Penerbangan Terakhir

(I)
Pernahkah terlintas dalam pikiranmu
Ketika pesawatmu baru lepas landas
Ketika engkau meneguk secangkir air jeruk
Dan kabin dikuasai udara sejuk
Bahwa bersamamu, mungkin di ruang di bawah kakimu
Atau di bagian belakang situ
Ada penumpang ikut melayang
Tapi posisinya terbaring menelentang
Dalam peti yang pengap udara
Dalam struktur yang kedap suara
Hitam atau coklat tua warnanya
Penumpang ini tak kau temukan namanya
Dalam kertas manifes yang biasa
Dia tidak mendapat hidangan makan siang
Atau petunjuk menyelamatkan badan
Karena bagian dunia baginya, selesai sudah persoalan
Tinggal lagi menunggu hari penguburan
Yang masalahnya luar biasa rawan.

(II)
Kini, pesawatmu melayang dalam tinggi 37.000 kaki
Cuaca musim panas di belahan bumi sini
Pilotmu mengguratkan baris tipis di peta angkasa
Di bawah bulan sabit berumur lima hari
Di atas Lautan Teduh, biru hitam malam hari
Ketika para penumpang sibuk menyelenggarakan gizi
Ada yang mengganyang ayam teriyaki dengan pucuk brokoli
Disusul putik jagung, terung bakar dan potongan roti
Engkau mengunyah ikan kerapu masam dan legi
Sesudah secawan puding kau minta lagi krim dan kopi
Dalam keadaan lezat dan kau lupa segala ini
Di kursi 25 F sebelahmu seorang penumpang
Menepuk bahu kirimu
Engkau tidak merasa itu
Karena kursi itu kosong menurut perasaanmu
Dia menepukmu sekali lagi
Dan kau tetap tak merasa
Ketika tenggorokanmu sibuk mengatur irigasi kopi
Dia pun duduk, tersandar seperti terapung
Ingin berkomunikasi tapi tak bisa, baru dia sadar lagi
Dan ketika kau mengisi formulir bea-cukai dan imigrasi
Penumpang 25 F melongok namamu jelas sekali
Dia mempelajari profil wajahmu sebelah kiri
Engkau kini terengah kekenyangan
Dan mulai mengantuk
Dan seluruh penumpang kompak mengantuk
Dan malaikat melepaskan pasak-pasak pelupuk mata
Dua ratus lima belas pasang mata serempak tertutupnya.

(III)
Penumpang 25 F bangkitlah pelahan
Ditatapnya adegan tidur yang massal itu
Engkau ditinggalkannya kini
Dia bergerak di gang seolah melayang
Dikawal dua malaikat kanan dan kiri
Diikat dua utas rantai, berayun-ayun
Melewati sebuah tempat tidur kecil
Tiba-tiba terdengar tangis sang bayi
Dia menoleh sekejap
Kemudian di pertengahan jalan
Dia membenam ke lantai
Tembus masuk, ke ruang bagasi
Kini duduklah dia di atas peti-mati
Memandang wajahnya sendiri.

(IV)
Pesawat menderu di atas Samudera Pasifik
Malam biru hitam, dingin dan dalam
Menembus papan peti mahogani, nampak olehnya
Tangannya bersidekap, kanan di atas yang kiri
Kafan tiga lapis, lutut diikat, rahang dibebat
Kedua matanya berlapis kapas terpejam erat
Dia ingin menghambur masuk ke badannya lagi
Tapi tidak bisa
Rantai malaikat terayun-ayun, berdenting-denting
Sejuta mata rantai, sejuta simpul penyesalan
Betapa inginnya dia membangunkan dirinya sendiri
Dan mengulang semua ini lagi
“Bangun, bangun!’ serunya pada jasadnya
Wajahnya kaku dan dingin, mulai berbau
Matanya dua gumpal kapas, putih dan bisu
“Bangun, bangun!” serunya sedih, seraya memukul peti
Pukulannya keras, bablas ke bawah
Menembus tumpukan kopor penumpang
Dinding perut pesawat
Tersangkut dia di gumpalan awan mengandung hujan
Kedua malaikat menariknya keras
Rantai menegang, meregangnya ke atas
Terbentur di langit-langit proyektor pesawat
Terduduk lagi dia, di kursi deret 25, huruf F
Dilihatnya engkau tidur terteleng miring ke kanan
“Bangun, bangun!” serunya, dikusainya rambutmu
Diguncang-guncangnya kepalamu
Engkau tak merasa itu
Padahal rantai sesalnya terikat di selimutmu
Tetap tak ada yang mendengar
Tiada yang menggeliat
Semuanya tidur di atas lambung yang padat
Sesudah makan bistik Yokohama
Semua pulas, termiring-miring itu kepala
Sesudah nonton filem Amerika
Semuanya jauh melakukan perjalanan
Melalui perencanaan dan pembiayaan
Dengan mata tertutup kedua-duanya
“Bangun, bangun!” serunya
Dia melayang-layang kencang
Di atas 215 kepala penumpang
Seraya menempelengi pipi kiri dan kanan
Tak  ada yang terjaga atau siuman
Dia berhenti dan menggerincingkan rantainya
“Dengar ini, dengar”, serak suaranya
Seluruh bumi dan langit mendengarnya
Kecuali manusia.

