Februari 2014
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Nyanyian Monica

Alangkah dingin nafas yang mengabur pada kaca
jendela. sepanjang apa jari-jarimu mengukur
angka-angka usia yang terpatah?

alangkah dingin. Monica berlari, dan terbang
dan membanting jendela. dan mengaduh sendirian
-alangkah dingin wajah yang mengabur
di kaca jendela.

Monica melepas harum lembar demi lembar nafasnya
melepas, dan menempurukkannya di luar pintu kaca
lalu mengental pada warna gelap di luar ruang.

1987
"Puisi: Nyanyian Monica (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Nyanyian Monica
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Episode Sebuah Serial Pop

Aku bahasakan cinta dengan susu terbuka
gaun terlalu pendek - dan robek bagian muka
dan pandangan memanggil yang memabukkan
menyergap kekosongan otakmu yang seharian
dijejali berita koran: tentang rahasia umum
segala kebohongan manusia...
lalu sebelum ada yang dipotong, terlebih dulu
kau mentertawakan dirimu sendiri
yang kotor oleh pikiran buruk.

di sini, kau dengan musik aneh
yang memangkas adegan demi adegan
dengan jari-jari halus menggurat nuranimu
: ketika dari ruang entah mana
anakmu merengek sebab film kartun kesayangannya
ditunda siaran sentral. lalu tiba-tiba setelah usai,
melihat ibunya yang telanjang
dikerumuni semut-semut dan rayap
yang kaupelihara di ruang otakmu.

tetapi nikmatilah. sebagaimana kita
bercinta di kamar rahasia.
tak ada lubang dinding untuk bisa diintip.
segalanya bebas dan lepas. tidak hirau oleh derak
sepatu dekat pintu, atau obrolan tetangga tentang
gosip politik.

tapi hidup tidaklah serumit gosip politik.
tak lebih dari sekadar keluarga berantakan
dengan rumah mewah, hidup serba kecukupan,
dan konflik yang tidak beranjak dari ukuran pasar.
tarif iklan, dan rating yang bagus.
selebihnya wajah cantik dan susu terbuka.

Nikmatilah sebagaimana kita duduk
di ruang prasmanan sebuah pesta.
Tidak hirau oleh derak panggung dan gaduh
musik. Tidak juga hirau pada hasil penelitian
tentang kemiskinan yang menyedihkan.

toh hidup tidaklah serumit kemiskinan.
melainkan segala omong kosong
yang berubah menjadi legenda.

engkau mencari tempat
di antara ruang yang terbuka,
ketika rahasia
tak lagi sesuatu yang berharga untuk dijaga.
engkau berdiri: lalu menjadi sadar
untuk menangis pun
ternyata sesuatu yang harus dilakukan
untuk menjadi semua terhibur.

Februari, 1998
"Puisi: Episode Sebuah Serial Pop (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Episode Sebuah Serial Pop
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kematian Suami

Ia tewas setiap aku sadar dari mimpi
jika mampu tak ingin kudengar sembarang lagu
kerna hatiku terlalu suci untuk sekedar lelaki
sedang langit mudah luka oleh sembilu.

Ia tewas, sayang!
Dan dengarlah, aku bernyanyi.

Aku selalu ingin berjalan diam-diam
mengarungi bayanganku sendiri
menuju laut jauh dan kelam
atau cuma ke ujung kuku jari.

Ia tewas!
Dan aku tak ingin berduka.

Jakarta, 2012
"Puisi: Kematian Suami (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Kematian Suami
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tanda

Bunga yang tumbuh telah
kujadikan tanda (atau kubur)
: kita pun selalu gagal
berduka.

Kali ini, subuh begitu singkat
dan selalu tersisa sesuatu yang
tak pernah rampung diucapkan.

Dan masih juga terasa belum
usai menangis. Antara getar dan
gigil: puisi pun gagal dibacakan.

1993
"Puisi: Tanda (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Tanda
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Quantum Leap Tiga

Langit temaram sehabis hujan
malam berangin tak embun di beranda
purnama buram di tanah barat

Para urban terus mengalir
tak tahu sehari lagi
negeri penuh api

Pohon-pohon mati
hangus lading-ladang melati
para lelaki ingkar janji.

Bogor
2002-2007
"Puisi: Quantum Leap Tiga (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Quantum Leap Tiga
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tentang Kerinduan

I
Merayap atas pasir panas
kura-kura tua letih sendiri
mencari gua sembunyi
rindunya pada bayang karang.

