Maret 2014
Metamorfosis

Ada yang sedang menanggalkan
kata-kata yang satu demi satu
mendudukkanmu di depan cermin
dan membuatmu bertanya

tubuh siapakah gerangan
yang kukenakan ini
ada yang sedang diam-diam
menulis riwayat hidupmu
menimbang-nimbang hari lahirmu
mereka-reka sebab-sebab kematianmu

ada yang sedang diam-diam
berubah menjadi dirimu.

"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Metamorfosis
Karya: Sapardi Djoko Damono
Taman Jepang, Honolulu

Inikah ketenteraman? Sebuah hutan kecil:
jalan setapak yang berbelit, matahari
yang berteduh di bawah bunga-bunga, ricik air
yang membuat setiap jawaban tertunda.

"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Taman Jepang, Honolulu
Karya: Sapardi Djoko Damono
Kami Bertiga

Dalam kamar ini kami bertiga:
aku, pisau dan kata -
kalian tahu, pisau barulah pisau kalau ada darah di matanya
tak peduli darahku atau darah kata.

"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Kami Bertiga
Karya: Sapardi Djoko Damono
Tajam Hujanmu

Tajam hujanmu
ini sudah terlanjur mencintaimu:
payung terbuka yang bergoyang-goyang di tangan kananku,
air yang menetes dari pinggir-pinggir payung itu,
aspal yang gemeletuk di bawah sepatu,
arloji yang buram berair kacanya,
dua-tiga patah kata yang mengganjal di tenggorokan
deras dinginmu
sembilu hujanmu

1982
"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Tajam Hujanmu
Karya: Sapardi Djoko Damono
Pertapa

Jangan mengganggu:
aku, satria itu, sedang bertapa dalam sebuah gua, atau sebutir telur, atau. sepatah kata - ah, apa ada bedanya. Pada saatnya nanti, kalau aku sudah dililit akar, sudah merupakan benih, sudah mencapai makna - masih beranikah kau menyapaku, Saudara?

1982
"Puisi: Pertapa (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Pertapa
Karya: Sapardi Djoko Damono
Jaring

Maka berpecahan bunga api.
Diam pun (katakan sesuatu, bisikmu) meretas
di antara berkas-berkas nafasmu.
Kubayangkan capung pada jaring laba-laba,
pada silangan-silangan cahaya.

"Puisi: Jaring (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Jaring
Karya: Sapardi Djoko Damono
Wijaya Kesuma

Di balik gunung, jauh di sana,
Terletak taman dewata raya,
Tempat tumbuh kesuma wijaya,
Bunga yang indah, penawar fana.

Hanya sedikit yang tahu jalan
Dari negeri sampai ke sana.
Lebih sedikit lagi orangnya,
Yang dapat mencapai gerbang taman.

Turut suara seruling Krisyna,
Berbunyi merdu di dalam hutan,
Memanggil engkau dengan sih trisna.

Engkau dipanggil senantiasa
Mengikuti sidang orang pungutan:
Engkau menurut orang biasa.

"Puisi: Wijaya Kesuma (Karya Sanusi Pane)"
Puisi: Wijaya Kesuma
Karya: Sanusi Pane
Tukang Potret Keliling

Cita-citanya tinggal satu: memotret
seorang pujangga yang ia tahu tak pernah suka
diambil gambarnya. Ia ingat bual
seorang peramal: “Kembaranmu akan
berakhir pada paras seorang penyair.”

Demikianlah, dengan tangan gemetar,
ia berhasil mencuri wajah penyair pendiam itu
dengan tustelnya. Ia bahagia, sementara
sang pujangga terpana: “Ini wajahku,
wajahmu, atau wajah kita?”

Tak lama kemudian tukang potret keliling itu
mati. Tubuhnya yang sementara terbujur
di sebuah ruangan yang dindingnya
penuh dengan foto karyanya.
Ada foto penyair. Tapi tak ada foto dirinya.

Kerabatnya bingung. Mereka tidak menemukan
potretnya untuk dipajang di dekat peti matinya.
“Sudah, pakai foto ini saja,” cetus seorang
dari mereka sambil diambilnya foto pujangga.
“Lihat, mirip sekali, nyaris serupa. Ha-ha-ha….”

