Februari 2013
Untuk Catatan Harian DM

Masih kugenggam getar rumput yang menghindar
dari perangkap
cuaca. Namamu yang mengabur dalam dinding
kamar, melepaskan
lembar demi lembar kalender -abad-abad tua
yang berjatuhan.
Aku mencatatnya dalam kuntum bunga yang 
mekar dalam vas. Usia yang lengkap, terkemas
dalam jerit luka, dan mengabur
dalam pintu kamar yang menganga.

kucatat daun-daun gugur, mencecerkan
perangkap usia. kucatat permainan cuaca dalam 
detik-detik jam gugur ke lantai
Dan vas yang memekarkan batu-batu.

1987
"Puisi: Untuk Catatan Harian DM (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Untuk Catatan Harian DM
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Dinding-dinding Kesangsian

ketuklah pintu lain rumah-rumah perkampungan. ada
yang bakal menyambutmu, dan menyediakan ranjang
fana. -dunia mimpi, bangku taman, terpisah
dari tanah-tanah nestapa.

ada yang menyediakan jendela terbuka, menatap dunia
lepas. dan cermin: menatap jagat rohani. ada yang
menyapa, dan menyanyikan kidung gelap, demikian
khidmat!

ketuklah pintu lain rumah-rumah perkampungan.
dinding-dinding kaca. ada yang menyambutmu, dan menyediakan 
sungai. sebab akhirnya: sampai saatnya kita berkumur
untuk kemudian diam. membatu pada bangku taman.

1988
"Puisi: Dinding-dinding Kesangsian (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Dinding-dinding Kesangsian
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Lukisan Bunga

Melintasi abad-abad yang terbakar matahari, bunga-bunga
telah kembali menguncup. dalam hujan yang sesekali datang
dan warna senja yang menakutkan. bunga-bunga yang
berserakan di bangku taman, terpisah dari jam-jam yang mengalir
- untuk kemudian rebah dalam ranjang.

telah berapa perjalanan, abad-abad mengalir, bunga itu 
membangun ranjang dari batu. menanam usia dalam batu.
telah berapa perjalanan? kehidupan yang terkurung, dan berdebu.

1988
"Puisi: Lukisan Bunga (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Lukisan Bunga
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Kepompong Sunyi

Si tua telah meninggalkan kepompongnya,
menggali-gali tanah,
mencari-cari akar-akar rumput.
hidup ingin dibangun
dalam endapan sampah-sampah
yang menyuburkan bumi.
jika bertunas, bunga-bunga akan berbuah kupu-kupu.
semut-semut menunggu gugur mayatnya yang manis.

si tua telah meninggalkan kepompongnya.
sebab hidup yang telah ditutup,
kembali akan diawali.
musik-musik duniawi tak terdengar dalam radionya,
koran-koran yang mencatat kebusukan riwayat
tak lagi bertumpuk di ruang tunggunya.
si tua telah menanamkan dirinya
ke tanah yang digali-gali sendiri.
ingin tanpa hujan ia tumbuh jadi hutan.

"Puisi: Kepompong Sunyi (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Kepompong Sunyi
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Para Pembakar Ombak

Seketika ufuk menderas, hingga senja bergetar
tepian jiwa laksana laut samar
'niti bahtera punya saudara kembar
Nuh dan sejuta silsilah pudar.

Dari hulu ke hilir mengendarai jejak matahari
tuan datang dari kedalaman perigi
luluh lantak dalam rindu tak bertepi
berjalan dari jejak 'ngarungi sekujur jarak hari
menempuh perjalanan sunyi.

Mengapa ibu tak pulang
pergi jauh mengandung rindu, teman
tinggal bau air mata
riuh duka tepi taman.

Mungkin dia  mencari surga
Tuhan masih setia meletakkan
pada bagian terdalam dari iman.

Hingga tepi raga
nyanyi luka yang perih
sejauh tembang
yang kita dengar dari buritan.

Diri pun lelah: ayah senantiasa mengirim serapah
dan kita selalu memilih diam. sebisu kenangan ....

Jakarta, 2012
"Puisi: Para Pembakar Ombak (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Para Pembakar Ombak
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Narasi Hari Tua

Antara daun-daun dan musim kering, kau sodorkan
wajahmu yang dulu juga. Seekor kupu-kupu bangkit
dari kepompongnya.

Ini tahun kesekian dalam usiamu. Hampir datang
musim yang kau tunggu.

Tapi, kau datang atas nama sunyi. Kekekalan ajal
dan cuaca yang selalu gagal. Mestikah kita
berduka?

