Aku Terjaga di Tengah Malam


Aku terjaga tengah malam, hening dan tenteram
Gunung kelabu samar membatu
Elahan nafas alam yang berat mengembus pelan
Dan dengan nafas sendiri tertahan
Kusimakkan tenaga gaib tersembunyi
Mengajak bangkit, menempelak, meludah penuh dendam
Mengayunkan kepalan, mata merah, terbakar amarah
Karena terlalu lama dirinya terlupakan
Dalam pesta pora kesewenang-wenangan
Karena terlalu lama dirinya dijual
Dalam berbagai pidato dan penipuan
Karena terlalu lama dirinya dijagal
Dalam berbagai pemerasan berkedok kemakmuran
Karena terlalu lama dirinya diinjak
Dalam berbagai upacara kemerdekaan.

Kini tenaga penuh semangat gaib
Kusintakkan seperti lahar dalam perut gunung
Bangkit, menggemuruh tiada tertahan
Melanda segala penghalang
Mengacungkan tangan ke muka
Menerjang segala perintang.

Tapi malam hening sepi, detak jantung sendiri
Dalam tenteram bumi lelap, suara hati ingin diam tetap:
Tidakkah sia-sia dendam mengangkat tangan
Tidakkah sia-sia pembunuhan menghancurkan pemerasan
Tidakkah bentuk baru 'kan muncul: Di mana pesta berulang
Sedang si kecil, makin bungkuk dan renta
Diinjak dan diperas tenaga?

Tidak. Semangat akan harapan dalam impian
Memberi keremajaan pada darah dan urat kendur
Memberi unggun dingin api berkobar
Bah membanjir dalam kali gersang
Banteng melihat kain-merah mengibar.

Tidak. Semangat selalu meremajakan. Mereka
Puas terbaring dengan senapang di tangan
Tak kecewa mati sedang berjuang
Tak percuma derita buat harapan masa-depan
Karena hidup manusia selalu dipersembahkan
Pada hari-depan redup di jauhan
Bagi ketentuan yang tak berketentuan
Karena tenaga dikerahkan
Untuk memutuskan belenggu
Demi kebebasan.

Tiada hentinya sepanjang jaman
Perjuangan manusia, selalu terlibat kembali
Dari belenggu ke belenggu baru
Dari pemerasan ke pemerasan lain
Namun tiada jemu, berontak harapkan impian
Tiada bosan, melawan harapkan kemerdekaan.

Tiada damai dalam diri manusia
Meluap dan menggelegak, tiada tara.

Manusia selalu melawan terhadap takdir
Tak percaya terhadap ketentuan azali
Karena percaya akan tenaga sendiri
Tersimpan di balik mata redup atau jeli
Larut dalam urat kendor atau tegang
Sembunyi di balik baju bertambal dan rombeng
Menjala dalam dada tipis kerempeng.

Tiada 'kan habisnya. Setiap jaman. Dan manusia
Mendengar, melihat, menyaksikan dan menjimakkan
Pemberontakan manusia terhadap kekuasaan
Yang dalam mencengkam diri.

Dan kala aku terjaga tengah malam
Kudengar pula semangat gaib bangkit tak tertahan
Bagai lahar dalam perut gunung berapi
Semangat perjuangan mengamang tinju ke depan
Karena harapkan kemerdekaan dan kedamaian
Bagi hari-depan yang redup di jauhan.

Berulang dan 'kan berulang lagi
Manusia memberontak terhadap diri.
 
  
Cihideung
20 Mei 1960
"Puisi: Aku Terjaga di Tengah Malam (Karya Ajip Rosidi)"
Puisi: Aku Terjaga di Tengah Malam
Karya: Ajip Rosidi

Post a Comment

loading...
 
Top