Maret 2015
Hujan, Jalak, dan Daun Jambu

Hujan turun semalaman. Paginya
jalak berkicau dan daun jambu bersemi;
mereka tidak mengenal gurindam
dan peribahasa, tapi menghayati
adat kita yang purba,
tahu kapan harus berbuat sesuatu
agar kita, manusia, merasa bahagia. Mereka
tidak pernah bisa menguraikan
hakikat kata-kata mutiara, tapi tahu
kapan harus berbuat sesuatu, agar kita
merasa tidak sepenuhnya sia-sia.

1992
"Puisi: Hujan, Jalak, dan Daun Jambu (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Hujan, Jalak, dan Daun Jambu
Sudah Kutebak

Sudah kutebak kedatanganmu. Seperti biasanya,
kau berkias tentang sepasang ikan yang menyambar-nyambar umpan sedikit demi sedikit,
menggosok-gosokkan tubuh di karang-karang,
menyambar, berputar-putar membuat lingkaran,
menyambar, mabuk membentur batu-batuan.
Kutebak si pengail masih terkantuk-kantuk di tepi sungai itu.
Sendirian.

1982
"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Sudah Kutebak
Di Sebuah Halte Bis

Hujan tengah malam membimbingmu ke sebuah halte bis dan membaringkanmu di sana. Kau memang tak pernah berumah, dan hujan tua itu kedengaran terengah batuk-batuk dan tampak putih.
Pagi harinya anak-anak sekolah yang menunggu di halte bis itu melihat bekas-bekas darah dan mencium bau busuk. Bis tak kunjung datang. Anak-anak tak pernah bisa sabar menunggu. Mereka menjadi kesal dan, bagai para pemabuk, berjalan sempoyongan sambil melempar-lemparkan buku dan menjerit-jerit menyebut-nyebut namamu.

1982
"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Di Sebuah Halte Bis
Karya: Sapardi Djoko Damono
Rumah di Ujung Jalan

Ke mana saja kau selama ini?
Rasanya tak pernah kukenal
yang tak membukakan pintu itu -
seorang lelaki tua
bertelekan tongkat
menyambutku. Aku yakin ini alamat
rumah yang kucari-cari selama ini.
Masuklah, aku sudah siap pergi
kau tinggallah di sini. Tak terdengar apa-apa
kecuali suara tasbih
yang teratur, bersahut-sahutan
dengan loncatan jarum jam.
Tutup pintu baik-baik, duduklah tenang
aku pasti datang menjemputmu
suatu hari nanti. Kututup pintu -
tak pernah kubayangkan
ada rumah setenteram ini.

"Puisi: Rumah di Ujung Jalan (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Rumah di Ujung Jalan
Pintu

Pagi dikaruniai begitu banyak pintu
dan kita disilakan masuk melewatinya kapan saja.

Malam diberkahi begitu banyak gerbang
dan kita digoda untuk membukanya dan keluar agar bisa ke Sana.

Tidak diperlukan ketukan.

Tidak diperlukan kunci.

Sungguh,
tidak diperlukan selamat datang
atau selamat tinggal.

"Puisi: Pintu (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Pintu
Karya: Sapardi Djoko Damono
Sajak Tafsir

1
Siapa gerangan berani menafsirkanku
sebagai awan yang menjadi merah ketika senja?
Aku batu. Kota boleh mengembara ke langit
dan laut, aku tetap saja di sini.
Siapa tahu untuk selamanya.
Dan tidak boleh tidur,
meskipun kadang-kadang memahami
diri sendiri sebagai telur.
Tidak boleh menghardik pohon
yang malam-malam mengirimkan karbon.

Sungguh, aku batu
yang begitu saja di tengah jalan,
yang tak tampak sehabis hujan.
Siapa pula sampai hati
menafsirkanku sebagai langit
yang letih menggerakkan awan
dan menghirup udara jika hari hujan
dan matahari berusaha menembus
rambut tebalnya?

