loading...

Proyek Zen Urban
(bersama Carl Taylor)

(1)
Meditasi telah berjalan
di balik bunyi arloji
membawa ia terbenam
dalam kristal-kristal
sunyi.

“Gantilah bohlam itu
seperti nama-nama
penghuni bangsal terapi
yang silih berganti”

(2)
Ia jatuhkan jubah
di atas permainan.

TV kabel menayangkan harapan
kekerasan berpulang pada ruang
keluarga yang tenang.

Kotak surel dijejali panduan
menyusun hidup lebih bahagia
ilusi rekam rupa memori-memori
sepanjang jembatan emas San Fransisco.

Apa yang ia lalui dari kemarin
satu persatu digerus waktu
salju luruh, langit bias, cat apartemen
mengelupas, manusia berpapasan
merunut jalaran masa
penuh sekian tanya.

(3)
Ia buka memori 1.
proyektor video di hadapannya
plus coke, dan keripik kentang
dan doa berdengung 2500 tahun silam.

Gambar pertama
suara dari keluarga soka gakkai
iringan suara kembang plumeria
melarung ada, menghangus ke udara

“Doa kami, agar tak lupa Buddha”

Jam dinding berbunyi
ia menutup memori itu
dan sebuah dusta melesat seperti cahaya.

(4)
Burung-burung terbang
terbelit kabel baja
ia gemetar, meninggalkan segelas air campur
sirup, dengan es batu di atasnya seperti porselen
rapuh yang mengalun tenggelam di lautan.

Lonceng rumah Zen laguna Honda berdentang
gemanya melesap ke udara
kini ia tak lagi dihantui bayang kepedihan.

Vipassama
vipassama San Fransisco.

"Puisi Puji Pistols"
PuisiProyek Zen Urban
Karya: Puji Pistols

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Post a Comment

loading...
 
Top