Januari 2015
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pertanyaan Penting
(Kenapa kamu bunuh Marsinah?)

Indonesia indah melimpah.
Di samping sumur pohon jambu berkembang.
Di laut ikan cakalang dan lumba-lumba.
Lalu kenapa kamu bunuh Marsinah?
Kenapa kamu bunuh para petani di Sampang, Madura?
Apakah tak kamu lihat kupu-kupu menari?
Ayam berkotek dan burung bernyanyi?

Wahai kamu para kesatria yang perkasa!
Kenapa kamu bunuh Marsinah?
Apakah derita buruh-buruh mengganggu tidur siangmu?
Kenapa kamu bunuh para petani di Sampang?
Apakah kamu kesatria yang membela penindasan?

Apakah kamu tidak pernah membayangkan
dengus erang ibumu
waktu ia melahirkan kamu?
Apakah kamu tak pernah melihat adikmu menari,
dan mendengar nenekmu menembang?
Kenapa kamu jarah nyawa Marsinah?
Kamu jarah nyawa para petani Sampang,
yang berjuang untuk hak nafkahnya
yang sesuai dengan undang-undang?
Sedang dengan garang kamu membela
para cukong yang menjarah ekonomi bangsa.

Wahai para kesatria perkasa,
di mana kampung halamanmu?
Siapakah ibumu?
Siapa saudara dan saudarimu?
Waktu uang rakyat dibawa lari ke luar negeri,
waktu daulat hukum dikhianati,
dan daulat rakyat dijarah oleh tirani,
dimana kamu berdiri, kesatriaku?

Kenapa kamu bunuh Marsinah?
Kenapa kamu bunuh para petani di Sampang, Madura?
Kenapa kamu bunuh Udin, Moses,
dan di Trisakti 4 orang mahasiswa?
Siapakah ibumu, para kesatriaku?
Kenapa dengan berencana
kamu perkosa perempuan-perempuan Cina
yang tidak berdaya?
Siapakah yang melahirkan kamu, para kesatriaku?
Siapakah saudara-saudarimu?
Apakah ada putra-putrimu?

Dan kamu, para cukong, penjarah kekayaan bangsa,
kamu juga biang keladi dari anarki ini.
Kepada kamu aku bertanya:
mentang-mentang kamu bisa beli perlindungan,
apakah kamu merasa berada di atas undang-undang?

Wahai, candu kekuasaan!
Wahai, bius harta kekayaan!
Wahai, lengking mabuk nafiri kejayaan!
Wahai, para biang keladi anarki ini!
Lihatlah, telah kamu lukai dengan parah
sampai berdarah-darah
nurani bangsamu
dan juga nurani dirimu sendiri!



Surabaya, 21 Juni 1998
Buku: Doa Untuk Anak Cucu
"Puisi: Pertanyaan Penting (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Pertanyaan Penting (Kenapa kamu bunuh Marsinah?)
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak Seorang Tua Tentang Bandung Lautan Api
Bagaimana mungkin kita bernegara
bila tidak mampu mempertahankan wilayahnya.
Bagaimana mungkin kita berbangsa
Bila tidak mampu mempertahankan kepastian hidup bersama?
Itulah sebabnya kami tidak ikhlas
menyerahkan Bandung kepada tentara Inggris
dan akhirnya kami bumi hanguskan kota tercinta itu
sehingga menjadi lautan api.
Kini batinku kembali mengenang
udara panas yang bergetar dan menggelombang,
bau asap, bau keringat
suara ledakan dipantulkan mega yang jingga, dan kaki
langit berwarna kesumba.

Kami berlaga
memperjuangkan kelayakan hidup umat manusia.
Kedaulatan hidup bersama adalah sumber keadilan merata
yang bisa dialami dengan nyata
Mana mungkin itu bisa terjadi
di dalam penindasan dan penjajahan
Manusia mana
akan membiarkan keturunannya hidup
tanpa jaminan kepastian?

Hidup yang disyukuri adalah hidup yang diolah
Hidup yang diperkembangkan
dan hidup yang dipertahankan
Itulah sebabnya kami melawan penindasan
Kota Bandung berkobar menyala-nyala tapi kedaulatan
bangsa tetap terjaga.

Kini aku sudah tua
Aku terjaga dari tidurku
di tengah malam di pegunungan
Bau apakah yang tercium olehku?

Apakah ini bau asam medan laga tempo dulu
yang dibawa oleh mimpi kepadaku?
Ataukah ini bau limbah pencemaran?