2
Aku sungai, biar saja.
Siapa kau yang merasa berhak
menafsirkanku sebagai batu?
Aku tak boleh letih menuruni bukit,
tak semestinya menanjak
mengatasi langit,
tak seharusnya memadamkan
matahari waktu siang
atau bersembunyi dari bulan
kalau malam tiba-tiba mengambang
di antara butir-butir udara
yang suka meretas
jika kau sedang menundukkan kepala.

Sungguh. Sungai tak akan bisa menjadi bunyi
atau sekedar rentetan aksara.
Aku sungai yang hanya bisa
mengikat pohon
agar tidak ikut kota mengembara
ke hutan dan meninggalkannya begitu saja.
Padahal dari sana pula asal-usulnya,
dulu ketika masih purba.

3
Siapa yang menyuruhmu menafsirkanku
sebagai sungai yang bisa menjadi suara
yang mengambang bersama cahaya sore
di sela-sela awan yang kadang-kadang
juga kautafsirkan sebagai lambang
kefanaan? Aneh.
Aku tak lain sawah yang dicangkul
musim dan dibiarkan tersiksa
oleh padi yang begitu saja tumbuh
di tengah-tengahnya.

Aku hanya suka menerima kota
jika kebetulan berjalan di hari libur
dari desa ke desa bercengkerama tentang
cuaca yang suka ke sana ke mari,
yang tiba-tiba menjadi sama sekali diam
jika kau menafsirkanku sebagai batu.
Aku sawah, yang tak akan bisa ramah
terhadapmu.

4
Sawah? Siapa pula yang telah membisikkan
kebohongan itu padamu?
Aku burung, yang boleh saja
membayangkan telah lahir
dari telur yang dibayangkan batu,
terlibat dalam kisah cinta yang pernah kaubaca
di kitab terjemahan itu.

Aku tidak menerjemahkan diriku
sendiri menjadi burung,
karena aku burung.
Bukan sawah yang masih suka
menerjemahkan dirinya menjadi kota
atau bahkan menafsirkan dirinya
sebagai batu.
Burung hanya mencintai
sayapnya sendiri,
mengagumi terbangnya sendiri
yang mengungguli ladang,
bahkan mengatasi batu.
Sungai pun, yang sesekali terjun,
tidak pernah berkeberatan akan
cintaku kepada selembar daun
yang merindukan langit.

5
Kau bilang aku burung?
Jangan sekali-kali berkhianat
kepada sungai, ladang, dan batu.
Aku selembar daun terakhir
yang mencoba bertahan di ranting
yang membenci angin.
Aku tidak suka membayangkan
keindahan kelebat diriku
yang memimpikan tanah,
tidak mempercayai janji api
yang akan menerjemahkanku
ke dalam bahasa abu.
Tolong tafsirkan aku
sebagai daun terakhir
agar suara angin yang meninabobokan
ranting itu padam.

Tolong tafsirkan aku sebagai hasrat
untuk bisa lebih lama bersamamu.
Tolong ciptakan makna bagiku,
apa saja – aku selembar daun terakhir
yang ingin menyaksikanmu bahagia
ketika sore tiba.

6
Siapa pula yang bilang
aku berurusan dengan duniamu?
Kyai mana yang membohongimu?
Pendeta mana yang selama ini
berdusta padamu?
Jangan tafsirkan aku
sebagai apa pun
sebab aku tidak pernah ada
dan tidak akan ada.

Aku tidak terlibat dalam makna
seperti yang mereka bayangkan
tentang diri mereka sendiri –
bukan bahasa yang tak lain masa lalu.
Dan kau juga tak akan mampu
membayangkan aku
sebagai kapan saja.
Aku tidak memerlukan bahasa –
diam bukan batu, mengalir bukan sungai,
dicangkul bukan sawah,
terbang bukan burung,
bertahan bukan daun.
Aku tidak, bukan apa pun.


