April 2014
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Menyusur Tondano

Jip melambung berguncang-guncang
hadap-hadapan bukit, danau dan hutan
tenang kereta-kuda berderak memintas sawah
kusirnya petani muda yang ketawa dan gadis bersutera merah.

Menyusur danau jip berguncang-gucang
Tondano tak berteriak, bagai rumah tua yang ditinggalkan
dan kulik elang menjauh hilang
tapi petani itu mukanya riang mentertawakan:
Jalan jelek! Sabarlah, kita baru habis perang.

"Agam Wispi"
Puisi: Menyusur Tondano
Karya: Agam Wispi
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Username atau sering disebut nama pengguna memang bukan hal yang baru. namun beberapa menit yang lalu saya baru mengetahui; seorang teman saya masih tidak tau cara membuat username untuk Facebooknya, dan parahnya lagi; dia bahkan tidak tau apa itu UserName, haha (2014 woy??).

Ngak ngaruh sih, mau 2014, 2015, atau 2099 (ups, kejauhan). kalau ngak tau ya tetap ngak tau (emang iya, hehe). Parah amat pembukaannya? hehe.

AllRight, langsung ke KTP... Ups, TKP maksudnya, hehe.
  • Buka facebook Anda, Bisa Klik Di sini
  • Pada bagian "Sudut Kanan Atas" Halaman facebook, klik segitiga yang salah satu sudutnya kebawah (baru nyadar pas nulis nih postingan, hehe). lihat gambar :
http://ariefsigli.blogspot.com/2014/04/cara-membuar-username-di-facebook.html
  • Lalu pilih "Pengaturan". akan terlihat seperti gambar dibawah ini :

http://ariefsigli.blogspot.com/2014/04/cara-membuar-username-di-facebook.html
  • Pada "Pengaturan Umum" seperti gambar diatas pada pilihan nama pengguna silahkan klik"Sunting".
  • Kemudian isi "nama pengguna" (cek dulu tersedia apa tidak?), baru kemudian isi sandinya, And Than Pilih "Simpan Perubahan". Lihat gambar :
http://ariefsigli.blogspot.com/2014/04/cara-membuar-username-di-facebook.html
  • kalau sudah melakukan point no 6. dan berhasil itu artinya berhasil. dan Saya sebagai orang yang baik hati mengucapkan selamat atas keberhasilan Anda! hehe.


Cara berikut ini diperuntukkan bagi Facebookers yang memang belum pernah memiliki UserName, Kalau Sudah Pernah memilikinya silahkan Klik Cara Mengubah UserName Berkali-kali. Terimakasih sudah membaca! kalau kurang paham silahkan komentar!
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Cara menghapus FansPage sama mudahnya dengan cara membuatnya. Berikut caranya:
  • Buka Facebook Anda.
  • Langsung buka FansPage yang ingin Anda Hapus.
  • Note : tidak penting siapa pembuat FansPage, yang terpenting Anda harus memegang Akses Sebagai Admin Utama yaitu "Pengurus". kalau Anda bukan Pengurus, Hentikan membaca cara ini.
  • Jika note pada step nomor 2 terpenuhi, silahkan lanjut pada bagian paling atas Fanspage, klik: Sunting Halaman > Sunting Pengaturan > Umum:
  • Pada bagian Pengaturan Umum, Silahkan pilih pilihan paling bawah : Hapus Halaman > Hapus ... Lihat Gambar :
http://ariefsigli.blogspot.com/2014/04/cara-menghapus-fanspagehalaman-di.html

Nah, Sekarang FansPage Anda Sudah Terhapus. Namun tidak sepenuhnya, karena Anda masih diberi kesempatan untuk membatalkan penghapusan selama 14 hari (setidaknya sampai postingan ini dibuat), kedepannya pihak Facebook yang lebih tau.
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Cara buat Fanspage/Halaman di Facebook memang bukan hal yang baru untuk dibahas, Namun Saya hanya ingin melengkapi Isi dari Blog ini. Apa kata orang kalau blog sehebat ini tidak punya pembahasan dasar semacam ini, hehe (ngarep).

"Tidak penting amat sih pembukaannya?".
"Woy, diaaam! blog blog gue, apa urusan lho?" 😆(jeh kok macam komik aja ya?)
Hust, lupakan pembukaan, mari lanjut ke Topik!

Cara Membuat FansPage Facebook
  • Hal Pertama langsung saja Klik "Di sini".
  • Pilih kategori dan Isi nama untuk FansPage Anda dan langsung Klik "Memulai". lihat gambar :
Cara Membuat FansPage Di Facebook
  • Setelah itu langsung saja klik "Lewati" untuk semua komfirmasi. kalau mau isi komfirmasi juga boleh, Silahkan isi dan klik "Simpan". dan setelah 4 komfirmasi selesailah pembuatan FansPagenya.
Semudah itukah? yaiyalah, lagian jaman gini masih belum punya FansPage? apa kata Ariel NOAH? (jah, kok nama gua dibawa? ujar Ariel NOAH, hehe).
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kota Pendaki

Di kota kematian
aku ciptakan waktu

Menghembuslah sapi-sapi membawa rumput ke padang-
padang jagal. Membuka hotel-hotel telanjang. Aku karam 
dalam hutan besi-besi semata: Manusia! Daerah maut yang 
dilupa aku tangisi.

