Juli 2014
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pada Kaligrafi Qi Baishi

(1)
Lelaki Qi bertualang menyusur jauh
tapi pulang jua pada batu kuburan
dingin, sesepi ornamen-ornamen abadi
pada puncak-puncak istana.

(2)
Ajari kami menyesap tegak lurus vertikal
dari kenangan beragam hiasan

“dari sini bayang-bayang hantu
berkerumun membangun surga-surga palsu”

(3)
Ajari kami menidurkan baris horizon
pada mata patung kim tong dan giok li
tenang, cinta sejati pulang lebih awal.

(4)
Masa muda sembunyi dalam semangkuk sup kepiting
kesedihan kerap datang tanpa dipesan
satu meter garis terpotong kedalam ingatan.

(5)
Di awal musim semi
sekelompok udang berdendang
Qi, ia tahu kapan memulangkan garis sepi
sepasang burung hong yang terbang
dalam rawi keheningan.

(6)
Rambut Qi putih salju
menaungi pualam terang
yang memandang
semi peoni
sebagai perkabungan.

"Puisi Puji Pistols"
PuisiPada Kaligrafi Qi Baishi
Karya: Puji Pistols

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Bicara pada Enin

Enin
buah markisah bergantung
kuning-kuning di punjung
sekuning bulan
ketika purnama.

Enin
buah markisah bergantung
kuning-kuning di punjung
sekuning wajah enin
ketika muda.

Enin
bunga markisah bersembulan
di sela daun kehijauan
bagai bintang terpacak
biarkan jadi buah masak.

Enin
bintang bagai bunga markisah
nanti malam petikkan aku sebuah
kan kusematkan di dada
biar jadi penerang jiwa.

1994
"Puisi Piek Ardijanto"
PuisiBicara pada Enin
Karya: Piek Ardijanto

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kota Sunyi

Kota tua, sunyi tak berpenghuni
sepenuh hari adalah temaram
sesekali tampak sekelebat bayangan
di bawah pendar cahaya
lalu menghilang di simpang jalan
sesekali terdengar suara-suara aneh
dari gudang samping kedai kopi
serupa tarikan nafas orang sekarat

dari kejauhan muncul kuda jantan
perempuan muda penunggangnya
berhenti di depan kedai kopi
perempuan itu masuk
tak lama kemudian
terdengar suara jeritan, lalu sunyi

teropongku masih tertuju ke arah itu
tiga pria bertubuh besar
datang berjaga di depan kedai kopi
dua orang bersenjata lengkap
berdiri tegap
seorang lagi hanya mondar-mandir
setiap orang yang datang
langsung diseret ke dalam
lalu terdengar jeritan, lalu sunyi

aku semakin gemetar memegang teropongku
nafasku melaju, seperti hendak menarik
sepenuh ragaku
tapi tiba-tiba lengan kiriku ada yang menarik
tubuhku terpental ke belakang
pria bertubuh besar itu menyeretku
turun, lalu masuk ke kedai kopi itu
kulihat puluhan mayat beku berserakan
darah berceceran di mana-mana
"jangan.. jangan bunuh aku" rontaku
pria itu mencambukku, dan terus mencambukku
"jangan.. jangan bunuh aku" pintaku
"tidak, karena sesungguhnya kau telah mati" katanya

2014
"Puisi Joshua Igho"
PuisiKota Sunyi
Karya: Joshua Igho

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||