loading...

Hawa Dingin

Dingin malam memang tak pernah mau
menegurmu, dan membiarkanmu telanjang;
berdiri saja ia di sudut itu
dan membentakku, "Ia hanya bayang-bayang!"

"Bukan, ia tulang rusukku," sahutku
sambil menyaksikannya mendadak menyebar
ke seluruh kamar - yang tersisa tinggal abu
sesudah kita berdua habis terbakar.

"Puisi: Hawa Dingin (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Hawa Dingin
Karya: Sapardi Djoko Damono

Post a Comment

loading...
 
Top