Di kota kematian rumput tak minta lagi padang-padang. Sapi 
membawa sendiri lehernya berkibar pada setiap pendakian. M
embawa laut-laut membawa gunung-gunung ke tanah-
tanah perhitungan. O monumen manusia yang goyang.

Bukan lagi tangis atau tepuk. Tapi langit! Akar yang menda
kinya. Laut mengibarkan pantai-pantai bagi setiap penantian, 
terangkat! Membongkar bintang-bintang tempat tangisku 
terbakar.

Di kota kematian
aku terus bertiup.

1981
"Afrizal Malna"
Puisi: Kota Pendaki
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Jalan-jalan Berteriak

Jam dada!

Jalan-jalan berteriak: dada
leher putaran ke waktu dada: nol-nol
membangunkan beribu dunia.

Leher berputar melilit tangan-kaki-kepala ke jam dada-
dada
mengukur semua. mengucur segala.
di jalan-jalan raya kehidupan.
dada hidup dalam seribu matahari
membangun manusia pecah di dada.

Jam waktu dada-dada.
tak habis dalam jalan-jalan berteriak
menyeru hidup: dada, dada

Aku hidup tak habis seribu dunia.

1983
"Afrizal Malna"
Puisi: Jalan-jalan Berteriak
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ulang Tahun bersama Wianta

Kami selalu membuat pesta bersama dewa-dewa di sini. Berenang dalam bahasa yang selalu mengucapkan selamat pagi kepada kamar mandi. Dewa kami terbuat dari enzym dan vitamin C. Bau kopi ketika mayat ayah kami mulai dibakar. Doa kami bukanlah hujatan kepada orang lain. Kepada kolam renang yang berbahagia, kepada tiang listrik yang terhormat, hari ini kami membacakan UUD. 1945 dengan KTP dan kartu kredit di tangan kami. Bunyi mata uang dari berbagai bangsa, devisa dan devisa menggetarkan tanah kami. Kami membuat ukiran dari naik turunnya harga saham. Kami menari bersama dewa-dewa di sini, bernyanyi bersama pohon-pohon yang akarnya menembus hingga kenangan-kenangan tentang waktu dan setiap perpisahan.

Kepada enzim dan vitamin C yang budiman, kepada kamar tidur yang melarikan diri dari listrik yang mati, hari ini kami ulang tahun bersama masa kanak-kanak kami. Besok menjemput tamu dari Rusia, memeriksa vibrasi otak dan tarian topeng. Ekonomi berjalan seperti sepatu yang tertukar dengan bahasa Jepang di sebuah restoran. Besok, kami ulang tahun lagi, seperti anak-anak yang merayakan ... negeri kami telah merdeka. Merdeka untuk berlibur dari sejarah dan memasang tiang listrik hingga ke dasar laut.

"Afrizal Malna"
Puisi: Ulang Tahun bersama Wianta
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Karung Merica Heinrich Heine dan Jangkar Tambora

Kau pakai tubuhku untuk berdiri di sini, tubuh dari bengkel ingatan. S
ekarang, 200 tahun berputar ke belakang, pamanku, saudagar “Si 
karung merica” itu, berdiri di balkon villanya, di pinggir sungai Elbe 
belum malam. Berulang kali, apa itu? Jaring laba-laba di antara arah 
mata angin: Layar kapal-kapal barang, kibaran bendera di bawah bau 
batu bara; melempar tambang ke depan dan ke belakang, menjerat 
pasar. Melintas seperti pisau lipat dalam teropong, berulang kali. Kau 
sedang menimbang beratnya waktu? Lada, merica, kopi, tembakau 
dan impian dari tenggara. Bau rempah-rempah yang tidak bisa 
dibekukan ke dalam robekan kata. Rasa heran pada sambal dan kulit 
duren. Berbelok, sebuah meriam seperti korek api dalam selimut, 
menatap garis kaki langit antara awan tebal dan kabut bergaram: 
“Dusseldorf, Hamburg, Berlin, Paris, Batavia ... puisi di bawah bising 
bengkel bahasa.”

Laut pasang – kesunyian jadi buas dal liar – masuk ke perut sungai. A
ir mengepung kota. Sungai Elbe mencakar tubuhku, melewati batas 
bernapas. Bias cahaya pada pantulan air, pantat kapal, reruntuhan 
ekonomi dan ringkik kuda napoleon. “Si karung merica” itu 
tenggelam, tetapi terus mengintai dengan teropongnya. Berulang kali: L
ompatan air pada dinding sungai, kayuhan kaki-kaki bebek 
meluncur menembus terbang: Cahaya matahari seperti tebaran emas 
tak bisa digenggam. Dan air surut. sebuah bungkusan hitam terapung-
apung di sungai. Terus memuntahkan asap dari Tambora, 1815, 
setelah 200 tahun (sekarang yang berulang). Sebuah gunung dari 
tenggara – melompat – menghentikan perang. Jangkar dari material 
vulkanik yang mengubah waktu, dijatuhkan di Wina. Pintu-pintu Asia T
enggara terbuka dan lepas.

