Lesung
(: Farah Maulida)

Menyemai waktu
kala itu kau masih menimang dedak dan lagu
berjaga antara pagi dan senja
menjejak bekas debu bertabur senyum dan doa

Tak ada yang lebih kukenal darimu, Alu
tumbukan demi tumbukan di sela jalannya umurku
mengenal sejak dalam rahim nangka umur sewindu
mencipta kilau beras untuk ribuan tungku 

Kerap kali hentakan itu mendarat di tubuhku
karena begitulah cara kita bertemu 
sekalipun selalu diartikan sebagai pedih dan pilu 
namun bagiku itulah tulus penjagaanmu

Menyaksikan bulir-bulir beras beriringan diangkat
di dalam celah lalu diobori dengan panas yang hebat
seperti langit biru telah berubah menjadi kelabu
pertanda malam menahan hentakan satu demi satu 
dan selalu kusembunyikan butiran air bernama sendu
agar kau tahu; satu adalah segalanya bagiku

Ketika dahan mulai melepaskan ikat
kala itulah serat kayu mulai tak merekat 
bersebab pukulan yang kerap kali mendarat 
oleh usia dan tenaga yang teramat dahsyat
namun tak sekalipun keyakinanku sekarat 
sekalipun kau harus diangkat, dari lengan yang teramat kuat

Lihatlah lubang ini yang bertahun-tahun terbelenggu
tanda keyakinan yang tak pernah sekalipun ragu
oleh kain usang dan tali tambang berwarna biru 
bertali simpul, berlingkar tiga kali di perutku
agar tak lekas harapanku merebah 
sekalipun ragaku musnah.
Desember 2013
"Puisi Kinanthi Anggraini"
Puisi: Lesung
Karya: Kinanthi Anggraini

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||

Post a Comment

loading...
 
Top