ma'hadku Karangmangu

Walau hari-hari tak berhujan, tuan
Pekarangan ini bertanah basah, terbasuh keringat juang
Mengiringi kembali doa-doa ombak pantai utara
Lengan angina yang digelangi embun dingin
Pohon rerinduan musim panas menyisir sukma yang haus bergelora
Aku menyaksikan pekarangan ini dengan tatapan uap hujan
Ibrah jejak madu dari perasan sorban masa lalu

Ma’hadku Karangmangu
Karang kepala-kepala manusia tertunduk beku
Pasang mata-mata terpejam merudung relung kehilangan
Kemana pergi Mbah Zubair? Kemana pergi Mbah Him?
Atau Mbah Syu’aib -ghafarallahu dzunubahum- yang dahulu
Begitu perkasa berikrar: “Dunia telah kutalak tiga!”

Ma’hadku karangmangu
Bertumpuk kitab yang menyimpan huruf-huruf tua
Disammankan sejak terumbarnya matahari
Mengadu waktu menghafal alfiyah dan imrithy
Atau termangu menembus masa depan
Dalam kepulan rokok campur kelaparan:
Ah, pada jalan Allahlah manusia melangkah
Sambil cemas mengiklaskan cinta yang barokah

Walau hari-hari kami tak berhujan, tuan
Ma’hadku bergerimis dalam sepi
Saat lonceng masjid berdentang sepertiga malam
Pejam mata santri berurai adalah zikir ribuan abid
Melaknya adalah rangkaian perjalanan menuju kaustar

O Ma’hadku karangmangu
Sarang para penunggu
Yang menanti Firdaus-Nya dalam bertangan dada.

Rembang, 2008
"Puisi Raedu Basha"
PuisiMa'hadku Karangmangu
Karya: Raedu Basha

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Memandai Keris

Besi-besi dingin hatiku
dikecup kabut pagi harimu
kudentang pukulan pandai
dalam pengapian seperti tiga malam.

Hati itu besi
kita mengasahnya setajam lotot mata tuhan
yang mengintai dari urat ayat dalam kerongkongan
nanti perang akan datang
kita kan bersaksi bahwa tiada perisai
selain hasil besi yang perpandai.

Awan-gemawan jatuh ke asap kandang
rembulan ditombak besi bara terpanggang
dentang-dentang bunyi pandai
besi dan api menggilas nyali.

Kita adalah mpu bagi zaman nanti
pamor apa kira-kira yang kan
diukir pada keris kita?

Kini musim telah mengajak kita bertapa
mengasah besi
jangan sampai jiwa karat sendiri

Nanti perang kan dimulai
ketika galaganjur bertalu dari mulut badai.

2015
"Puisi Raedu Basha"
PuisiMemandai Keris
Karya: Raedu Basha

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||