“Si karung merica” kembali muncul di permukaan sungai. Berulang 
kali, apakah ini? Sebelum masa kini digital. Kapal-kapal konteiner, 
pesawat udara dan kamar chatting. Yang bebek teruslah bebek, yang 
sungai teruslah sungai. setelah 200 tahun jangkar diturunkan, sebuah 
teropong gila antara yang melihat dan dilihat. berdiri, seperti bengkel 
ingatan setelah lupa. di pinggir sungai elbe, setelah log out.


"Afrizal Malna"
Puisi: Karung Merica Heinrich Heine dan Jangkar Tambora
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ketukan-ketukan Kecil di Atas Dengkulku

Aku mengetuk-ngetuk dengkulku, ada tanah yang berjatuhan. Dengar. Tanah itu seperti sebuah malam minggu yang mati. Seperti sungai yang berjalan di atas jembatan. Dengkul tidak seperti kota yang kau bangun di mulut knalpot. Bukan sebuah kebahagiaan yang berisik seperti kantong plastik, tempat orang membuang malam dengan bercakap-cakap, dan mencari sedikit pelukan dari kesepian yang biasa. Pelukan yang biasa. Keparat. Seperti piring yang pecah dan meninggalkan lubang hitam di dalamnya. Lalu aku bangkit, dengkulku sudah tak ada. Dengkulku telah pergi dari tubuhku. Tubuh tanpa dengkul itu pun aku buang. Aku buang dekat jendela. Aku terkejut. Aku berada di mana kini? Di luar jendela atau di luar jendela. Siapa yang telah dibuang? Aku yang telah membuang tubuhku ke luar jendela, atau jendela itu yang telah membuangku? Bagaimana aku menentukan arah tanpa bersama tubuhku? Lalu kucing berpesta di malam minggu. Membuat negara dari piring-piring pecah. Aku lihat piring pecah di malam minggu. Aku lihat malam minggu pecah di lubang hitam yang mulai berotot itu. Aku dengar dengkulku menyembunyikan semuanya. Tentang tanah yang berjatuhan di atas bantal tidurmu. Tentang korek api dalam tubuhmu.


"Afrizal Malna"
Puisi: Ketukan-ketukan Kecil di Atas Dengkulku
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
(Hamlet)

Buat Imas Darsih, sutradara Miss Tjitjih
Setelah pertunjukan hamlet dalam bahasa Sunda

Koper itu telah terbuka
bau perjalanan bersarang dalam handuk lembab
matahari jam 9 pagi, rima dari sinar hangat
                        (pagi)
Bau ikan asin dari penggorengan
batas antara bibir dan hantu-hantu kenangan
jemari tanganku sudah tak merasakan lagi
– rokok masih menyala yang kuhisap
                        (lepas):

Bagaimanakah
Bagaimanakah
Bagaimanakah? Membedakan
tubuh kekasih dan tubuh seorang ibu. Bau yang telanjang
rute yang tidak pernah sama untuk
memelukmu: tutorial tentang cinta dan rahasia
di tangan para penjaga malam yang malam

asap tembakau keluar dari dalam koper
mengurai merkuri dari racun kenangan
tentang homo habilis
mereka sedang menghisapnya:
- KTP
- Paspor
- Kartu nikah
- Potongan pajak puisi
- NPWP
- ATM dan sikat gigi
- (😊)

Koper beri aku visa, koper
(hutan telah terbakar di depan istana)
singgasana yang cerewet dalam bau darah
Adegan yang Disensor:
- Hamlet keluar dari pintu belakang
- tapi dia juga keluar dari pintu depan
- dia masuk lagi ke dalam yang di luar

Beri aku visa
: untuk pulang ke dalam rumah sendiri.


"Afrizal Malna"
Puisi: (Hamlet)
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Workshop 5: Tawanan Aku

Gema suaranya kembali lagi membuat dinding bunyi
dari suaranya
berdiri melingkar
di depan bulatan penuh perangkap waktu
jari-jari yang menggenggam tikus
dan perangkapnya di belakang membuat makan malam
seperti bayangan yang meninggalkan bentuknya
memecah, tertawa, kisah-kisah perang yang
dimuntahkan kembali dari ketakutannya
cermin yang menjadi buta ketika melihat
dinding di dalamnya
dan selembar rambut di atas koran pagi
air yang menyeberang di atas jembatan
melintasi sungai
melintasi tetesannya
tanpa prasangka di hadapan daun kering yang
menyimpan gema dari
hutannya.


"Afrizal Malna"
Puisi: Workshop 5: Tawanan Aku
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Mantera

Raja dari batu hitam,
di balik rimba kelam,
Naga malam,
mari kemari!

Aku laksamana dari lautan menghantam malam hari
Aku panglima dari segala burung rajawali
Aku tutup segala kota, aku sebar segala api,
Aku jadikan belantara, jadi hutan mati

Tapi aku jaga supaya janda-janda tidak diperkosa
Budak-budak tidur di pangkuan bunda
Siapa kenal daku, aku kenal bahagia
tiada takut pada pitam,
tiada takut pada kelam
pitam dan kelam punya aku

Raja dari batu hitam,
Di balik rimba kelam,
Naga malam,
Mari kemari!