Penyair kita tampak di antara kerumunan
pelayat yang berdesak-desakan
memanjatkan doa di sekeliling peti almarhum.
Ada seorang ibu yang dengan haru
mengusap foto itu: “Hatinya pasti manis.
Di akhir hayatnya wajahnya keren abis.”

2007
"Puisi: Tukang Potret Keliling (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Tukang Potret Keliling
Karya: Joko Pinurbo
Mata Waktu

Pagi menemukan mata di atas daun:
mata embun yang berbinar-binar
melihat matahari menghangatkan matamu.

Pagi berkata, “Ah, mata,
aku mau memasangmu pada batu
yang pendiam itu.”

Ah di situ berasal dari desah angin
yang merayap di leher bajumu.

Malam menemukan mata di gigir cangkir:
mata kopi yang menyala-nyala
menyaksikan hujan memandikan waktu.

Malam berkata, “Ah, mata,
aku mau memasangmu pada jam dinding
yang mengantuk itu.”

Ah di situ berasal dari haus rindu
yang singgah minum di bibirmu.

Subuh menemukan mata di atas buku:
mata ibu yang berjaga-jaga
menemani insomniamu.

Subuh berkata, “Ah mata,
aku mau memasangmu pada kening
yang tak mau tidur itu.”

Ah di situ berasal dari celah sunyi
yang menganga di pedalaman tubuhmu.

2012
"Puisi: Mata Waktu (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Mata Waktu
Karya: Joko Pinurbo
Toilet

I
Ia mencintai toilet lebih dari bagian-bagian lain
rumahnya. Ruang tamu boleh kelihatan suram,
ruang tidur boleh sedikit berantakan, ruang keluarga
boleh agak acak-acakan, tapi toilet harus
dijaga betul keindahan dan kenyamanannya.
Toilet adalah cermin jiwa, ruang suci, tempat
merayakan yang serba sakral dan serba misteri.

Bertahun-tahun kita mengembara mencari
wajah asli kita, padahal kita dapat dengan mudah
menemukannya, yakni saat bertahta di atas
lubang toilet. Karena itulah, barangkali, kita mudah
merasa was-was dan terancam bila melihat
atau mendengar kelebat orang dekat toilet
karena kita memang tidak ingin ada orang lain
mengintip wajah kita yang sebenarnya.

Demikianlah, ketika saya bertandang
ke rumahnya, tanpa saya tanya ia langsung berkata,
“Kalau mau ke toilet, terus saja lurus ke belakang,
putar sedikit ke kiri, kemudian belok kanan.”

Mungkin ia bermaksud memamerkan toiletnya
yang mewah. Begitu saya keluar dari toilet,
ia bertanya, “Dapat berapa butir?” Butir apa?

II
Nah, ia terbangun dari tidurnya yang murung
dan gelisah. Dengan bersungut-sungut ia berjalan
tergopoh-gopoh ke toilet. Keluar dari toilet,
wajahnya tampak sumringah, langkahnya santai,
matanya cerah: “Merdeka!” Sambil senyum-senyum
ia kembali tidur. Tidurnya damai dan pasrah.

Terus terang saya suka membayangkan
yang bukan-bukan kalau ia berlama-lama di toilet.
Apalagi tengah malam. Apalagi mendengar ia
terengah, mengerang, mengaduh, sesekali menjerit
lalu berseru, “Edan!” Seperti sedang
melepaskan rasa sakit yang tak tertahankan.

O ternyata ia sedang bertelur. Dan ia rajin ke toilet
malam-malam untuk mengerami telur-telurnya.
Bertahun-tahun ia bolak-balik antara kamar tidur
dan toilet untuk melihat apakah telur-telur
mimpinya dan telur-telur mautnya sudah menetas.

1999
"Puisi: Toilet (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Toilet
Karya: Joko Pinurbo
Keranjang

Perempuan itu membuat keranjang
dari benang-benang hujan
dan menggantungnya di beranda

di dalam keranjang ia tidurkan bayinya,
bayi yang rahim dari rahim senja.

Bila malam haus cahaya,
bayi mungil itu menyala
dan keranjang dirubung sepi di beranda.