II
Menerobos sela hutan pinus
menyibak-nyibak pagi
rindunya matahari
pada bumi berumput.

III
Di halaman kampus
mahasiswa bicara tentang penertipan
tentang mata kuliah pagi
tentang wessel yang terlambat datang
dan tentang gadis impian
yang sekarang mata duitan
o, rindunya pada usia matang dewasa

IV
Di sawah yang jauh dari gema modernsasi
petani tua bersandar di bendul cangkulnya
anak motah gagal melamar
gara-gara hama melanda musim panen kali ini
O, rindunya pada kasih bumi pertiwi.

Jakarta, 1978
"Puisi: Tentang Kerinduan (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Tentang Kerinduan
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Catatan Anak Perang

I
Awan hitam mengapung
di udara malam
kota awal mula peradaban
taman dan jalanan tempat berlarian
makin hari penuh lubang
rincing rebana dan deru pesawat
apa bedanya - ya bapa
seru tangis dan raung sirene
apa bedanya - ya bapa
setiap fajar bangkit
debu Baghdad mengapung di sungai Eufrate
setumpuk giris berlapis-lapis
hanyut perlahan di sungai Tigris
mimpiku tentang Karbala dan Basra
terhapus angka-angka trauma
semua terus berlangsung
semua terus berkabung
tapi aku harus gantikan kakak lelakiku
karena tanah ini denyut jantungku.

II
Ada yang mengalir di sungai musim
harapan-harapan anak perang

Ada yang melantun di udara malam
doa-doa anak perang

Ada yang menyentuhi detik waktu
mimpi-mimpi anak perang

Ada yang tak bisa dilakukan
melepas merpati terbang

Ada yang lama dirindukan
berzikir, barzanji dengan tenang

Ada yang harus ditinggalkan
menari berkejaran di jalanan

Ada yang membubung ke rumah Tuhan
nyawa-nyawa anak perang.

III
Masih adakah yang tersisa
di antara puing Amriya
kulihat hanya tulang yang kenangan
langit pun keriput wahai
karena hujan telah habis jadi tangis
karena suara begitu galau muncul hilang
seharusnya kau tak pergi
selama bapa ke selatan belum kembali

Masih adakah yang tersisa
di antara puing Amriya
kulihat hanya darah yang mosaik
menjadi simbol-simbol keangkuhan perang
seharusnya kau bersamaku hari ini
menyusuri lorong-lorong kota
mengumpul warta bagi yang tua
sambil melompat-lompat
di celah reruntuhan gedung
membiarkan otak kita penuh fatamorgana
tentang kota raya bermahkota
kaukah itu di antara kerumun pengungsi
bayangmu pun tak kukenali.

IV
Di antara serpih tulang
ada kenangan panjang
di antara kerak darah
ada keangkuhan menjarah
di antara bau mesiu
ada cinta ibuku
terkubur jadi satu

Barangkali akan jadi penyubur
tanah negriku yang kini hancur
barangkali kelak di sini
tumbuh pohon paling tinggi
tumbuh bunga paling wangi
lambang-lambang kehidupan masa depan
tapi aku lebih ingin
ibu dan kakak lelaki ada di sini 
lewati hari-hari sederhana
'nyusuri lorong kota raya
dalam angan tiada bara.

Jakarta
1991/1996
"Puisi: Catatan Anak Perang (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Catatan Anak Perang
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Catatan Peluru

Sebutir peluru mendesing dari
laras jiwa durjana, seiring
hadirnya tahun sengkala
dipicu dendam sang berhala
merobek getar udara Jakarta
mencacah asap amuk senja
sebelum akhirnya menerjang dada
seorang anak manusia, yang
di jantungnya tumbuh bunga.

Sebutir peluru terkirim dari
liang keangkuhan yang
tak pernah mau simak bahasa alam
menagih darah anak zaman
dihantar jelaga sisa iman
sementara perubahan sedang dipejuangkan
berhala raungkan ujud perilaku darah
orang-orang pencari makna
kemerdekaan, dihalau mirip hewan.

Hai langit bersaksi, kutagih janji suci
tentang batas akhir angkara ini
hai bumi bersaksi, kutagih janji darah
tentang para pengusung serakah
hai jalan raya telah berlubang-lubang
dan dada telah berliang-liang
bersihkan tanah leluhurku sekarang
dari pengkhianatan dan sejarah hutang
pengorbanan kan sia-sia jika tetua behala.