Jaga segala gadis berhias diri,
Biar mereka pesta dan menari
Meningkah rebana
Aku akan menyanyi,
Engkau berjaga dari padam api timbul api.
Mereka akan terima cintaku
Siapa bercinta dengan daku,
Akan bercinta dengan tiada akhir hari

Raja dari batu hitam
Di balik rimba kelam,
Naga malam,
Mari kemari
Mari kemari,
Mari!

1949
"Asrul Sani"
Puisi: Mantera
Karya: Asrul Sani
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Mahakam

Ada sebuah tongkang
Bergerak lamban
Menuju hulu. Ada sebuah detik
Berdetak nyaring di pergelangan tangan

Sebuah sajak yang sangsai
Kalimat-kalimatnya tak kunjung
Selesai. Seperti ajal
Yang senantiasa mengintai.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Mahakam
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kematian Kecil

Lekuk tubuhmu sedikit lebih indah
Dari lukisan-lukisan Cucchi atau patung-patung
Attardi. Tapi di mana letak roh dan cinta
Jika yang mengalir dari kelopak matamu
Bukan sekedar birahi? Ada susunan cahaya
Bertumpuk seperti kunang-kunang
Melukis kesunyian di bumi

Pandanganmu sedikit lebih redup
Dari kerlip lampu. Tapi jika kecerdasan ibarat senja
Maka pengetahuan adalah cakrawala yang diwarnai
Semburat darahmu. Tak bisa kubaca apapun
Menatap cahaya merabunkan mataku yang nanar
Lebih baik kutulis sajak-sajak kasmaran untukmu
Serta kutanam mawar di gua-gua pertobatanku

Jika kerinduan ini ibarat kematian kecil
Maafkanlah apabila kuhasratkan kiamat besar
Untuk lebur atas nama cinta. Isyarat matamu yang jenaka
Terlalu samar untuk kuraba dengan perasaanku yang liar
Sedang dari persembunyianku jauh di lubuk hati
Telah kuhabiskan seluruh musim dan matahari
Hingga aku kehilangan bumi untuk menapak
Serta langit untuk meletakkan kepala.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Kematian Kecil
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tak Kujanjikan

Tak kujanjikan kemegahan apa pun padamu
Di atas lumpur tidurku masih lelap, dipeluk gelap
Segala yang gemerlap kujauhi semenjak mengenal sunyi
Yang membenamkan cahayanya ke balik mimpiku
Lalu bercerita tentang pengorbanan, tentang keikhlasan
Yang segala-galanya bagi pecinta

Dari reruntuk cahaya yang membakar itu
Masih ingin kususun matahari lain, rembulan lain
Tapi tak ingin bicara tentang kemegahan atau semacamnya
Hidup hanyalah kesakitan kecil, kepedihan sederhana
Yang menyimpan keteguhan bumi
Sebagai pecinta, tak kuharapkan apa pun selain mati.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Tak Kujanjikan
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di Masjid Salman
(Buat Anne Rufaidah)

Pertemuan tercipta dari kata
Malam putih berlantai sabda
Di rumah Tuhan yang sunyi, sukma kita
Berbenih: berjabatan dalam sanubari

Terbukalah malam yang bisu
Dinding-dinding beku
Sejenak kita pun tanpa derita, belia
Hanyut oleh ayat-ayat bening dari rongga masjid
Ayat-ayat Tuhan yang basah oleh cinta

Pertemuan terlahir dari doa yang papa
Mengetuk gerbang rahasia: pintu jiwa abadi
O, alangkah dinginnya rumah suci ini
Dan kita bertahan, di sini, membasuh luka dunia

Sejenak kita pun mengukir pesona semesta
Dalam pesta cahaya: bulan dan bintang dan sasmita
Bertabur di setiap jiwa daif, jiwa yang terbuka
Malam putih banjir sungai kasih: muara hati
Ayat-ayat keabadian berdenting sunyi.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Di Masjid Salman
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Rocca Paolina

Sebuah lorong gelap
Dengan ruang-ruang berceruk
Dinding kasar dan tangga-tangga
Yang berkelok. Kudengar sebuah suara
Dari lubuk kegelapan
Seperti jeritan tembok-tembok tua
Yang ditanam kekekalan di balik bumi
Di sekelilingku waktu memadat dan membeku
Jalanku sempit dan langkahku terbendung
Sebuah patung pecah dan berantakan
Relief pada dinding penuh coretan tangan
Di sela botol-botol aku merangkak dan melolong
Memasuki labirin puing-puing

Kukenal kegelapan lebih dari langkahku sendiri
Cahaya di luar hanya dihubungkan hangatnya anggur
Dengan tenggorokanku. Sebuah jendela kecil
Dari dinding ratusan tahun yang retak
Tak bisa menyerapku lebih jauh ke luar
Kulihat bintang-bintang padam di sebagian langit
Lalu sepotong bulan melelehkan darah segar
Dari celah kecil ini tak kulihat lambungmu yang luka
Suaramu hanya kudengar dari balik bumi
Jeritan yang menggetarkan bangunan besar ini
Tapi seperti ada yang bergerak pada aortaku
Sebuah kereta api meluncur dengan deras
Dan aku menggelepar di tengah gelap

