April 2013
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kabaret

Baru terasa sudah di Jakarta waktu cecak merayap di dinding
menerkam nyamuk gemuk oleh darahku yang kemarin
salut cecak salam untukmu dari Eropa

Baru kutahu yang tak berubah di Medan
berak cewok jongkok berdiri lagi sudah kepayahan
karena lutut sudah berkarat di makan kemanjaan
meski begitu kemana pun berjalan tercium harum durian

Baru sadar berdiri di pinggir
ketika berdiri di jembatan bendungan hilir
melihat sungai membusuk airnya tak mengalir
manusiaku di sini apakah mereka memang punya tanah air

Baru berkenalan dengan pemerasan yang diresmikan
ketika melayang-layang di jalan layang sang kuasa
jaman kuno sudah dimodernisasi kerakusan
tiap roda pedati harus bayar kalau mau lewat gapura

Baru terbangkit semangat proklamasi
ketika di mega Indonesia ada Megawati
perempuan kaulah bunda kemerdekaan yang menderita
melahirkan pejuang dan bandit sama saja

Baru terasa ada yang hilang di Jakarta yang kucinta
baru tahu patah tumbuh hilang berganti
melihat generasi baru menempuh jalannya sendiri.


"Agam Wispi"
Puisi: Kabaret
Karya: Agam Wispi
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Bekas Lubang Paku

Aku ingin menemui lagi tubuhmu. Karena puisi tertulis di bahumu. Seperti bekas lubang paku. Tak berjudul. Tak tahu siapa yang menulisnya, dan menanamkan lubang paku di dalamnya. Tertulis, aku akan mengambil diriku sendiri. Tertulis, aku menari dalam pakaian yang kehilangan dirinya sendiri. Dan terbaca juga, penyanyi yang menghilang dalam mikrofon kesunyian.

Satu matahari menjadi dua matahari. Mereka bergantian menatapku, antara lubang dan paku, antara memanggil dan mengusirku. Tertulis lagi, tentang kesehatan dan bau tembakau di sela-sela jarimu. Aku ingin membacanya, tata cara melepas kematian dari sebuah ciuman.

Bau waktu dari lubang bekas paku di bahumu.
Lubangnya telah tertutup oleh lubang yang lain.

Aku masih terseret oleh gigiku yang goyah, sebelum paku itu lepas dari lubangnya. Di bahumu, tertulis tubuh yang menyala. Api yang memadamkan ingatannya tentang kesunyian dan tentang berjalan.

Aku berteriak untuk mendengar suaramua. Tertulis. Aku menjerit untuk mendengar langkahmu, tertulis, berjatuhan dan membuat jalan untuk pergi. Di bahumu, cinta dan kesunyian tak pernah bersengketa, tentang puisi yang meninggalkan kata-kata. Di bahumu ... paku ... telur setengah matang ...

Puisi yang meracuni bahasa dan kenangan.

"Afrizal Malna"
Puisi: Bekas Lubang Paku
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Restoran dari Bahasa Asing

Aku dengar batu dilemparkan ke ruang tamu. Paru-paru penuh sapi, mencari jalan raya dan megafon. Tak ada orang sikat gigi malam itu, atau menyisir rambut, seperti dugaanmu penuh batu dari masa lalu. Mulutku penuh lendir, virus stadium lima, menyusun biografimu dari sepatu. Seperti pikiranmu yang mencari tanah air selalu: penuh serdadu, kapal dagang, dan anti-biotika.

Ah, ada tamu yang lain, bikin restoran dari bahasa asing. Mereka saling menggosok sepatu di tiang listrik. Padahal aku telah jadi dirimu juga, ikut bernyanyi pula lagu-lagu sendu, dengan baju seratus ribu. Mengenakan juga gaya hidup Ani, di antara Sri dan Ayu: Fajar yang tenggelam dalam tubuhmu. Di situ aku dengar bahasa tak henti-henti jadi orang asing, penuh lemari, kursi, gas dan minyak.

