Rambut

Seutas rambut dalam sajak, kata orang, jangan diartikan seutas rambut. Tapi seluruh rambutku yang tumbuh subur di sabana tiba-tiba mati setelah diserbu sekawan kuda jalang. Sebana itu telah jadi rawa sekarang. Tinggal seutas rambut yang tumbuh membesar jadi sebatang pohon dengan buah-buahnya yang kuning ranum. Buah itu ingin sekali aku menikmatinya, tapi ngeri aku memakannya.

1980
"Puisi: Rambut (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Rambut
Karya: D. Zawawi Imron

Post a Comment

loading...
 
Top