April 2015
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Menjelang Mendarat

Pulau-pulau jamrut cemerlang
memanggil dengan suara lantang berdentang
hasrat kuat akan kemerdekaan
dan berkelilingan kilau danau dengan laut terbentang
jam berapa pesawat melambai Menado?
Anakku, di atas awan kuingat kau.

Makassar-Menado
4 April 1964
"Agam Wispi"
Puisi: Menjelang Mendarat
Karya: Agam Wispi
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Taman Tahun

Satu dua orang datang satu dua orang pergi
Pohon tumbuh sendiri, sapi berjalan sendiri
Kemarin aku berjanji menjengukmu
Nonton bersama

Satu dua orang datang satu dua orang pergi
Tak ada halaman lain pada tubuhmu.
Waktu telah jadi bentangan kain 
Potongan-potongan baju, ke Selatan ke Utara
Jam 10 malam, toko-toko telah tutup

Satu dua orang datang satu dua orang pergi
Siapa yang mau menunggu di sini
Orang-orang berlalu
Halaman rumah belum disapu
Semua orang datang semua orang pergi
Besok aku berjanji menjengukmu
Tanpa dirimu lagi
Di situ.
1983
"Afrizal Malna"
Puisi: Taman Tahun
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Rumpun Lembu

Orang budak hidup dalam palu-palu berkeliling
menempa kerja dalam gerak mati aku mati
tak punya malam bintang tak berlangit

Orang budak: kejalangan kerja dalam tubuhku
lelaki yang disimpan dalam keras palu-palu
mati raga berkeliling rangka sia-sia
memalu tanah yang tak beri rumah
menggodami langit yang tak beri sorga

Aku jadi batu mati dalam rumahmu!

Orang-orang yang budak hidup hilang dalam suara-suara
kota-kota menyimpan langitku menyimpan langitku
tubuh yang menetes dalam palu-palu mati
aku mati dalam hidupmu: aku mati dalam hidupmu.

Palu berkeliling-keliling dalam dagingku.

1983
"Afrizal Malna"
Puisi: Rumpun Lembu
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kartu Identitas Penduduk di China
(untuk Lan Zhenghui)

Aku sudah menyiapkan tas ransel, mesin pencukur jenggot, dan sebuah kebangsaan yang dipotret di kantor kecamatan. Setiap terbangun, aku takut ketinggalan pesawat. Atau menemukan diriku sedang bercinta dengan bahasa China di kamar orang lain. Hari Selasa kemarin tidak datang. Besok masih besok. Kemarin entah ke mana sebelum hari Minggu. Hari Selasa masih menunggu kemarin yang tidak datang. Hari Selasa bukan hari Selasa kalau belum hari Selasa.

Besok, hari Selasa mulai akan melubangi bayanganku dari punggungku, untuk mendengar bahasa China dari sipit mataku hingga hardware komputerku. Besok masih besok sebelum kemarin. Hari Selasa tidak menyimpan 100 tahun dari ketakutan setiap generasi pada Kartu Identitas Penduduk, pendidikan dan lapangan kerja. Orang-orang membuat rumah untuk berdusta. Menjeritkan generasi yang berceceran di tangga eskalator. Dan menjeritkan lagi ketakutan mereka di atas great wall. Sejarah seperti obeng dan gergaji yang menjauhkan manusia dari tangan-tangan waktu.

Apakah kamu dari Indonesia? Tanya supir taksi. Ya jawabku. Seperti menjawab suara jeritan dari toko-toko yang terbakar di Jakarta. Perempuan mereka yang ditelanjangi dan diperkosa. Tubuh-tubuh yang berubah menjadi arang hitam. Sejarah yang mengambil tangan kita, dan membenamkannya kembali berulang ke dalam luka yang sama. Luka yang kembali bertanya: Apakah kamu dari Indonesia?

Pagi itu kabel-kabel listrik di jalan masih menahan dingin, melepaskan sisa-sisa malam, lemak dan kembang api olimpiade. Seorang teman memesan topi Mao. Apa yang aku kenang tentang negeri ini dari great wall, topi bulu musang dari Mongol, teguran politik dari Tibet, air terjun manusia yang tumpah dari lubang langit – hingga manajemen komunis yang mengatur penghasilan penduduk sampai kamar hotelku.

Zhenghui, aku mengagumi lukisanmu, yang kembali ke kertas bubur beras dan tinta China. Angin menjelang musim dingin mulai menyapa leherku.

