loading...

Almanak
Amat bisu sejarah: kuketuk pintunya dan aku menunggu
Satu jam lagi menyerah dan satu jam lagi menyerah
bom jatuh di tengah malamku
- pucat bumi semesta
darah tetes di tengah sorga -
Tapi masih juga selalu
kubacakan padamu
sajak perlahan-lahan,
cerita-cerita tenang, pada
jam senyap senggang, sementara
pada lembut udara
lampu-lampu merah termangu,
dan di benteng-benteng kejauhan
di kaki langit yang ngilu
merangkak Asia
yang hampir mati
dari arah Nagasaki.
Malam pun berkepul
dari bumi yang tak hendak tidur:
Apakah harap masih utuh?
Atau rasa cemas yang ke seluruh?
Kita tak tahu
(Mungkin di sana ada
bisik-bisik Asoka
dan bising Zulkarnain
dari jurang Makedonia)
Mungkin hanya Tuhan melangkah
lewat arus resah
hidup tergerai
yang mengepakkan sayapnya
sekali lagi, sekali lagi.
1962
Puisi: Almanak
Karya: Goenawan Mohamad

Post a Comment

loading...
 
Top