"Puisi: Sajak Tafsir (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Sajak Tafsir
Karya: Sapardi Djoko Damono
Hawa Dingin

Dingin malam memang tak pernah mau
menegurmu, dan membiarkanmu telanjang;
berdiri saja ia di sudut itu
dan membentakku, "Ia hanya bayang-bayang!"

"Bukan, ia tulang rusukku," sahutku
sambil menyaksikannya mendadak menyebar
ke seluruh kamar - yang tersisa tinggal abu
sesudah kita berdua habis terbakar.

"Puisi: Hawa Dingin (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Hawa Dingin
Karya: Sapardi Djoko Damono
Kepada Krisyna

Aku berdiri sebatang kara,
Tidak berteman, tidak berkawan,
Tangan tertadah ke atas udara,
Jiwa menjerit disayat rawan.

Hatiku kosong, tanganku hampa,
Tidak ada yang sudah tercapai
Aku bermimpi di dalam tapa
Mengingat untung termenung lalai
O Krisyna tiadakanlah kembali
Meniup suling di tanah airku.

Biarkan daku sekali lagi
Jatuh ke dalam jurang gulita,
Supaya lupa, tidak bercita.

"Puisi: Kepada Krisyna (Karya Sanusi Pane)"
Puisi: Kepada Krisyna
Karya: Sanusi Pane
Teman Lama

Ia muncul begitu saja di ambang pintu setelah lama 
tidak bertemu. Matanya terkejut, kepalanya bergoyang 
kena hantam dentang jam di dinding ruang tamu. 
“Maafkan aku, kawan. Sekian tahun tak jumpa, 
aku mampir ke rumahmu hanya untuk numpang 
ke kamar mandi. Boleh, kan?”

Petang itu saya sedang melamun di halaman koran. 
“Silahkan,” jawab saya singkat. Lalu ia meluncur cepat 
ke kamar mandi. Entah apa yang ia perbuat.
Dari jauh berkali-kali saya mendengar ia mengumpat, 
meneriakkan bangsat, jahanam, keparat. 

Usai bergiat di kamar mandi, wajahnya dibalut misteri. 
“Setelah menjadi bintang panggung yang sukses, 
aku merasa ngeri dengan topeng culun di dinding 
kamar mandimu. Wajahnya sinis, dan aku tersinggung: 
kok tampang kami tampak makin akur saja.”

Bukankah dia sendiri yang dulu menghadiahkan 
topeng itu kepada saya? Saya periksa si culun, 
wajahnya tetap saja begitu: dingin, menggoda, pemalu. 
Jangan-jangan tampang waktu memang bisa tampak 
berbeda-beda, tergantung siapa yang melihatnya, 
tergantung siapa yang dilihatnya.

2003
"Puisi: Teman Lama (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Teman Lama
Karya: Joko Pinurbo
Kolom Agama

Tidak mudah menemukanmu di kolom agama.
Bahkan di kolom itu kau belum tentu ada.
Maka aku pergi menemuimu di sebuah kolom tersembunyi, kolom yang terlihat oleh negara.
Kau memandangku dengan gentar.
Mungkin kau mengira aku akan menanyakan agamamu.

Atau kau menduga aku akan mengancammu: ”Bukan kau yang memilih,melainkan aku yang menentukan, agamamu!”
Pelan-pelan aku mendekat, mendekati takutmu: ”Ini kolom cinta, bukan kolom agama. Di kolom ini agama adalah ciuman indah tak bernama, pelukan penyembuh luka.”

Kauberikan selembar KTP padaku; kuisi kolom agama di KTP-mu dengan agamaku.
Berapa agamamu?
Jawabmu adalah kumandang yang melampaui agama ketika magrib tiba.


2014
"Puisi: Kolom Agama (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Kolom Agama
Karya: Joko Pinurbo
Kemacetan Tercinta

Sudah jam sembilan malam
dan jalan menuju rumahnya masih macet.
Ia bunyikan klakson mobilnya berkali-kali
hanya agar sepi tak cepat mati.

Malam adalah senja yang salah waktu.
Matahari telah diganti lampu-lampu.
Jerawat tumbuh di pucuk hidung.
Ketiak telah kehilangan parfum.

