Januari 2013
Di Mana Kamu, De'Na?
(Puisi Mengenang Tsunami Aceh 2004)

Akhirnya berita itu sampai kepada saya:
Gelombang tsunami setinggi 23 meter
melanda rumahmu.
Yang tersisa hanya puing-puing belaka.
Di mana kamu, De'Na?
Sia-sia teleponku mencarimu.
Bagaimana kamu, Aceh?
Di TV kulihat mayat-mayat
yang bergelimpangan di jalan.
Kota dan desa-desa berantakan.
Alam yang murka
manusia-manusia terdera
dan sengsara.

Di mana kamu, De'Na?
Ketika tsunami melanda rumahmu
apakah kamu lagi bersenam pagi
dan ibumu yang janda
lagi membersihkan kamar mandi?

De'Na, kita tak punya pilihan
untuk hidup dan mati.
Namun untuk yang hidup
kehilangan dan kematian
selalu menimbulkan kesedihan.
Kecuali kesedihan, selalu ada pertanyaan:
kenapa hal itu mesti terjadi
dengan akibat yang menimpa kita?

Memang ada kedaulatan manusia, De'Na.
Tetapi lebih dulu
sudah ada daulat alam.
Dan kini kesedihanku yang dalam
membentur daulat alam.
Pertanyaanku tentang nasib ini
merayap mengitari alam gaib yang sepi.

De'Na! De'Na!
Kini kamu menjadi bagian misteri
yang gelap dan sunyi.
Hidupku terasa rapuh
oleh duka, amarah, dan rasa lumpuh.
Tanpa kejernihan dalam kehidupan
bagaimana manusia bisa berdamai
dengan kematian?

De'Na, hatiku menjerit pilu.
Di mana kamu? Bagaimana kamu?
Yang tak bisa 'ku tolak dalam bayangan,
meski mataku terbuka atau terpejam,
adalah gambaran orang banyak berlarian,
dikejar gelombang 23 meter tingginya.
Dan lalu gempa yang menenggelamkan
gedung-gedung tinggi,
membelah jalan raya,
menjadi jurang menganga.
Ribuan manusia menjadi sampah
dalam badai.

Kedahsyatan daulat alam, De'Na!
Bukan sekedar kematian!
Inilah yang membuat aku gemetaran!
Tanpa menyadari ini
apakah arti kebudayaan?
Apakah pula arti puisi?
Hidup dan segala usaha manusia
barulah berarti dan nyata
bila ia menyadari batas kemampuannya.

De'Na,
apakah sekarang kamu lagi tersenyum
membaca sajakku semacam ini?


Radio Female, Jakarta
29 Desember 2004
Buku: Doa Untuk Anak Cucu
"Puisi: Di Mana Kamu, De'Na? (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Di Mana Kamu, De'Na?
Karya: W.S. Rendra
Rakyat Adalah Sumber Ilmu


Di dalam masyarakat:
Pujangga adalah roh.
Pemerintah adalah badan.
Tanpa roh
negara adalah robot.
Tanpa badan
negara adalah hantu.
Roh dan badan
tak bisa dipisahkan.
Keduanya harus saling berimbangan.
Kalah atau menang
itulah irama kematian.
Imbang berimbang
itulah irama kehidupan.

Pendeta Raja itu tidak ada.
Pendeta Raja itu palsu.
Pendeta Raja itu penindas dan penjajah.
Pendeta Raja itu deksura.
Pendeta Raja itu merusak keseimbangan.
Merusak hubungan antara manusia.
Maka, di dalam masyarakat:
Pujangga adalah roh.
Pemerintah adalah badan.
Dan Pendeta Raja
bukanlah orang atau lembaga
Pendeta Raja adalah rakyat.

Oleh karena itu Rakyat adalah guru.
Adalah sumber ilmu.
Rakyat adalah gua
di mana Kresna dan Arjuna
bertapa.
Rakyat adalah samudra luas
di mana Sang Bima
bertemu Dewa Rucinya.

Janganlah kita menunggu Ratu Adil.
Ratu Adil bukanlah orang.
Ratu Adil bukanlah lembaga.
Ratu Adil adalah keadaan
dimana ada keseimbangan
antara roh dan badan.

Wahyu Cakra-ningrat tidak ada.
Wahyu Cakra-ningrat, Wahyu Pendeta Raja,
adalah impian deksura.

