loading...

Sajak Tafsir

1
Siapa gerangan berani menafsirkanku
sebagai awan yang menjadi merah ketika senja?
Aku batu. Kota boleh mengembara ke langit
dan laut, aku tetap saja di sini.
Siapa tahu untuk selamanya.
Dan tidak boleh tidur,
meskipun kadang-kadang memahami
diri sendiri sebagai telur.
Tidak boleh menghardik pohon
yang malam-malam mengirimkan karbon.

Sungguh, aku batu
yang begitu saja di tengah jalan,
yang tak tampak sehabis hujan.
Siapa pula sampai hati
menafsirkanku sebagai langit
yang letih menggerakkan awan
dan menghirup udara jika hari hujan
dan matahari berusaha menembus
rambut tebalnya?

2
Aku sungai, biar saja.
Siapa kau yang merasa berhak
menafsirkanku sebagai batu?
Aku tak boleh letih menuruni bukit,
tak semestinya menanjak
mengatasi langit,
tak seharusnya memadamkan
matahari waktu siang
atau bersembunyi dari bulan
kalau malam tiba-tiba mengambang
di antara butir-butir udara
yang suka meretas
jika kau sedang menundukkan kepala.

Sungguh. Sungai tak akan bisa menjadi bunyi
atau sekedar rentetan aksara.
Aku sungai yang hanya bisa
mengikat pohon
agar tidak ikut kota mengembara
ke hutan dan meninggalkannya begitu saja.
Padahal dari sana pula asal-usulnya,
dulu ketika masih purba.

3
Siapa yang menyuruhmu menafsirkanku
sebagai sungai yang bisa menjadi suara
yang mengambang bersama cahaya sore
di sela-sela awan yang kadang-kadang
juga kautafsirkan sebagai lambang
kefanaan? Aneh.
Aku tak lain sawah yang dicangkul
musim dan dibiarkan tersiksa
oleh padi yang begitu saja tumbuh
di tengah-tengahnya.

Aku hanya suka menerima kota
jika kebetulan berjalan di hari libur
dari desa ke desa bercengkerama tentang
cuaca yang suka ke sana ke mari,
yang tiba-tiba menjadi sama sekali diam
jika kau menafsirkanku sebagai batu.
Aku sawah, yang tak akan bisa ramah
terhadapmu.

4
Sawah? Siapa pula yang telah membisikkan
kebohongan itu padamu?
Aku burung, yang boleh saja
membayangkan telah lahir
dari telur yang dibayangkan batu,
terlibat dalam kisah cinta yang pernah kaubaca
di kitab terjemahan itu.

Aku tidak menerjemahkan diriku
sendiri menjadi burung,
karena aku burung.
Bukan sawah yang masih suka
menerjemahkan dirinya menjadi kota
atau bahkan menafsirkan dirinya
sebagai batu.
Burung hanya mencintai
sayapnya sendiri,
mengagumi terbangnya sendiri
yang mengungguli ladang,
bahkan mengatasi batu.
Sungai pun, yang sesekali terjun,
tidak pernah berkeberatan akan
cintaku kepada selembar daun
yang merindukan langit.

5
Kau bilang aku burung?
Jangan sekali-kali berkhianat
kepada sungai, ladang, dan batu.
Aku selembar daun terakhir
yang mencoba bertahan di ranting
yang membenci angin.
Aku tidak suka membayangkan
keindahan kelebat diriku
yang memimpikan tanah,
tidak mempercayai janji api
yang akan menerjemahkanku
ke dalam bahasa abu.
Tolong tafsirkan aku
sebagai daun terakhir
agar suara angin yang meninabobokan
ranting itu padam.

Tolong tafsirkan aku sebagai hasrat
untuk bisa lebih lama bersamamu.
Tolong ciptakan makna bagiku,
apa saja – aku selembar daun terakhir
yang ingin menyaksikanmu bahagia
ketika sore tiba.

6
Siapa pula yang bilang
aku berurusan dengan duniamu?
Kyai mana yang membohongimu?
Pendeta mana yang selama ini
berdusta padamu?
Jangan tafsirkan aku
sebagai apa pun
sebab aku tidak pernah ada
dan tidak akan ada.

Aku tidak terlibat dalam makna
seperti yang mereka bayangkan
tentang diri mereka sendiri –
bukan bahasa yang tak lain masa lalu.
Dan kau juga tak akan mampu
membayangkan aku
sebagai kapan saja.
Aku tidak memerlukan bahasa –
diam bukan batu, mengalir bukan sungai,
dicangkul bukan sawah,
terbang bukan burung,
bertahan bukan daun.
Aku tidak, bukan apa pun.


"Puisi: Sajak Tafsir (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Sajak Tafsir
Karya: Sapardi Djoko Damono

Post a Comment

loading...
 
Top