Ia lihat wajah ibunya di kaca spion.
Ia hirup harum kopi dari pendingin udara.
"Selamat malam, Bu. Apakah di tengah
kemacetan ini kecantikan masih berguna?"

Ibunya tidak menjawab, malah berkata,
"Kemacetan ini terbentang antara hati
yang kusut dan pikiran yang ruwet.
Kamu dan negara sama-sama mumet."

Demi kemacetan tercinta ia rela menjadi tua
di jalan; ia rela melupakan umur.
Malam merayap, banjir sebentar lagi tiba.
Di kaca spion ia lihat ibunya tertidur.


2014
"Puisi: Kemacetan Tercinta (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Kemacetan Tercinta
Karya: Joko Pinurbo
Selepas Usia 60

Selepas usia 60 saya sering terdiam
di depan jendela, mengamati tingkah
anak kecil yang lucu-lucu. Saat sekecil mereka
saya baru fasih mengucapkan nana, maksudnya
celana, dan saya belajar keras memakai celana
dan sering keliru: kadang terbalik,
kadang seliritnya menjepit dindaku.

Ibu curang: diam-diam mengintip lewat
celah pintu. Baru setelah ananda terjengkang
karena dua kaki masuk ke satu lubang,
Ibu buru-buru menyayang-nyayang pantatku:
Jangan menangis, jagoanku.
Celana juga sedang belajar memakaimu.

Kasihan Ibu, sering didera kantuk
hingga jauh malam, menjahit celana saya
yang cedera. Sampai sekarang kadang
tusukan jarumnya masih terasa di pantat saya.

Saya masih berdiri di depan jendela,
memperhatikan seorang bocah culun,
dengan celana bergambar Superman,
sedang ciat-ciat bermain silat. Tiba-tiba ia
berhenti. Bingung. Seperti ada yang tidak beres
dengan celananya. Oh, gambar Superman-nya
rontok. Ia cari, tidak ketemu. Lalu ibunya
datang menjemput. Senja yang dewasa
mulai merosot. Tubuh yang penakut
mendadak ribut. Yeah, ini celana diam-diam
mau melorot. Saat mau tidur baru saya tahu:
hai, ada gambar Superman di celanaku.

2004
"Puisi: Selepas Usia 60 (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Selepas Usia 60
Karya: Joko Pinurbo
Seperti Apa Terbebas dari Dendam Derita?

Seperti apa terbebas dari dendam derita?
Seperti pisau yang dicabut pelan-pelan
dari cengkeraman luka.

2005
"Puisi: Seperti Apa Terbebas dari Dendam Derita? (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Seperti Apa Terbebas dari Dendam Derita?
Karya: Joko Pinurbo
Kepada Cium

Seperti anak rusa menemukan sarang air
di celah baru karang tersembunyi,

seperti gelandangan kecil menenggak
sebotol mimpi di bawah rindang matahari,

malam ini aku mau minum di bibirmu.

Seperti mulut kata mendapatkan susu sepi
yang masih hangat dan murni,

seperti lidah doa membersihkan sisa nyeri
pada luka lambung yang tak terobati.

2006
"Puisi: Kepada Cium (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Kepada Cium
Karya: Joko Pinurbo
Minggu Biru

Di Minggu pagi yang biru
ia muncul di depan rumah,
meniup lampu yang masih menyala di beranda
dan menjamah kucing
yang tidur total di depan pintu.
"Semalam kudengar ngeongmu
dalam sajak gelap yang diobrak-abrik insomnia.
Kini aku menemukanmu
sedang nyenyak di luar kata."
Ia membuka payung,
membuka hatinya yang suwung,
dan berjalan menyusuri lorong di tengah hujan,
kucingnya yang biru
lelap dalam dekapan.
"Ini kucingku," katanya kepada anjing bin asu
yang melolong di tikungan.
Ia bangun di pagi yang biru
dan mendapatkan lampu di beranda sudah mati,
kucingnya sudah pergi,
hujan baru saja berhenti.
Hanya ada anjing bin asu sedang singgah tiduran
di depan pintu dan berkata,
"Kupikir kamu yang tadi
membawa kucing tidur itu."

