loading...

Peci Putih yang Merindukan Sujudmu
(Kepada Almarhum bapakku tercinta)

Sehelai benang emas melingkar di punggungku, tuan
berbalut lapisan warna putih semburat kecoklatan
sesekali kakiku basah oleh kucur air yang kau percikkan
melingkar erat di kepala, begitu caramu mengenakan

barangkali aku hanya berteman dengan ingatan
bersama untaian doa yang selalu kudengarkan
guratan dahi yang tertahan oleh sujud yang pelan
hingga kesabaran menahan amarah dan keinginan

aku adalah saksi dari air mata yang kerap berlinang 
saat sepertiga malam mulai menjelang
memastikan anak istrimu bermukim di jalan terang
sampai aku terjebak diantara kaki yang lalu-lalang
telapak telanjang bersanding bendera setengah tiang

aku ingat sekali, tuanku
keningmu berkerut saat menyikat tubuhku
bersama senyum syahdu, yang kini kurindu
tatkala bermunculan bercak tipis berdebu

kini gejolak semakin menawar untuk bersekutu
tatkala kabar tak jua kudengar lagi tentangmu
walau begitu, aku akan tetap berada di tempatku
bersanding di sebelah kiri, di pinggir sajadah biru

aku tak percaya kau setega itu, tuan
seumur hidupku tak pernah diabaikan demikian 
sampai paman tasbih perlahan menjelaskan
lama sudah bulirnya tak lagi tersentuh tangan
sedangkan bajumu tak kulihat lagi selama sepekan
baju bercorak tenun ikat yang biasa kau kenakan

aku merindumu, tuanku
menunggu tanpa tahu keberadaanmu.
Magetan, Agustus 2013
"Puisi Kinanthi Anggraini"
Puisi: Peci Putih yang Merindukan Sujudmu
Karya: Kinanthi Anggraini

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||

Post a Comment

loading...
 
Top