Bekas Lubang Paku

Aku ingin menemui lagi tubuhmu. Karena puisi tertulis di bahumu. Seperti bekas lubang paku. Tak berjudul. Tak tahu siapa yang menulisnya, dan menanamkan lubang paku di dalamnya. Tertulis, aku akan mengambil diriku sendiri. Tertulis, aku menari dalam pakaian yang kehilangan dirinya sendiri. Dan terbaca juga, penyanyi yang menghilang dalam mikrofon kesunyian.

Satu matahari menjadi dua matahari. Mereka bergantian menatapku, antara lubang dan paku, antara memanggil dan mengusirku. Tertulis lagi, tentang kesehatan dan bau tembakau di sela-sela jarimu. Aku ingin membacanya, tata cara melepas kematian dari sebuah ciuman.

Bau waktu dari lubang bekas paku di bahumu.
Lubangnya telah tertutup oleh lubang yang lain.

Aku masih terseret oleh gigiku yang goyah, sebelum paku itu lepas dari lubangnya. Di bahumu, tertulis tubuh yang menyala. Api yang memadamkan ingatannya tentang kesunyian dan tentang berjalan.

Aku berteriak untuk mendengar suaramua. Tertulis. Aku menjerit untuk mendengar langkahmu, tertulis, berjatuhan dan membuat jalan untuk pergi. Di bahumu, cinta dan kesunyian tak pernah bersengketa, tentang puisi yang meninggalkan kata-kata. Di bahumu ... paku ... telur setengah matang ...

Puisi yang meracuni bahasa dan kenangan.

"Afrizal Malna"
Puisi: Bekas Lubang Paku
Karya: Afrizal Malna

Post a Comment

loading...
 
Top