Maret 2013
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sonet 13

Titik-titik hujan belum juga lepas dari tubir daun itu;
ditunggunya kita lewat. Kupandang ke atas:
sebutir jatuh di bulu matamu, yang lain meluncur di pelipismu.
Pohon itu kembali menatapmu, hanya selintas.

Diberkahinya tanganku yang ingin sekali mengusap basah
yang mendingin di wajahmu. Kau seperti ingin melakukan
sesuatu. Aku pun mendadak menghentikan langkah
sejenak ? jangan tergesa, agar bisa kaubaca niat titik hujan.

Butir-butir hujan menderas dari sudut-sudut daun itu
tepat ketika kita lewat. Kupandang ke atas.
Pohon itu tak lagi menatapmu. Ada yang membasahi kerudungmu,
meluncur ke dua belah pundakmu. Dibiarkannya kita melintas.

Kita pun bergegas agar segera sampai ke ujung jalan
tanpa bicara. Tak lagi berniat menafsirkan titik hujan?

"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Sonet 13
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sonet 5

Malam tak menegurmu, bergeser agak ke samping
ketika kau menuangkan air mendidih ke poci;
ada yang sudah entah sejak kapan tergantung di dinding
bergegas meluncur di pinggang gelas-waktu ini.

Dingin menggeser malam sedikit ke sudut ruangan;
kautahan getar tanganmu ketika menaruh tutup
poci itu, dan luput; ada yang ingin kaukibaskan.
Kenapa mesti kaukatakan aku tampak begitu gugup?

Udara bergoyang, pelahan saja, mengurai malam
yang melingkar, mengusir gerat-gerit dingin
yang tak hendak beku, berloncatan di lekuk-lekuk angka jam.
Malam tidak menegurku. Hanya bergeser. Sedikit angin.

Ada yang diam-diam ingin kauusap dari lenganmu
ketika terasa basah oleh tetes tik-tok itu.

"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Sonet 5
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Benih

“Cintaku padamu, Adinda,” kata Rama, “adalah laut
yang pernah bertahun memisahkan kita, adalah
langit yang senantiasa memayungi kita, adalah
kawanan kera yang di gua Kiskenda. Tetapi...,”
Sita yang hamil itu tetap diam sejak semula, “… kau
telah tinggal dalam sangkar raja angkara itu
bertahun lamanya, kau telah tidur di ranjangnya,
kau bukan lagi rahasia baginya.”

Sita yang hamil itu tetap diam: pesona. “Tetapi,
si Raksasa itu ayahandamu sendiri, benih yang
menjadikanmu, apakah ia juga yang
membenihimu, apakah ...” Sita yang hamil itu
tetap diam, mencoba menafsirkan kehendak para
dewa.

"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Benih
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Dua Sajak di Bawah Satu Nama

I
Darah tercecer di ladang itu. Siapa pula
binatang korban kali ini, saudara?
Lalu senyap pula. Berapa jaman telah menderita
semenjak Ia pun mengusir kita dari Sana

awan-awan kecil mengenalnya kembali, serunya:
telah terbantai Abel, darahnya merintih kepada Bapa
(aku pada pihakmu, saudara, pandang ke muka
masih tajam bau darah itu. Kita ke dunia)

II
Kalau Kau pun bernama Kesunyian, baiklah
tengah hari kita bertemu kembali; sehabis
kubunuh anak itu. Di tengah ladang aku tinggal sendiri
bertahan menghadapi Matahari

dan Kau pun di sini. Pandanglah dua belah tanganku
berlumur darah saudaraku sendiri
pohon-pohon masih tegak, mereka pasti mengerti
dendam manusia yang setia tetapi tersisih ke tepi

benar. Telah kubunuh Abel, kepada siapa
tertumpu sakit hati alam, dendam pertama kemanusiaan
awan-awan di langit 'kan tetap berarak, angin senantiasa
menggugurkan daunan; segala atas namamu: Kesunyian.

"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Dua Sajak di Bawah Satu Nama
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pada Suatu Pagi Hari

Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis
sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu.
Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi
agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis
dan tak ada orang bertanya kenapa.

Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk
memecahkan cermin membakar tempat tidur.
Ia hanya ingin menangis lirih saja
sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik
di lorong sepi pada suatu pagi.

"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Pada Suatu Pagi Hari
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pohon Belimbing

Sore ini kita berpapasan dengan pohon belimbing wuluh
yang kita tanam di halaman rumah kita beberapa tahun yang
lalu, ia sedang berjalan-jalan sendirian di trotoar. Jangan
kausapa, nanti ia bangun dari tidurnya.

Kau pernah bilang ia tidak begitu nyaman sebenarnya
di pekarangan kita yang tak terurus dengan baik, juga karena
konon ia tidak disukai rumput di sekitarnya yang bosan
menerima buahnya berjatuhan dan membusuk karena kau
jarang memetiknya. Kau, kan, yang tak suka sayur asem?

Aku paham, cinta kita telah kau sayur selama ini tanpa
belimbing wuluh; Demi kamu, tau! Yang tak bisa kupahami
adalah kenapa kau melarangku menyapa pohon itu ketika
ia berpapasan dengan kita di jalan. Yang tak akan mungkin
bisa kupahami adalah kenapa kau tega membiarkan pohon
belimbing wuluh itu berjalan dalam tidur?

            Kau, kan, yang pernah bilang bahwa pohon itu akan jadi
tua juga akhirnya?

"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Pohon Belimbing
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Telinga

"Masuklah ke telingaku," bujuknya.
Gila
ia digoda masuk ke telinganya sendiri
agar bisa mendengar apa pun
secara terperinci - setiap kata, setiap huruf, bahkan letupan dan desis
yang menciptakan suara.
"Masuklah," bujuknya.
Gila! Hanya agar bisa menafsirkan sebaik-baiknya apa pun yang dibisikkannya kepada diri sendiri.


1982
"Puisi: Telinga (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Telinga
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sihir Hujan

Hujan mengenal baik pohon, jalan, dan selokan
- suaranya bisa dibeda-bedakan;
kau akan mendengarnya meski sudah kaututup pintu dan jendela.
Meskipun sudah kau matikan lampu.
Hujan, yang tahu benar membeda-bedakan, telah jatuh di pohon, jalan, dan selokan
- menyihirmu agar sama sekali tak sempat mengaduh waktu menangkap wahyu yang harus kau rahasiakan.

1982
"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Sihir Hujan
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Seruling

Seruling bambu itu membayangkan ada yang meniupnya, menutup-membuka lubang-lubangnya, menciptakan pangeran dan putri dari kerajaan-kerajaan jauh yang tak terbayangkan merdunya ....

Ia meraba-raba lubang-lubangnya sendiri yang senantiasa menganga.

1982
"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Seruling
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pesan

Tolong sampaikan kepada abangku, Raden Sumantri,
bahwa memang kebetulan jantungku tertembus anak panahnya.
Kami saling mencinta, dan antara disengaja dan tidak disengaja sama sekali tidak ada pembatasnya.
Kalau kau bertemu dengannya, tolong sampaikan bahwa aku tidak menaruh dendam padanya, dan nanti apabila perang itu tiba, aku hanya akan ....

1982
"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Pesan
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kuterka Gerimis

Kuterka gerimis mulai gugur
Kaukah yang melintas di antara korek api dan ujung rokokku
sambil melepaskan isyarat yang sudah sejak lama kulupakan kuncinya itu
Seperti nanah yang meleleh dari ujung-ujung jarum jam dinding yang berhimpit ke atas itu
Seperti badai rintik-rintik yang di luar itu.

1982
"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Kuterka Gerimis
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Taman Kota

1
Ia suka membayangkan dirinya duduk
di sebuah taman kota di negeri jauh
kalau menjelang magrib ia memutar kunci pintu
sehabis seharian naik-turun angkot
mencari rumah yang alamatnya tercecer
di taman nun jauh di sana itu.

2 
Ia suka membayangkan dirinya duduk
di sebuah taman kota entah di mana.

3
Ia suka membayangkan dirinya duduk.


"Puisi: Taman Kota (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Taman Kota
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak dalam Tiga Bagian

I
Dingin malamkah ini
yang kukembalikan padamu sepenuhnya?
Warna-warni mendadak gaib dalam putih.
Tinggal sengal.