Gemuruh apakah yang aku dengar ini?
Apakah ini deru perjuangan masa silam
di tanah periangan?
Ataukah gaduh hidup yang rusuh
karena dikhianati dewa keadilan.
Aku terkesiap. Sukmaku gagap. Apakah aku
dibangunkan oleh mimpi?
Apakah aku tersentak
Oleh satu isyarat kehidupan?
Di dalam kesunyian malam
Aku menyeru-nyeru kamu, putera-puteriku!
Apakah yang terjadi?

Darah teman-temanku
Telah tumpah di Sukakarsa
Di Dayeuh Kolot
Di Kiara Condong
Di setiap jejak medan laga. Kini
Kami tersentak,
Terbangun bersama.
Putera-puteriku, apakah yang terjadi?
Apakah kamu bisa menjawab pertanyaan kami?

Wahai teman-teman seperjuanganku yang dulu,
Apakah kita masih sama-sama setia
Membela keadilan hidup bersama.

Manusia dari setiap angkatan bangsa
Akan mengalami saat tiba-tiba terjaga
Tersentak dalam kesendirian malam yang sunyi
Dan menghadapi pertanyaan jaman:
Apakah yang terjadi?
Apakah yang telah kamu lakukan?
Apakah yang sedang kamu lakukan?
Dan, ya, hidup kita yang fana akan mempunyai makna
Dari jawaban yang kita berikan.

"Puisi: Sajak Seorang Tua Tentang Bandung Lautan Api (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Sajak Seorang Tua Tentang Bandung Lautan Api
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Megatruh Bandung
Bulan berdarah
dalam prasasti sejarah.
Ilalang bergoyang
Lagu malam
hutan Priangan.
Pisau kiriman angin.
Selendang sutra alam gaib.
Mama!
Bau lembut yang dalam
dari kulit kudukmu.
Merah jambu puting susu
dari nyanyian sepanjang masa.
Bandung
19 Februari 2000
"Puisi: Megatruh Bandung (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Megatruh Bandung
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Stasiun


Kereta rinduku datang menderu
gemuruhnya meningkahi gelisah dalam kalbu
membuatku semakin merasa terburu-buru
tak lama lagi bertemu, tak lama lagi bertemu.

Sudah kubersih-bersihkan diriku
sudah kupatut-patutkan penampilanku
tetap saja dada digalau rindu
sabarlah rindu, tak lama lagi bertemu.

Tapi sekejap terlena
stasiun persinggahan pun berlalu
meninggalkanku sendiri lagi
termangu.
 
  
"Puisi: Stasiun (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Stasiun
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Dalam Perjalanan

Maka pulau Bangka pun terlampaui
Benturan-benturan ombak di haluan
Memukul-mukul hatiku yang rindu.

Elang yang duka bertengger di kayu terapung
Mengucapkan salam, selamat jalan kepadaku
Perantau larut dalam perjalan pulang

Matahari yang jingga keemasan
Sebentar lagi 'kan silam, tenggelam
Di balik-balik Bukit Barisan

Ketika ini, di senja begini
Kutahu dia sedang mengulangi membaca
Telegram yang kemarin aku poskan:

"Aku pulang, datang bersama kematangan
Yang akan kutumbuhkan dalam hatimu,
Nantikan daku sayang, di pelabuhan." 
  
1964
"Puisi: Dalam Perjalanan (Karya Aldian Aripin)"
Puisi: Dalam Perjalanan
Karya: Aldian Aripin
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Almanak
Amat bisu sejarah: kuketuk pintunya dan aku menunggu
Satu jam lagi menyerah dan satu jam lagi menyerah
bom jatuh di tengah malamku
- pucat bumi semesta
darah tetes di tengah sorga -
Tapi masih juga selalu
kubacakan padamu
sajak perlahan-lahan,
cerita-cerita tenang, pada
jam senyap senggang, sementara
pada lembut udara
lampu-lampu merah termangu,
dan di benteng-benteng kejauhan
di kaki langit yang ngilu
merangkak Asia
yang hampir mati
dari arah Nagasaki.
Malam pun berkepul
dari bumi yang tak hendak tidur:
Apakah harap masih utuh?
Atau rasa cemas yang ke seluruh?
Kita tak tahu
(Mungkin di sana ada
bisik-bisik Asoka
dan bising Zulkarnain
dari jurang Makedonia)
Mungkin hanya Tuhan melangkah
lewat arus resah
hidup tergerai
yang mengepakkan sayapnya
sekali lagi, sekali lagi.
1962
Puisi: Almanak
Karya: Goenawan Mohamad
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Koruptor + Tai