Bogor
September, 1999
"Puisi: Catatan Peluru (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Catatan Peluru
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Guru yang Selamat dari Perang
Kamu sendiri tidak tau bentuk dahimu guru, dahi yang
pernah kau tawarkan pada kami yang
kemarin dipermainkan
angin seperti bau jari-jari tangan kami yang berubah-ubah
walaupun sebenarnya kami pernah tau
tentang tubuhmu
yang kurus kecil itu tapi apakah kamu masih ingat saat
kami memungut harapanmu pagi itu harapan yang kamu
propaganda-kan melalui perang tentang bagaimana cara
mencintai kami setelah bertahun-tahun guru kami terdahulu
dengan terang-terangan mengencingi alis mata kami alis mata
yang di dalamnya menyimpan bunga kangkung genjer dan
kembang bayam yang cantik namun menurut mereka tidak
pantas untuk ditaruh di jambangan.
Ah sungguh menyakitkan kamu sendiri tidak tau bentuk punggung
telingamu guru tapi sebagai murid yang ingin belajar cara
membersihkan sisa makanan di sela-sela rambut ini
kami akan sabar menunggumu sampai kau bisa memotong
kumismu agar kami tau apakah engkau juga meminum kopi
yang sama seperti kami cepatlah bergegas guru kami sudah
tidak sabar melihat kau bermain cengkeling dengan kuju dari
sepatu para menteri dan sepatu para
legislatif yang bau itu
agar kami tau bagaimana mereka membuat arsiran di petak-petak
politik yang mereka bicarakan saat orang-orang
membungkus harapan.

2014
"Puisi: Guru yang Selamat dari Perang (Karya Acep Syahril)"
Puisi: Guru yang Selamat dari Perang
Karya: Acep Syahril
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tentang Orang-Orang

I
Ketika orang rembulan
dan orang matahari
berpapasan di persimpangan jaman
maka:
laut akan mencari ombaknya
api akan mencari panasnya
pohon akan mencari buahnya
semesta pun
akan menjadi padang prahara
atau hanya hening.

II
Ketika orang-orang
bukan rembulan dan matahari
berpapasan di pertemuan zaman
simak:
ombak mencari lautnya
api mencari panasnya
buah mencari pohonnya
semesta pun 
hanya bentang gurun pasir
atau hampar samudra.

III
Orang-orang rembulan mencari
jiwa matahari
orang-orang matahari mencari
jiwa rembulan
batu karang di teluk dalam
sembunyikan jejak mereka 
dari kutukan zaman 
tanpa jejak mereka tebar
pengkhianatan berkepanjangan
langit menangiskan hujan
bumi geliatkan gempa.

Bogor
Februari, 2002
"Puisi: Tentang Orang-Orang (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Tentang Orang-Orang
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Angin-Angin Laut Irian

Apa kabar lelakiku dari Sentani
Yan Yapo, Yan Yapo, kupanggil kau
lewat angin-angin laut Irian
benarkah kini kau semakin tua
tak kuat lagi menokok sagu
sambil menggendong anakmu
apa kabar perisai langit dari Sentani
bintang kejora pasang di sana
di bendera bikin masalah ternyata
berapa lama musim kita
dinodai mozaik utopia
gunung datar hutan gundul
debu menerpa Yamdena
kau tangisi saat purnama
kalam semesta tak lagi menyairkan
keindahan bumimu kau banggakan
padaku di tanah barat
duka itu terlalu berat
bagi jiwa sederhana
Yan Yapo, Yan Yapo, lelakiku dari Sentani
lalu kau marah pada angin
lalu kau 'nangis pada laut
Irian gemetar
kau terkapar.


Bogor
Nopember, 2000
"Puisi: Angin-Angin Laut Irian (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Angin-Angin Laut Irian
Karya: Diah Hadaning
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sebuah Istana

Tepi jalan antara sorga dan neraka
Kumasuki sebuah istana
Tempat sejarah diperam
Menjadi darah dan gelombang.

Lewat jendela sebelah kiri
Kulihat matahari menjulurkan lidah
Seperti anjing lapar
Aku makin tak 'ngerti.

Mengapa orang-orang memukul-mukul perutnya
Jauh di batas gaib dan nyata
Kabut harimau menyembah cahaya.

Kutarik napas dalam-dalam
Dan kupejamkan mata
Alangkah kecil dunia!

