Mei 2014
Puisi Belati

Jika aku mulai berpuisi
tanda waktu tak bermimpi
Jika aku menghapus sepi
tanda beku risau hati
-; karena puisi, mimpi, sepi, di hati

Puisi seperti mata-merpati
Puisi setajam belati imaji
Puisi sediam bebatu kali
-; pungut dan simpan di laci

Karena sejujurnya
laci tak butuh kunci
tubuh tak butuh imaji
negeri tak butuh mimpi

Tapi aku mulai berpuisi
Inikah birahi purbani?

Oktober, 2011
"Cucuk Espe"
Puisi: Belati
Karya: Cucuk Espe

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Rahasia Cinta

Rahasia cinta ada pada bunga yang tak pernah ingkar
Memekarkan dirinya demi kupu-kupu
Yang membutuhkan madu untuk menitikkan serbuk sari
Pada benih hingga tumbuh buah ranum bagi kehidupan.

Rahasia cinta ada pada kesetiaan pantai yang selalu
Sabar menunggu kecupan ombak, dan atas kesabarannya
Ombak selalu bergairah memberikan kecupan pada
Bibir sang pantai, hingga tak ada detik yang terlewat
Dari kasih sayangnya.

Rahasia cinta ada pada gairah dan kesetiaan
Yang selalu mempertemukan dua hati yang saling
Merindu untuk bersua dan menyatukan nafas
Dalam kehidupan yang penuh makna.

Rahasia cinta ada pada semua yang bersedia menyayangi
Tanpa berhitung bakal mendapat apa setelah memberi
Rahasia cinta ada pada hati yang terbuka untuk menerima
Bagai samudra yang selalu ikhlas menerima tiap gelisah muara,
Menghidupi berjuta nelayan dan memeram resah
Berjuta nakhoda yang selalu merindu dermaga

Rahasia cinta ada pada hati
Yang selalu bersedia berbagi
Dari luka hingga nikmat paling sejati
Rahasia cinta ada di dalam dada
Yang tulus menjadi samudra maaf
Dengan lautan pengertian
Bagi yang satu dengan lainnya.

Kota Tua, 2010
"Ahmadun Yosi Herfanda"
PuisiRahasia Cinta
Karya: Ahmadun Yosi Herfanda
Cervantes

Dengan pena terhunus kau pacu keledai sastra
menerjang kincir keramat hikayat bangsawan
dan raja-raja hingga porak-poranda
dan menjelma jadi gelak tawa

Di negeri-negeri yang jidatnya sempit
dan muram, tank, panser, dan penjara
tersedia bagi Don Quixote dan keledai sastra
yang menggoyang kebajikan mapan
bungkus mulia bagi jiwa-jiwa deksura.

Adakah kesatria gelak tawa berbahaya
bagi negara, serupa ular berbisa di belukar
mendesis merayap menyusun makar?
Dia yang bijaksana tahu tak ada
mahkota dimakzulkan oleh cerita
jika ke dalamnya penguasa sedia berkaca.

Keledai sastra yang dungu bestari
senantiasa menggergaji satu kaki singgasana
agar sang raja belajar bijaksana di atasnya.
Atau mengecat tembok istana
dengan warna ganjil tak biasa
biar angker kekuasaan sedikit belajar
menertawakan diri dan agak jenaka.

Dengan pena terhunus kau pacu keledai sastra
menerjang kincir keramat hikayat bangsawan
dan raja-raja hingga porak-poranda
dan menjelma jadi gelak tawa

Kisah sehari-hari dan orang biasa
sejak itu berhak juga menjelma cerita.

"Agus R. Sarjono"
Puisi: Cervantes
Karya: Agus R. Sarjono