Syahdan
di dalam alam hanyalah ada
Satu Wahyu.
Ialah Sabda.
Dan Sabda adalah citra budi Tuhan.
Di dalam masyarakat manusia,
Sabda memiliki sembilan bayangan.
Itulah yang disebut sembilan wahyu.
Wahyu ahli agama.
Wahyu ahli alam.
Wahyu ahli kesenian.
Dan lalu:
Wahyu ahli obat-obatan.
Wahyu ahli pendidikan.
Wahyu ahli pertanian dan peternakan.
Selanjutnya:
Wahyu Raja.
Wahyu menteri dan panglima.
Dan akhirnya: Wahyu hakim.

Di dalam masyarakat manusia
kesembilan wahyu itu
tidak bertempat di gunung
atau hutan keramat,
tidak di dalam pusaka,
tidak pula di dalam kitab-kitab rahasia;
melainkan
berada di dalam kalbu rakyat.
Dan jalan ke dalam kalbu rakyat
adalah melewati naluri rakyat.

Naluri rakyat ini
bukanlah adat istiadat.
Karena adat istiadat adalah badan.
Fana dan sementara.
Naluri rakyat ini
Adalah roh yang hidup
yang senantiasa menjelma
di dalam pertumbuhan-pertumbuhan.

Oleh karena itu
bila ingin bertapa
di dalam kalbu rakyat
harus memiliki laku:
Mengolah kepekaan akan pertumbuhan.
Pertumbuhan dihayati
akan mengungkapkan daya hidup.
Daya hidup diungkapkan
menjadi cinta kasih.

Tanpa mengolah cinta kasih
tidak mungkin akan sampai
kepada kalbu rakyat.

Mengolah cinta kasih
haruslah meninggalkan
pamrih tentang diri kita,
berarti:
menjadi ning.

Begitulah:
di dalam masyarakat manusia
kalbu rakyat
adalah kiblat utama
di dalam membina keseimbangan
antara roh dan bahan.


TIM, Jakarta, 12 Juli 1975
Buku: Doa Untuk Anak Cucu
"Puisi: Rakyat Adalah Sumber Ilmu (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Rakyat Adalah Sumber Ilmu
Karya: W.S. Rendra
Gandrung


O damaiku, o resahku.
O teduhku, o terikku.
O gelisahku, o tentramku.
O penghiburku, o fitnahku.
O harapanku, o cemasku.
O tiraniku...

Selama ini
aku telah menghabiskan umurku
untuk entah apa.
Di manakah kau ketika itu,
O kekasih?
Mengapa kau tunggu hingga
aku lelah
tak sanggup lagi
lebih keras mengetuk pintumu
menanggung maha cintamu?

Benarkah
kau datang kepadaku?
O rinduku,
benarkah?
 
  
"Puisi: Gandrung (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Gandrung
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Aku Merindukanmu, O, Muhammadku


Aku merindukanmu, o, Muhammadku
Sepanjang jalan kulihat wajah-wajah yang kalah
Menatap mataku yang tak berdaya
Sementara tangan-tangan perkasa
Terus mempermainkan kelemahan
Air mataku pun mengalir mengikuti panjang jalan
Mencari-cari tangan
Lembut-wibawamu
Dari dada-dada tipis papan
Terus kudengar suara serutan
Derita mengiris berkepanjangan
Dan kepongahan tingkah-meningkah
Telingaku pun 'ku telengkan
Berharap sesekali mendengar
Merdu-menghibur suaramu
Aku merindukanmu, o. Muhammadku
Ribuan tangan gurita keserakahan
Menjulur-julur kesana kemari
Mencari mangsa memakan korban
Melilit bumi meretas harapan
Aku pun dengan sisa-sisa suaraku
Mencoba memanggil-manggilmu
O, Muhammadku, O, Muhammadku!
Dimana-mana sesama saudara
Saling cakar berebut benar
Sambil terus berbuat kesalahan
Qur'an dan sabdamu hanyalah kendaraan
Masing-masing mereka yang berkepentingan
Aku pun meninggalkan mereka
Mencoba mencarimu dalam sepi rinduku
Aku merindukanmu, O, Muhammadku
Sekian banyak Abu Jahal Abu Lahab
Menitis ke sekian banyak umatmu
O, Muhammadku - selawat dan salam bagimu -
Bagaimana melawan gelombang kebodohan
Dan kecongkaan yang telah tergayakan
Bagaimana memerangi
Umat sendiri? O, Muhammadku
Aku merindukanmu, o, Muhammadku
Aku sungguh merindukanmu
Untuk Ali Jabbar dan Usman Awam.
 