 II
Di balik rumpun bambu itu aku tersayat menunggu,
begitu katamu;
ah, kau telah menggodaku untuk bunuh diri
kalau kali ini pun palsu.


III
Bintang-bintang yang dingin itu
telah membuatku mabuk,
menyebut-nyebut namamu.

Angin yang tajam itu
telah membuatku mabuk,
menyebut-nyebut namamu.

Bunga rumput liar itu
telah membuatku mabuk,
menyebut-nyebut namamu.

Ternyata sudah lama aku berniat membunuhmu,
kekal padamu.

"Puisi: Sajak dalam Tiga Bagian (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Sajak dalam Tiga Bagian
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kembang Melati

Aku menyusun kembang melati
Di bawah bintang tengah malam,
Buat menunjukkan betapa dalam
Cinta kasih memasuki hati.

Aku tidur menantikan pagi
Dan mimpi dalam bah'gia
Duduk bersanding dengan Dia
Di atas pelaminan dari pelangi.

Aku bangun, tetapi mentari
Sudah tinggi di cakrawala
Dan pujaan sudah selesai.

O Jiwa, yang menanti hari,
Sudah Hari datang bernyala,
Engkau bermimpi, termenung lalai.

"Puisi: Kembang Melati (Karya Sanusi Pane)"
Puisi: Kembang Melati
Karya: Sanusi Pane
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Celana Tidur

Walau punya bermacam-macam celana tidur,
ia lebih suka tidur tanpa celana.

Supaya celana bisa tidur di luar tubuhnya.
Supaya tidurnya tidak rusak oleh celana.

2003
"Puisi: Celana Tidur (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Celana Tidur
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pulang Mandi

Lama minggat ke Jakarta dan tak pernah ada
kabar-beritanya, tahu-tahu ia muncul di depan pintu
dan berseru: “Ayo kita mandi!”
Wajah yang penuh jahitan, tubuh yang hampir rombengan
nyaris tak terbaca kalau tak ia tunjukkan
sepasang tato di pantatnya.

“Berbahagialah orang yang berani mandi,” aku bersabda,
“sebab ia akan menemukan tubuhnya sendiri.”

Maka dalam bahagia mandi ia kelupas karat waktu
pada tekstur hidupnya, kerak kenangan
pada tipografi nasibnya.
“Sakit!” ia menjerit. “Berdarah!”
Mungkin sedang ia lepaskan pakaian kotor
yang lengket dengan tubuhnya.

Kamar mandi kemudian sunyi.
Ia menghambur keluar,
berjingkrak-jingkrak
seperti kanak-kanak
dapat bingkisan di hari Lebaran.
“Aduh cakepnya,” aku menggoda,
dan ia memelukku sambil berkata riang:
“Mandiku sukses sekali, abang sayang.”

Lama ia tidak mandi. Tapi sekali mandi
ia langsung mencopot tubuhnya yang usang
dan menggantinya dengan yang baru,
yang mutakhir modelnya dan, tentu saja, tahan lama.

“Tidak tertarik ke Jakarta?” ia membujukku
sambil memamerkan tubuhnya yang trendi.
Ah ya, mungkin perlu juga aku minggat ke Jakarta
agar suatu saat dapat pulang mandi dengan bahagia.

1999
"Puisi: Pulang Mandi (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Pulang Mandi
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ulang Tahun

Hari ini saya ulang tahun. Usia saya genap 50.
Saya duduk membaca di bawah jendela,
matahari sedang mekar berbunga.
Seorang bocah muncul tiba-tiba,
memetik kembang uban di kepala saya.

Ya, hari ini saya ulang tahun ke-50.
Tahun besok saya akan ulang tahun ke-49.
Tahun lusa saya akan ulang tahun ke-48.
Sekian tahun lagi usia saya akan genap 17.
Kemudian saya akan mencapai usia 9 tahun.

Pada hari ulang tahun saya yang ke-9
saya diajak ayah mengamen berkeliling kota.
“Hari ini kita akan dapat duit banyak.
Ayah mau kasih kamu sepatu baru.”