1994
"Puisi: Narasi Hari Tua (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Narasi Hari Tua
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Kelahiran Anak Perempuan Ki Suto Kluthuk

Aku, anak perempuan Ki Suto Kluthuk
lahir malam diiringi suara suluk
tanpa piranti suci hama
selain pisau bambo kunyit empu
siap menyambut pahit getir, aku
tangisku melengking mengatasi erang ibu
semua heran terdiam gagu 
lalu bertanya kelak akan jadi apa aku.

Aku, anak perempuan Ki Suto Kluthuk
sejak kecil penuh derita berat
jiwa berkarat dendam yang khianat
tanahku disayat tanpa ruwat
jiwaku jiwa kembara
padang ilalang dan bukit cadas
langkah pun tuntas.

Aku, anak perempuan Ki Suto Kluthuk
bapakku bapa angkasa
ibuku ibu bumi
nafasku angina Utara
darahku sungai Utara
dagingku tanah Utara
jangan kau usik semua itu
jika tak ingin dikutuh leluhurku.

"Puisi: Kelahiran Anak Perempuan Ki Suto Kluthuk (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Kelahiran Anak Perempuan Ki Suto Kluthuk
Karya: Diah Hadaning
Sajak Lapar

Laparku
bulan lapar cahaya
santri kecil pulang berisya
berikan binar matanya.

Laparku 
mentari lapar pijar 
gadis dusun di pancuran
berikan denyar jantungnya.

Laparku 
bumi lapar kehijauan
penyair tua di pinggir kota
berikan semai mimpinya.

Laparku
insan lapar kejujuran
rajawali di udara
berikan desir sayapnya.

Namun laparku tak hilang jua
tak henti mencari dan nelangsa
karena temaha di jantung utara.

Bogor
April, 1992
"Puisi: Sajak Lapar (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak Lapar
Karya: Diah Hadaning
Ruh dalam Rah

Di mana-mana telah kulihat berkah Allah
menjadi uang dan keuntungan
tanah kubur nenek moyangku
tanah warisan ibu bapakku
bakal-bakal saudaraku
kecantikan kerabatku
tersingkirnya lelakiku.

Gendhuk Gandasuli, gendhuk Gandasuli
moyangku membujuk protes basi
perempuan lebih baik sederhana alami
diam senyum dalami ilmu dan laku
gemi, setiti, taberi, ngati-ati
begitu pitutur adi Ki Aji Bawono.

Tapi langkahku tak bisa surut kembali
api telah pulang ke matahari
isi kendi telah pulang ke lubuk kali
kembara telah garisku
barangkali
tanah kubur kakek moyang
tanah warisan ibu bapa
bakal saudara
kecantikan kerabat
tersingkirnya lelaki
ruhnya kata kesiur angin kembara.

Bogor
Mei, 1992
"Puisi: Ruh dalam Rah (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Ruh dalam Rah
Karya: Diah Hadaning
Di antara Bendera-Bendera
Engkau Berkibar Indonesia

I
Indonesia akulah anakmu 
lahir dari lorong luka
dengan peparu penuh jelaga
dengan mimpi gambar gapura
dengan harapan kelebat bendera.

Indonesia akulah anakmu
lahir dari liang luka
nadiku kali Ciliwung
dahiku jembatan layang
dadaku trotoar plaza.

Indonesia akulah anakmu
lahir dari erang sejarah
peluhku laut mencari pulau garam
darahku ombak mencari bulan tertusuk
lalang, nafasku angin mencari muara.

II
Indonesia aku rindu kejujuran
Indonesia aku hasrat kikis jerat
Indonesia aku pucat di lobimu terikat
berapa lama trotoarmu dibongkar pasang
berapa lama dusunmu dikapling dipalang
berapa lama aku harus bersaksi nyalang
setiap Agustus cintaku kian meratus
harumnya tembus sampai di rumah kardus

Dari perahu pinisi
lalu perahu kertas Sapardi
kini perahu retaknya Franky
lusa perahu apa lagi
barangkali perahu emasnya Zawawi
Indonesia
biar sengsara aku tetap cinta
Indonesia
biar terlinggis aku tetap tak nangis
Indonesia
biar terlumat aku tetap lekat
karena engkau hidup matiku
karena engkau masa depan generasiku
karena engkau bendera di langit jiwaku.

Bogor-Jakarta, 1996
"Puisi: Di antara Bendera-Bendera, Engkau Berkibar Indonesia (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Di antara Bendera-Bendera, Engkau Berkibar Indonesia
Karya: Diah Hadaning
Catatan September, Senayan Minggu Pertama

Ada yang selalu beringas
ada yang selalu tak puas
itu sah dan wajar saja
karena berhala masih tersisa.

O, Senayan kembali bergetar
bendera-bendera berkibar
suara-suara hingar-bingar
mengusung pesan-pesan
orang-orang yang korban
musim yang rawan
darah bercucuran
sejak Mei pecah oleh bunyi bedil
hari-hari menjadi gigil.