"Afrizal Malna"
Puisi: Kartu Identitas Penduduk di China
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di Jendela Pesawat

Telah lama aku menunggumu
terlalu lama
sebelum kamu datang
sebuah mobil terbakar menuju bandara
bau besi hangus

Apakah kematianku juga tak ada gunanya

Rasa perih pada betis. kaki menjelang berdiri
otot kehilangan berbaring
tubuhku telah berhenti sebelum kamu datang
dan kamu memang tak pernah datang
sebagai kamu yang tak pernah ada
matahari akan bersinar lagi besok pagi
cerah. hangat. angin tipis
awan putih dan langit biru

Kembang api di malam tahun baru.


"Afrizal Malna"
Puisi: Di Jendela Pesawat
Karya: Afrizal Malna
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Bagian dari Waktu

Kolam-kolam musim dingin yang jernih
Habis direguk musim panas yang kehausan
Sungai masih mengalir pelan dari balik gunung
Tapi gairahnya memancar jauh di lubuk lautan
Maka ke balik ombaklah ingin kupersembahkan
Nanar hatiku. Kesabaran ibarat sungai
Dan kebijaksanaan tak pernah minum terlalu banyak

Siapa yang berkhotbah sampai ke ufuk jauh
Dialah yang mengetahui rahasia semua musim
Tapi matahari tak pernah menghasut bumi
Sungai hanya mengalir pada jalurnya sendiri
Seperti darah pada nadi. O, getar hatiku
Kenapa cemas pada hari-hari yang menyusut
Kematian hanyalah bagian dari waktu.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Bagian dari Waktu
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Marak Cahaya

Sunyi telah menitipkan sebaris puisi
Untuk kugulirkan kepadamu
Sunyi telah meneteskan setitik air
Untuk kucampur dengan airmatamu
Dan aku bertahan pada kepasrahan
Membaca kelam hingga mataku buta

Di padang kesadaran aku telah berkemah
Pada setiap butir pasir kuucapkan namamu
Di tebing karang kuulang tangis Adam
Kususuri jejak Ibrahim yang panjang
Hingga aku tersungkur di lembah Mina
Mencuci kain yang penuh kotoran dunia
Untuk kubalutkan sebagai selimut kekekalan

Tapi puisiku bukanlah gelombang dahsyat
Lemparan cahaya kemabukan ke angkasa raya
Puisiku bukanlah jerit para kafilah yang kalap
Menyanyikan namamu dengan suara membahana
Puisiku hanyalah desah kecil
Langkah letih menuju pusat matahari

Sebab sunyi telah menitipkan sebaris puisi
Untuk kugelindingkan ke halaman rumahmu
Sebab telah kuperas darah dari bukit batu penyesalanku
Untuk kucampur dengan gairahmu yang membara
Sebab di hatiku kini tumbuh dendam yang bernama cinta
Namun kebutaanku tak mungkin melihatmu yang marak cahaya


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Marak Cahaya
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kupu-kupu

Aku tidur dalam pelukan bunga layu
Memimpikanmu melayarkan bintang-bintang
Ke ranjangmu. Sungai-sungai
Airmata yang mengering dalam doa-doaku
Aku menulis semua yang dibidikkan angin
Membaca semua yang dituliskan semilirnya padaku
Bercakap dengan udara yang dingin:
Betapa cepat kuda ajal merebut semua jalanku
Lautan itu mengandung bulan
Kaulah yang memompa perut gelombangnya!
Ikan-ikan yang minum dari matamu
Burung-burung mabuk dalam kejaran pandanganmu
Kembali pada debu. Kupu-kupu
Merontokkan lembar demi lembar rambutku.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Kupu-kupu
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Doa Petani Bunga

Wahai malam yang memperpendek jarak
Dengan misa pagi. Beri kami orkestra yang ramai
Hingga pentas sunyi usai dan kuntum-kuntum peoni
Tercium semerbaknya di awal pergantian musim

Wahai musim yang mengurapi lapisan tanah
Dengan sakramen hujan. Beri kamu alegro rasa syukur
Kegembiraan yang mengalirkan nada pada lembar partitur
Hingga putik-putik krisan mekar sebelum paskah tiba

Wahai paskah yang memberkati daun-daun gugur
Dengan tembang mazmur. Beri kami rekuim yang panjang
Hingga segala duka mengendap dan akar-akar magnolia
Kembali mengalirkan cahayanya pada paras bunga.