Aduh, udara penuh cemburu, tali sepatu, kaos kaki, obrolan tiga ribu perak. Tetapi aku dengar kepalamu berevolusi jadi jamur, jadi batu, jadi kamar mandi di malam hari. Ah, koran pagi, terasa jadi tiang listrik di situ, untuk pernyataan politik, tiga ribu perak.

Udara penuh Hair-Spray, virus terluka. Aiih, mari, jangan sombong. Kepalamu penuh batu, menghuni ruang tamu tak terjaga.

1991
"Afrizal Malna"
Puisi: Restoran dari Bahasa Asing
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tanah Dada
(Kepada Penyair Almarhum)

Di dunia di dalam dunia, semua terus saja mengalir. Walau 
gunungku habis hanya sia-sia, semua terus saja mengalir. W
alau pohonku habis hanya sia-sia, semua terus saja me
ngalir. Walau matahariku habis hanya sia-sia, semua terus 
saja mengalir.

Tangan yang telah menjadikan aku dalam kerja, telah men
jadi dadamu. Aku bangun di atas mimpi ingin jadi manusia, 
keperihan menanamku tanpa batas. Tanah dada tanah peng
habisan diri yang hanya menulis saat kebebasan semua.

Aku mengorang-orang. menzikir kebesaran manusia dalam 
dada yang goyang. Sehabis jari, tak habis hitungan menjum
lahku walau tanganku habis menulismu sia-sia, semua terus 
saja mengalir, semua terus saja mengalir.

1983
"Afrizal Malna"
Puisi: Tanah Dada
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Hutan Bambu

Aku mati mengulang-ulang dunia mengulang-ulang bunga
layu mengulang-ulang bunga tumbuh menatap segala yang
bergerak tak boleh hidup lebih satu hari. Dunia mengulang-
ku lagi tak habis mengulang

kemiskinan yang berputar kemiskinan yang berlari. aku ber-
mimpi aku jadi manusia. dan aku mati dan aku lahir. dunia
mengulangku matahari yang tak boleh habis.

aku ulang lingkaran yang berlari lingkaran yang mengejar
menyembah orang-orang dalam satu tauhid, aku telah mati.
tanah yang mengulangku angin yang mengulangku. rumput
yang ditanam hanyalah tanaman yang tak berbuat. berdiam
dalam seribu tindakan

Aku berdiri hanyalah ulangan-mu
Aku berdiri hanyalah ulangan-mu.

1983
"Afrizal Malna"
Puisi: Hutan Bambu
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pelayaran Tuhan

Dalam orang tak bertuhan dalam orang tak bertuhan
aku berlayar dalam tubuh-tubuh sepi
terdaging di puncak-puncak kediaman hening
mengeras dalam hujan-hujan panjang

O, tuhan berlaut dalam keheningan bisu
pada kapal-kapal kaku
bisik-bisik menjauh
kata yang mengeras dalam makna
aku mengental dalam tarian sinarmu
mabuk lautanmu - samudra diri
melaju
melaju kaku
ke kota-kota sepi
semua tak bicara dalam sujud abadi:
Diri yang terusir darimu
jadi laut tak bertepi.

"Afrizal Malna"
Puisi: Pelayaran Tuhan
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Apartemen Identitas

Aku ingin bisa melihat angin. Melihatnya. Menggenggamnya. 
Menatapnya. Menghembuskan setiap pecahan aku ke aku yang 
lain. Biji-biji bahasa berjatuhan. Seseorang melihatku melalui 
mata sebuah bangsa dari jendela apartemennya, di jalan Eugene 
Sue, telah berlalu meninggalkan yang telah berlalu. Empat 
kelompok angin besar, kelabu, bergerak. Membuat perempatan 
angin di langit. Kelompok awan putih di baliknya, menyimpan 
perpustakaan Utara dan Selatan. Bergerak dari empat arah. Biji-
biji bahasa memecah identitas, kamus-kamus tercabik, setelah 
Perancis dan Afrika. Malam datang bersama suara 
ambulans. Kita belajar sendiri-sendiri ketika bersama. Udara dari 
tubuhmu membuat biji-biji bahasa tumbuh di atas debu-debu 
yang berkumpul di balkon apartemen. Asap tembakau 
menjemput seorang penyair yang bermukim dalam tas kopernya. 
Burung-burung, anak-anak musim yang setia, menjaganya 
dengan cerita-cerita botanikal. Penggaris yang mengukur 
kematian, dan pidato seorang pengangguran di kereta Metro, 
melintasi stasiun Stalingrad.