Di ceruk terdalam
Pikiranku tumpah dan menggenang
Lorong kematian segera menyerapnya
Dengan melepaskan kepalaku dari pikiran-pikiran
Yang liar. Kudengar kepak ribuan kelelawar
Seperti membentangkan langit yang lain
Di antara suara dan kebisuanmu yang abadi
Aku tak tahu mana nyanyian atau kutukan
Tapi langitmu semakin lebar dan tinggi
Sedang bumi membeku dan tak peduli
Aku mencapai sebuah dasar dan terdiam di sana
Seekor kucing berlumuran darah
Lalu kepak angin terdengar nyaring.

1992
"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Rocca Paolina
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sacré Cœur

Lewat pasar yang riuh
Lewat deretan panjang kaki lima
Lewat tangga yang disandarkan
Ke bukit. Aku merasa tak akan sampai
Ke puncak menara Sacré Cœur

Aku pun diam
Aku pun terpaku
Menghitung detak waktu
Yang disirami butir-butir salju
Di lereng bukit itu

Pada ranting-ranting pohon linden
Kulukiskan raut wajahmu
Yang runcing namun bertenaga
Lalu kusimpan sebuah nama
Di bawah judul sajak
Tentang cinta
Yang belum selesai kutuliskan

Angin mendengung dan burung-burung
Tak bisa berlindung
Dari dingin. Menara menjulang
Dan udara yang basah
Terasa menekan

Seperti ada yang tersembunyi
Dari balik mantel bulumu
Yang tebal. Salju berhamburan
Dari rambutmu yang ikal

Harum restoran
Tercium dari napasmu
Suaramu bergelombang di udara
Kakimu menginjak awan
Yang berkilauan dan penuh pahatan

Aku merasa tak akan sampai
Ke puncak menara Sacré Cœur.

1997
"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Sacré Cœur
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kelopak Musim Semi
(kepada Helen Werrbach yang memanggang rotiku kering yang menisik piamaku sobek)

Di Teluk Ikan Putih, telah terjangkar jasmaniku di pelabuhannya
Pada kapal-kapal yang masuk dan tertambat sehari-hari
Anak-anak camar bertebar atas arus melancar
Dan perbukitan dandan perlente pina-pina berduri

Di Teluk Ikan Putih menutup siang musim semi panjang
Pada langitnya keruh asap, bayang bangunan dan baja
Di perut kota bangkitlah malam sambil melenggang
Dan dermaganya hening lelap, berlelehan kristal kaca

Selamat jalan, malam-malam putih berhujan kapas
Lewati perairan alim dengan pipinya dingin
Masih ada yang berlinangan di sela pori-pori karang
Kenangkan musim yang agung. Dan membelatinya angin
Berjabatlah dengan teluk kami, persinggahan di tahun datang.


30 Oktober 1957
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Kelopak Musim Semi
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Jose Rizal
(Acep, Agus, Saya dan Abidah
ketika ke luneta berziarah)

Pada suatu hari Revolusi Filipina
Mahkamah militer Spanyol di Manila
Menebas nyawa putera Calamba dari Laguna
Seorang revolusioner pada umur tiga puluh lima
Dibuang ke Dapitan, Mindanao empat tahun lamanya
Dia dokter cendekia yang sangat muda
Dua novel penting panas dari tangannya
Filipina tertelungkup, tanah pun basah air mata

99 tahun kemudian empat penyair Indonesia
Tegak di depanmu di Taman Luneta
Angin berhenti bertiup dari arah Teluk Manila
Matahari tergelincir ke dalam Laut Cina Selatan
Eksekusi 30 Desember 1896 serasa lagi berletusan
Di depan Intramuros dari sini agak ke selatan
Gema tembakan jauh menyeberangi lautan

Puisimu Mi Ultimo Adios sampai ke negeri kami
¡ Mi Patria idolatrada, dolor de mis dolores
Querida Filipinas, oye el postrer adiós!            
Tanah air pujaanku: dukacita perdana atas segala nestapa
Filipina tercinta, dengarkan salamku terakhir kali! ... *)
Bait-bait kepedihan bangsa bagian dari inspirasi
Puisi yang kau tulis beberapa saat sebelum ditembak mati
Soekarno, Rosihan Anwar dan Anwar Ibrahim hafal puisi ini
Tapi ada lagi satu hal luar biasa terjadi
Namamu sangat banyak dipakai di Sumatera Barat, sebuah propinsi
Bahkan sampai hari aku menulis puisi yang satu ini
Sementara Peto Syarif atau Imam Bonjol, nama pahlawan sendiri
Tidak jadi pilihan nama yang masuk ke dalam hati orang kami
Begitu kulihat di buku telepon Padang sampai Bukittinggi

Seorang revolusioner, dokter, sastrawan dan cendekia
Meninggalkan 7000 pulaunya dalam umur sangat muda.