Karena kecapaian, saya diminta ayah
duduk menunggu di atas bangku
di samping tukang cukur kenalan ayah.
“Titip anakku, ya. Tolong jaga dia baik-baik.
Akan kujemput nanti sebelum magrib.”

Sebelum magrib ia pun datang.
Tukang cukur sudah pulang. Anaknya hilang.

“Ibu tahu anak saya pergi ke mana?”
tanyanya kepada seorang perempuan penjaga warung.
“Dia pakai baju warna apa?”
“Dia pakai celana merah.”
“Oh, dia dibawa kabur tukang cukur edan itu.”

Sampai di rumah, ia lihat anaknya
sedang duduk membaca di bawah jendela.
Kepalanya gundul dan klimis,
rambutnya yang subur dicukur habis.
“Ayah pangling dengan saya?” bocah itu menyapa.

Lama ia terpana sampai lupa bahwa uang
yang didapatnya tak cukup buat beli sepatu.
Gitar tua yang dicintanya terlepas dari tangannya.
“Anakku, ya anakku, siapa yang menggunduli nasibmu?”

2011/2012
"Puisi: Ulang Tahun (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Ulang Tahun
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Cita-Cita

Setelah punya rumah, apa cita-citamu?
Kecil saja: ingin sampai rumah
saat senja supaya saya dan senja sempat
minum teh bersama di depan jendela.

Ah, cita-cita. Makin hari kesibukan
makin bertumpuk, uang makin banyak
maunya, jalanan macet, akhirnya
pulang terlambat. Seperti turis lokal saja,
singgah menginap di rumah sendiri
buat sekedar melepas penat.

Terberkatilah waktu yang dengan tekun
dan sabar membangun sengkarut tubuhku
menjadi rumah besar yang ditunggui
seorang ibu. Ibu waktu berbisik mesra,
“Sudah kubuatkan sarang senja
di bujur barat tubuhmu. Senja sedang
berhangat-hangat di dalam sarangnya.”

2003
"Puisi: Cita-Cita (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Cita-Cita
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Celana Ibu

Maria sangat sedih
menyaksikan anaknya
mati di kayu salib tanpa celana
dan hanya berbalutkan sobekan jubah
yang berlumuran darah.

Ketika tiga hari kemudian
Yesus bangkit dari mati,
pagi-pagi sekali Maria datang
ke kubur anaknya itu, membawa
celana yang dijahitnya sendiri
dan meminta Yesus mencobanya.

“Paskah?” tanya Maria.
“Pas!” jawab Yesus gembira.

Mengenakan celana buatan ibunya,
Yesus naik ke surga.

2004
"Puisi: Celana Ibu (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Celana Ibu
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Anjing

Rumahku dijaga dua anjing cerdas: anjing sungguhan
dan anjing-anjingan. Anjing sungguhan sungguh cerewet
dan sok polisi: sepi berkelebat sedikit saja ia sudah
panik lalu menyalak keras sekali. Anjing-anjingan
sungguh kalem lagi pemalu: maklum, tubuhnya terbuat
dari waktu, eh batu.
Entah mengapa malam lebih takut pada anjing-anjingan
ketimbang pada anjing sungguhan sehingga anjing
sungguhan jadi cemburu. “Aku yang sibuk menjaga
rumah ini, kau yang lebih ditakuti. Dasar anjing!” kata
anjing sungguhan kepada anjing-anjingan.
Aku sering terbangun dari tidurku mendengar dua ekor
anjing bertengkar hebat di depan pintu. Dari suaranya
aku bisa tahu bahwa anjing sungguhan makin lama
makin frustrasi. Aku baru sadar bahwa anjing-anjingan
bisa lebih anjing dari anjing sungguhan. Tapi kalau
tidak ada anjing sungguhan, anjing-anjingan pasti akan
sangat kesepian. Bisakah kalian berdamai, hai anjing-
anjingku?

"Puisi: Anjing (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Anjing
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kecantikan Belum Selesai

Sudah selesai. Sudah kucoba semua warna.
Sekarang bersiaplah kau di ruang ganti busana.