2015
"Puisi: Minggu Biru (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Minggu Biru
Karya: Joko Pinurbo
Buku Latihan Tidur

Malam-malam ia suka bermain kata
bersama buku latihan tidur. Buku latihan tidur
memintanya terpejam dan tersenyum
sambil membayangkan bahwa di ujung tidur
ada sungai kecil yang merdu. Buku latihan tidur
kemudian mengucapkan sebuah kalimat dan ia balas
dengan kalimatnya sendiri. Begitu seterusnya
sampai buku latihan tidur mengantuk
dan tak sanggup berkata-kata lagi.
Gantungkan cita-citamu setinggi gunung.
Gantungkan terbangmu pada sayap burung-burung.
Rajin pangkal pandai.
Jatuh pangkal bangun.
Anak kucing lari-lari.
Anak hujan mencari kopi.
Hujan menghasilkan banjir.
Hujan melahirkan pelukan-pelukan yang berbahaya.
Mandilah sebelum dingin tiba.
Cantiklah sebelum lipstik tiba.
Mataharimu terbit dari timur.
Matahariku terbit dari matamu.
Buanglah sampah pada tempatnya.
Buanglah benci ke tempat sampah.
Surga ada di telapak kaki ibu.
Kaki ibu mengandung pegal-pegal kakiku.
Apa agamamu?
Agamaku air yang membersihkan pertanyaanmu.
Tuhan, aku sayang kamu.
Sayangku padamu terbuat dari hati yang sering mati.
Tuhan tidak tidur.
Tuhan menciptakan tidur.
Buku latihan tidur pun tertidur, kata-kata
tertidur, dan ia minta selamat kepada tidur.
Tidur: alamat pulang paling pasti ketika kata-kata
kehabisan isi dan tak tahu lagi ke mana akan
membawamu pergi. Tidur: mati sunyi di riuh hari.
Di subuh yang kosong buku latihan tidur
mendapatinya sudah menjadi kepompong.

2015
"Puisi: Buku Latihan Tidur (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Buku Latihan Tidur
Karya: Joko Pinurbo
no image
Cara Membuka PDF yang terkunci - Tunggu beberapa lalu download PDF yang file sudah di UNLOCK tadi. Pertama membuka buka pdfunlock.com untuk file PDF. Lalu pilih PDF di Unlock yang akan dengan My Computer, Lalu tekan menekan UNLOCK untuk file PDF. Tunggu membuka beberapa saat lalu downloadlah file PDF yang di UNLOCK sudah tadi.

Masalah: Tidak isi, teks, gambar, bisa mengambil tabel, grafik,. file pdf yang terkunci pada Penyebab: File pdf tidak bisa terproteksi dibuka. Bagaimana cara menghapus PDF sandi . Temukan PDF yang dan unggahlah tersandi. Jika tidak ada yang kuat pada enkripsi file Anda, maka file akan tersebut.

Membuka Cara PDF yang Terkunci Password Software Tanpa Membuka proteksi file pdf lebih jauh mudah bila dengan dibandingkan membuka password. Pernahkan kamu file PDF yang tidak menemukan bisa di edit tidak bisa terbaca maupun? PDF tidak bisa ataupun terbaca di edit karena file PDF.

Tips Bagaimana Caranya Membuka PDF Yang Dikunci Kata Sandi (Password) - Banyak pelajar mendapatkan. Atau biasa SECURED file pdf yang tidak copy untuk di paste ke lain. Hal tersebut sengaja. Secara online. Saat Browsing materi kuliah, penelitian atau data-data lain.