1996
Terjemahan Tjetje Jusuf
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Jose Rizal
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kembalikan Merah Putih Kepada si Toni
(Kepada Hariman, Rendra, Judilherry, semuanya)

Upacara berjalan dengan irama yang terpelihara
ketika hari agak panas sudah terasa
ketika matahari pun bertingkah gembira
ketika dikirimkannya cahaya yang merata
ketika semua tertib di kelurahan desa

Upacara berjalan dengan jadwal yang terpelihara
ketika jajar barisan disusun aba-aba
ketika dikerek pelahan sehelai bendera
ketika pidato dibaca, disudahi dengan doa
ketika semua santun di kelurahan desa

Upacara berjalan dengan irama agak terganggu
ketika ada anak kecil yang berseru
ketika katanya “Terbalik warna bendera itu!”
ketika semua menengadah ke langit panas dan biru
ketika semua silau, warna nampak tak menentu

Upacara berjalan dengan jadwal yang mesti dipelihara
ketika anak kecil cuma yang meneriakkannya
ketika dia minta bendera dikembalikan letaknya
ketika dia minta bendera dikembalikan padanya
ketika dia diukur budi pekertinya
ketika tidak santun adalah menggaduh suasana

Upacara berjalan dengan irama yang lugas
di desa kelurahan Sugih Waras
desa yang konon Kaya Raya
kampung yang Sehat Afiat
tua-tua yang Penuh Petua
berjajar tepat di bawah Tiang Bendera
anak-anak yang konon Buta Warna
diarak duduk di ruang Akhlak Sempurna

Ketika cahaya matahari
Tak bisa membentangkan pelangi
Berwarna-warni
Ketika gerimis
Mulai lagi mengiris
Bumi yang menangis
Ketika anak-anak tetap bersorak
Seraya diarak
Dengan suara serak

“Kembalikan 
Merah-Putih 
padaku.”

Agustus, 1979
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Kembalikan Merah Putih Kepada si Toni
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Penerbangan Terakhir

(I)
Pernahkah terlintas dalam pikiranmu
Ketika pesawatmu baru lepas landas
Ketika engkau meneguk secangkir air jeruk
Dan kabin dikuasai udara sejuk
Bahwa bersamamu, mungkin di ruang di bawah kakimu
Atau di bagian belakang situ
Ada penumpang ikut melayang
Tapi posisinya terbaring menelentang
Dalam peti yang pengap udara
Dalam struktur yang kedap suara
Hitam atau coklat tua warnanya
Penumpang ini tak kau temukan namanya
Dalam kertas manifes yang biasa
Dia tidak mendapat hidangan makan siang
Atau petunjuk menyelamatkan badan
Karena bagian dunia baginya, selesai sudah persoalan
Tinggal lagi menunggu hari penguburan
Yang masalahnya luar biasa rawan.

(II)
Kini, pesawatmu melayang dalam tinggi 37.000 kaki
Cuaca musim panas di belahan bumi sini
Pilotmu mengguratkan baris tipis di peta angkasa
Di bawah bulan sabit berumur lima hari
Di atas Lautan Teduh, biru hitam malam hari
Ketika para penumpang sibuk menyelenggarakan gizi
Ada yang mengganyang ayam teriyaki dengan pucuk brokoli
Disusul putik jagung, terung bakar dan potongan roti
Engkau mengunyah ikan kerapu masam dan legi
Sesudah secawan puding kau minta lagi krim dan kopi
Dalam keadaan lezat dan kau lupa segala ini
Di kursi 25 F sebelahmu seorang penumpang
Menepuk bahu kirimu
Engkau tidak merasa itu
Karena kursi itu kosong menurut perasaanmu
Dia menepukmu sekali lagi
Dan kau tetap tak merasa
Ketika tenggorokanmu sibuk mengatur irigasi kopi
Dia pun duduk, tersandar seperti terapung
Ingin berkomunikasi tapi tak bisa, baru dia sadar lagi
Dan ketika kau mengisi formulir bea-cukai dan imigrasi
Penumpang 25 F melongok namamu jelas sekali
Dia mempelajari profil wajahmu sebelah kiri
Engkau kini terengah kekenyangan
Dan mulai mengantuk
Dan seluruh penumpang kompak mengantuk
Dan malaikat melepaskan pasak-pasak pelupuk mata
Dua ratus lima belas pasang mata serempak tertutupnya.

(III)
Penumpang 25 F bangkitlah pelahan
Ditatapnya adegan tidur yang massal itu
Engkau ditinggalkannya kini
Dia bergerak di gang seolah melayang
Dikawal dua malaikat kanan dan kiri
Diikat dua utas rantai, berayun-ayun
Melewati sebuah tempat tidur kecil
Tiba-tiba terdengar tangis sang bayi
Dia menoleh sekejap
Kemudian di pertengahan jalan
Dia membenam ke lantai
Tembus masuk, ke ruang bagasi
Kini duduklah dia di atas peti-mati
Memandang wajahnya sendiri.