(V)
Tiba-tiba bayi tadi menggeliat
Menangis dengan suara tipis tetapi kuat
Namun orang tuanya tidak terbangun jua
Dia mendekati bayi berpopok putih itu
“Wahai lucunya kamu sebagai bayi...
Dengar dia menangis kini
Seperti pada waktu kontraksi rahim ibunya
Ruhnya itu, yang menangis itu
Dia melejit ke dunia
Dan menangis tersedu-sedu
Semua bayi lahir menangis
Tak ada yang lahir terkekeh-kekeh
Dia tahu sesaknya kelak bernafas menghirup udara
Memarnya lutut merangkak di atas peta dunia
Repotnya menangkap capung beterbangan di halaman
Dan terus-terusan mereguk air lautan
Dan betapa cuek dan luas kuap menganga
Bersenda-gurau dengan umur
Menabung nikmat jangka pendek
Mengunyah-ngunyah daging saudara kandung
Bermain api dengan sesal
Sesal akhir yang tak jelas akhirnya
Wahai ruh bayi
Menangislah keras-keras
Agar terbangun kedua orangtuamu
Dan penumpang bahtera semuanya.”
Maka menangislah ruh bayi itu keras-keras
Kedua tangan yang alit itu seperti terkejang-kejang
Kakinya pun menerjang-nerjang
Suaranya melengking lalu menghiba-hiba.

(VI)
Tak ada yang mendengarnya
Tak ada yang menyimaknya
Karena semua grrrh, fuuu ...
Tak ada yang menggeliat
Karena semua grrrh, fuuu ...
Semua tidur terkenyang-kenyang
Sesudah usus ditimbun menu Jepang
Grrrh, fuuu ...
Semua pulas, mulut lumayan menganga
Sesudah dipulas mentega Skandinavia
Grrrh, fuuu ...
Semuanya jauh melakukan perjalanan
Menggunakan perencanaan dan besarnya pembiayaan
Tapi mata tertutup kiri dan kanan
Grrrh, fuuu ...

(VII)
Seperdua bola dunia, bagai tempurung gelita
Gemuruh mesin pesawat lenyap diserap mega dan samudera
Gelap dan dingin pada ketinggian 37.000 kaki
Penumpang 25 F duduk di luar pesawat
Dia mencangkung di atas atap kelas bisnis
Rambutnya tak kusut, tak sehelai beringsut
Walau angin menyisirnya 800 km per jam
Dia memandang ke depan, seolah mempelajari gelap
Rantainya terjela-jela
Dia sangat ingin menangis
Tapi tak ada lagi persedian air mata
Sepotong bulan berumur lima hari
Mengirim pantulan cahaya lima watt, dari atas sana
Semua sunyi
Semua dingin
Penumpang 25 F, berpeluk lutut di atas kelas binis
Tinggal beberapa jam saja jaraknya
Dari acara penguburan jasadnya
Pada saat itu juga
Mayat-mayat beterbangan di udara
Dalam suatu jaringan penerbangan tak pernah diumumkan
Mereka berpapasan sesama mereka
Mereka tak sempat lagi bertegur sapa di udara
Betapa basa-basi yang percuma
Betapa berat rantai yang mengebat gerakan
Dia melihat ke bawah kini
Semua penumpang bahtera ini
Tidur sepulas-pulas tidur
Betapa sukarnya
Membangunkan mereka
Grrrh, fuuu ...
Grrrh, fuuu ...

LA-NY, 1988
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Penerbangan Terakhir
Karya: Taufiq Ismail

Post a Comment

loading...
 
Top