Cara Membuka PDF yang terkunci.
Jujur saya katakan cara membuat subtitle film sangatlah mudah, namun sangat menyita waktu. Saya lebih memilih untuk mendownload di Subscene untuk masalah itu, tinggal mengetik judul dan memilih subtitle. Namun bagaimana jika film yang kita download terlalu jadul atau terlalu baru, sehingga tidak bisa kita temukan subtitle berbahasa Indonesia di mana pun? Saya pernah mengalami masalah ini berkali-kali, hingga akhirnya saya memutuskan untuk membuat subtitle sendiri. Dan cara yang saya tempuh adalah sebagai berikut.

Cara Membuat Subtitle Film Sendiri
  • Mencari subtitle di internet (alias di subscene).
  • Kemudian mendowload subtitle yang ada. Saya pilih yang bahasa inggris (Jika memang tersedia).
  • Lalu saya akan merubah subtitle tersebut menjadi Bahasa Indonesia.
Nah, bagaimana cara merubah subtitle Bahasa Inggris menjadi Bahasa Indonesia?
  • Buka subtitle yang Bahasa Inggris  tersebut (menggunakan Microsoft Word atau Notepad).
  • Setelah anda membukanya, langsung tekan CTRL+A di keyboard laptop anda, dan lanjutkan dengan menekan CTRL+C (untuk melakukan kopi terhadap semua subtitle tersebut).
  • Kemudian buka GoogleTranslate.
  • Lalu paste semua tulisan tersebut di kolom bagian kiri GoogleTranslate (tekan CTRL+V).
  • Kemudian Copy terjemahan dari kolom bagian kanan GoogleTranslate ke microsoft Word atau Notepad.
  • Setelah itu, tekan CTRL+H di Microsoft Word atau Notepad (hingga terlihat tampilan seperti di bawah ini:
"Cara Membuat Subtitle Film Sendiri"
  • Kemudian pada "Find What" ketik -> dan pada "Replace What" ketik -->
  • Kemudian tekan Replace All. Lihat gambar:
"Cara Membuat Subtitle Film Sendiri"
  • Simpan tulisan Microsoft Word tersebut (cara cepat untuk menyimpan data: ALT+SPACE+C atau CTRL+S).
  • Selesai.
Sedikit penjelasan:
  • Terjemahan dari GoogleTranslate tidak begitu memuaskan (karena terjemahannya per/kosakata).
  • Koneksi internet anda juga sangat mempengaruhi kecepatan translate di GoogleTranslate.
  • Jika anda bisa Bahasa inggris, pergunakanlah (namun seperti yang sudah saya katakan, itu akan sangat memakan waktu).
  • Sekian Cara Membuat Subtitle Film Sendiri.
  • Terima kasih sudah membaca!
Belajar dari pengalaman sendiri, sepertinya cara mengambil gambar dari layar komputer layak untuk dijadikan Artikel Blog. Karena hal tersebut dibutuhkan untuk beberapa alasan. Dan berhubung hari ini tidak ada yang menanyakan apa alasannya, jadi mari kita mulai saja pembahasannya.

"Cara Mengambil Gambar Di layar Komputer (Print Screen)"
Cara Mengambil Gambar Di layar Komputer (Print Screen)
  • Siapkan gambar layar yang ingin anda ambil.
  • Kemudian Tekan PRTSC SYSRQ atau PRT SC di laptop anda (letaknya di bagian Kanan Atas Keyboard).
  • Kemudian Buka Aplikasi (Contoh: Paint atau Microsoft Word).
  • Selanjutnya di Aplikasi yang anda buka tersebut, silahkan menekan CTRL+V di keyword anda.
  • Kemudian simpan gambar tersebut (saya anggap anda mengerti cara menyimpannya).
  • Selesai.
Penjelasan: Dari penjelasan di atas dapat kita simpul bahwa cara yang kita lakukan adalah cara COPY PASTE. Jadi anda tidak perlu membuka Paint atau Mic.Word, tapi anda bisa menggunakan aplikasi lain yang tentunya support Copy Paste gambar.
Dengan Sepatu Kecil Anak-anak yang Menyeberang

in memoriam Aylan Kurdi (2012-2015)

Tentu saja di pulau itu orang-orang Kos tak mendengar
derak kapal patah
ketika anak-anak di palka bernyanyi,
"lihatlah kerudung kami,
kerudung kami."