(IV)
Pesawat menderu di atas Samudera Pasifik
Malam biru hitam, dingin dan dalam
Menembus papan peti mahogani, nampak olehnya
Tangannya bersidekap, kanan di atas yang kiri
Kafan tiga lapis, lutut diikat, rahang dibebat
Kedua matanya berlapis kapas terpejam erat
Dia ingin menghambur masuk ke badannya lagi
Tapi tidak bisa
Rantai malaikat terayun-ayun, berdenting-denting
Sejuta mata rantai, sejuta simpul penyesalan
Betapa inginnya dia membangunkan dirinya sendiri
Dan mengulang semua ini lagi
“Bangun, bangun!’ serunya pada jasadnya
Wajahnya kaku dan dingin, mulai berbau
Matanya dua gumpal kapas, putih dan bisu
“Bangun, bangun!” serunya sedih, seraya memukul peti
Pukulannya keras, bablas ke bawah
Menembus tumpukan kopor penumpang
Dinding perut pesawat
Tersangkut dia di gumpalan awan mengandung hujan
Kedua malaikat menariknya keras
Rantai menegang, meregangnya ke atas
Terbentur di langit-langit proyektor pesawat
Terduduk lagi dia, di kursi deret 25, huruf F
Dilihatnya engkau tidur terteleng miring ke kanan
“Bangun, bangun!” serunya, dikusainya rambutmu
Diguncang-guncangnya kepalamu
Engkau tak merasa itu
Padahal rantai sesalnya terikat di selimutmu
Tetap tak ada yang mendengar
Tiada yang menggeliat
Semuanya tidur di atas lambung yang padat
Sesudah makan bistik Yokohama
Semua pulas, termiring-miring itu kepala
Sesudah nonton filem Amerika
Semuanya jauh melakukan perjalanan
Melalui perencanaan dan pembiayaan
Dengan mata tertutup kedua-duanya
“Bangun, bangun!” serunya
Dia melayang-layang kencang
Di atas 215 kepala penumpang
Seraya menempelengi pipi kiri dan kanan
Tak  ada yang terjaga atau siuman
Dia berhenti dan menggerincingkan rantainya
“Dengar ini, dengar”, serak suaranya
Seluruh bumi dan langit mendengarnya
Kecuali manusia.

(V)
Tiba-tiba bayi tadi menggeliat
Menangis dengan suara tipis tetapi kuat
Namun orang tuanya tidak terbangun jua
Dia mendekati bayi berpopok putih itu
“Wahai lucunya kamu sebagai bayi...
Dengar dia menangis kini
Seperti pada waktu kontraksi rahim ibunya
Ruhnya itu, yang menangis itu
Dia melejit ke dunia
Dan menangis tersedu-sedu
Semua bayi lahir menangis
Tak ada yang lahir terkekeh-kekeh
Dia tahu sesaknya kelak bernafas menghirup udara
Memarnya lutut merangkak di atas peta dunia
Repotnya menangkap capung beterbangan di halaman
Dan terus-terusan mereguk air lautan
Dan betapa cuek dan luas kuap menganga
Bersenda-gurau dengan umur
Menabung nikmat jangka pendek
Mengunyah-ngunyah daging saudara kandung
Bermain api dengan sesal
Sesal akhir yang tak jelas akhirnya
Wahai ruh bayi
Menangislah keras-keras
Agar terbangun kedua orangtuamu
Dan penumpang bahtera semuanya.”
Maka menangislah ruh bayi itu keras-keras
Kedua tangan yang alit itu seperti terkejang-kejang
Kakinya pun menerjang-nerjang
Suaranya melengking lalu menghiba-hiba.

(VI)
Tak ada yang mendengarnya
Tak ada yang menyimaknya
Karena semua grrrh, fuuu ...
Tak ada yang menggeliat
Karena semua grrrh, fuuu ...
Semua tidur terkenyang-kenyang
Sesudah usus ditimbun menu Jepang
Grrrh, fuuu ...
Semua pulas, mulut lumayan menganga
Sesudah dipulas mentega Skandinavia
Grrrh, fuuu ...
Semuanya jauh melakukan perjalanan
Menggunakan perencanaan dan besarnya pembiayaan
Tapi mata tertutup kiri dan kanan
Grrrh, fuuu ...

(VII)
Seperdua bola dunia, bagai tempurung gelita
Gemuruh mesin pesawat lenyap diserap mega dan samudera
Gelap dan dingin pada ketinggian 37.000 kaki
Penumpang 25 F duduk di luar pesawat
Dia mencangkung di atas atap kelas bisnis
Rambutnya tak kusut, tak sehelai beringsut
Walau angin menyisirnya 800 km per jam
Dia memandang ke depan, seolah mempelajari gelap
Rantainya terjela-jela
Dia sangat ingin menangis
Tapi tak ada lagi persedian air mata
Sepotong bulan berumur lima hari
Mengirim pantulan cahaya lima watt, dari atas sana
Semua sunyi
Semua dingin
Penumpang 25 F, berpeluk lutut di atas kelas binis
Tinggal beberapa jam saja jaraknya
Dari acara penguburan jasadnya
Pada saat itu juga
Mayat-mayat beterbangan di udara
Dalam suatu jaringan penerbangan tak pernah diumumkan
Mereka berpapasan sesama mereka
Mereka tak sempat lagi bertegur sapa di udara
Betapa basa-basi yang percuma
Betapa berat rantai yang mengebat gerakan
Dia melihat ke bawah kini
Semua penumpang bahtera ini
Tidur sepulas-pulas tidur
Betapa sukarnya
Membangunkan mereka
Grrrh, fuuu ...
Grrrh, fuuu ...

