loading...

Ballada Penantian


Gadis yang dilewati kedaraannya merenda depan jendela
menggantungkan hari muka dan anggur hidupnya
pada penantian lelaki petualang yang jauh
pada siapa dulu telah ia serahkan malam kedaraannya yang agung.
Janjinya kembali di Tahun Baru belum juga terpenuhi.
(Lelaki itu tak punya pos dan pangkalan).

Ia menanti depan jendela, dilewati kedaraannya.

Kereta mati membawa ibunya, di belakangnya tiga Tahun Baru pula tiba
usia sendiri meningkat juga di tiap permunculan bulan muda.

Ia menanti depan jendela, terurai rambutnya.

Kail cinta membenam pada rabu, dilarikan ke lubuk-lubuk yang dalam
tiada terlepas juga dan tetes darahnya dilulur kembali ke dada.

Ia menanti depan jendela, tetes hujan merambat di kaca
Adik-adiknya sudah dulu ke altar, dada-dada diganduli bayi dan lelaki
lukanya mendindingi dirinya dari tiap pinangan pulang sia-sia.

Ia menanti depan jendela, ketuaan mengintip pada kaca.

Kandungan hatinya mengelukan jumlah kata, seperti kesingupan gua
sebuah rahasia yang hitam, apa kepercayaan apa dendam
ditatapnya ujung jalan, kaki langit yang sepi menelan segala senyumnya.

Ia menanti depan jendela, rambutnya mengelabu juga.

Dendamnya telah dibalaskan pada tiap lelaki yang ingin dirinya
subuh demi subuh khayal merajai dirinya
makin bersilang parit-parit di wajah, beracun bulu matanya
tatapan matanya menggua membakar ujung jalan.
Ia menanti tidak lagi oleh cinta.

Ia menanti di bawah jendela, dikubur ditumbuhi bunga bertuba.

Dendamnya yang suci memaksanya menanti di situ dikubur
di bawah jendela.


 
"Puisi: Ballada Penantian (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Ballada Penantian
Karya: W.S. Rendra

Post a Comment

loading...
 
Top