Januari 2014
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Datanglah Kepadaku

Datanglah kepadaku
Untuk sesuatu pertolongan
Karena bila aku dapat berbuat
Mengapa tidak aku lakukan?

Kita yang hidup
Dalam rahmat Tuhan
Hendaklah saling berkasihan
Bagai saudara seibu-sebapa
Yang menghindari dendam
Dengki dan khianat

Demikianlah saudaraku
Datanglah kepadaku
Bersama maksud baikmu
Bersama kasih sayang
Dalam naungan Tuhan.
  
1964
"Puisi: Datanglah Kepadaku (Karya Aldian Aripin)"
Puisi: Datanglah Kepadaku
Karya: Aldian Aripin
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Riwayat

Gelitikkan, musim, panasmu ke usiaku
bersama matahari. Dari jauh
bumi tertidur oleh nafasmu, dan oleh daun
yang amat rimbun dan amat teduh
dan seperti mimpi
laut kian perlahan
kian perlahan.

Pada saat itu seorang tua pun jatuh di makamnya
Pada saat itu seorang anak pun bangkit dari buaiannya
Ia tampil kepadaku, bicara padaku:
saudaraku hembuskan sajak ke paru-paruku.

Lalu kuhembuskan sajak ke rabunya
Tapi ia tumbuh juga jadi tua
Meskipun di matanya
ada puisi
yang seakan-akan menjanjikan
hidup abadi.

(Maka aneh. Ketika ia mati musim belum lagi mati
ketika ia ditanamkan, bunga tumbuh di pusat makam
Dan ketika ia dilupakan matahari
berkata pelan: sayang, memang sayang).


1962
"Puisi: Riwayat (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Riwayat
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Berjaga Padamukah Lampu-lampu Ini, Cintaku
Berjaga padamukah lampu-lampu ini, cintaku
yang memandang tak teduh lagi padamu.
Gedung-gedung memutih memanjang
membisu menghilang dari sajakku.

Tapi kita masih bisa mencinta, jangan menangis.
Tapi kita masih bisa menunggu. Raja-raja akan lewat
dan zaman-zaman akan lewat.
Sementara kita tegak menghancur 1000 kiamat.

1963
"Puisi: Berjaga Padamukah Lampu-lampu Ini, Cintaku (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Berjaga Padamukah Lampu-lampu Ini, Cintaku
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Setelah Perjumpaan Ini
(Bersama: Wiji Thukul & Sosiawan Leak)

Setelah perjumpaan ini aku tak tau seberapa
lama lagi kau bisa mencium aroma matahari selain
wangi popor senjata atau amis sepatu serdadu wagu
yang tak mengerti cara bersenda
setelah pertemuan ini aku tak tau seberapa lama
lagi kau bisa mencium aroma bintang-bintang
selain amis keringat pecundang atau bau busuk
nafas mata-mata yang mengendap-endap di sekitar
persembunyian kita kawan setelah perjumpaan ini
aku tak tau seberapa lama lagi kau bisa mencium
aroma bulan selain pantul cahaya 500 watt
di ruang proses cuci otak berukuran 2x2 meter
dengan kata-kata jorok yang berlompatan dari
mulut busuk introgator kelas teri dan memotong-
motong 70 juta sel syaraf di kepalamu setelah
perjumpaan ini aku tak tau seberapa lama lagi
kau bisa menyentuh anak dan membenamkan diri
di tubuh istrimu selain bau kezaliman potongan
urat nadi suntik mati amunisi yang menembus
tengkorak kepalamu atau krematorium nyanyian babi.

Setelah perjumpaan ini aku tak tau
bagaimana nasibmu kawan.


Solo
Jakarta, Indramayu

"Puisi: Setelah Perjumpaan Ini (Karya Acep Syahril)"
Puisi: Setelah Perjumpaan Ini
Karya: Acep Syahril
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ballada Anita


Ketakutan berbentuk lembut bercokol di dadanya
bicara dalam kenekatan memacu lepas-lepas butir darah-butir darah,
meratai bunga-bunga, membungai tiap usia
sebelum dikejuti pintu menutup baginya.

Anita.
Memacu kuda garang, merasuk hidup jalang
ditolaknya setiap perhentian.

Anita.
Dikutukinya cinta sarang cemburu, degil dan duka
berpacu juga ia yang terlanda rebah di kakinya.

Sampai tiba-tiba terpaling kepalanya
satu binar caya mengubah warna iklim
lelaki berotot mengurungnya pada cinta
yang dengan angkuh memandang ke darahnya berpacuan.

Anita.
Lelaki itu memperkosanya di ladang
hujan gerimis menambah ribut dada dan alang-alang,
lalu meninggalkannya dengan dingin mata
menenggelamkan diri bagi bahasa cinta.

Anita.
Derai gerimis menampar muka
kutuk membalik mendera dirinya
dadanya yang subur terguncang-guncang oleh damba.

Anita.
Dijatuhkannya dirinya dari menara.

 
 
"Puisi: Ballada Anita (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Ballada Anita
Karya: W.S. Rendra