2015
"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Doa Petani Bunga
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Natal di Sintesa Peninsula

Aku meninggalkan kamar dan pergi ke puncak bukit
Jalan menanjak dan melingkar adalah rute resmi
Menuju pagi. Kabut berkerumun di tengah udara dingin
Dan matahari belum sepenuhnya terbit dari tingkap langit

Di atas hamparan kampung di atas lereng gunung
Atap-atap seng seperti deretan nisan tua yang ramping
Tapi pagar-pagar gamping mengungkapkan gambaran lain
Kematian bukan terminal terakhir bagi penempuh batin

Aku bersandar pada sebuah patung dengan sisa ingatan
Yang masih tergantung. Pohon-pohon meredam deru angin
Lampu-lampu natal menebarkan sinarnya yang gemetar

Mungkin aku tak tahu atau lupa untuk apa mencintaimu
Dengan melukai dada. Tapi celah waktu selalu terbuka
Juga bagi hadirnya takwil baru mengenai penebusan dosa.

2015
"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Natal di Sintesa Peninsula
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Rue des Alouettes, Alfortville

Di malam yang basah oleh gerimis
Di pertengahan musim dingin
Sebelum salju menjadi begitu berbahaya
Kulihat kau tergolek di sudut sofa
Di antara detak jam dan Saviganon blanc
Yang masih tersisa

Mungkin aku tak akan pernah menindih
Tubuhmu yang ringkih. Tapi ingin kutampung nafasmu
Seperti beranda menyerap setiap hempasan angin
Di atas meja cahaya lampu mendadak redup
Begitu juga pisau dan garpu
Aku menebak ke mana arah kata-kata
Meraba-raba getar udara
Dengung kulkas terdengar nyaring
Dari balik dadamu yang rata

Kudengar juga gumpalan mega di luar
Seperti sekawan kuda liar
Yang menderu ke atas jendela
Kusentuh keningmu dan tiba-tiba kupahami
Ada bintik-bintik keringat di situ
Mungkin sentuhan tangan bukanlah tangga
Yang akan mengantarkan kesepianmu
Ke puncak menara. Sebuah kecupan
Kulepaskan pada pelupuk matamu
Lalu kuhirup nafas waktu dan sisa
Sauvignon Blanc yang menetes
Dari ujung bibirmu.

1997
"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Rue des Alouettes, Alfortville
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Lagu Bulan April

Sebuah kolam adalah kekekalan
Dengan akar-akar bakung yang khusyuk
Serta bunga-bunganya yang mekar di udara sejuk
Serumpun gelagah dan rumputan liar di tepian
Pagar-pagar batang kayu dan sebuah jalan menurun
Yang curam. Kulihat mulut lembah itu seperti kehausan
Suara burung-burung dan musik dari gesekan daun-daun
Melengkapi wajah langit biru muda yang berkilauan
Seperti goresan lembut cat air -
Sebuah kolam dengan sekelompok angsa yang riang
Tapi matamu lebih sunyi dari riak air kolam mana pun

Tanganmu masih bergayut di dahan-dahan pohon palma
Dua buah pir hijau muda kini matang di dadamu
Sebatang sungai jernih penuh batuan
Nampak bergerak ke lembah yang kehausan cahaya
Dari bukit-bukit di atas nampan besar semesta ini
Kata-katamu sudah tak perlu diucapkan mulut lagi
Kesunyian telah menjelma huruf-huruf yang dibaca angin
Dikabarkan ke seluruh penjuru dan halaman buku
Di sini setiap cemara mempunyai lilin paskahnya sendiri
Sedang gereja-gereja semakin merampingkan diri
Dengan menara-menaranya yang runcing -
Dari senyumanmu sebatang sungai lain membasahi kota-kota
Seperti lagu gembala bagi domba-domba padang pasir

Sebuah kolam adalah kekekalan merah muda
Tapi matamu lebih dalam dari seribu pengakuan dosa
Di bahumu bunga-bunga bakung menjalin rambut ikalnya
Bunga-bunga tulip tersenyum malu di ceruk pipimu
Jauh di seberang ladang-ladang gandum, sebuah mata air jernih
Dengan roda airnya yang terus bergerak laksana waktu
Nampak mengalir ke dalam matamu yang tak beriak itu
Semuanya, seperti cahaya langit musim semi yang megah
Kolam anggur tak habis-habisnya direguk bumi dahaga -
Rambutmu lebih halus dari puisi atau lukisan mana pun
Seperti anugerah bagi hamparan negeri yang penuh ciuman ini.

1992
"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Lagu Bulan April
Karya: Acep Zamzam Noor
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sembilan Bait Nyanyian untuk Cheng Ho

Di tepi jalan raya Dongfeng Dongfu, aku bertanya pada sejuta sepeda
yang bergulir lalu, mereka sibuk mengukir nasib bersama
seraya mengepulkan anyaman debu.

