Tarthus

Apa yang lebih berharga dari penyepian
ketika gaduh sekitar melempar takdir.

: Walau kerah seluruh kekuatan
musnahkan digdaya serta kemaslahatan yang remuk
sisa kekuatan hanya ditemukan di tubuh hening.

Di Tarthus, goa persemayaman Maximalianus
kujulurkan seluruh indera merasuki sejarah resah.

: Pelarian sembilan lelaki baja yang galau
sehabis menikam arca-arca
(berbilah pedang dan anak panah
bagai siap memancung di depan mata)
kemudian uzlah ke sini
mengistirahatkan getir diri.

Desah-desah gelisah kutangkap dari semilir udara yang gerah
rintihan kecil yang tak usai membisikkan kekalutan
saat di luar, Deuxliatianus dan tentaranya mengepung desa.

Oh, Tarthus!
Di tubuhmu sepotong sabda pernah tersyiar sewujud sinar
hentikan segala yang bergetar.

: Ini batu-batu saksi
kalau Maha Cahaya dahulu menyemesta
terpancar dari aura Maximalianus
menyilaukan bala Deuxliatianus
hingga terlempar ke kaki bukit Banjalus.

Kuraba jejak samadi di lungkai mimpi-mimpimu, Ashabul Kahfi!
Mungkin kutemukan bias mega menyelundup ke tubuhku
lalu gegas kuberbaring, berlindung pada-Nya
dalam lototan mata anjing
: sampai bisa kusaksikan
malaikat-malaikat menjaga abad
mengembara dalam tidurku.
 
Inikah peristirahatan keabadian usia?
Sampai aku terjaga pada sebuah zaman
yang jauh berbeda
bernama alam kehancuran....

"Puisi Raedu Basha"
PuisiTarthus
Karya: Raedu Basha

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Post a Comment

loading...
 
Top