Apartemen itu berisi:
  • Pemberontakan tali sepatu daerah kubusmu
  • Slide cincin pernikahan di atas lidah
  • Tarian tak selesai Henri Matisse
  • Bunga-bunga bunuh diri di Saint Muchel, Notre-Dame
  • Seorang tua berkulit hitam bicara dengan dua tas besarnya di 
    Stasiun metro, Duroc
  • Kematian post-modernisme dalam aliran keuangan 
    internasional.

Alarm apartemen merontokkan semua bunyi di dinding, minyak 
goreng yang hangus di kompor elektrik. Asapnya menggumpal, 
tak bisa kulihat, tak bisa kugenggam, tak bisa kutatap, 
menjemput identitas dalam tas koper yang terus bergerak tanpa 
rekening bank. Membuat perempatan angin untuk potret-potret 
luka setiap bangsa.

Lupakan aku. Lupakan aku, setelah semua kultur membisu.


2013
"Afrizal Malna"
Puisi: Apartemen Identitas
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Arsip Kegelapan

Dia meninggalkan kakinya di luar untuk berjalan ke dalam:
ginjal, empedu, jantung, sebuah ruang tamu dan seseorang
yang tak pernah ada. dia meninggalkan kepalanya di dalam
untuk berjalan ke luar: lemari, bantal dengan sisa rambut,
sabun mandi dan bau sperma dari tubuh yang tak pernah ada.
bagaimanakah ruang bekerja antara batas dan objek-objek,
dan 
sebuah badai yang mencari di mana arsip sinar matahari
tersimpan.

Masuk dan keluar lagi, pintunya tertinggal di tempat tukang
servis radio, gelombangnya mencari lagu-lagu kenangan. aku
lirik yang pingsan dalam sebuah buku kritik sastra tentang
seseorang yang tak pernah ada. kilometer-kilometer telah
berlalu, bangkai waktu dalam sebuah kecelakaan lalu-lintas.

Para pencuri masuk ke dalam perpustakaan, mencuri arsip,
menggantinya dengan tisu. mereka menemukan aku-lirik yang
sekarat dalam perpustakaan:
”beri aku bahasa
beri aku bahasa
untuk bernafas.”
Jari-jari tangan mereka tertinggal dalam mesin tik tua. tata
bahasa berlalu, lidahnya bengkak oleh huruf-huruf kapital yang
cerewet tentang kata-kata yang tak pernah ada

Dia berjalan ke dalam melalui jalan ke luar:
ladang kuburan arsip dalam kegelapan.

"Afrizal Malna"
Puisi: Arsip Kegelapan
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tubuh Lublinskie di Lorong Es Hitam
(Untuk gas)

Musim panas berjalan-jalan di luar bajumu. 
Dari seluruh warna merah yang dipadatkan. 
Baju dengan jahitan tentang ketakutan 
dan kesedihan. Lorong es hitam pelarian Yahudi 
di Grodzka, jadi jalan turis.

Musim panas yang masih menjahit gerimis, 
setiap jendela cuaca dibuka dan ditutup. 
Tidak tentang yang terkunci di luar atau di dalam. 
Tentang bibirmu 
meninggalkan biji cengkeh di lidahku. 
Membisikkan puisi-puisi Wislawa Szymborska, 
dengan tas koper terus memunguti bayangan kita 
di belakang. Tidak memisahkan kalimat dengan koma, 
setelah masa lalu dan masa kini.

Kita meminjam sayap burung untuk tidak 
berbahasa lagi seperti manusia. 
Terbang. 
Seperti dalam ruang di luar suhu kematian. 
Seperti matahari menawarkan ilusi tentang bayangan, 
dan sebuah bis yang membawa malam ke Warsawa.