   
"Puisi: Aku Merindukanmu, O, Muhammadku (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Aku Merindukanmu, O, Muhammadku
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Tahta
Tahta dan singgasana tempatnya di istana.
Uang dan emas tempatnya di brankas.
Rumah dan sawah tempatnya di tanah.
Padi dan jagung tempatnya di lumbung.
Ternak dan kuda tunggang tempatnya di kandang.
Barang-barang tempatnya di gudang.
Jangan ditempatkan di hari!

"Puisi: Tahta (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Tahta
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Doa

Tuhan,
Kutuklah aku. Karena akulah
Sendiri yang menjemba buah
Yang terlarang dalam surga

Bagai Adam,
Campakkanlah aku ke alam
Jauh. Terpisah dari yang membuat
Aku alpa kepada-Mu
Maka inilah hukum yang paling adil.

Lalu,
Tobat aku Tuhan!
Lindungkanlah pandang amarah-Mu
Padamkanlah api murka-Mu
Siramkanlah air rahmat-Mu yang sejuk
Atas pucuk kesadaranku yang lentuk
Dalam kalbuku.

Demi Nama-Mu ya Tuhan,
Perkenankanlah.
  
1963
"Puisi: Doa (Karya Aldian Aripin)"
Puisi: Doa
Karya: Aldian Aripin
Di Mercu Suar

Berdirilah di sudut, katamu.
Raba tembok tua itu.
Di dekat pigura yang tergores pisau,
tertulis "1927".

Siapa tahu kita akan tenang dengan ruang yang dihuni waktu: pintu kayu
besi yang dibalur lumut, engsel yang digerus asin laut, gambar dua
mendiang presiden pada dinding....

Mungkin mercu ini akan melindungi kita
dari hal-hal yang berarti,
dengan tamasya yang minimal.
Seorang penjaga pernah menuliskan
satu kalimat di langit-langitnya,
"Cahayaku memberikan segalanya ke samudera."

Kita belum tahu siapa yang pernah di sini, adakah kita tamu di sini.
Tertahan di sepetak pulau, kita bisa juga betah dengan sebungkah karang
dan seonggok tanggul yang membiasakan diri kepada pasang - seperti semak
jeruju kering di utara yang tak jauh itu yang hampir hanyut, tapi selalu
menemui ombak.

Aku tak bisa jawab
apa yang akan lenyap
dan yang tiba
kelak.

Apa yang dicatat,
apa yang diingat?
Apa yang disimpulkan?

Jangan-jangan di mercu ini kita akan juga bikin sejarah, kataku.

Barangkali, jawabmu, tapi jangan cemas, sejarah hanya sebentuk origami,
kisah yang tersusun dari ingatan,
lipatan yang tak dijahit mati, camar kertas yang terbang diguncang angin
dan dipercakapkan dari jauh.

Kita juga yang kemudian membayangkan arahnya.

Menakjubkan bahwa kau begitu sabar.

Ah, berdirilah di sudut, jawabmu,
dan lihat: laut tak menginvasi.
Dari mercu ini kita akan mencoba mengerti badai
ketika langit tak bisa diharapkan.


Pada debur ombak berikutnya,
aku terkantuk dengan mimpi yang tipis:
Sebuah jung. Deretan layar malam.
Dua orang di buritan
yang tak tahu mereka di mana.
"Tapi kita bahagia,"
kata salah seorang di antaranya.

Sebenarnya mereka berharap
ada seseorang yang di bandar menantikan.
Tapi anak yang tertidur di dermaga dengan kostum kapas itu mengigau,
tak memanggil....

Ketika aku terbangun, angin meraung.
Di dinding kulihat bayang kita yang bongkok sedikit
dan Ajal yang bergerak
seperti siluet tangan seorang anak.

Barangkali di pucuk mercu suar ini
telah diterakan sepasang inisial -
nama yang akan lama tinggal
nama yang mati;
nama kita yang mati.