Belum. Belum selesai. Beri aku sentuhan terakhir
pada rambut, mata dan bibir agar melihatku
adalah melihat kecantikan yang belum selesai.

Perlukah, manis, kuoleskan darah pada bibirmu
yang skeptis agar semua yang mendamba kau
sangsai: apakah kecantikan sudah/belum selesai?

Ditemani dua orang perias wajah, penyanyi itu
tercenung lama di depan kaca, memandang senja
di ufuk mata: melihat elang mengitari mambang.

Ia berjalan pelan ke arah panggung.
Petugas kecantikan segera mengatur tubuhnya
sebagaimana mereka mengatur ruang dan cahaya.
Konser dimulai. Hadirin bersorak-sorai.
Selamat malam. Dua jam bersama kecantikan.

Menjelang lagu terakhir penyanyi itu terkulai.
Ambruk sebelum usai. Sudah selesai, ia menangis.
Belum! mereka histeris. Kecantikan belum selesai!

"Puisi: Kecantikan Belum Selesai (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Kecantikan Belum Selesai
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di bawah Kibaran Sarung

Di bawah kibaran sarung anak-anak berangkat tidur
di haribaan malam. Tidur mereka seperti tidur
yang baka. Tidur yang dijaga dan disambangi
seorang lelaki kurus dengan punggung melengkung,
mata yang dalam dan cekung.
“Hidup orang miskin!” pekiknya
sambil membentangkan sarung.

“Hidup sarung!” seru seorang perempuan,
sahabat malam, yang tekun mendengarkan hujan.
Lalu ia mainkan piano, piano tua, di dada lelaki itu.
“Simfoni batukmu, nada-nada sakitmu,
musik klasikmu mengalun merdu
sepanjang malam,” hibur perempuan itu
dengan mata setengah terpejam.

Di bawah kibaran sarung
rumah adalah kampung.
Kampung kecil di mana kau
bisa ngintip yang serba gaib:
kisah senja, celoteh cinta,
sungai coklat, dada langsat,
parade susu, susu cantik,
dan pantat nungging
yang kausebut nasib.
Kampung kumuh di mana penyakit,
onggokan sampah, sumpah serapah,
anjing kawin, maling mabuk,
piring pecah, tikus ngamuk
adalah tetangga.

“Rumahku adalah istanaku,”
kata perempuan itu sambil terus
memainkan pianonya, piano tua,
piano kesayangan.
“Rumahku adalah kerandaku,”
timpal lelaki itu sambil terus
meletupkan batuknya, batuk darah,
batuk kemenangan.

Dan seperti keranda
mencari penumpang,
dari jauh terdengar suara andong
memanggil pulang.
Kling klong kling klong.

Di bawah kibaran sarung
aku tuliskan puisimu,
di rumah kecil yang dingin terpencil.
Seperti perempuan perkasa
yang betah berjaga menemani kantuk,
menemani sakit di remang cahaya:
menghitung iga, memainkan piano
di dada lelaki tua
yang gagap mengucap doa.

Ya, kutuliskan puisimu,
kulepaskan ke seberang
seperti kanak-kanak berangkat tidur
di haribaan malam.

Ayo temui aku di bawah kibaran sarung,
di tempat yang jauh terlindung.

1999
"Puisi: Di bawah Kibaran Sarung (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Di bawah Kibaran Sarung
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Rumah Kontrakan
(untuk ulang tahun SDD)

Tubuhku adalah rumah kontrakan yang sudah sekian waktu
aku diami sampai aku lupa bahwa itu bukan rumahku.
Tiap malam aku berdoa semogalah aku lekas kaya supaya bisa
membangun rumah sendiri yang lebih besar dan nyaman,
syukur dilengkapi taman dan kolam renang.

Tadi malam si empunya rumah datang dan marah-marah.
“Orgil, kau belum juga membereskan uang sewa, sementara
aku butuh biaya untuk memperbaiki rumah ini.”
“Maaf Bu,” aku menjawab malu, “uang saya baru saja habis
buat bayar utang. Sabarlah sebentar, bulan depan pasti
sudah saya lunasi. Kita kan sudah seperti keluarga sendiri.”