Yakinilah:
setelah cermin pecah
anak zaman luruskan sejarah
setelah jembatan runtuh
anak zaman masih utuh
setelah sakit dan luka
anak zaman kibar bendera
jaket-jaket aneka warna
milik anak tanah merdeka.

September, 1998
"Puisi: Catatan September, Senayan Minggu Pertama (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Catatan September, Senayan Minggu Pertama
Karya: Diah Hadaning
Tentang Berhala

Di mana-mana
bermunculan berhala
di perkotaan di pedesaan
di kampung malam di real estate
di lembar perjanjian
di lembar kesetiaan
di lembar retorika
jika tengah berjaya
jadi manusia bermahkota
dalam tangan genggam wewenang
jauhkan jiwa dari temaha
jauhkan langkah dari berhala.

Selalu berlaku
hukum semesta
hutang nyawa bayar nyawa
hutang wirang bayar wirang 
siapa menanam dia memetik 
menuai buah pakarti.

Gunung longsor laut kering
telah jadi pertanda
wahai pemuja berhala.

September, 1998
"Puisi: Tentang Berhala (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Tentang Berhala
Karya: Diah Hadaning
Sajak tentang Pikiran

Bougenvil jingga
menjulur suka
menyapa jalan raya
sementara resah jiwa
memikir sikecil Asyifa
mutiara karunia 
Yang Maha Kuasa.

Sepotong doa purba
seorang Indian tua
mengkristal nyata
di jantung Asyifa
janjikan pengembaraan indah
tembus ruang dan waktu
saat kau sebut: Ibu.

Tasikmalaya
September, 1999
"Puisi: Sajak tentang Pikiran (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak tentang Pikiran
Karya: Diah Hadaning
Parodi

Dulu ia menembang air mata
hibur jiwa-jiwa yang luka.

Kini kesadarannya telah jadi fosil
dalam hujat orang kecil.

Bagaimana harus menegurnya
sementara kerikil mulai berserak di jalannya.

Bogor
Januari, 2002
"Puisi: Parodi (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Parodi
Karya: Diah Hadaning
Elegi ke Elegi

Kalau saja ia berani bilang tidak
pada orang-orang pembawa piala
anggur merahnya simpan racun
semua saudara akan berdoa
memujikannya jadi anak peradaban
tapi dia lupa ajaran sang bapa
yang kutangisi siang malam
tanah perdikan dan jiwa rawan
dari setapak mulai tergadaikan
doaku hanya dua pilihan:
selamatkan
atau 
hancurkan.

Bogor
Januari, 2002
"Puisi: Elegi ke Elegi (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Elegi ke Elegi
Karya: Diah Hadaning
Elegi si Atmo Klungsu

Saat masa jaya dia pasang kata gundu
atau keneker dan dengan angkuh ia
tertawa perkenalkan diri pada siapa saja
lalu tiba zaman malaise, semua alami pailit
Atmo Gundu hidupnya tercelurit
orang-orang memanggilnya si Atmo Klungsu.

Bogor
Oktober, 2001
"Puisi: Elegi si Atmo Klungsu (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Elegi si Atmo Klungsu
Karya: Diah Hadaning
Menyandarkan Diri Ke Pilar

Menyandarkan diri ke pilar
Langit pun menggelegar
Aku tak paham, mengapa layang-layang yang sobek itu
Masih kuasa menjatuhkan bintang
Titik dimana aku harus berdiri
Ternyata pusat semesta
Bahkan tangga ke sorga akan tegak di tempat ini
Memang aku terlambat tahu
Hingga jasad terasa hanyalah kelopak duka
Tapi aku masih punya sisa gerak
Meski bergerak mungkin bernilai dosa
Nyawa pun terasa kental tiba-tiba
Sesaat heningmu yang kencana
Merangaskan waswas yang lebat bunga.

"Puisi: Menyandarkan Diri Ke Pilar (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Menyandarkan Diri Ke Pilar
Karya: D. Zawawi Imron
Kabar Dari Laut

Aku memang benar tolol ketika itu,
mau pula membikin hubungan dengan kau;
lupa kelasi tiba-tiba bisa sendiri di laut pilu,
berujuk kembali dengan tujuan biru.

Di tubuhku ada luka sekarang,
bertambah lebar juga, mengeluar darah,
di bekas dulu kau cium nafsu dan garang;
lagi aku pun sangat lemah serta menyerah.

Hidup berlangsung antara buritan dan kemudi.
Pembatasan cuma tambah menyatukan kenang.
Dan tawa gila pada whisky tercermin tenang.

Dan kau? Apakah kerjamu sembahyang dan memuji,
Atau di antara mereka juga terdampar,
Burung mati pagi hari di sisi sangkar?
 