Malam yang terus direnovasi dalam lampu-lampu 
kota yang sedih. 
Menggeser musim panas ke tangga menuju 
kastil-kastil kesunyian, 
kafe-kafe yang menyembunyikan teriakan 
dari tenggorokan terluka. 
Mata lelaki dalam kantong plastik 
mulai berkerumun di taman kota. 
Pelayan kafe membawa menu sejarah, 
secangkir kopi dan ice cream tentang kita. 
Lukisan sejarah perang dan kunci besi 
di Museum Lublinskie. 
Kita berjalan di sebuah kota yang telah menjadi 
selembar menu makanan.

Deru pesawat dan kereta masih merenovasi pelukan 
kita, antara passport, peta perjalanan dan gereja-
gereja tua. Aku tidak tahu lagi bedanya antara 
memeluk dan bersujud memuja kesedihanmu. 
Di tas koperku masih peti mati yang meminta visa 
untuk kebebasan bernapas.

Sayangku, tidur tidak bisa mengecat mimpi kita. 
Lublin telah menjadi piano kesunyian di luar malam.

"Afrizal Malna"
Puisi: Tubuh Lublinskie di Lorong Es Hitam
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Teknik Menghibur Penonton

Kebahagiaan peti mati mengucapkan selamat tahun baru.
Maksudku, peti mati dan tahun baru.
Kata-kata melintasinya dan jatuh seperti burung yang
ditembaki dalam mata pelajaran biologi.
Intelektualitas yang merasa bisa menjadi mediator
antara tubuh dan realitas, terjungkal dari rak buku.
Maksudku terjungkal dan rak buku.
Titik dan koma tersesat dalam perangkap titik dan koma.
Kata-kata telah ditundukkan oleh badai kamus.
Dipisahkan lagi antara badai dan kamus.
Sebuah bossanova di tengah api perpustakaan.
Dipisahkan lagi antara musik dan api dalam perpustakaan.
“Tuan penghibur,” kataku, untuk melihat rohku
di antara kumpulan harga apartemen dan tiket
pertandingan sepak bola.
Baskom dalam timbunan penduduk kota.
Tepuk tangan para pembuat parfum
dan mesin pencetak dari rumah sakit.

Thank you.
Tuan penghibur.
Thank you.

"Afrizal Malna"
Puisi: Teknik Menghibur Penonton
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Napas Gunung

Seperti senja yang bersimpuh di kaki langit
Kupuja bola matamu yang melelehkan cahaya redup
Serta hurup-hurup samar yang menuliskan
Keabadian. Senyummu yang tergantung di udara
Dinaungi gumpalan mendung yang kemerahan
Tuturmu yang menggulirkan butir-butir embun
Tak bisa kutampung dengan bibirku yang bergetar

Napas gunung yang dikibarkan kerudungmu
Menghijaukan sawah-sawah di hatiku
Selembar sajadah yang dihamparkan rindu
Membuatku tersungkur lagi. Kuhirup wangi tanah
Kucium akar rumputan dan dingin batu:
Seorang lelaki berlumuran darah
Ditikam sepasang alis matamu

Tariklah sedikit ujung kerudungmu, Dini
Agar langit menampakkan rahasia keindahannya
Pada bumi. Parasmu yang dipantulkan sinar bulan
Dengan bulu-bulu halusnya yang tersapu tiupan angin
Seakan menyibakkan yang selama ini tertutupi
Itulah sebabnya aku memuja bola matamu
Seperti seribu laron mengerumuni satu-satunya
Nyala lampu.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Napas Gunung
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Uluwatu

Karang-karang terjal menopang keagungan
Dari setiap penjuru angin
Jauh di bawahnya ombak laut bergelora
Ketika suara gamelan, bersimpuh pada keremangan senja
Ketika gadis-gadis berkebaya, dengan bunga di telinganya
Dengan butir-butir beras di keningnya
Dengan sesaji di tangannya
Berkelebat menguraikan beribu gerak