Pada hari yang dijanjikan si empunya rumah datang lagi.
Ia marah besar melihat rumahnya makin rusak dan berantakan.
“Orgil, kau belum juga membereskan uang sewa, sementara
aku butuh biaya untuk merobohkan rumah ini.”

Dengan susah payah akhirnya aku bisa melunasi uang kontrak.
Bahkan diam-diam si rumah sumpek ini kupugar-kurombak.
Saat si empunya datang, ia terharu mendapatkan rumahnya
sudah jadi baru. Sayang si penghuninya sudah tak ada di sana.
Ia sudah pulang kampung, kata seorang tetangga.

“Orgil, aku tak akan pernah
merobohkan rumah ini. Aku akan tinggal di rumahmu ini.”

2001
"Puisi: Rumah Kontrakan (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Rumah Kontrakan
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Perias Jenazah

Untuk terakhir kali perempuan cantik itu akan merias jenazah.
Setelah itu selesailah. Ia sangat lelah setelah sekian lama
mengurusi keberangkatan para arwah.

Kini ia harus merias jenazah seorang perempuan
yang ditemukan tewas di bawah jembatan, tidak jelas
asal-usulnya, serba gelap identitasnya, tidak ada yang sudi
mengurusnya, dan untuk gampangnya orang menyebutnya
gelandangan atau pelacur jalanan, toh petugas ketidakamanan
bilang ah paling ia mati dikerjain preman-preman.

Perias jenazah itu tertawa nyaring begitu melihat jenazah
yang akan diriasnya sangat mirip dengan dirinya.
Kemudian ia menangis tersedu-sedu sambil dipeluknya
jenazah perempuan malang itu.
"Biar kurias parasmu dengan air mataku hingga sempurna ajalmu."

Beberapa hari kemudian perias jenazah itu meninggal dunia
dan tak ada yang meriasnya.
Jenazahnya tampak lembut dan cantik, dan arwah-arwah
yang pernah didandaninya pasti akan sangat menyayanginya.

Kadang perias jenazah itu diam-diam memasuki tidurku
dan merenungi wajahku. Seakan ia tahu bahwa aku
yatim piatu, tidak jelas asal-usulnya, serba gelap identitasnya.
Kulihat wajah cantiknya berkelebatan di atas ranjang kata-kataku.

2002
"Puisi: Perias Jenazah (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Perias Jenazah
Karya: Joko Pinurbo
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Mencari Peta Ibu

Cium akar dari rahim
tikam ruh pada pohon
bakar laut 'nuju rasa
timbun gunung dengan rindu
hisap mega untuk ratap
tebang mimpi tanpa lapar
raut puncak dekat pisau
tatap jarak sarat waktu
kejar larung dalam cawan
daki laut depan sampan
pukul haus misal tambur
singkap hasrat balik tabir
tutup dentum atas cinta
buai ratap lekat embun
kejar bantal 'nuju sungai
hapus tirai pada silam
bunuh detik atas umur
bangun huma dari lalang
 tancap rintih pada daging
jilat sari dalam talam
terkam lindu sela laut
catat lirih 'nuju giris
peluk bayang atas tubuh
buai lagu puncak jerit
tulis syair pada tafsir
tempuh sampai bawah sampan
 kayuh titik bukan nafsu
untai nafas bau kuntum
petik taman dengan kupu
libas jauh dalam tempuh
tangkap maki atas cinta
cecap nikmat tanpa lidah
balik buku pada jari
hutang hilir hingga akhir
tebus hulu dari mula

Putarlah kaki demi kaki
'nuju kerumitan labirin
hingga diri padam
laksana bulan pingsan.

Mendut, 2012
"Puisi: Mencari Peta Ibu (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Mencari Peta Ibu
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Marco Polo

Hari masih gelap, hari Rabu itu, ketika Marco Polo pulang,
jam 6 pagi di musim gugur, beberapa abad kemudian.

I
Di dermaga Ponte Rialto tak dikenalinya lagi
camar pertama. Di parapet jembatan itu
tak bisa ia baca lagi beberapa huruf tua
sepanjang kanal.

