Kemacetan Tercinta

Sudah jam sembilan malam
dan jalan menuju rumahnya masih macet.
Ia bunyikan klakson mobilnya berkali-kali
hanya agar sepi tak cepat mati.

Malam adalah senja yang salah waktu.
Matahari telah diganti lampu-lampu.
Jerawat tumbuh di pucuk hidung.
Ketiak telah kehilangan parfum.

Ia lihat wajah ibunya di kaca spion.
Ia hirup harum kopi dari pendingin udara.
"Selamat malam, Bu. Apakah di tengah
kemacetan ini kecantikan masih berguna?"

Ibunya tidak menjawab, malah berkata,
"Kemacetan ini terbentang antara hati
yang kusut dan pikiran yang ruwet.
Kamu dan negara sama-sama mumet."

Demi kemacetan tercinta ia rela menjadi tua
di jalan; ia rela melupakan umur.
Malam merayap, banjir sebentar lagi tiba.
Di kaca spion ia lihat ibunya tertidur.


2014
"Puisi: Kemacetan Tercinta (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Kemacetan Tercinta
Karya: Joko Pinurbo

Post a Comment

loading...
 
Top