Di atas kloset tanpa mengetuk pintu dia
masuk ke dalam dirinya seseorang sejak tadi
menunggu untuk bercakap-cakap di sebuah ruang
tak ber-air-condition sejuk aman dan dia sulit
membayangkan betapa nyamannya
di dalam tapi sayang dia jarang pulang.
Selesai ngeden dia kembali ke dalam sejenak
hidungnya terganggu oleh tainya yang meleset.
Bukankah ini bau taimu yang sama dengan
bau tai mereka lagi pula mengapa
kau cemaskan pikiranmu ingin tampil dengan tai
yang berbeda dan lolos cek tai dari pemeriksaan
sebuah lembaga.
Lalu dia geremet kepalanya membayangkan
tai yang encer dan kelam biji kedele dari
tempe kangkung dan bayam dari puluhan juta
burit yang seringkali gagal dicerna.
Lagi pula mengapa kau cemaskan pikiranmu
bukankah tak ada cakar ayam gigi tetanggamu
atau biji besi dari taimu untuk dijadikan
barang bukti.
Selesai ngeden dia merasa malu ketika
seseorang itu semakin banyak tau tentang
dirinya selain makanan yang dia konsumsi
dan kloset tempatnya membuang tai menjadi
fokus percakapan.
Mengapa kau cemaskan pikiranmu bukankah kloset
dan tai tak boleh dihadirkan untuk jadi saksi.
Sekali lagi dia geremet kepalanya sambil
membayangkan anak-anak dan istrinya yang selalu
ingin tampil beda dengan rumah serta
perhiasan dan fasilitas mewah yang mereka punya
tiba-tiba berubah jadi hewan buas yang
perlahan-lahan menggerogoti daging serta akal
pikiran mereka.
Mengapa kau cemaskan pikiranmu
bukankah semua itu hanya bagian dari gaya
hidup yang juga dimiliki para penyidik
pimpinan sidang atau hakim yang senantiasa
tersenyum padamu
selesai ngeden dia kembali kedalam tapi
kali ini dia dikejutkan oleh wajahnya sendiri
yang tampak tak utuh di tembok kramik serta
kemaluannya yang mulai terhalang oleh lemak
yang kian mumbung di perutnya.
Mengapa kau cemaskan pikiranmu bukankah
keberanian dan ketakutan adalah pilihan
dan resiko yang akan menentukan
jalan ke depan.
Kembali dia geremet kepalanya dan
membayangkan wajahnya muncul di televisi dan
di koran-koran yang kemudian menghambat proses
pelepasan tainya dengan posisi yang tidak
nyaman di atas kloset serta tarikan nafas
yang mulai tersendat membuatnya ingin selalu
dekat pada seseorang tadi dengan bertanya apa
yang harus kulakukan.
Mengapa kau cemaskan pikiranmu
padahal kau tak pernah mencemaskan
kepiawaianmu menculik angka-angka dari sumber
keringat dan darah serta menculik waktu yang
tak mungkin bisa kau kembalikan seperti semula
atau menculik kata-kata yang kau kira bisa bikin
semua orang percaya.
Pulanglah
sering-seringlah pulang ke rumahmu ini sebelum
kau benar-benar pulang cuma membawa daging busuk
dan tai.
Indramayu

"Puisi: Koruptor + Tai (Karya Acep Syahril)"
Puisi: Koruptor + Tai
Karya: Acep Syahril
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak Seorang Tua di Bawah Pohon


Inilah sajakku
seorang tua yang berdiri di bawah pohon meranggas,
dengan kedua tangan 'ku gendong di belakang,
dan rokok kretek yang padam di mulutku.

Aku memandang jaman.
Aku melihat gambaran ekonomi
di etalase toko yang penuh merk asing,
dan jalan-jalan bobrok antar desa
yang tidak memungkinkan pergaulan.
Aku melihat penggarongan dan pembusukan.
Aku meludah di atas tanah.

Aku berdiri di muka kantor polisi.
Aku melihat wajah berdarah seorang demonstran.
Aku melihat kekerasan tanpa undang-undang.
Dan sebatang jalan panjang,
penuh debu,
penuh kucing-kucing liar.
penuh anak-anak berkudis,
penuh serdadu-serdadu yang jelek dan menakutkan.

Aku berjalan menempuh matahari,
menyusuri jalan sejarah pembangunan ,
yang kotor dan penuh penipuan.
Aku mendengar orang berkata:
"Hak asasi manusia tidak sama di mana-mana.
Di sini, demi iklim pembangunan yang baik,
kemerdekaan berpolitik harus dibatasi.
Mengatasi kemiskinan
meminta pengorbanan sedikit hak asasi."
Astaga, tahi kerbo apa ini!