Koran Tempo
20 Januari 2013
"Puisi: Di Mercu Suar (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Di Mercu Suar
Karya: Goenawan Mohamad
Catatan-catatan Jakarta

I
Jendela-jendela pun sunyi
Menangkap kelam kali
Yang kering, yang terasing
Jauh dalam kerak musim

Dan bersitahanlah kota: ruang-ruang tua
Bertalu-talu beribu gema
Langkahan hidup yang gigih
Di bumi letih


II
Sisa sedihkah riuh-rendah
Dari sesuatu yang hilang dilupa
Antara gairah, antara gelisah
Bila tahun-tahun pun tiba?

Sisa sedihkah ini senyap
Dalam getar separuh senja
Antara deru mobil, huruf berlampu kerjap
Sungai yang tak berkata-kata?


III
Pada puncak-puncak licin ini
kupahatkan letihku di deru pagi
Karena telah terhisap keringat oleh malam
Mengucur ke daratan amat tajam

Pada detik-detik panjang ini
Kubangunkan rumah, kubangunkan bumi
Antara air mata, sajak-sajak yang tertinggal
Antara martil berdegar-degar

Tapi tidakkah pada akhirnya akan ditinggalkan
Seorang jauh di senja masa depan
Yang makin menganga, semakin pancang ditegakkan
Ketika lampu-lampu berpendaran, embun jatuh berkepanjangan


IV
Sidang malam hari ini
Menggegar ruang beribu kursi
Tentang seratus tahun-tahunmu, saudaraku
Riwayat yang datang dalam cetak-biru

Pidato malam hari ini
Terkelupas dari lembar-lembar lesi
Sebuah legenda - sebuah legenda, saudaraku
Dalam kuap panjang yang satu

Berita apakah akhirnya
Yang pecah di puncak kota
Engkau tahu
Dan sajak pun tahu

Derita apakah jadinya
Yang terpupus serasa dusta
Aku tahu
Dan engkau pun tahu

Berpijarlah yang hijau: daun serta rumputan taman
Berderailah. Dan lampu-lampu pun padam berturutan
Bersama satu kereta - mentari membola - ayam pagi
Dan semua yang kepada kita akan kembali

Maka bangkitlah: kehangatan pasar pun lepas lelap
Dan tersenyum. Kini rumah-rumah telah rekahkan pintu-halaman
Untuk menghadang, meski tak mengerti: semacam aspal jalan
Semacam kotak-surat - atau rel-rel suram kemerlap.


1961
"Puisi: Catatan-catatan Jakarta (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Catatan-catatan Jakarta
Karya: Goenawan Mohamad
Negeri Yatim
: Wiji Thukul Wijaya

Di rumahmu yang sumpek itu tanpa basa basi
kita saling men-tertawakan diri sendiri
kau tertawa melihat telapak kakiku yang lebar
aku juga tertawa melihat mata dan gigimu
yang maju nanar Leak karib yang mempertemukan
kita cuma tertawa lalu kau perkenalkan Sipon
istrimu padaku aku serius menyambut
uluran tangannya tanpa tawa karena aku tau
kau terus mengawasi hatiku yang menggoda
setelah itu kita mulai cerita dan tak banyak
bicara soal sastra tapi sedikit menyinggung
tentang negara kau bilang hidup di Indonesia
seperti bukan hidup di negara kita lalu
ku bilang kalau saat ini kita hidup
di Negeri Yatim yang sudah lama di tinggal
mati bapak sedang ibu pergi menjadi angin
kau cuma mengangguk-angguk tapi dari dialekmu
yang gagap dan cadel itu kau seolah memeram
amarah kau bilang ibu kita yang angin itu
telah dikawin paksa lelaki kejam dan tiran
dia sering kali mengirim tentara polisi
dan mata-matanya untuk menghabisimu
serta teman-teman kita
mereka tidak lebih jantan dariku katamu
mereka seperti sudah kehabisan akal bahkan
tak punya waktu berpikir untuk mengatasi
persoalan bangsanya selain menggunakan fisik
kekuasaan dan senjata menculik atau kalau
bisa membantainya mereka sungguh tak punya malu
sayang ibu kita cuma angin katamu
sejenak kita terdiam tapi aku membaca siratan
kecewa di gelisahmu tentang pilih kasih
orang tua kita yang lebih berpihak pada
pengkhianat maling dan pecundang itu
karena mereka adalah aset hidup yang bisa
dijadikan pemuas nafsu para penegak hukum
dan aku juga bercerita banyak soal
saudara-saudara kita yang dikejar-kejar
polisi karena mencuri ayam atau jemuran
tetangganya lalu kaki atau paha mereka
dibolongi timah panas kalau tidak digebugi
sampai sekarat dengan interogasi gaya kompeni.