Di bawah redupnya cahaya matahari
Di kaki langit yang kabur garis batasnya
Kulihat burung-burung mengambang
Kulihat lambaian hijau pohon-pohon kelapa
Kulihat lengkung pantai yang menyisir tepi bumi
Semuanya seperti isyarat dan jawaban
Ketika sunyi bertahta di atas air
Di atas pasir
Ketika biru dan gelap bersahut-sahutan

Di bukit para dewa
Yang ditopang karang-karang terjal itu
Sulur-sulur pohon khusyuk berdoa
Bunga-bunga melepaskan wanginya ke udara
Gamelan sorga meletakkan suaranya ke tanah
Gadis-gadis menitipkan gerak dan senyumnya
Pada angin dan guguran daun
Sedang di langit, rakit bintang-bintang mulai berlayar
Malam telah menyempurnakan sunyi
Menjadi sebuah kerajaan.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Uluwatu
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Colombella

Aku masih digayuti kabut yang semalam melaju dalam tidurku
Melewati petak-petak ladang, tangki air dan lengkung biru
Pebukitan. Rumah-rumah kotak yang kecoklatan
Jalan-jalan kecil yang melingkar serta sebuah sungai
Yang berliku membelah perkampungan
Semuanya bermuara di mataku.

Ini masih awal musim semi, kureguk
Hangatnya kopi serta bait-bait pendek Ungaretti
Betapa angin telah menggemburkan permukaan tanah
Dengan lidahnya. Topan mengkilapkan wajah bebatuan
Sebuah lapangan kota lama yang lahir kembali
Dengan katedralnya yang lain.

Ini masih awal musim semi
Semburat matahari menerobos kaca dan sayup-sayup
Kudengar dengus pepohonan yang menahan getar birahi
Akar-akarnya. Ladang-ladang menghamparkan tikar pandan
Sungguh musim semi telah membangunkan tidur bumi
Yang panjang. Ketika langit menguraikan rambut ikalnya
Sebuah kastil putih muncul dari balik pebukitan
Dengan air mancurnya yang menyemburkan kilatan cahaya.

1993-1997
"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Colombella
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Batas Tidur dan Kematian
(Buat Harmien Indrani)

Begitu perlahan angin membaringkan tubuhmu
Di awan. Tapi mimpimu melesat ke galaksi terjauh
Meninggalkan seratus gladiola
Dalam aromanya yang aneh. Begitu cepat
Hingga suaramu tak sempat didengar mendung
Atau dicatat kabut menjadi kata-kata.

Ketika senja mengungkapkan kesedihannya pada bumi
Pohon-pohon hanya tahu bahwa cuaca sedang buruk
Sepanjang musim. Kemudian gerimis turun
Menyempurnakan pengembaraanmu dalam sunyi
Hingga langkahmu mengusik burung-burung dan rumputan
Yang tak mengerti batas tidur dan kematian.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Batas Tidur dan Kematian
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak Bulan Tentang Sungai

Telah kusebar harum bunga dan kuterangi
Belantara. Kuselimuti belukar dan semak yang gelap
Aku mengalir sepanjang perjalananmu dari hulu
Di antara lapisan mega dan jejak kabut
Di udara. Menyisir bintang-bintang
Yang mabuk anggur cahaya

Kurestui mereka yang bercinta. Ikan-ikan
Angin dan gelombang berkejaran dalam matamu:
Jangan layarkan perahu bermuat lampu khianat
Dan biarkan batu-batu semekar mawar
Dalam rahimmu. Telah kunyalakan rahasia bunga-bunga
Untuk melapangkan jalanmu ke muara.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Sajak Bulan Tentang Sungai
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Cemara Laut
(Buat D. Zawawi Imron)

Langit semerah saga
Membayang pada pasir pantai
Ketika rumpun-rumpun cemara
Menjadi pertapa
Di pantai terlarang
Ketika bongkahan karang hitam
Tak lekang
Tapi juga tak kekal

Cemara menyimpan warna bulan
Di rumpun-rumpunnya yang rimbun
Seperti ingin menciptakan hutan lambang
Tapi keheningan tak lahir begitu saja
Dari ombak pasang
Keheningan harus dituliskan
Pada pasir
Atau lokan kerontang

