loading...

Kota Pendaki

Di kota kematian
aku ciptakan waktu

Menghembuslah sapi-sapi membawa rumput ke padang-
padang jagal. Membuka hotel-hotel telanjang. Aku karam 
dalam hutan besi-besi semata: Manusia! Daerah maut yang 
dilupa aku tangisi.

Di kota kematian rumput tak minta lagi padang-padang. Sapi 
membawa sendiri lehernya berkibar pada setiap pendakian. M
embawa laut-laut membawa gunung-gunung ke tanah-
tanah perhitungan. O monumen manusia yang goyang.

Bukan lagi tangis atau tepuk. Tapi langit! Akar yang menda
kinya. Laut mengibarkan pantai-pantai bagi setiap penantian, 
terangkat! Membongkar bintang-bintang tempat tangisku 
terbakar.

Di kota kematian
aku terus bertiup.

1981
"Afrizal Malna"
Puisi: Kota Pendaki
Karya: Afrizal Malna

Post a Comment

loading...
 
Top