Di luar matahari tegak berdiri di dalam kau
tengkurap di atas amben bambu menghadap
kali aku duduk di sofa bodol kempes yang
kondisinya seperti saudara-saudara kita
yang kurang gizi sembari cerita kalau kemarin
aku baru saja berkelahi dengan polsuska
di stasiun balapan solo seusai baca puisi di
gerbong eksekutif karena mereka kira aku sedang
demonstrasi atau sedang menghasut orang
untuk menentang kejahatan penguasa di negeri ini
setelah sempat pukul-pukulan aku lari karena
aku tau ibu kita cuma angin sedangkan mereka
tak punya hati lalu kau tertawa dengan mata
terbenam dan mengingatkan agar aku jangan lagi
ngamen puisi di depan polisi.

Tak terasa di luar matahari makin miring
ke kiri sementara kita masih ingin menuntaskan rindu
untuk bicara apa saja tentang negara dan
berencana mencari kuburan bapak yang entah dimana
serta menunggu belaian ibu yang hanya
terasa kelembutannya.

Ah kita benar-benar yatim katamu
dan sebelum matahari benar-benar pergi aku
pamit dengan harapan kita bisa bertemu dan saling
men-tertawakan diri lagi membacakan puisi
dengan leluasa di hadapan ibu
tapi 'ku perhatikan kau tercenung lama seperti ada
sisa kecewa yang belum juga bisa kau terima
atas siksa yang pernah kau rasa dari kepal tinju
para penindas dan hantaman popor senjata
kaki tangan penguasa lalu dengan arif 'ku jagakan
kediamanmu serta meyakinkan kalau suatu saat
ibu kita yang angin itu akan memuntahkan
kembali segala bentuk kecurigaan dan tuduhan
serta pidato pediti politik atau ceramah cerimih
mereka lalu kata-katanya berubah jadi hewan buas
menakutkan yang akan mencabik-cabik
mulut mereka dan senantiasa mengusik setiap
upacara pagi apel bendera.



Solo, Tegal, Indramayu

"Puisi: Negeri Yatim (Karya Acep Syahril)"
Puisi: Negeri Yatim
Karya: Acep Syahril
Lagu Seorang Gerilya
(Untuk putraku, Isaias Sadewa)

Engkau melayang jauh, kekasihku.
Engkau mandi cahaya matahari.
Aku di sini memandangmu,
menyandang senapan, berbendera pusaka.

Di antara pohon-pohon pisang di kampung kita yang berdebu,
engkau berkudung selendang katun di kepalamu.
Engkau menjadi suatu keindahan,
sementara dari jauh
resimen tank penindas terdengar menderu.

Malam bermandi cahaya matahari,
kehijauan menyelimuti medan perang yang membara.
Di dalam hujan tembakan mortir, kekasihku,
engkau menjadi pelangi yang agung dan syahdu.
Peluruku habis
dan darah muncrat dari dadaku.
Maka di saat seperti itu
kamu menyanyikan lagu-lagu perjuangan
bersama kakek-kakekku yang telah gugur
di dalam berjuang membela rakyat jelata.


Jakarta
2 September 1977
"Puisi: Lagu Seorang Gerilya (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Lagu Seorang Gerilya
Karya: W.S. Rendra
Perempuan Sial


Ia terbaring di taman tua
pestol di tangan dan lubang di jidatnya.

Mereka menemuinya tanpa dukacita
dan angin bau karat tembaga.

Mulutnya mengibit berahi layu
bunga biru dan berbau.

Matanya tidak juga pejam
lain mimpi, lain digenggam.

Ah, tubuhnya! Ah, rambutnya!
Tempat tidur tersia suami tua.

Bunga bagai dia diasuh angin
oleh nasib jatuh ke riba lelaki tua dingin.

Nizar yang menopangnya dari kelayuan
perempuan bagai bunga, lelaki bagai dahan.
Lelaki muda itu bertolak tinggalkan dia
tersisa jantung dan hati dari timah.

Ia terbaring di taman tua
pestol di tangan dan lubang di jidatnya.

Suaminya yang tua berkata:
- Farida, engkau ini perempuan sial!
 
 
"Puisi: Perempuan Sial (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Perempuan Sial
Karya: W.S. Rendra