Juli 2013
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Langgar Peteng dan Manzumat

Pada balai kayu langgar peteng bercat karat biru beludru
kuseruduk hantaran waktu, ada sekian lama tersimpan dalam beku debu
isak letih anak santri yang terkapar menghafalkan manzumat
lalu tidur mendengkur sesaat sahur dengan hidangan lembar-lembar surat.

Di samping langgar, waduk air tempat lumut diri dibilas wuduk
air asin dan keruh, jejak-jejak silam mewasilah getar moksa demi moksa
sehingga sampai juga lukaku mendarah seluka rindu tak terbalas
kepadamu, ini luka air merah gelisah bersimbah
sebagai sesembah bagi setakik gelora pemuda Hisbulah dalam sarung sejarah
kutemukan seratus huruf hijaiyah menari-nari khusyuk menyemat basmalah
dalam kantuk yang merekam bait manzumat Alfiyah dalam sorogan taqrib yang resah
sedia pagi nanti kusetorkan di hadapan kiai.

Di Langgar Peteng, santri masa lalu yang tidur mendengkur itu
kini terjaga berupa wujudku, kemaruk kuresapi gegetir waktu
yang tak lagi dibasahkan zezaman pertempuran yang gebu
pada sepi rumahmu saat ini, kuajak hehuruf hidup menggairah
dalam rapalan manzumat Alfiyah dalam taqrir sorogan matan dan syarah.

Langgar Peteng yang tak petang bagi nurani kesantrian
nur menyembur dari lubang bilik kayu, itukah lahir berkah yang tahir?
Menyemaikan cercahan mekar tatapan lembut Kiai Zubair
dan Kiai Abdurrohim menyesap zikir.

Hilir angin tanpa bising kota pertempuran dingin
di mana aku dalam jejak terakhirmu seumpama Sahal Kajen
di mana warnaku dalam pelangi para ulama titisanmu
yang semuanya sempat bersembunyi di langgar ini? ataukah aku
telah berada dalam pelukanmu yang erat tapi ragu-ragu.

"Puisi Raedu Basha"
PuisiLanggar Peteng dan Manzumat
Karya: Raedu Basha

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tarthus

Apa yang lebih berharga dari penyepian
ketika gaduh sekitar melempar takdir.

: Walau kerah seluruh kekuatan
musnahkan digdaya serta kemaslahatan yang remuk
sisa kekuatan hanya ditemukan di tubuh hening.

Di Tarthus, goa persemayaman Maximalianus
kujulurkan seluruh indera merasuki sejarah resah.

: Pelarian sembilan lelaki baja yang galau
sehabis menikam arca-arca
(berbilah pedang dan anak panah
bagai siap memancung di depan mata)
kemudian uzlah ke sini
mengistirahatkan getir diri.

Desah-desah gelisah kutangkap dari semilir udara yang gerah
rintihan kecil yang tak usai membisikkan kekalutan
saat di luar, Deuxliatianus dan tentaranya mengepung desa.

Oh, Tarthus!
Di tubuhmu sepotong sabda pernah tersyiar sewujud sinar
hentikan segala yang bergetar.

: Ini batu-batu saksi
kalau Maha Cahaya dahulu menyemesta
terpancar dari aura Maximalianus
menyilaukan bala Deuxliatianus
hingga terlempar ke kaki bukit Banjalus.

Kuraba jejak samadi di lungkai mimpi-mimpimu, Ashabul Kahfi!
Mungkin kutemukan bias mega menyelundup ke tubuhku
lalu gegas kuberbaring, berlindung pada-Nya
dalam lototan mata anjing
: sampai bisa kusaksikan
malaikat-malaikat menjaga abad
mengembara dalam tidurku.
 
Inikah peristirahatan keabadian usia?
Sampai aku terjaga pada sebuah zaman
yang jauh berbeda
bernama alam kehancuran....