Hanya dilihatnya seorang perempuan Vietnam
mendaki tangga batu yang bersampah.

Dan Marco Polo tak tahu pasti
apakah perempuan itu bernyanyi
di antara desau taksi air.
Apakah ia bahagia.

Atau ia hanya ingin menemani seorang hitam
yang berdiri sejak tadi di bawah tiang lampu
di depan kedai pizza, selama angin
merekatkan gerimis.

"Kalian datang dari mana?" pengelana Venezia itu bertanya.
"Tidak dari jauh," jawab perempuan itu.
"Tidak dari jauh," jawab orang hitam itu.

Dan camar pertama terbang.

Ia pernah kenal pagi seperti ini:
pagi yang dulu tak menghendakinya pergi.

I
I
Bau kopi pada cangkir
sebelum kantin membuka pintunya,
bau lisong pada kursi
yang masih belum disiapkan:
yang tak berumah di kota ini
tak akan pernah memulai hari.

I
I
I
Dua jam ia coba temukan tanda delima
yang pernah diguratkan di ujung tembok
lorong-lorong sempit.

Tapi Venezia, di tahun 2013 Masehi,
tak lagi menengok
ke arahnya.

IV
Di Plaza San Marco, dari dinding Basilika
malaikat tak bertubuh
menemukan gamis yang dilepas.

"Adakah kau lihat,
seseorang telah menemukan seseorang lain
dan berjalan telanjang
ke arah surga?"

Tak ada yang menjawab.
Hanya Marco Polo yang ingin menjawab.
Tapi dari serambi kafe
orkes memainkan La Cumparsita
dan kursi-kursi putih manari
tak kelihatan, sampai jauh malam
Ketika kemudian datang hujan yang seperti tak sengaja,
Seorang turis berkata: "Akan kubeli topi Jepang
yang dijajakan pada rak,
akan kupasang
ke kepala anak yang hilang dari emaknya."

V
Menjelang tengah malam, para pedagang Benggali
masih melontarkan benda bercahaya
ke menara lonceng. "Malam belum selesai," kata mereka,
"malam belum selesai."

Marco Polo mengerti.
Ia teringat kunang-kunang.

VI
Cahaya-cahaya
setengah bersembunyi
pada jarak 3 kilometer dari laut

Dan laut itu
terbentang
gelap aneh yang lain.

“I must be a mermaid, Rango. I have no fear of dephts
and a great fear of shallow living.” – Anais Nin

V
I
I
Esoknya hari Minggu, dan di bilik Basilika padri itu bertanya:
"Tuan yang lama bepergian, apa yang akan tuan akui sebagai dosa?"

Marco Polo: "Imam yang tergesa-gesa."

"Saya tak paham.

Marco Polo: "Aku telah menyaksikan kota yang sempurna.
Dindingnya dipahat dengan akses dan peperangan
di mana tuhan tak menangis."

V
I
I
I
Di Hotel Firenze yang sempit
Marco Polo bermimpi angin rendah dengan harum kemuning.

Ia terbangun.

Ia lapar,
ia tak tahu.
Ia kangen,
ia tak tahu.

Ia hanya tahu ada yang hilang dari selimutnya:
warna ganih, bau sperma,
dan tujuh remah biskuit
yang pernah terserak
di atas meja.

IX
Pada jam makan siang
dari ventilasi kamar
didengarnya imigran-imigran Habsi
bernyanyi,

Aku ingin mengangkut hujan di kaki dewa-dewa,
aku ingin datangkan sejuk sebelum tengah hari besok,
aku akan lepaskan perahu dari kering.

Di antara doa dan nyanyi itu
derak dayung-dayung gondola mematahkan
sunyinya.

X
Sebulan kemudian.
Di hari Senin itu
musim mengeras tua
dan Marco Polo membuka pintu.

Cuaca masih gelap.
Jam 6 pagi.
Biduk akan segera berangkat.

"Tuanku, Tuhanku,
aku tak ingin pergi."
Ia berlutut.

Ia berlutut tapi dilihatnya laut datang
dengan paras orang mati.

2013
"Puisi: Marco Polo (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Marco Polo
Karya: Goenawan Mohamad