*
Pada jam sarapan mualim berkata,
ada tembolok camar yang pecah
di kiri buritan.

Hiu yang menari
sepanjang pasang
menantikan mimpi
di atas buih

*
Dari kamar mesin,
besi dan hitam berdesakan.

*
Aku mencari sinyal
di tepi Djibouti.

Dalam tugur
dinihari.

Diagram telepon genggam
mungkin isyarat

Di seberang, mungkin di seberang,
laut mendekat.

Tapi menjelang siang,
di cuaca bisu,

sinyal meracau
dan gerbang tenggelam.

Mungkin tenggelam.

Mereka katakan Laut Merah
terbelah

dan Musa lewat
dalam pawai.

Tapi tidak dari sini,
tidak dari sini

di tepi Djibouti.

*
Kata yang sulit adalah "Palestina". Kadang-kadang eksodus
membentuknya. Kadang-kadang Tuhan,
kadang-kadang Firaun, kadang-kadang gurun.
Sesekali teka teki.

Syahdan semua yang tak menemukan rumah
akan juga sampai.
Semua yang diungsikan
akan berhenti. Yang berjalan, dengan paspor tua
mungkin  tiba.
Dan kata yang hilang adalah "Palestina".

 *
Dalam dongeng diceritakan bahwa
yang pertama meninggalkan ladang
adalah anak dan ingatan.
Di hari penghabisan
tersisa peta di perapian.

Sebelum kita dengar, "selamat tinggal."

*
Pada jam mati yang kering
akhirnya  mereka temukan waktu.
Tapi di pagar jalan ke arah Aegea
mereka tak lagi temukan nama-nama.

*
Tuhan sebenarnya ingin sederhana.
Sebelum perang. 

2015
"Puisi: Dengan Sepatu Kecil Anak-anak yang Menyeberang (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Dengan Sepatu Kecil Anak-anak yang Menyeberang
Karya: Goenawan Mohamad
Syair Malang Sumirang

Malang Sumirang wus prapti...
Babad Jaka Tingkir, 1820

Syahdan, murtad itu pun diikat
di atas unggun, dan api naik menggeram,
dan penonton terdiam
di seluruh alun-alun.

Seekor anjing menyalak
ke cuaca Demak, menyeru hujan,
dan hujan tak turun,
dan langit kering,

mendung tak menyahut,
juga ketika seorang anak bertanya,
"Aku tak mengerti,
ke mana orang itu harus mati."

Seorang orang tua, yang pernah
melihat semuanya, pun berkata,
"Ia akan selalu bersama kita,
dalam abu dahan cendana."

"Anjingnya yang setia
akan mendatangkannya lagi
dari api - dari kepastian
yang membunuhnya."

Maka para wali pun terkejut
dan orang-orang suci merunduk,
ketika anjing itu meloncat
ke tengah nyala, dan lidah api meliuk,

dan si murtad terlihat, dari pekat asap:
ia menuliskan sajaknya.
Dan anak itu pun bertanya,
"Katakan, Eyang, apa yang ditulisnya."

"Sebuah nyanyian, nak,
seperti hutan Kalampisan
yang tak ingin
punya makna."

2015
"Puisi: Syair Malang Sumirang (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Syair Malang Sumirang
Karya: Goenawan Mohamad
Anak-anak

Di dinding rumah hitam
yang ia ingat 60 tahun kemudian
tertulis empat huruf nama anak
yang tak akan pernah dilahirkan.

Sejak langit tak bisa dingin.

Sejak langit tak bisa dingin
di malam hari dilihatnya malaikat penunggu kuda
dengan muka muram menyelamatkan 1.000 janin
dari bumi.

Dari pertanyaan-pertanyaan
tentang bahagia.

2015
"Puisi: Anak-anak (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Anak-anak
Karya: Goenawan Mohamad