Juni 2013
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Peci Putih yang Merindukan Sujudmu
(Kepada Almarhum bapakku tercinta)

Sehelai benang emas melingkar di punggungku, tuan
berbalut lapisan warna putih semburat kecoklatan
sesekali kakiku basah oleh kucur air yang kau percikkan
melingkar erat di kepala, begitu caramu mengenakan

barangkali aku hanya berteman dengan ingatan
bersama untaian doa yang selalu kudengarkan
guratan dahi yang tertahan oleh sujud yang pelan
hingga kesabaran menahan amarah dan keinginan

aku adalah saksi dari air mata yang kerap berlinang 
saat sepertiga malam mulai menjelang
memastikan anak istrimu bermukim di jalan terang
sampai aku terjebak diantara kaki yang lalu-lalang
telapak telanjang bersanding bendera setengah tiang

aku ingat sekali, tuanku
keningmu berkerut saat menyikat tubuhku
bersama senyum syahdu, yang kini kurindu
tatkala bermunculan bercak tipis berdebu

kini gejolak semakin menawar untuk bersekutu
tatkala kabar tak jua kudengar lagi tentangmu
walau begitu, aku akan tetap berada di tempatku
bersanding di sebelah kiri, di pinggir sajadah biru

aku tak percaya kau setega itu, tuan
seumur hidupku tak pernah diabaikan demikian 
sampai paman tasbih perlahan menjelaskan
lama sudah bulirnya tak lagi tersentuh tangan
sedangkan bajumu tak kulihat lagi selama sepekan
baju bercorak tenun ikat yang biasa kau kenakan

aku merindumu, tuanku
menunggu tanpa tahu keberadaanmu.
Magetan, Agustus 2013
"Puisi Kinanthi Anggraini"
Puisi: Peci Putih yang Merindukan Sujudmu
Karya: Kinanthi Anggraini

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Aku Ingin Menulis Puisi

Aku ingin menulis puisi
untuk menyuburkan tanah
menumbuhkan pohon-pohon
dan menahan mata air

Aku ingin menulis puisi
untuk membesarkan buah
dan sayur-sayuran yang bergizi

Aku ingin menulis puisi
untuk anjing dan babi
kambing juga sapi

Aku ingin menulis puisi
untuk memberi makan ikan-ikan
agar para nelayan menjadikan
laut sebagai rumahnya

Aku ingin menulis puisi
untuk matahari yang murah hati
untuk angin segala musim
untuk bumi yang kupijaki.

2013
"Puisi Joshua Igho"
Puisi: Aku Ingin Menulis Puisi
Karya: Joshua Igho

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pencarian

Hai, lihatlah
orang berbondong-bondong
berjalan berkeliling
melemparkan batu
mendaki, menggumam
menguapkan mantra
bagi nama-nama
yang sedang tidur pulas
sejak berabad lamanya.

2013
"Puisi Joshua Igho"
Puisi: Pencarian
Karya: Joshua Igho

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di Hening ini
(: Boedi Ismanto)

Aku mencatat seutas hening
pada detik terakhir
sebelum kepergianmu
merontokkan baris-baris puisi.

2013
"Puisi Joshua Igho"
Puisi: Di Hening ini
Karya: Joshua Igho

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Bukit Mantera
(: Eko Tunas)

Singgahlah ke balik bukit itu
tempat aku bersemedi, menikam sepi
meramu mantera di atas sesaji
dan kepulan asap dupa
aku akan merayu malam
membaca mantera untuk bulan pucat
mari duduk bersila di atas batu
pejamkan hatimu
tengadahkan pikiranmu pada pekat
dengar dan rasakan bisik angin.

Malam yang merantai waktu
dan sukmamu beku.

Tegal, 2013
"Puisi Joshua Igho"
Puisi: Bukit Mantera
Karya: Joshua Igho

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Lanskap Senja

Lanskap senja bertabur cahaya
meremang kemerahan
tersapu angin
kenangan yang menggenang
di dermaga tua.

Ranting peristiwa meranggas kelam
memilin sunyi kita
menghitung jejak
yang telah tertinggal
di ujung waktu.

2013
"Puisi Joshua Igho"
PuisiLanskap Senja
Karya: Joshua Igho

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di Telaga Matamu
(Bagi: Wa Ode Wulan Ratna)

Mawar di hatimu
jangan layu oleh waktu
rindu di nadimu
tetaplah berdenyut merdu
senandungkan cinta di jiwa
dan biarkan aku
berjaga di telaga matamu.

2013
"Puisi Joshua Igho"
PuisiDi Telaga Matamu
Karya: Joshua Igho

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Bulan Sesabit Alismu

Bulan sesabit alismu, Nun
Redupkan sesisa mega yang berserak disisakan senja
Ada tebing dan bebukit yang musti kudaki,
Tinggi dan sunyi adalah sebatas bayangan
Samar dalam ingatan tentangmu,
Di balik bukit itulah, Nun
Sepi dan semilir angin saling cumbu
Dalam dekap gigil pohonan, yang menasbihkan riwayat malam,
Dengan sepotong doa yang kupesan dari gugur daun.

Jalanan lenggang dan kerontang, tersebab angin kemarau
Meniup lirih ranting-ranting kerinduan, dan berserakan dalam angan.
Ada dunia yang kucipta dari dahaga jiwa,
Wajahmu tersketsa di sana
Sementara, riang jangkrik mengajakku untuk selalu nikmati
Setiap jengkal metafora langit yang paling puisi
; bulan sesabit alismu.

Pondok pena, 2012
"Dimas Indiana Senja"
Puisi: Bulan Sesabit Alismu
Karya: Dimas Indiana Senja

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||