November 2013
Terpisah


Racun lagu duka merambat di kelengangan malam kota.
Lampu jalanan dipingsankan hujan.
Berbaringan rumah-rumah wajahmu di temboknya.
Kesepian seperti sepatu besi.
Menekur semua menekur dikhianati bulan.

Engkau bulan lelap tidur di hatiku.
Oleh sepi diriku dirampas jalan raya.
Semua didindingi kelam dan kedinginan.
Maut atau ribamu di ujung jalan itu.
Dipenangi air adalah racun duka adalah wajahmu. 

 
 
"Puisi: Terpisah"
Puisi: Terpisah
Karya: W.S. Rendra
Di Bawah Bulan


Ketika sebuah suara
memanggil namanya
ia hentikan langkahnya.
Rumpun pohonan remang-remang
mahkota cahaya di pucuk daunnya.
Ia tak lihat orangnya
tapi suara dikenalnya.

Ketika bulan menjenguknya
tampak pipinya
bagai kelopak angsoka
kerna darah naik
ke muka dan bulu kuduknya.

Terdengar cengkerik berpacaran
pucuk-pucuk cemara bergeseran.
Ketika sebuah suara
memanggil namanya
ia pun tahu
siapa menunggunya.

Cahaya lembut memabukkan
angin meniup tepi kainnya.
Ketika sebuah tangan kuat
meraba pundaknya
menyerahlah ia.
 
 
"Puisi: Di Bawah Bulan"
Puisi: Di Bawah Bulan
Karya: W.S. Rendra