"Puisi: Sebuah Istana  (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Sebuah Istana
Karya: D. Zawawi Imron
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Siap-sedia


Tanganmu nanti tegang kaku
Jantungmu nanti berdebar berhenti
Tubuhmu nanti mengeras batu
Tapi kami sederap mengganti
Terus memahat ini Tugu

Matamu nanti kaca saja
Mulutmu nanti habis bicara
Darahmu nanti mengalir berhenti
Tapi kami sederap mengganti
Terus berdaya ke Masyarakat Jaya.

Suaramu nanti diam ditekan
Namamu nanti terbang hilang
Langkahmu nanti enggan ke depan
Tapi kami sederap mengganti
Bersatu maju, ke Kemenangan.

Darah kami panas selama
Badan kami tertempa baja
Jiwa kami gagah perkasa
Kami akan mewarna di angkasa
Kami pembawa ke Bahgia nyata.

Kawan, kawan
Menepis segar angin terasa
Lalu menderu menyapu awan
Terus menembus surya cahaya
Mamancar pencar ke penjuru segala
Riang menggelombang sawah dan hutan.

Segala menyala-nyala!
Segala menyala-nyala!

Kawan, kawan
Dan kita bangkit dengan kesedaran
Mencucuk menerang hingga belulang.
Kawan, kawan
Kita mengayun pedang ke Dunia Terang!
 


1944
"Puisi: Siap-sedia (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: Siap-sedia
Karya: Chairil Anwar
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Lagu Biasa

Di teras rumah makan kami kini berhadapan
Baru berkenalan. Cuma berpandangan
Sungguh pun samudra jiwa sudah selam berselam.

Masih saja berpandangan
Dalam lakon pertama
Orkes meningkah dengan "Carmen" pula.

Ia mengerling. Ia ketawa
Dan rumput kering terus menyala
Ia berkata. Suaranya nyaring tinggi
Darahku terhenti berlari.

Ketika orkes memulai "Ave Maria"
Kuseret ia ke sana ....


Maret, 1943
"Puisi: Lagu Biasa (Karya Chairil Anwar)"
Puisi: Lagu Biasa
Karya: Chairil Anwar
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sunyi Itu Duka

Sunyi itu duka
Sunyi itu kudus
Sunyi itu lupa
Sunyi itu lampus.

 
"Puisi: Sunyi Itu Duka (Karya Amir Hamzah)"
Puisi: Sunyi Itu Duka
Karya: Amir Hamzah
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sunyi
Kuketuk pintu masaku muda
hendak masuk rasa kembali
taman terkunci dibelan pula
tinggallah aku sunyi sendiri.

Kudatangi gelanggang tempat menyebung
masa bujang tempat beria
kulihat siku singgung menyinggung
aku terdiri haram disapa ...

Teruslah aku perlahan-lahan
sayu rayu hati melipur
nangislah aku tersedan-sedan
mendengarkan pujuk duka bercampur.

Kudengar bangsi memanggil-manggil
tersedu-sedu, dayu mendayu
tersalah aku diri terpencil
badan dilambung gelombang rindu.

Duduklah aku bertopang dagu
merenung kupu mengecup bunga
lenalah aku sementara waktu
dalam rangkum kenangan lama.

Rupanya teja serasa kulihat
suaramu dinda rasakan kudengar
dinda bersandar duduk bersikat
aku mengintip ombak berpendar.

Imbau gelombang menyembahkan lagu
kepada bibirmu kesumba pati
fikiranku melayang ke padang rindu
walaupun dinda duduk di sisi.
"Puisi: Sunyi (Karya Amir Hamzah)"
Puisi: Sunyi
Karya: Amir Hamzah
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pelangi


Titian warna yang menghubungkan kita dengan dunia gaib.
Bermula pada hatiku, berakhir pada matamu yang tak berkedip.
 
   
"Puisi: Pelangi (Karya Ajip Rosidi)"
Puisi: Pelangi
Karya: Ajip Rosidi
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ia pun Kini Sunyi

Ia pun kini sunyi
tahu dua macam bunga:
yang putih, sendiri, sepi
tak terjangkau dari tepi ini.

Ia pun bernyanyi
lagu sedih ditinggal kasih
tahu segala yang sia-sia
bernama duka.

Ia pun sunyi
Ia pun sendiri.
  
1954
"Puisi: Ia pun Kini Sunyi (Karya Ajip Rosidi)"
Puisi: Ia pun Kini Sunyi
Karya: Ajip Rosidi