Catatan Peluru

Sebutir peluru mendesing dari
laras jiwa durjana, seiring
hadirnya tahun sengkala
dipicu dendam sang berhala
merobek getar udara Jakarta
mencacah asap amuk senja
sebelum akhirnya menerjang dada
seorang anak manusia, yang
di jantungnya tumbuh bunga.

Sebutir peluru terkirim dari
liang keangkuhan yang
tak pernah mau simak bahasa alam
menagih darah anak zaman
dihantar jelaga sisa iman
sementara perubahan sedang dipejuangkan
berhala raungkan ujud perilaku darah
orang-orang pencari makna
kemerdekaan, dihalau mirip hewan.

Hai langit bersaksi, kutagih janji suci
tentang batas akhir angkara ini
hai bumi bersaksi, kutagih janji darah
tentang para pengusung serakah
hai jalan raya telah berlubang-lubang
dan dada telah berliang-liang
bersihkan tanah leluhurku sekarang
dari pengkhianatan dan sejarah hutang
pengorbanan kan sia-sia jika tetua behala.

Bogor
September, 1999
"Puisi: Catatan Peluru (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Catatan Peluru
Karya: Diah Hadaning

Post a Comment

loading...
 
Top