Pada empat arah mata angin kubaca senarai 1000 juta manusia, tapi
telapak tanganku hanya mampu menyentuh permukaan
samudera 5000 tahun sejarahmu, lalu aku bertanya-jawab
dengan tembikar tua bertuliskan kaligrafi biru.

Di depan musium berderet bunga sembilan warna, cuaca menjelang
musim gugur tapi yang kau tawarkan senantiasa musim bunga,
dan kini kau putar balik arlojiku lima abad jangkanya.

Di kampung kelahiranmu, Kun Yang, aku terkenang pada klenteng
Sam Po Kong di Semarang, pada pelayaranmu ke Aceh
dan Palembang, lalu persinggahanmu di Malaka dan Singapura.

Angin bertiup mendaki bukitmu, merayap di antara dedaunan berangan
dan cemara berdaun jarum biru, mengantarkan dingin pada
leher jaketku, ketika aku terpaku berdiri di depan makam Haji
Ma ayahmu, dan Al-Fatihah basah di lidahku.

Kami peziarah diingatkan tentang seorang pelaut perkasa melalui kubur
ini, kubur ayahnya, namun di mana makam ibunya tak ada yang
memberiku berita.

Di tangannya tujuh pelayaran, disinggahinya tiga puluh pelabuhan dunia,
dijinakkannya badai samudera dengan awak kapalnya,
dialah 
laksamana yang menjelajah tapi tidak menjajah, 
dan disulamnya
benang hijau di atas layar sejarah.

Di atas bis Hino 20366 yang meluncur laju, aku masuki gerbang abad 15 dan
16 di negeriku, sauhmu Hanafi tapi terjangkar di pasir pantaiku
Syafi'i, kelopak mataku bagai anak kucing yang lama buta lama
terbuka,

Cheng Ho.

Dulu cuma sebuah nama dengan dua suku kata Cina terngiang di telinga
semasa kanak-kanakku di Semarang lama, dulu cuma gugusan
kaligrafi sebuah klenteng dengan barongsai gduk-gduk-ceng duk-
ceng duk-ceng yang bising dengan paduan warna merah dan kuning,
tapi kini betapa dalam gaung makna penafsirannya,

Cheng Ho.


Kun Ming, Yunnan
26 Agustus 1994
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Sembilan Bait Nyanyian untuk Cheng Ho
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Doa Si Kecil

Tuhan Yang Maha Kaya
Beri mama kasur tebal di surga

Tuhan Yang Pemurah
Belikan ayah pipa yang indah

Amin.

1963
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Doa Si Kecil
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Bilakah Kau Akan Melintas di Depanku

Kutunggu-tunggu kau melintas di depanku
Begitu benarkah lamanya
Sangat ingin aku menegurmu dalam sapa
Tingkap angin makin ungu dalam nestapa

Fajar pun yang tak kunjung teraih
Begitu benarkah sukarnya
Kemarauku menggigil dalam nyala
Musim tempat berbagi yang perih

Tanganku inikah tangan dukana
Menjulur-julur dari kemah berkibar badai
Suara tanah yang hama sepanjang bencana
Warna papa tergapai, sapuan tak sampai-sampai

Kutunggu-tunggu kau melintas di depanku
Begitu benarkah jarak zamannya
Sangat ingin aku menyapamu dalam tegur
Dan kau balas dengan senyum menghibur.

1963
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Bilakah Kau Akan Melintas di Depanku
Karya: Taufiq Ismail
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Malam ini saya bagikan cara membuka 2 akun melalui Google Chrome. Cara ini sebenarnya tidak hanya berlaku untuk akun Facebook saja, tapi juga berlaku untuk akun lainnya seperti Twitter, Gmail, Yahoo, atau lainnya.

"Cara Membuka 2 Akun Facebook Di Google Chrome"

Dalam pembahasan ini, anda tidak harus menggunakan Software atau aplikasi pendukung, anda hanya perlu menekan CTRL+SHIFT+N (jika menggunakan Google Chrome).

Sebutan untuk metode ini adalah Metode Penyamaran, agak lama sudah diluncurkan oleh Google Chrome, namun tidak banyak yang tau.

Kelebihan Metode ini adalah:
  1. Bisa membuka 2 akun facebook dengan hanya menggunakan satu browser.
  2. Apapun yang anda buka melalui Metode Penyamaran tidak akan disimpan di Riwayat Cache. Jika anda membuka akun melalui Laptop orang lain, sebaiknya gunakan metode ini (untuk mencegah orang tersebut melacak data yang anda buka). Apalagi jika Anda menggunakan layanan WarNet.