2012
"Puisi: Keranjang (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Keranjang
Karya: Joko Pinurbo
Kebun Hujan

I
Hujan tumbuh sepanjang malam,
tumbuh subur di halaman.

Aku terbangun dari rerimbunan ranjang,
menyaksikan angin dan dingin hujan
bercinta-cintaan di bawah rerindang hujan.

Subuh hari kulihat bunga-bunga hujan
dan daun-daun hujan
berguguran di kebun hujan,
bertaburan jadi sampah hujan.

II
Kudengar anak-anak hujan
bernyanyi riang di taman hujan
dan ibu hujan menyaksikannya
dari balik tirai hujan.

Pagi hari kulihat jasad-jasad hujan
berserakan di kebun hujan.

Air mataku berkilauan
di bangkai-bangkai hujan
dan matahari menguburkan
mayat-mayat hujan.

2001
"Puisi: Kebun Hujan (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Kebun Hujan
Karya: Joko Pinurbo
Sjahrir, di Sebuah Sel
(untuk Rudolf Mrazek)

Dari jendela selnya,
(kita bayangkan ini Jakarta,
Februari 1965, dan ruang itu lembap,
dan jendela itu rabun),
ia merasa siluet pohon
mengubah diri jadi Des,
anak yang berjalan dari selat
memungut cangkang nyiur,
dan melemparkannya
ke ujung pulau.

"Aku selalu berkhayal tentang selat,
atau taman kembang, atau anak-anak."

Itu yang kemudian ditulisnya
di catatan harian.

Maka ditutupkannya daun jendela
dan ia kembali ke meja,
ke peta dengan warna laut
yang tak jelas lagi.

Ia cari kapal Portugis.

Tapi Banda begitu pekat, dan laut
menyembunyikan ingatannya.

(Seorang pemetik pala
pernah mengatakan itu
di sebuah bukit
kepada Hatta)

Kini ia mengerti: juga peta
menyembunyikan ingatannya,
seperti malam Rusia
menyembunyikan sebuah kota.
Tiap pendarat tak akan
mengenali letak dangau,
jejak ketam pasir,
batang rambai yang terakhir,
di mana sisa hujan
agak disamarkan.

"Sjahrir. Bukankah lebih baik lupa?"

Seekor ular daun pernah menyusup
ke sandalnya dan ia ingat ia berkata,
"Mungkin. Mungkin aku tak akan mati."

Esoknya ia berlayar.
Di jukung itu anak-anak mengibarkan
bendera negeri yang belum mereka kenal.

"Lupa adalah..."

"Jangan kau kutip Nietzsche lagi!"

"Tidak, Iwa. Aku hanya ingin tahu
sejauh mana kita merdeka."

Di beranda rumah Tjipto,
di tahun 1936 itu,
percakapan sore,
di antara pohon-pohon Naira,
selalu menentramkan.
"Jangan beri kami attar
dan tuhan imperial."
seseorang menirukan doa.

"Tapi kita dipenjarakan, bukan?"

Ya, tapi ini penjara yang pertama,
yang memisahkannya dari ingin
dan kematian.

"Ah, lebih baik kita diam,"
kata tuan rumah.
"Abad ke-20 adalah abad
yang memalukan."

Di sana, di beranda rumah Tjipto,
menjelang malam, di tahun 1936,
mereka selalu tertawa
mengulang kalimat itu.

Di sini, (kita bayangkan di Jakarta,
Rumah Tahanan Militer, 1965),
ia tak pernah merasa begitu sendiri.

Hanya ada suara burung tiung
(atau seperti suara burung tiung)
ketika siang diam.

Tapi ia takut duduk.

Ia tak ingin menghadap ke laut,
(andaikan ada laut),
seperti patung Jan Pieterszoon Coen,
seperti pengintai di menara benteng
yang menunggu kapal-kapal
di dekat langit
sebelum perang.

Ia tak ingin duduk.

"Siapa yang menatap jurang dalam,
jurang dalam akan menatapnya."

Mungkinkah ia sendiri
yang mengucapkannya di sel itu?

2014
"Puisi: Sjahrir, di Sebuah Sel (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Sjahrir, di Sebuah Sel
Karya: Goenawan Mohamad