LA-NY, 1988
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Penerbangan Terakhir
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Menengadah ke atas, Merenungi Ozon yang Tak Tampak

Langit masih biru di atas halaman dan kampungku
Awan dengan beberapa juta jemarinya,
saling berpegangan bergugus-gugusan
Mereka bergerak perlahan bagaikan enggan
Masih adakah angin yang bertugas dalam keindahan
Aku tidak mendengar lagi suara unggas dan siamang
Seperti di desaku Baruh, di masa kanakku
Kini yang beringsut adalah gemuruh kendaraan
Menderu di jalanan kota besar
Menderu di jalanan kota sedang
Menderu di jalanan kota kecil

Semua berkejaran dalam jalur nafkah dunia
Semua menanam mesin dan menabur industri
Semua memburu panen angka-angka
Bergumam dan menderam dalam paduan suara
Kemudian selesma, bersin lalu terbatuk-batuk
Punggungmu jadi terbungkuk-bungkuk
Siapa yang akan mengurutmu di bagian tengkuk
Danau yang menyimpan warna biru
kenapa engkau jadi kelam dan hijau
Sungai yang meluncurkan air berkilau
Kenapa engkau keruh, suaramu sengau
Hutan yang menutup daratan, perbukitan dan gunung
kudengar tangismu dipanggang nyala api
seraya kesakitan engkau melahirkan
luasan gurun pasir kering kerontang
Mereka menggergaji dua lubang raksasa di atas sana
Terdengarkah olehmu gemeretak suaranya
Pasukan klor yang garang membantai lapisan ozon
Dan lewat sobekan-sobekannya
menerjuni kawah stratosfer menganga

Meluncur-luncurlah gerimis sinar ultra ungu
Menusuki kulit bumi
Menusuki daun-daunan
Menusuki kulit kita
dan mengukir rajah kanker
dengan tinta ultra ungu
Dan makin panaslah kulit bumi
Engkau akan jadi penghuni padang pasir
Aku akan mengukur bentangan kersik membara
Di atas unggun ini
Akan kita kemanakan anak-cucu kita
Bongkahan es di kedua kutub, utara selatan
Dikabarkan meleleh perlahan-lahan
Menggenangi kota-kota pelabuhan
Di atas unggun, dikepung pasang lautan
Akan kita kemanakan anak-cucu kita
Mereka bertanya
Masih adakah angin yang bertugas dalam keindahan
Engkau terpaksalah berkata
Ada memang getar sejuta senar gitar
Tapi kini nyanyian lagu radiasi
Yang melelehkan air mata terlambat sekali
Jatuh membasahi catatan-catatan keserakahan
Ketika semua menanam mesin dan menabur industri
Ketika semua memburu panen angka-angka
Berkejaran dalam jalur nafkah dunia
Lalai membaca isyarat-isyarat demikian jelasnya
Dari Pemilik Semesta yang menitipkan ciptaan-Nya
Pada kita semua.

1989
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Menengadah ke atas, Merenungi Ozon yang Tak Tampak
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pelabuhan Sebelum Pasang

Jika kau bertanya, kesepian, maka lautlah jawabanku
Jika kau menyapa, kesedihan, maka topanlah ujarku
Pelayaran panjang yang mengantarkan kita
Dalam gelombang benua

Di kuala perairan, ketika malam sangat muda
Lentera tiang palka, di ruang makan dan buritan
Gemetaran dalam garis putus-putus di pelabuhan
Anak arus yang naik dan turun perlahan

Menjelang pelayaran bila badai berbadai
Bercurahan bintang di langit bersemu biru
Gemulung mendung yang menyarankan napas gelombang
Guruh lagumu, wahai pelayaran yang panjang!

Kalau kau bertanya, tiga peluit di tiap pelabuhan
Setiap kita bertolak kembali mengemas jangkar tali-temali
Adalah jurang-jurang lautan dengan kandil bintang selatan
Bertetaplah 'ngembara untuk pelayaran panjang sekali.

1964
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Pelabuhan Sebelum Pasang
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Bulan

Bulan pu merah
Dan tersangkut
Pada rimba musim gugur

Sungai pun lelah
Dan mengangkut
Daun-daun bertabur

Padang-padang jagung
Serangga mendesing
Baling-baling
Berpusing

Lembu mengibas-ngibaskan
Ekornya
Jerami
Terpelanting

Bulan merah
Tersangkut
Ke bawa rimba
Musim gugur.

1972
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Bulan
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Yell

Tiga truk terbuka
Lewat depan rumah
Mereka menyanyi gembira
“Buat Apa Sekolah”

Tas buku di tangan kiri
Dibakar matahari, tak bertopi
Mereka meneriakkan Kebenaran
Yang telah lama dibungkamkan.

1966
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Yell
Karya: Taufiq Ismail