Jose Rizal
(Acep, Agus, Saya dan Abidah
ketika ke luneta berziarah)

Pada suatu hari Revolusi Filipina
Mahkamah militer Spanyol di Manila
Menebas nyawa putera Calamba dari Laguna
Seorang revolusioner pada umur tiga puluh lima
Dibuang ke Dapitan, Mindanao empat tahun lamanya
Dia dokter cendekia yang sangat muda
Dua novel penting panas dari tangannya
Filipina tertelungkup, tanah pun basah air mata

99 tahun kemudian empat penyair Indonesia
Tegak di depanmu di Taman Luneta
Angin berhenti bertiup dari arah Teluk Manila
Matahari tergelincir ke dalam Laut Cina Selatan
Eksekusi 30 Desember 1896 serasa lagi berletusan
Di depan Intramuros dari sini agak ke selatan
Gema tembakan jauh menyeberangi lautan

Puisimu Mi Ultimo Adios sampai ke negeri kami
¡ Mi Patria idolatrada, dolor de mis dolores
Querida Filipinas, oye el postrer adiós!            
Tanah air pujaanku: dukacita perdana atas segala nestapa
Filipina tercinta, dengarkan salamku terakhir kali! ... *)
Bait-bait kepedihan bangsa bagian dari inspirasi
Puisi yang kau tulis beberapa saat sebelum ditembak mati
Soekarno, Rosihan Anwar dan Anwar Ibrahim hafal puisi ini
Tapi ada lagi satu hal luar biasa terjadi
Namamu sangat banyak dipakai di Sumatera Barat, sebuah propinsi
Bahkan sampai hari aku menulis puisi yang satu ini
Sementara Peto Syarif atau Imam Bonjol, nama pahlawan sendiri
Tidak jadi pilihan nama yang masuk ke dalam hati orang kami
Begitu kulihat di buku telepon Padang sampai Bukittinggi

Seorang revolusioner, dokter, sastrawan dan cendekia
Meninggalkan 7000 pulaunya dalam umur sangat muda.


1996
Terjemahan Tjetje Jusuf
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Jose Rizal
Karya: Taufiq Ismail

Post a Comment

loading...
 
Top