Apa disangka kentut bisa mengganti rasa keadilan?
Di negeri ini hak asasi dikurangi,
justru untuk membela yang mapan dan kaya.
Buruh, tani, nelayan, wartawan dan mahasiswa,
dibikin tak berdaya.

O, kepalsuan yang diberhalakan,
berapa jauh akan bisa kau lawan kenyataan kehidupan.

Aku mendengar bising kendaraan.
Aku mendengar pengadilan sandiwara.
Aku mendengar warta berita.
Ada gerilya kota merajalela di Eropa.

Seorang cukong bekas kaki tangan fasis,
seorang yang gigih, melawan buruh,
telah diculik dan dibunuh,
oleh golongan orang-orang yang marah.

Aku menatap senja kala di pelabuhan.
Kakiku ngilu,
dan rokok di mulutku padam lagi.
Aku melihat darah di langit.
Ya! Ya! Kekerasan mulai mempesona orang.
Yang kuasa serba menekan.
Yang marah mulai mengeluarkan senjata.
Bajingan dilawan secara bajingan.
Ya! Inilah kini kemungkinan yang mulai menggoda orang.
Bila pengadilan tidak menindak bajingan resmi,
maka bajingan jalanan yang akan mengadili.
Lalu apa kata nurani kemanusiaan?
Apakah orang harus meneladan tingkah laku bajingan resmi?
Bila tidak, kenapa bajingan resmi tidak ditindak?
Apakah kata nurani kemanusiaan?

O, senja kala yang menyala!
Singkat tapi menggetarkan hati!
Lalu sebentar lagi orang akan mencari bulan dan bintang-bintang!

O, gambaran-gambaran yang fana!
Kerna langit di badan tidak berhawa,
dan langit di luar dilabur bias senja kala,
maka nurani dibius tipu daya.

Ya! Ya! Akulah seorang tua!
Yang capek tapi belum menyerah pada mati.
Kini aku berdiri di perempatan jalan.
Aku merasa tubuhku sudah menjadi anjing.
Tetapi jiwaku mencoba menulis sajak.
Sebagai seorang manusia.


Pejambon, 23 Oktober 1977
"Puisi: Sajak Seorang Tua di Bawah Pohon (Karya W.S. Rendra)"
Sajak Seorang Tua di Bawah Pohon
Karya: W.S. Rendra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ballada Penantian


Gadis yang dilewati kedaraannya merenda depan jendela
menggantungkan hari muka dan anggur hidupnya
pada penantian lelaki petualang yang jauh
pada siapa dulu telah ia serahkan malam kedaraannya yang agung.
Janjinya kembali di Tahun Baru belum juga terpenuhi.
(Lelaki itu tak punya pos dan pangkalan).

Ia menanti depan jendela, dilewati kedaraannya.

Kereta mati membawa ibunya, di belakangnya tiga Tahun Baru pula tiba
usia sendiri meningkat juga di tiap permunculan bulan muda.

Ia menanti depan jendela, terurai rambutnya.

Kail cinta membenam pada rabu, dilarikan ke lubuk-lubuk yang dalam
tiada terlepas juga dan tetes darahnya dilulur kembali ke dada.

Ia menanti depan jendela, tetes hujan merambat di kaca
Adik-adiknya sudah dulu ke altar, dada-dada diganduli bayi dan lelaki
lukanya mendindingi dirinya dari tiap pinangan pulang sia-sia.

Ia menanti depan jendela, ketuaan mengintip pada kaca.

Kandungan hatinya mengelukan jumlah kata, seperti kesingupan gua
sebuah rahasia yang hitam, apa kepercayaan apa dendam
ditatapnya ujung jalan, kaki langit yang sepi menelan segala senyumnya.

Ia menanti depan jendela, rambutnya mengelabu juga.

Dendamnya telah dibalaskan pada tiap lelaki yang ingin dirinya
subuh demi subuh khayal merajai dirinya
makin bersilang parit-parit di wajah, beracun bulu matanya
tatapan matanya menggua membakar ujung jalan.
Ia menanti tidak lagi oleh cinta.

Ia menanti di bawah jendela, dikubur ditumbuhi bunga bertuba.

Dendamnya yang suci memaksanya menanti di situ dikubur
di bawah jendela.


 
"Puisi: Ballada Penantian (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Ballada Penantian
Karya: W.S. Rendra