Perahu-perahu telah bertiup
Meninggalkan perkampungan garam
Mereka akan terus bertiup
Ke tengah
Meninggalkan para pertapa yang khusyuk
Dan bongkahan karang hitam
Di tebing-tebing
Pantai curam

Para pertapa
Bongkahan karang yang bersila
Adalah keheningan
Yang surut dan kadang meluap
Seperti ombak atau waktu
Akar-akarnya mengembara
Jauh ke tubuh bumi
Menyusuri urat darah tanah

Akar-akarnya
Air mata yang terus memanjang
Berliku-liku dan kembali merambat naik
Mengirimkan kesedihan pada batang dan daun
Akar-akarnya adalah doa
Yang menjadi embun
Dilepaskan ujung-ujung daun
Ke udara.

1996
"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Cemara Laut
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Rue de Rivoli

Kita melaju dalam rintik gerimis
Yang menghapus semua alamat
Dari ingatanku. Udara seperti berombak
Sungai memantulkan gema
Napasmu gemetar
Di ranting-ranting poplar

Jembatan itu mengangakan rahang
Menelan musim
Yang meluncurkan perahu
Dalam cuaca dingin. Senja menjadi ajaib
Di tengah kebisuanmu
Dan redupnya angin

Ke sudut-sudut kafe
Tak ada yang perlu dilabuhkan
Kecuali jejak matahari. Sementara kau dan aku
Mungkin tak akan merubah arah sunyi
Dengan  mencari kehangatan
Pada gelas atau ciuman.

1997
"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Rue de Rivoli
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Fatahillah

Ketika masih berumur belasan tahun,
pertama kali aku masuk kota
Jakarta adalah melalui pelayaran dengan kapal lautan,
ketika 
itu Indonesia baru enam tahun merdeka.

Citra Jakarta yang direkam oleh ingatanku hingga kini
pertama-tama 
adalah lautan, tiupan angin berbau garam,
dan dermaga 
pelabuhan yang dirapati oleh kapal-kapal mesin
dengan 
cerobong tinggi.

Aku rindu pada bunyi kleneng trem, bolak-balik dari Jatinegara ke Kota,
pada mobil Austin yang dirubah interiornya jadi angkutan
banyak penumpang dan pada armada becak
yang karet-
anginnya mendengung sore dan malam hari.

Tapi aku lebih rindu pada adegan pelabuhan dan Pasar Ikan,
di tempat 
merapat perahu pinisi yang tiangnya bergoyang-goyang,
serta 
pasar yang beraroma lautan, tak habis sibuk dengan penjualan
ikan yang baru ditangkap nelayan.

Waktu itu aku mana paham bahwa di lautan dan di pantai ini,
telah 
beratus tahun berlangsung peristiwa penting,
diisi ratusan 
ribuan, bahkan ratusan ribu pelaku,
dengan makna yang 
dalam, semua itu sejarah, dinamakan.

Kini tabir panggung telah dibuka.
Lihatlah seuntai rangkai gugusan,
17.000 pulaunya, 400 gunungnya, 300.000 sungainya,
subur 
setiap hasta buminya, orang menanam,
orang memetik buah 
beragam, 
menakik berbagai getah,
mengumpul rempah-
rempah, 
menyuling ekstrak cairan,
dengarkan musik daunan 
bernyanyi gemerisik di atas flora tropika,
sampai berita ke 
mana-mana.

Kau dengar lagi kebar-kebar layar kapal yang berdatangan,
suara derap 
pasukan jalan kaki, gemuruh kuda kavaleri,
dentuman meriam 
di lautan serta azan yang dikumandangkan.

Kau lihat Demak, Cirebon, Pajajaran, Banten, Malaka, Pasai,
semuanya 
tersusun dalam adegan abad 16,
empat ratus lebih tahun yang silam.

Kau lihat orang-orang datang berlayar dari Semenanjung Iberia,
Portugal nama 
negerinya, Portugis nama bangsanya,
mereka tiba dengan kapal-kapal 
layar besar,
dengan senjata api berbagai ukuran.