1946
"Puisi: Kabar Dari Laut (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: Kabar Dari Laut
Karya: Chairil Anwar
Kepada Penyair Bohang


Suaramu bertanda derita laut tenang...
Si Mati ini padaku masih berbicara
Karena dia cinta, dimulutnya membusah
Dan rindu yang mau memerahi segala
Si Mati ini matanya terus bertanya!

Kelana tidak bersejarah
Berjalan kau terus!
Sehingga tidak gelisah
Begitu berlumuran darah.

Dan duka juga menengadah
Melihat gayamu melangkah
Mendayu suara patah:
"Aku saksi!"

Bohang,
Jauh di dasar jiwamu
bertampuk suatu dunia;
menguyup rintik satu-Satur
Kaca dari dirimu pula...
 


1945
"Puisi: Kepada Penyair Bohang (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: Kepada Penyair Bohang
Karya: Chairil Anwar
Kenangan
Tambak beriak intan terberai
kemuncak bambu tunduk melambai
mas kumambang mengisak sampai
merenungkan mata kesuma teratai.

Senyap sentosa sebagai sendu
tanjung melampung merangkum kupu
hanya bintang cemerlang mengambang
diawang terbentang sepanjang pandang.

Dalam sunyi kudus mulia
murca kanda dibibir kesumba
undung dinda melindung kita
heran kanda menakjubkan jiwa

Dinda berbisik rapat di telinga
lengan melengkung memangku kepala
putus-putus sekata dua;
"kunang-kunang mengintai kita" ...
"Puisi: Kenangan (Karya Amir Hamzah)"
Puisi: Kenangan
Karya: Amir Hamzah
Doa


Doa ialah burung-burung cahaya yang kuterbangkan ke hadiratmu.
Doa ialah anak-anak panah cinta yang kuarahkan ke dalam kalbumu.
Doa ialah suara-suara ajaib tali jiwa yang kupetik setiap waktu.
Doa ialah bianglala yang menghubungkan keaibanku dengan kegaibanmu.
 
   
"Puisi: Doa (Karya Ajip Rosidi)"
Puisi: Doa
Karya: Ajip Rosidi
Rindu Berguling Sendiri
Rindu berguling sendiri
putus mengharap
dinding putih-putih
dan di baliknya: kesepian pengap.

Radio di sebelah batas
suaranya samar -
kudengar diriku menghela nafas
dengan hati yang cabar.
  

1954
"Puisi: Rindu Berguling Sendiri (Karya Ajip Rosidi)"
Puisi: Rindu Berguling Sendiri
Karya: Ajip Rosidi
Tidak Ada yang Aneh dari Keyakinan Gurumu itu


Tidak ada yang aneh dari perubahan ciri
kumis dan jenggot
yang dicukur gurumu itu apa lagi dengan
beberapa tanda
bulatan hitam di keningnya demi
merendahkan satu
keyakinan akan keberadaan Tuhan di sebelah kiri urat
leher mereka sejak adam merubah wujudnya dari tanah
hingga kemudian kembali ke tanah sebagai keyakinan yang
tak tergoyahkan namun menjadi kontradktif dan lucu ketika
Tuhan mereka bilang mengizinkan
meledakkan diri di jalan.

Tidak ada yang aneh dari keyakinan dan
keseriusan
gurumu itu demi menghancurkan satu
keyakinan yang
populer dengan menggendong Tuhan
kemana-mana untuk
meyakinkan bahwa tuhan dan surga telah menjadi jihad
dalam hidupnya.

Tidak ada yang aneh ketika adonan amonium nitrat
nitrogliserin trinitrotoluene black powder dan anfo
itu melilit di tubuh gurumu lalu
meledakkannya di antara
kursi meja office boy pedagang bakso tukang ojek pengantar
bunga atau resepsionis hotel yang lebih
memahami anatomi
Tuhan dalam tubuhnya yang terbelah.

Lalu kau pun bertanya untuk apa guru
menumbuhkan
kumis dan jenggot sebegitu lama kalau hanya untuk jihad
dengan meledakkan Tuhan yang ada
digendongannya.

Kini gurumu itu telah sampai entah dimana di surga atau
di neraka tapi tidak ada yang aneh dari
perubahan ciri
kumis dan jenggot bekas dicukur itu atau
bulatan hitam
di keningnya sebagai jasad yang dianggap
telah membusukkan
satu keyakinan
padahal mereka tahu tuhan tidak serumit yang gurumu pahami.
 
  
"Puisi: Tidak Ada yang Aneh dari Keyakinan Gurumu itu (Karya Acep Syahril)"
Puisi: Tidak Ada yang Aneh dari Keyakinan Gurumu itu
Karya: Acep Syahril