"Puisi Raedu Basha"
PuisiTarthus
Karya: Raedu Basha

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Proyek Zen Urban
(bersama Carl Taylor)

(1)
Meditasi telah berjalan
di balik bunyi arloji
membawa ia terbenam
dalam kristal-kristal
sunyi.

“Gantilah bohlam itu
seperti nama-nama
penghuni bangsal terapi
yang silih berganti”

(2)
Ia jatuhkan jubah
di atas permainan.

TV kabel menayangkan harapan
kekerasan berpulang pada ruang
keluarga yang tenang.

Kotak surel dijejali panduan
menyusun hidup lebih bahagia
ilusi rekam rupa memori-memori
sepanjang jembatan emas San Fransisco.

Apa yang ia lalui dari kemarin
satu persatu digerus waktu
salju luruh, langit bias, cat apartemen
mengelupas, manusia berpapasan
merunut jalaran masa
penuh sekian tanya.

(3)
Ia buka memori 1.
proyektor video di hadapannya
plus coke, dan keripik kentang
dan doa berdengung 2500 tahun silam.

Gambar pertama
suara dari keluarga soka gakkai
iringan suara kembang plumeria
melarung ada, menghangus ke udara

“Doa kami, agar tak lupa Buddha”

Jam dinding berbunyi
ia menutup memori itu
dan sebuah dusta melesat seperti cahaya.

(4)
Burung-burung terbang
terbelit kabel baja
ia gemetar, meninggalkan segelas air campur
sirup, dengan es batu di atasnya seperti porselen
rapuh yang mengalun tenggelam di lautan.

Lonceng rumah Zen laguna Honda berdentang
gemanya melesap ke udara
kini ia tak lagi dihantui bayang kepedihan.

Vipassama
vipassama San Fransisco.

"Puisi Puji Pistols"
PuisiProyek Zen Urban
Karya: Puji Pistols

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Asal-Usul Kebahagiaan

Ketika kau tak mesti lagi mengerutkan jemari
Untuk menguji manakah buah segar dewasa
Yang terkirim diam-diam dari Selatan?
Ketika sarung tanganmu mesti tersimpan

Barangkali dengan selekeh getah buah
Yang hanya akan kentara di tahun depan?
Ketika kau merasa mubazir bertanya
Apel ataukah aprikot yang giat meredam

Jejarum cahaya matahari bulan April?
Ketika tanganmu tak sabar menyentuh
Daging buah yang kaukira menggeletar
Seraya malu-malu melindungi bijinya?

Ketika pisau di tanganmu terjatuh
Oleh kulit buah yang terlalu licin
Dan bangga akan merah atau jingganya?
Sesungguhnya tanganmu hendak kembali

Menelusuri kulit murni yang tak pernah
Gentar akan laparmu. Akan birahimu?
Kulit dada. Mungkin kulit buah dada
Entah di musim salju atau musim semi.

2009
"Puisi Nirwan Dewanto"
PuisiAsal-Usul Kebahagiaan
Karya: Nirwan Dewanto

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Aku Seekor Burung

Sementara aku sudah jalan-jalan ke London,
Swiss, Paris, atau ke mana saja tempat yang kusuka
kau masih berpura-pura jadi ikan,
yang kerjanya berenangan di air yang tenang.
apakah kau pikir,
kau bisa memperpendek rute kotamu- surga Vice Versa?

Meski jadi wartawan kadang bisa petentengan
nyatanya aku memang bukan apa-apa
kebun binatang dan suaka margasatwa masih tetap punya orang
bank, dan hotel berbintang, juga punya orang
kecuali perasaan,
apalagi yang kumiliki di dunia ini?

Aku memang bukan ikan,
aku mungkin hanya seekor burung
yang tak pernah setia pada dahan
ketika ingin terbang atau menghilang.

Jakarta, Juni 1997
"Kurniawan Junaedhie"
PuisiAku Seekor Burung
Karya: Kurniawan Junaedhie

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||