Inilah orang-orang pewaris peradaban Gerika-Roma,
yang dari Yunani 
mewarisi penyembahan jasad dalam bentuk keindahan sensori,
dari 
Romawi penyembahan nafsu sensual inderawi,
dan bergabung 
sempurna jadi pembangun peradaban materi.

Di dalam buku-buku tarikh mereka disebut dengan istilah imperialis dan 
kolonialis,
padahal aku lebih suka menyebut mereka materialis
yang 
menyebarkan secara fanatik paham serba-benda.

Ciri mereka adalah memperagakan sifat serakah pada harta,
berdagang dengan 
cara curang, merampas dan menipu,
membinasakan negeri yang 
didatangi bila perlu,
dan nyata membawa dendam lama yang 
bersilang di dada mereka.

Para Wali di Pulau Jawa jadi sangat khawatir,
mendengar pendatang Portugis 
akan membuat benteng di Sunda Kelapa,
dan membuat perjanjian 
dengan Ratu Sang Hiyang raja Pajajaran,
sehingga taktik ekspansi 
mendapat kemudahan.

Kau lihat para Wali menyusun strategi, dan dipilihnya seorang pejuang sejati,
ternyata dia miliki kualifikasi panglima pertempuran,
pengayom 
dalam soal kemasyarakatan,
guru dalam masalah keilmuan dan syaikh 
dalam kaitan kerohanian.

Dialah Fatahillah. Para wali tidak memilih seorang senopati guna operasi ini
karena tugasnya memimpin jihad fi sabil-il-Lah, jihad di jalan Tuhan,
yang perhitungannya bukan semata kemiliteran pertempuran.

Rakyat memerlukan pimpinan dengan sikap taqarrub yang mendalam,
karena 
situasi di lapangan bagaikan Perang Badar
ketika pasukan kecil 
berhadapan pasukan besar.

Dialah Fatahillah. Berhadapan dengan berbagai kesukaran dan 
ancaman,
dari luar dan juga dari dalam,
di abad 16 itu dia 
meninggalkan jejak mengesan dengan memahatkan iman,
kecerdasan dan keteguhan hati sebagai teladan,
yang 
mengantarkan kepada kemenangan.

Nama Sunda Kelapa telah digantikan nama Jakarta,
bermakna ‘telah 
membuat kemenangan’,
yang kelak lekat menjadi nama 
ibukota.

Kemenangan, yang diilhami kemenangan Rasul Muhammad
merebut 
Mekkah dari kaum Quraisy,
tercantum dalam ayat awal surat 
Al Fath, Inna fatahna laka fathan mubina,
sesungguhnya 
Kami telah memberi kemenangan padamu kemenangan yang 
nyata.

Dialah Fatahillah. Dalam perjuangan gigihnya, niat awal, landasan dan 
tujuannya
bukan persoalan kawasan tanah, perdagangan rempah-
rempah, suku, ras, bangsa,
apalagi dendam.

Dia mengangkat perjuangan ke dataran lebih tinggi dan semesta dari semua,
yaitu tegaknya penghambaan manusia hanya kepada Allah sahaja,
dan terbebasnya manusia dari penghambaan sesama 
manusia.

Dialah Fatahillah.

1997
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Fatahillah
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Malam Sebelum Badai

Serangga tidak berbunyi pada musim air membeku
dahan-dahan telanjang hitam permukaan sungai pecah
tajam itik-itik sore hari berenang di antara gugus-
gugus putih suaranya riang namun aneh berkabutlah
pohon-pohon taman pohon-pohon hutan apabila kapas
terperinci bagai debu putih berlayangan dari atas
yang tak jelas batas angin memutar ladang-ladang
jagung pada ujung-ujung atap tetes air mendapat
nyawa kristal bergelantungan malam meniupkan sunyi
berat menekan batang-batang cemara membagi warna
warna putih pada semua permukaan yang ada cahaya
bangun pudar dalam segi-segi empat di atas bukit
kecil menyusun pesan bisu di manakah tupai-tupai
itu serangga-serangga itu burung-burung flamingo
bersayap merah muda angsa-angsa berenang rata di
rawa-rawadengarlah badai mulai membisik dari jauh
mengirimkan sejuta jarum-jarum dingin lewat udara
padang-padang utara rata lewat menara-menara kantor
cuaca sedikit merah gemerlap saat ini mesin-mesin
tak berbunyi kotak-kotak piringan tidak bernyanyi
kelepak sayap unggas-unggas utara sudah lama silam
cakrawala terbenam bumi menyembunyikan sunyi pepohonan
menggumam sunyi dengar badai mulai bersiul dari
jauh memutar padang-padang jagung rata apakah bunyi
badai adakah badai berbunyi sepanjang ladang-ladang
gandum yang jerami sungai putih membayang langit
hilang udara mengental uap kristal cuaca lenyap
cahaya dengarlah badai jauh membisik mengirimkan
sejuta jarum-jarum alit dan dingin lewat padang-
padang dan ladang-ladang membentang.

1972
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Malam Sebelum Badai
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Dalam Gerimis

Segugus kapuk randu
Melayang dalam hujan
Menyambung suara bumi berbisik. Tertengadah
Pohon-pohon bungur berbunga ungu
Langit yang mekar dalam hujan pertama

Pohon bungur menyebarkan warna ungu
Sepanjang jalan raya
Angin yang mengetuk mendung. Di atas kota
Menjelang gugus malam
Musim kemarau berbisa
Deretan sedih pohon jeungjing
Sepanjang tebing

Di langit nyaris lembayung. Kawanan
Kelelawar beterbangan ke tenggara
Kawat-kawat telepon berjajaran menghitami
Cakrawala yang retak warna
Kota dalam sayatan jingga
Kelelawar dan kapuk randu
Melayang dalam gerimis
Di atas rimba kotaku.

Dahan gladiola telanjang dan menggigil
Memanjang padang yang gelisah
Dari selatan seakan ada yang memanggil
Ini hanya sementara, akan membentang
Musim lebih parah

Mendung mengucur perlahan
Dengan kaki-kaki ramping
Dan gerimis berlompatan
Di pipi sungai. Sungai pedalaman yang jernih
Kijang-kijang istana berlarian
Berkerisik dalam pusingan dedaun coklat

Tangan yang mengacung ke langit
Dengan jari-jemari mengembang
Meninggi dalam bisa kemarau yang panjang
Sejarah berjalan terbungkuk, di padang ini
Menyalakan kemarau dan gunung api
Kemudian menuliskan namanya
Pada tangga waktu

Di langit sudah lembayung
Kapuk randu melayang dalam gerimis
Dan kelelawar bergayutan di puncak hutan
Jajaran jendela luka
Yang tertutup dan menanti
Suara memanggil. Walau terhenti
Dalam menggigil
Kapuk randu bergugusan
Melayangi gerimis malam.

1963
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Dalam Gerimis
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Aku Tulis Puisi

Aku tulis puisi
karena nurani perlu diterjemahkan
sedang Tuhan kuasa berfirman
maka penyair pun boleh merangkai kata
mengeja kesadaran biarpun terbata.

Aku tulis puisi
meski aku mengerti kadang tak berarti
karena puisi bukanlah ayat Tuhan
yang sah memanah surga atau neraka
puisi tak pula undang-undang
yang kadang sumbang
membidik kebenaran dan kesalahan
dalam ruangan pengadilan yang
dipancang tiang-tiang uang.

Aku tulis puisi
karena kegelisahan naif tuk dibungkam
meski ku tahu
kebijakan tak lagi mampu
melawan pucuk senapan.

Aku tulis puisi
karena ayat-ayat dekat sekarat
dan undang-undang semakin gampang diperkosa
menjelma buih di tiap sudut mulut
singa dan serigala

Aku tulis puisi
karena luka meski disembuhkan
biarpun kesakitan.

Aku tulis puisi
karena hidup harus dilunaskan.

Aku tulis puisi
sebelum segala terpejam
kepayahan.
"Puisi Sosiawan Leak"
Puisi: Aku Tulis Puisi
Karya: Sosiawan Leak